NovelToon NovelToon
Love My Enemy

Love My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Menikah dengan Musuhku / CEO / Nikah Kontrak / Romantis / Cinta setelah menikah / Enemy to Lovers
Popularitas:97.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: N Afriyan

Selama 21 tahun hidup, Lera merasa baik-baik saja, tidak ada satupun kesusahan yang ia lami sampai dimana sang Nenek datang untuk menyita semua asetnya, kartu ATM juga diblokir oleh Nenek dan Ayahnya.

Kesialannya bertambah ketika hidupnya digenggam oleh Stephano Bian Atmaja. Entah kesalahan apa yang sudah Lera perbuat pada pria itu, yang pasti pria itu tidak bisa membuatnya melarikan diri.

"Kau pikir aku menikahimu karena aku mencintaimu?" bisik Bian tepat ditelinga Lera.

Lera mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan membiarkanmu merusak keluargaku, Bian! Tidak akan!"

Bian tersenyum, "Maka tetaplah disisiku untuk mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan pada mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Afriyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Berada di ruang terbuka membuat Lera setidaknya bisa bernapas dengan lega. Berjalan ke arah pembatas, gadis itu kemudian memanjat beberapa tiang dan kembali menghirup udara sebanyak yang ia bisa sambil memejamkan mata.

Hari ini adalah hari yang panjang. Sangat panjang sampai rasanya tidak sanggup lagi, dia hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk meluruskan punggung yang rasanya akan rontok.

Sepertinya ia harus mulai berolahraga. Bekerja berat ditambah dengan bos seperti Bian yang sangat sulit diprediksi, percayalah, tidak hanya fisik yang mengcapek, tapi juga mentalnya.

"Jangaaan!" Seseorang baru saja berteriak. Menoleh ke belakang, kedua matanya menemukan gadis itu —gadis yang beberapa jam lalu membuat kehebohan dengan tangisannya. "Jangan lakukan itu, kita bisa membicarakannya baik-baik."

Kening Lera mengerut dalam karena sama sekali tidak bisa mencerna apa yang coba gadis itu sampaikan. 'Jangan lakukan itu? Kita bisa membicarakannya baik-baik? Tck, memangnya apa yang sedang aku lakukan sih?'

"Tuan Bian kalau sedang marah memang menyeramkan dan hukuman yang diberikan terkadang memang sangat berat dan keterlaluan." Dea mengoceh sambil berjalan ke arah Lera dengan sangat hati-hati. "Tapi ... aku dengar dia tidak sejahat itu kok."

'Tidak jahat bagaimana? Kalau dia tidak jahat, dia tidak akan membuat perangkap agar aku berada di sini, bekerja di bawah kakinya.' —Lera kembali menggerutu.

"Terkadang bunuh diri memang terlihat seperti solusi praktis untuk menghilangkan beban dan rasa sakit, tapi sebenarnya itu bukanlah solusi." gadis itu kembali memuntahkan omong kosong yang tidak Lera mengerti.

'Huh? Bunuh diri? Siapa? Aku??'

Dea sudah sampai di samping Lera, gadis itu segera memegang tubuhnya cukup erat. "Bagaimana dengan orang yang ditinggalkan? Orang tua? Kekasih? Dan mungkin hutang yang belum terbayar?"

Oh, God! Lera terpekik dalam benaknya.

Kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk melakukan hal ini di hadapan Demon dan Neneknya? Kalau merengek dan menangis tidak membuat hati mereka luluh, kenapa tidak berakting ingin bunuh diri saja? Mungkin Neneknya akan melakukan hal yang sama seperti Dea, memohon padanya untuk berubah pikiran dan saat itulah Lera akan meminta mereka untuk mencabut hukuman sialan ini.

"Dea, lepas!"

"Tidak akan!"

"Aku tidak bunuh diri!"

"Lalu kenapa Kakak memanjat pagar?"

"Aku sedang bernapas, menikmati semilir angin. Memangnya tidak boleh?"

Gadis itu menggeleng, pegangannya pada tubuh Lera menjadi semakin kuat. "Kalau kau terus memelukku seperti ini, bagaimana aku bisa turun?!"

"Seriusan Kakak akan turun? Tidak lompat?"

Lera melongok ke bawah dan seketika bulu kuduknya meremang. Mereka saat ini sedang berada di roof top, bisa bayangkan bagaimana kepalanya akan remuk kalau ia benar-benar terjun dari atas gedung ini.

"Aku serius!"

"Janji?"

