Naomi Akiara, wanita cantik berusia 18 tahun itu memilih meninggalkan ibu kota demi menghindari orang-orang terdekatnya setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Gedeon Aiden Wijaya atau biasa dipanggil Deon.
Dan Semarang, adalah kota yang dipilih oleh Ayumi, kakak dari Naomi. Ayumi memilih kota Semarang karena letaknya yang cukup jauh dengan ibukota sehingga Deon dan keluarganya akan kesulitan mencari keberadaan Naomi. Hanya satu keinginan Ayumi, yaitu melihat adiknya bahagia karena sejak kecil Naomi tinggal di Panti Asuhan dan sudah melewati banyak kemalangan hidup.
Berharap tidak bertemu orang-orang yang berhubungan dengan Deon, namun siapa sangka, di Semarang-lah Naomi bertemu kembali dengan lelaki bernama Kaisar Bramantya, lelaki yang keluarganya masih berhubungan dengan keluarga Deon.
Naomi takut jika Kaisar akan membocorkan keberadaannya saat ini pada keluarga Deon. Tapi di luar dugaan, Kaisar yang usianya 5 tahun lebih tua dari Naomi, justru jatuh hati pada Naomi dan berniat mengejar cinta Naomi, sang Calon Janda Muda...
Dan disaat hati Naomi sudah bisa sedikit membuka hatinya untuk Kaisar, justru Deon menemukan tempat persembunyiannya.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Deon setelah menemukan istrinya?
Apakah Kaisar berhasil merebut cinta Naomi?
Dan apakah Deon akan melepaskan Naomi untuk Kaisar atau justru Deon akan menyeret kembali Naomi dalam kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kanjeng_galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
21. Overthinking
Rasa sedih dan bahagia menjadi satu di hati Naomi saat ini. Merasa sangat bahagia setelah mengetahui bahwa dirinya telah berbadan dua, namun juga kecewa mengingat Deon yang dengan tegas di depan orang tuanya akan menikahi wanita bernama Renata yang tengah hamil.
Kekecewaan Naomi bertambah kala mendengar kalimat yang keluar dari bibir ibu kandungnya sendiri sekitar 15 menit yang lalu saat Ibu Mirna kembali ke rumah sakit dengan membawa segala keperluan Naomi selama menjalani rawat inap di rumah sakit.
“Naomi, kamu masih muda… Ibu gak ada niat jahat sama sekali. Ibu cuma ingin kamu bahagia, ibu ingin kamu mewujudkan impian-impian kamu yang tertunda. Ibu ingin kamu melanjutkan pendidikan kamu. Ibu yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan menemukan lelaki yang tulus mencintai kamu… kamu masih muda, jangan sampai anak itu nanti menjadi penghalang masa depan kamu.”
Naomi tidak habis pikir, bagaimana ibunya bisa berpikiran se demikian...
“Naomi, maafin ibu ya.. ibu udah minta maaf lagi loh tadi. Maksud ibu itu baik, tapi cara dan pemikiran ibu yang salah. Kamu jangan terlalu memikirkan itu ya.” Kata Ayumi yang mengusap lengan adiknya dengan lembut. Tindakan Ayumi itu benar-benar membuyarkan lamunan Naomi tentang kejadian beberapa menit lalu.
“Aku memaafkan ibu kak, tapi aku sangat kecewa sama ibu.” Jawab Naomi. Ayumi pun mengangguk mengerti.
“Kamu harus maklum ya, sebab selama sepuluh tahun lebih, Ibu menjadi pembantu Renata dan tidak diizinkan keluar juga bersosialisasi dengan orang lain kecuali penghuni rumah itu, jadi pikiran ibu gak bisa terbuka. Ibu seperti di penjara disana meskipun diperlakukan dengan sangat baik.”
Naomi menghela nafasnya dengan kasar.
Kata demi kata yang mengandung energi positif terus Ayumi keluarkan untuk membuat sang adik berpikir jernih dan tidak overthinking, tapi nyatanya tidak masuk sama sekali ke dalam telinga Naomi. Naomi hanya diam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Kak…” Panggil Naomi.
“Iya?”
“Aku yakin, ibu pasti masih di luar. Kakak temani ibu ya.. saat ini aku sedang ingin sendiri.” Ucap Naomi lirih.
“Kakak gak mau meninggalkan kamu Omi, kakak akan menjaga kamu.” Naomi tahu, Ayumi saat ini pasti sedang mengkhawatirkan dirinya terutama kondisi psikisnya yang hamil di usia masih sangat muda dan tanpa di damping suami.
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh kak, di tubuh ku saat ini tengah tumbuh hadiah dari Tuhan. Aku gak mungkin melakukan hal yang dapat membahayakan calon anakku. Aku akan menjaganya dengan baik, aku sangat menyayangi dirinya karena dia juga bagian dari kisah aku dan kak Deon.” Ucap Naomi dengan tersenyum hangat sembari mengusap perutnya yang masih rata.
“Ya sudah! Kamu gak boleh sedih-sedih lagi.. kamu hanya boleh mengeluarkan air mata bahagia. Ingat, kalau kamu sedih.. anak kamu akan ikutan sedih. Ingat pesan-pesan kakak tadi. Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi, jangan mikirin orang yang gak mikirin kamu! Fokus sama kesehatan kamu!” Kata Ayumi sebelum meninggalkan ruang perawatan sang adik.
