NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Meninggalkan kediaman Sismoko, Rexsaka memacu kendaraannya membelah jalanan menuju markas militer. Langkah kakinya hari itu tertuju ke sana demi satu urusan penting, menyelesaikan administrasi pengajuan cuti yang telah ia rencanakan. Namun, setibanya di sana, saat ia tengah menyusuri koridor markas yang sepi, langkah tegapnya mendadak terhenti ketika netranya menangkap sosok Andy yang berjalan dari arah berlawanan.

Rexsaka hanya menganggukkan kepala singkat sebagai bentuk kesopanan. Tanpa menunggu balasan, ia berniat melangkah melewati Andy dan terus menyusuri koridor markas. Tapi tiba-tiba Andy memanggilnya.

"Saka," panggil pria paruh baya itu, membuat langkah kaki Rexsaka terhenti tepat beberapa jengkal di hadapannya.

​Andy menatapnya lurus, menepis jauh-jauh keraguan yang sempat membayangi. "Apa yang kau minta agar kau mau mengabulkan keinginan Paman kali ini? Sebutkan saja," ujar Andy, suaranya terdengar berat dan sarat akan penekanan penuh wibawa, tipikal seorang penguasa yang terbiasa bernegosiasi.

​Namun, Rexsaka sama sekali tidak bergeming. Wajahnya yang terpahat tegas tetap datar tanpa ekspresi, sedingin es yang tak tersentuh matahari.

​"Tidak ada. Karena sejak awal, saya memang tidak pernah berniat melakukannya," ucap Rexsaka, melontarkan setiap kata dengan nada dingin yang menusuk.

​Ia hanya menganggukkan kepalanya sekilas, sebuah gestur formal untuk mengundurkan diri dengan sopan yang terasa begitu berjarak, sebelum akhirnya melangkah pergi, melewati Andy begitu saja seolah pria paruh baya itu hanyalah embusan angin lalu.

​Andy terpaku di tempatnya berdiri, hanya mampu menatap punggung tegap pemuda itu yang perlahan menjauh menjemput keheningan lorong. Rahangnya mengeras rapat. Namun, ketegangan di wajahnya kali ini bukan lahir dari amarah atau keangkuhan yang terusik. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan hantaman rasa tidak berdaya yang begitu hebat, sebuah kenyataan pahit bahwa harta dan nama besar seorang Andy Sismoko sama sekali tak punya kuasa ketika keselamatan putri semata wayangnya dipertaruhkan.

Sementara itu, Rexsaka sama sekali tidak memedulikan badai emosi yang tengah berkecamuk di dalam dada majikan ayahnya itu. Langkah kakinya tetap berayun mantap menuju tujuan utamanya, ruang kerja sang atasan langsung di Mabes TNI. Di sanalah ia harus mendapatkan tanda tangan persetujuan berkas cuti, sebelum nantinya diserahkan ke staf personel untuk penyelesaian administrasi akhir.

​Setibanya di depan daun pintu yang kokoh, ia mengetuknya pelan. Begitu terdengar sahutan perintah masuk dari dalam, Rexsaka mendorong pintu tersebut hingga terbuka.

​"Saka! Kebetulan sekali kamu ke sini. Ada yang ingin aku bicarakan Ayo, duduk dulu," sambut seorang pria bertubuh kekar khas prajurit elite. Meski usianya jauh berada di atas Rexsaka, gurat wajahnya masih tampak muda dan segar.

​Rexsaka melangkah masuk, lalu mendudukkan diri di hadapan meja kerja yang di atasnya terpajang papan nama kuningan bertuliskan Mayor Ardi Wijaya.

​"Ini mengenai masalah pribadimu," buka sang komandan tanpa basa-basi.

​Kening Rexsaka seketika berkerut. Matanya memicing tajam, mencoba mencerna arah pembicaraan perwira berusia hampir menginjak usia empat puluh tahun itu.

"Masalah pribadi? Apa maksud Komandan?"

​"Aku sama sekali tidak berniat mencampuri urusan pribadimu, Saka," sela Ardi cepat, nadanya berubah serius. "Tapi hal ini sudah mulai menyeret nama baik instansi kita. Itulah mengapa aku harus meminta penjelasan langsung darimu."

​Rexsaka mengembuskan napas panjang. Mendengar penjelasan berputar-putar dari atasannya yang sudah ia anggap seperti abang sendiri ini membuatnya jengah.

"Langsung ke intinya saja, Ndan. Ada apa sebenarnya?"

​Bukannya menjawab dengan kata-kata, Mayor Ardi justru merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menyodorkannya ke hadapan Rexsaka.

Rexsaka mengalihkan pandangannya dari wajah tegang berselimut khawatir milik Ardi, lalu memusatkan perhatian pada benda pipih di genggaman sang mayor yang kini telah berpindah ke tangannya.

​Awalnya, ia hanya memicingkan mata, mencoba mencermati cuplikan video yang tengah berputar di layar ponsel tersebut.

Namun perlahan, sorot matanya menajam. Sosok wanita yang menjadi pemeran utama dalam rekaman itu adalah seseorang yang sangat ia kenal, gadis yang baru saja ia selamatkan dari cengkeraman penjahat berbahaya beberapa saat lalu. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Nadya Marlynda Sismoko.

Seketika itu juga, rahang Rexsaka mengeras rapat. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi setajam belati, berkilat dingin begitu setiap untai kalimat yang meluncur dari bibir Nadya di dalam video itu merayap masuk ke indra pendengarannya.