"Hn." Sesaat Dea melepaskan pelukannya, Lera segera turun dari pagar pembatas, ia berjalan menuju tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk. "Kenapa kau mencariku?" Ia bertanya setelahnya. "Ketua yang menyuruhmu?"

Ketua yang dimaksud di sini adalah sosok SPV staf kebersihan yang merangkap menjadi CCTV berjalan bayaran Bian untuk mengawasinya kapanpun dan dimanapun.

Tapi ... untuk apa ketua mencarinya karena seingatnya semua pekerjaan sudah ia lakukan dengan benar, bahkan ruangan Bian yang seperti kapal pecah sudah disulapnya menjadi rapi, bersih dan harum. Lalu, apa yang membuat gadis ini datang mencarinya?

"Bukan." bantah Dea, "aku mencari Kak Lera karena aku ingin berterima kasih."

"Aku tidak melakukan apapun, kau tidak perlu berterimakasih."

Dea menggeleng, dia kemudian mengambil kedua tangan Lera yang kemudian ia genggam erat-erat. "Kak Lera sudah melakukan hal besar." ucapnya, "tuan Bian ... selama ini dia tidak pernah menarik kembali ucapannya. Namun berkat Kak Lera, tuan melakukan hal itu untuk yang pertama kalinya."

Benarkah? Bian? Berubah pikiran karena dirinya? Hah, Lera tidak percaya, sama sekali tidak!

Bian itu sangat licik. Lera yakin, sangat yakin bahwa pria itu mengalah bukan karena bermurah hati, dia sedang menyelamatkan harga dirinya sendiri yang sempat jatuh dan pastinya ada sesuatu yang sedang pria itu incar dibalik kebaikannya tersebut. Sesuatu yang lebih besar dan lebih menguntungkannya.

Namun begitu, Lera cukup tersanjung karena selama 21 tahun dia hidup, baru kali ini ia melakukan sesuatu yang berarti bagi hidup orang lain. Oh, tidak, sebelumnya cukup sering, karena pada dasarnya Lera suka membantu orang lain, namun bukan ucapan terimakasih yang selalu ia dengar dari teman-temannya. Mereka justru sering mengoloknya sok peduli dan tukang cari perhatian.

Sangat tidak tahu terima kasih kan?

"Ini ...." Dea menyodorkan sesuatu.

Hanya melihat dari bentuknya yang khas itu, Lera jelas tahu apa isinya. Tapi dia tetap ingin memastikan, "Apa itu?"

"Nasi Padang." jawab gadis itu seraya mengeluarkan nasi bungkus dari dalam plastik. "Kak Lera pasti belum sempat makan siang karena dihukum oleh tuan ...."

Lera terdiam, tatapannya memandang nasi bungkus yang di sodorkan gadis itu nyalang. Bagaimana bisa dia membelikan makan untuk orang lain disaat dia sedang kekurangan uang?

Apa yang Dea lakukan tersebut membuat Lera tersentuh. Sungguh, selain keluarganya dan Chika, tidak pernah ada satu orang pun yang memberinya makan gratis.

Apa mereka pikir orang kaya tidak suka makanan gratis? Kalau mereka berpikir demikian, maka mereka salah besar, Lera suka saat seseorang memberinya makan gratis kok. Apapun makanannya selagi makanan itu layak untuk dimakan.

"Apa aku boleh memakannya?"

Dea mengangguk dengan antusias. "Tentu saja, aku memang sengaja membelikan itu untuk Kakak."

"Kau sendiri tidak makan?"

"Sudah, tadi di kantin sama teman-teman yang lain."

"Oh ..."

Tanpa sadar Lera menghembuskan napas cukup keras. Perihal makan, Lera bukan tipe orang yang pemilih. Tempat makan pinggir jalan pun jadi apalagi kantin kantor. Hanya saja, semua orang akan memaku kedua mata mereka dan mulai membicarakannya walau mereka tahu ia ada di sana. Hal itulah yang membuat Lera enggan untuk makan di kantin maupun bergaul dengan pegawai lainnya.

Kalau dipikir-pikir, sejak pertama kali ia bekerja di sini, ia sama sekali tidak pernah membuat masalah. Namun anehnya semua orang tidak suka padanya dan menjauhinya.

"Kak, Kakak tidak dipecat gara-gara membelaku kan?" tanya Dea.

Lera mengambil botol air mineral yang dibawa Dea kemudian mulai mencuci tangannya. Chika bilang makan nasi padang tidak lezat kalau tidak pakai tangan. "Justru itu yang aku harapkan," jawab Lera disela mengunyah makanan, "tapi sayangnya si br3ngsek itu tidak melakukannya."

