Felisia harus menerima nasibnya. Menikah disaat dia tidak menginginkannya. Dan setelah dia menerimanya, apa yang terjadi? Suaminya malah membawa seorang wanita dengan anak berusia tiga tahun kerumah.
"Mulai sekarang Wilona dan anak kami akan tinggal dirumah ini."
Anak kami?
Selanjutnya, bisakah Felisia menerima Wilona dan anak dari suaminya bersama wanita lain? Mampukah hatinya bertahan di rumah itu? Membagi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L2080617, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BC:SAM? #21
Nina merampas kembali ponselnya yang direbut Dafi setelah melihat Dafi yang hanya diam saja.
"Apa yang dikatakan Grandma?" Tanya Wilona perhatian.
"Tidak ada," balas Dafi lalu pergi begitu saja.
"Kau," Wilona mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Nina dengan kesal.
"Apa?" Tantang Nina seraya menangkap jari telunjuk Wilona dan mer*mas jarinya itu sehingga Wilona kesakitan.
"Lepaskan," bentak Wilona.
"Kuatkan saja suaramu, agar suamimu itu mendengarnya," balas Nina semakin menekan jari Wilona.
"Lepaskan jariku," ucap Wilona dengan suara rendah namun penuh dengan emosi.
"Baik," Nina memelintir jari Wilona baru melepaskannya.
"Ahk sakit,"
"Selama ini aku membiarkanmu dirumah ini karena ada Kak Felisia. Sekarang kalau benar kak Felisia pergi dari rumah karenamu. Rumah ini akan ku ubah menjadi neraka bagimu," balas Nina lalu berbalik dan kembali ke kamarnya di bantu Nino.
***
Keesokan harinya
"Evelyn, kamu mau makan apa?" Tanya Mommy Ametta kepada Evelyn yang terlihat enggan memakan makanan didepannya.
"Buah aja Mom," jawab Evelyn.
"Buah apa?" Tanya Mommy Ametta.
"Apel saja Mom," jawab Evelyn.
"Baiklah. Selena, bring apple get over here, now" ucap Mommy Ametta kepada kepala pelayan yang bernama Selama.
"Yes, Mrs" balas Selena.
Evelyn menunggu apelnya datang dengan tenang. Namun sebuah aroma yang menyengat membuat Evelyn mual.
Evelyn langsung berlari ke wastafel yang ada di dekat meja makan.
"Huek..." Evelyn muntah muntah layaknya orang hamil pada umumnya.
"Kamu kenapa Evelyn? Kamu sakit? Daddy bawa ke dokter ya" ucap Daddy Aaron sedikit syok saat anak perempuannya itu tiba tiba muntah muntah.
"Huek..." Evelyn kembali muntah sambil memberikan isyarat agar Daddynya berhenti mendekat kearahnya dengan tangan.
Dengan setia Mommy Ametta mengurut urut tengkuk Evelyn untuk mengurangi rasa mualnya.
"Sayang, kamu sedikit menjauhlah dari Evelyn," perintah Mommy Ametta mutlak.
"Baik baik," balas Daddy Aaron mengambil langkah mundur.
Setelah Daddy agak menjauh, mual Evelyn mulai membaik. Evelyn mengambil tisu dan menyeka mulutnya.
"Evelyn kamu sudah baik baik saja? Kenapa kamu tiba tiba muntah?" Tanya Daddy Aaron cemas sambil mulai melangkah kakinya mendekat.
"Stop Daddy, jangan mendekat. Daddy kenapa sangat bau sih? Evelyn mau muntah kalau cium bau Daddy," jawab Evelyn sambil menutup hidungnya dengan tangan.
"Ha... kok gitu?" Tanya Daddy Aaron kaget.
"Ya karena Daddy bau tahu" balas Evelyn.
"Bau? Daddy harum harum aja tuh. Bahkan Daddy baru selesai mandi loh ini," ucap Daddy Aaron sambil mencium dirinya sendiri.
"Pokoknya Daddy bau," ucap Evelyn keras kepala.
"Sudah sudah," Mommy Ametta menengahi perdebatan diantara mereka.
"Dad, mungkin saja Evelyn mengalami hal yang sama seperti Mommy dulu saat mengandung Evelyn. Selalu mencium bau busuk yang memualkan dari tubuh Daddy. Jadi Daddy mohon maklum ya sama Evelyn" ucap Mommy Ametta.
"Ya tapikan waktu itu dokternya bilang Mommy mual karena Daddy suami Mommy dan Daddy dari Evelyn. Sekarang kondisinya kan berbeda Mom," balas Daddy Aaron.
Evelyn tersenyum tipis mendengar ucapan Daddy Aaron. Teringat akan suaminya.
"Kondisi kehamilan orang berbeda beda Daddy. Mungkin saja anak Evelyn itu sangat sayang sama Daddy makanya setiap Daddy dekat sama Evelyn, Evelyn jadi mual. Buktinya waktu Mommy hamil, Mommy mual dekat Daddy kan? Dan sekarang Evelyn lebih dekat dengan Daddy ketimbang Mommy," ucap Mommy Ametta memberikan alasan asal.