Saat pintu ruang perawatan di tutup oleh Ayumi, saat itu juga air mata Naomi kembali menetes. Naomi tidak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya lagi kala membayangkan anaknya yang akan tumbuh tanpa sosok ayah. Rasanya sangat menyakitkan.
Naomi tahu seberapa sakitnya itu karena Naomi tumbuh dan besar di Panti Asuhan tanpa adanya sosok ayah. Sedangkan sosok ibu, Naomi dapatkan dari ibu panti yang sangat baik hati.
Naomi merasa tidak adil pada takdir Tuhan, kenapa anaknya juga akan merasakan hal yang hampir sama dengan yang dia rasakan sejak kecil?
Gadis cantik berdarah Indo jepang itu pun menguatkan hatinya saat imajinasi tidak beraturan menampilkan kebahagiaan Deon dan Renata yang saat ini tengah menunggu kehadiran bayi yang Renata kandung mengingat waktu itu perut Renata sudah sangat membuncit. Rasanya tidak adil jika anak Renata mendapat perhatian Deon sedangkan anaknya tidak.
Tiba-tiba Naomi mengingat beberapa postingan Deon yang tentang dirinya dan menghapus segala tentang Renata. Apakah Deon juga mencintai dirinya? Sebuah pertanyaan besar muncul dibenak Naomi.
“Apa aku harus menemui kak Deon? Bagaimana pun kak Deon harus tahu keberadaan janin dalam kandungan aku, dia adalah ayahnya. Dan aku adalah istrinya meskipun tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat, aku juga punya hak atas kak Deon. Anakku juga punya hak untuk mendapatkan perhatian dari ayahnya.” Gumam Naomi .
Naomi mengusap perutnya dengan lembut saat merasakan kegelisahan yang luar biasa dari hatinya. Secara naluri sebagai calon ibu, Naomi pun selalu mengusap perutnya dengan lembut ketika merasa gundah.
“Tapi apa aku sanggup jika ternyata kak Deon sangat mencintai wanita itu? Bagaimana kalau kehadiran anak aku nantinya akan terabaikan karena kak Deon fokus ke anak wanita itu?” Imajinasi calon ibu muda itu semakin menjadi-jadi membayangkan anaknya kelak merasa sangat sedih melihat Deon tengah asik bermain dengan anak Renata.
“Kak Deon, aku sangat merindukan kamu.” Gumam Naomi sangat lirih.
Ekor mata Naomi pun melirik ke arah nakas dimana ponselnya berada. Sebuah ponsel dengan kamera boba yang barusan tadi dibawakan sang Ibu dari rumah menarik perhatiannya. Naomi pun segera meraih ponselnya dan kembali mengulang kegiatannya seperti semalam. Yaitu stalking akun sosial media milik Deon.
Naomi mendesah kesal, karena lelaki yang teramat ia cintai itu ternyata tidak menambah postingannya pagi ini, lelaki itu juga tidak membuat story apapun. Hingga nama Renata terbesit dalam benaknya, siapa tahu dengan melihat akun sosial media Renata, dirinya menjadi tahu bagaimana hubungan Renata dan Deon saat ini.
“Apakah aku dosa besar ya jika berdoa semoga mereka bertengkar setelah kak Deon mengunggah cincin pernikahannya dengan aku, bukan dengan wanita itu?” Jiwa kepo Naomi meronta-ronta layaknya readers yang minta segera up disaat cerita sebuah novel sedang seru-serunya.
Deg!
Jantung Naomi seakan ingin berhenti berdetak, dada wanita cantik itu seakan dihantam bongkahan batu besar saat melihat story Renata di media sosial dimana Renata menceritakan dirinya yang mengalami kontraksi hebat kemudian Deon panik dan membawanya ke rumah sakit.
Bahkan story Renata berikutnya, Renata mengunggah foto Deon yang tertidur di sofa rumah sakit hanya menggunakan kaos polos dan celana pendek dengan caption “Bahagianya memiliki suami siaga ♥️”
“Aku salah…. Aku terlalu besar kepala menganggap kek Deon mencintai aku.” Ucap Naomi yang merasa iri dengan Renata.
“Nak… maafkan mama… Meskipun kehadiran kamu tidak pernah diharapkan oleh papa kamu, tapi mama akan mempertahankan kamu dan melindungi kamu sayang… Mama akan lakukan apapun untuk terus membuat kamu bahagia meskipun tanpa papa kamu. Mama akan merawat kamu dengan baik dan mencurahkan segala cinta mama untuk kamu… sekarang kamu adalah hidup mama. Gak apa-apa kita tanpa papa ya nak,,, kita pasti bisa. Doain hati mama kuat ya.” Gumam Naomi dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
“Aku ingin… dan sangat ingin kamu peluk kak.. Aku merindukan kamu kak Deon..” Kata Naomi dalam kesendiriannya. Naomi pun memiringkan tubuhnya ke samping kemudian meringkuk membayangkan saat ini Deon tengah memeluknya. Naomi memilih memejamkan matanya supaya bayangan Deon itu tidak pergi.
BERSAMBUNG
TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTAR KALIAN YA GAES
aku menunggu thor