"Kenapa?"

Dea tidak bisa menutupi keterkejutannya. Disaat semua pegawai memohon pada Bian agar tidak di pecat, namun sosok di sampingnya tersebut justru memohon ingin dipecat.

"Apa?"

"Kenapa Kak Lera ingin keluar dari pekerjaan ini?"

Serius dia menanyakan hal itu?

Menjadi cleaning service, Lera yakin tidak satupun orang yang memiliki keinginan untuk bekerja dalam bidang itu kalau tidak mendesak. Sama halnya dengan keadaannya saat ini.

"Tidak ada, aku hanya ingin keluar saja. Memangnya kalian tahan punya bos seperti Bian? Aku sih tidak sama sekali."

Dea terkekeh melihat cara bicara Lera apalagi setiap menyinggung nama bos mereka tersebut. "Sepertinya Kak Lera sangat membenci tuan Bian."

"Sangat!"

"Apa hukumannya seberat itu sampai Kakak mau bunuh diri?"

Lera tersedak nasi yang sedang ia kunyah saat mendengar pertanyaan Dea barusan. Bibir berwarna merah muda, jakun yang naik turun, dada bidang dan wangi parfum pria itu membuat Lera merasakan sesak yang tak beralasan. Tidak, jangan diingat. Lera menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengenyahkan kilasan adegan di ruangan Bian beberapa jam lalu.

"Aku sudah bilang, aku tidak ingin bunuh diri." tukas Lera kesal. "Dan Dea, jangan cerita pada siapapun tentang kejadian salah paham ini, termasuk pada Bian."

"Kenapa?"

"Dia bisa besar kepala, dia akan berpikir aku ingin bunuh diri karena dirinya."

"Jadi Kak Lera beneran mau bunuh diri karena tuan Bian?"

"Deaaaa ..." Lera mengerang kesal dan gadis itu malah terkikik senang.

"Tapi sepertinya tuan menyukai kakak." Dea kembali memuntahkan omong kosong. Lera hanya geleng-geleng kepala. Imajinasi gadis di sampingnya tersebut sudah kelewat batas.

"Dea, jangan gila! Bian hanya mencintai dirinya sendiri, tidak akan pernah ada tempat untuk orang lain. Pria br3ngsek sepertinya tidak mengenal kata cinta."

Karena Bian tidak jauh berbeda dengan sepupunya, Demon. Penghianatan membuat pria itu membuang hatinya ke tong sampah, sedangkan Bian ... Lera tidak tahu bagaimana masa lalunya, Lera hanya bisa menebak bahwa dia memiliki jejak rasa sakit yang tidak jauh berbeda hanya dengan melihat sorot matanya.

"Tapi —"

Lera segera memotong, dia sudah jengah dengan pembicaraan yang melibatkan nama Bian. "Dengar, mulai sekarang kau harus berhati-hati. Bos-mu itu tidak sebaik yang kau kira. Kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa dia lakukan untuk mencapai tujuannya."

1
forain
Gamau dilanjut nih thor, seru bgt ini 😻😻
Yuni: nanti aku lanjut tapi bukan di sini say
total 1 replies
Hilma Rizqina
lanjut dong kaaa
Salwa
lanjutt kakk
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
woooo,, slow kenan 😂😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
yg usil memang bikin kangen ya Le 🤭
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
makasih updatenya thor 🤗
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
laahhh B boong dong, katanya dirumah 😛
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
muat Lee.. muaatt kok 🤭🤭
Salwa
lanjut aja kak cerita alur ceritanya bagus kak
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
dikenalin atuh pelan² ama Lera ularmu Bi 😂😂
Yuni: wkwkw nggak bahaya tah?
total 1 replies
Salwa
lanjut kak
Salwa: jangan lama" kak update aku nungguin kyk nunggu kepastian wkwkwk
total 2 replies
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
poor Bian 🥲
Bagus, alurnya rapi dan enak dibaca. Karakter tokohnya juga hidup, jadi pengen nampol si Bian ini
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
cerita yang menarik
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
jiiaahhh.... gumusshh gak sih mereka berdua ini 😃
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
gak mungkin lah Bi kamu metong secara kamu pemeran utamanya, yaa paling babak belur lagi sedikit 😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
savage 😂😂
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
poor keenan 😥
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
tom en jerry gak tuh mereka berdua 😁😁
Mom Dee 🥰 IG : devinton_01
jiiaahhh... preman kok pingsan sih 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!