​"Ayah... aku hanya ingin meminta pertanggungjawaban darinya,"

"Aku sedang mengandung cucumu, Yah! Tapi putramu justru pergi begitu saja tanpa kabar, entah kapan akan pulang."

"Ditambah lagi... fisikku sedang digerogoti sakit keras. Aku bahkan tidak tahu sampai kapan umurku akan bertahan. Mungkin esok, lusa, atau minggu depan nyawaku sudah tidak ada lagi. Karena itu, sebelum terlambat, aku hanya ingin dia tahu... bahwa ada detak jantung baru yang menjadi bagian dari dirinya di dalam rahimku ini, Ayah."

Rexsaka memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan denyut nyeri yang tiba-tiba menghantam pangkal kepalanya hingga terasa pening. Ia memijat pelipisnya perlahan, mencoba meredam gemuruh amarah dan rasa tidak percaya yang mendadak berputar hebat di dalam kepalanya. Detik berikutnya, tanpa memedulikan tatapan melotot dari sang komandan, Rexsaka meletakkan cukup keras ponsel itu ke atas meja.

​‘Dasar junior tak ada akhlak! Untung sayang,’ umpat Mayor Ardi dalam hati.

​Tangan kekarnya dengan sigap menyambar benda pipih tersebut, lalu mengelus-elus permukaannya dengan penuh kasih sayang, memastikan tidak ada lecet sedikit pun pada ponsel mahal yang baru saja ia beli itu.

​Awalnya, Ardi sudah bersiap untuk menyemburkan amarahnya. Namun, begitu melihat gurat frustrasi yang tercetak jelas di wajah Rexsaka, niat itu seketika surut berganti rasa iba.

​Ia mengembuskan napas panjang, lalu bersandar pada kursi kerjanya. "Saka, aku tahu sehebat dan sesempurna apa pun seorang manusia, pasti ada celah di mana dia bisa jatuh. Itu manusiawi. Aku paham mungkin kamu khilaf saat itu, lagipula wanita di video itu calon istrimu. Tapi setidaknya, beri tahu dia untuk menjaga batasan tentang profesi yang kamu jalani sekarang. Tolong, jaga nama baikmu sendiri," ujar Ardi, nadanya kini melunak, sarat akan nasihat seorang kakak yang peduli pada adiknya.

"Jika sudah begini, apa yang harus kita lakukan? Rumor ini sudah menyebar hampir ke setiap sudut Mabes TNI, bahkan kita tidak tahu sejauh mana bola salju ini menggelinding. Kau tidak lihat tadi? Berita itu telanjur viral dan sudah ditonton jutaan penonton. Untungnya, kabar ini belum sampai ke telinga Jenderal, Kalau beliau sampai tahu, aku tidak bisa membayangkan badai apa yang akan menghantam kita," urai Ardi panjang lebar.

​Dalam hati, ia mengembuskan napas lega dan mengucap syukur. Ia tahu betul atasannya itu sang jendral adalah sosok kaku yang sangat membenci gosip murahan dan sama sekali enggan bersentuhan dengan dunia media sosial. Dan Dewi Fortuna masih berpihak kepada juniornya ini karena sampai sekarang belum ada seorang pun yang berani lapor kepada sang jenderal, setidaknya, untuk saat ini, mereka masih memiliki sedikit waktu sebelum segalanya benar-benar terlambat.

Rexsaka hanya diam mematung, menghempaskan bobot tubuhnya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata rapat-rapat. Ia sibuk menata napas, berusaha keras meredam gejolak kekesalan dan bara api yang telanjur membakar dadanya. Di hadapannya, suara Ardi yang menjabarkan rentetan kalimat panjang lebar hanya terdengar seperti dengung angin lalu, mengalun di udara tanpa sepotong pun yang benar-benar masuk ke dalam benaknya.

"Dia bukan calon istriku," desis Rexsaka dingin, memutus keheningan.

​"Ha? Apa maksudmu, Saka?" Ardi terbelalak, rasa kesalnya kembali tersulut. "Jangan mentang-mentang dia telah merusak nama baikmu, lalu kau bisa lepas tangan dan tidak mengakui dia serta darah dagingmu sendiri! Jelas-jelas dia datang ke sini didampingi ayahmu. Bersikaplah seperti prajurit yang bertanggung jawab!"

​Ardi benar-benar habis pikir dengan ucapan Rexsaka yang terkesan menyangkal wanita di dalam video itu, padahal bukti sudah terpampang nyata di depan mata. Sebagai atasan, senior, sekaligus sosok kakak meski tak sedarah, Ardi merasa memiliki kewajiban moral untuk menegur dan meluruskan jalan adiknya yang mulai melenceng.

​"Sudah kukatakan, dia bukan calon istriku. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengannya, dan semua ucapan gadis di video itu bohong," tegas Rexsaka, suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan keyakinan mutlak.

​Ardi mengernyit dalam. "Apa maksudmu?"

​"Aku akan menyelesaikan masalah ini," ucap Rexsaka dingin tanpa berniat menjelaskan lebih jauh.

​Ia langsung bangkit berdiri, merapatkan tubuhnya, lalu memberikan penghormatan militer yang tegas dan formal kepada atasannya.

​"Hei... Hei! Apa maksudmu? Jelaskan dulu padaku, Saka!" teriak Ardi ikut berdiri dari kursinya.

​Namun, Rexsaka mengabaikan panggilan itu sepenuhnya. Ia membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya.

​Ardi hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan napas memburu menahan dongkol. "Dasar junior kurang ajar! Selalu saja bikin naik tensi" umpatnya kesal, menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi kerja.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!