"Terserah lah, yang penting anak Daddy senang dan cucu Grandpa juga bahagia," ucap Daddy Aaron.
"Daddy yang terbaik," ucap Evelyn dengan bahagia.
"Evelyn juga yang terbaik. Setidaknya Evelyn gak semengesalkan Mommy saat hamil. Daddy disuruh mandi berkali kali dan selalu marah marah sama Daddy," ucap Daddy Aaron.
"Daddy memang bau, jadi harus mandi. Sana Daddy mandi lagi," ucap Evelyn tanpa mau dibantah.
"Ok, Mommy dan anak sama saja. Daddy tarik perkataan Daddy tadi," ucap Daddy Aaron lesuh dan kembali ke kamar untuk mandi demi putri dan calon cucunya.
Evelyn hamil tersenyum tipis melihat Daddy sedangkan Mommy Ametta terlihat tertawa lepas karena suaminya yang tidak bisa menolak perintah putri mereka.
"Evelyn ayo kamu makan apelnya dulu. Mommy gak mau cucu Mommy jadi kelaparan" ucap Mommy Ametta sambil membelai sayang Evelyn.
"Iya Mom," ucap Evelyn menurut.
***
Indonesia
Grandma Kelly sampai di rumah Dafi.
"Grandma," Nina langsung menyambut Grandma Kelly dengan pelukan hangat.
Bahkan gadis itu menangis dipelukan Grandma.
"Kamu kenapa Nina? Keadaanmu ini..." Grandma Kelly bertanya dengan cemas.
"Grandma, beberapa Minggu lalu Nina kecelakaan dan kaki Nina harus menjalani terapi agar bisa seperti sedia kala. Selama di rumah sakit, Kak Felisia yang selalu merawat Nina, Grandma. Tapi Kak Felisia sudah pergi Grandma," Nina menangis sambil mencurahkan isi hatinya.
"Kamu tenang dulu. Sekarang kita temui anak gila itu," ucap Grandma Kelly berusaha bersabar sedikit.
Mereka masuk ke dalam dan melihat Dafi bersama Wilona berdiri di ruang tamu menunggu Grandma Kelly.
"Grandma," Dafi berniat menyalam Grandma Kelly namun Grandma Kelly menolak mentah mentah niat baik Dafi.
"Dimana Felisia?" Tanya Grandma langsung ke inti.
"Grandma, ayo kita bicara di ruang kerja Dafi. Ada yang mau Dafi bicarakan sama Grandma," ucap Dafi penuh harap.
"Baiklah," ucap Grandma Kelly meluluh karena melihat wajah Dafi.
"Nina, kamu jaga pintu luar jangan sampai ada iblis yang menguping pembicaraan kami," ucap Grandma sambil menatap tajam kepada Wilona.
"Tentu Grandma," balas Nina.
Dafi dan Grandma Kelly masuk ke dalam ruang kerja Dafi.
Sedangkan Nina dibantu oleh Nino yang belum pulang untuk naik ke atas. Mereka berdiri dengan setia di depan pintu.
Grandma Kelly menyisakan sedikit ruang dari pintu agar Nina dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Grandma, maaf" ucap Dafi saat sudah tiba di ruang kerjanya.
"Untuk apa? Apa kamu pikir maaf bisa merubah segalanya? Felisia bisa kembali dengan kata maafmu itu? Jika kamu mengatakannya dulu, mungkin. Mungkin saja dia tidak akan pergi. Tapi kau, kau mementingkan gengsi mu itu. Grandma kecewa Dafi. Grandma kecewa!" ucap Grandma Kelly.
"Ini memang salah Dafi, Grandma. Ini salah Dafi yang gak bisa mempertahankan satu pernikahan. Salah Dafi karena memiliki anak dengan wanita lain. Grandma... Dafi sudah mencari Felisia kemana mana. Tapi... tapi Dafi tidak menemukan Felisia, Grandma. Sekarang apa yang harus Dafi lakukan? Dafi akan melakukan apapun agar Felisia kembali. Dafi janji Grandma, Dafi akan melakukan apapun. Asalkan Felisia kembali. Dafi mohon bantu Dafi Grandma," ucap Dafi memohon sambil berlutut di hadapan Grandma Kelly.
Dia tulus mengatakan itu semua. Setelah dia tidak menemukan Felisia, dia sadar bahwa ternyata dia sudah mencintai wanita itu. Dia tidak bisa, dia tidak bisa bertahan tanpa wanita itu!
***
Jangan lupa like dan komen 🤗🤗🤗.
beda dgn IGD, pasien baru akan menerima tindakan, apakah itu mau di oprasi, atau tindakan lainnya, sesuai dgn keadaan pasien, apakah dia gawat, atau luka ringan..