Ketika kenyataan tak seindah bayangan...
Mampukah Radit, sosok lelaki yang sudah berstatus duda dan Jenna, gadis yang selalu merasa dirinya terkekang dalam menentukan pilihan hidup mampu melawan restu yang bahkan enggan menghampiri.
Atau terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Atau berlari demi cinta mereka yang tak lagi mampu dipisahkan.
"Kenapa harus datang jika hanya memberi luka, kenapa hadir jika selalu memberi perih"
~Jenna~
"The girl who make my world like a rainbow"
~Radit~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh Akbar
"Jenna, masuk ke kamar!" titah Pak Sofyan.
Jenna menghapus air matanya, sementara di belakangnya sudah ada Akbar yang bersandar di pintu. Jenna menatap sang kakak dengan mata yang sembab, ia memutar tubuhnya berlari masuk ke kamar.
"Ma, tolonglah ... membicarakan sesuatu itu gak pake emosi, kasian Jenna." Pak Sofyan beranjak dan meninggalkan istrinya di sana.
"Kenapa, Ma?"
"Adik kamu putus sama Raka, Mama malu sama keluarga Raka," sungut Mama Kartina. " Jangan sampe kamu ngelakuin hal yang sama dengan adik kamu, Bar." Wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan Akbar, sementara Akbar berdiri terpaku.
Jenna masih duduk di sisi tempat tidurnya dengan perasaan kesal, matanya masih berkaca-kaca. Setidaknya dia lega dengan apa yang ia ungkapkan, segala isi hatinya selama ini. Dia ingin sang Mama tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Raka, bukan hanya melihat dari satu sisi saja.
"Halo," ucap Jenna saat dia menghubungi Raka.
"Na," ujar Raka. "Kamu kenapa?"
"Kamu bilang apa Ka ke ibu?"
"Aku bilang kita putus ... cuma itu, dan ibu bilang ya mau gimana, berarti bukan jodoh ... ibu cuma menyayangkan saja kenapa bisa hubungan kita berakhir," jawab Raka.
"Ya udah ...."
"Na ... are you ok?"
"Iya ... aku gak papa," jawabnya lalu menutup sambungan telepon.
Sudah dipastikan disini memang Mama Kartina yang punya ambisi besar tentang rencana pertunangannya dengan Raka. Dan beruntungnya, tanggapan keluarga Raka meski menyesali namun tidak pula menuntut. Dan beruntungnya lagi pertunangan itu tidak terjadi, bisa dibayangkan jika ada pertunangan namun gagal di tengah jalan, apa Mama tidak lebih malu lagi, pikir Jenna.
...----------------...
Pagi itu, seperti biasa Akbar mengantar Jenna sebelum dia sendiri menuju ke kantornya.
"Kita kemana dulu Bang?" tanya Jenna saat mobil Akbar mengarah ke suatu tempat.
"Mau jemput calon tunangan Abang," jawab Akbar yang pagi ini mang terlihat lebih ceria.
"Oh ... beneran ada yang jatuh cinta kayaknya."
Akbar tertawa. "Seharusnya kita bisa lebih dekat lagi ya Na, maaf selama ini Abang sibuk sama urusan Abang sendiri, maaf juga karena selama ini Abang gak pernah belain kamu.
"Aku itu di rumah kayak tinggal sendiri, kalo Abang mau tau ...." Mata gadis itu sudah mulai berkabut.
"Iya, Abang minta maaf ... udah jangan nangis, pagi-pagi udah nangis." Akbar membelai rambut Jenna yang hari ini sengaja dia urai.
"Kok berenti di sini Bang? ini rumahnya?"
"Masa kamu gak tau ini rumah siapa," kata Akbar, Jenna menggeleng. "Bener-bener adeknya Abang anak rumahan ya ... ini rumah Lala calon tunangan Abang."
"Apa? Lala siapa? kok bisa? eh Abang ... kok bisa?"
Akbar tertawa, dan pintu mobil di belakang pun terbuka, wajah Lala yang manis itu tersenyum pada Jenna.
"Hai Na," sapa Lala.
"Lala ... gimana bisa? hei, kok gak cerita sama aku ... jahat kalian." Jenna cemberut.
"Jadi ... ternyata Lala itu anak temen mama waktu SMA, nah ayahnya Lala itu temen satu angkatan sama papa saat papa pendidikan dulu, karena selama ini ayah Lala kan tugasnya di Lampung baru pulang kesini karena sudah pensiun dini." jelas Akbar.
"Tapi selama ini Lala tau kok kalo kita anaknya Sofyan Alamsyah," ujar Jenna menoleh ke belakang.
"Aku tau ... tapi aku gak pernah bilang ke ayah sama bunda kalo salah satu anak Sofyan Alamsyah satu tempat kerja sama aku, aku juga baru tau saat beberapa minggu lalu, teman bunda ada yang liburan kesini terus ngajak makan malam, ternyata ketemu mama kamu dan Akbar di sana."
"Loh Bang, tapi kan kemarin Abang mau di kenalin sama anak temen mama yang dateng liburan itu, kenapa jadi ke Lala?"
"Karena cewek yang mau di kenalin ke Abang itu gak ikutan pas makan malam ... jadi ya Abang ambil yang ini lah ... yang di depan mata." Akbar terkekeh dan baru kali ini Jenna melihat tawa lepas kakak satu-satunya itu begitu bahagia.
"Ya ampun ... jodoh emang gak pernah ada yang tau ya ... aku ikut bahagia untuk kalian berdua," Jenna mencium pipi Akbar dan memeluk Lala meski posisi tubuh mereka agak susah.
"Tapi yang aku salut, Lala lumayan lama ya tahan banget gak cerita ke aku kalo tunangannya Abang ... ish." Jenna sewot sementara Akbar dan Lala pun tertawa.
"Berarti udah gak ada nih acara titip-menitip salam ya ... aduh aku seneng, calon kakak ipar aku temen sekantor."
Seketika Jenna teringat perkataan Radit tempo hari, ternyata benar kita gak pernah tau jodoh kita siapa, pada siapa kita jatuh cinta. Ah Jenna rindu lelaki itu, dengan segala gombalan recehnya.
...----------------...
Jenna merapihkan pekerjaannya sore itu, Lala menghampirinya.
"Na ... nanti pulang bareng kan? Nanti Abang jemput kita."
Jenna mengangguk lalu mengambil gawainya di dalam laci, membuka pesan dari Radit. Radit bilang dia akan menjemputnya sore ini, Jenna tersenyum.
"Jadi siapa dia?" tanya Lala.
"Siapa?"
"Cowok tinggi, hidung mancung, bawa sedan hitam yang waktu itu jemput kamu."
"Jemput aku? siapa?" bohong Jenna.
"Gak usah bohong sama aku, aku liat kok ... aku jaga rahasia, Abang gak perlu tau ... ya kan."
"Ish, dia bukan siapa-siapa La ... hanya teman."
"Raka?"
"Raka sudah tutup buku." Jenna mengikat rambutnya.
"Serius?" tanya Lala tak percaya, "kok bisa? selingkuh? eh, maksud aku Raka selingkuh?"
"Gak lah ... Raka setia La, dia baek banget jadi gak mungkin."
"Terus kenapa?"
"Gak jodoh ... kalo diterusin nanti malah kacau," ujar Jenna memasukkan beberapa alat tulis, kacamata, dan gawainya.
"Hhmm ... padahal kalian cocok banget," ujar Lala menyayangkan.
"La ... aku gak jadi ikut pulang bareng ya."
"Kenapa?"
"Tapi please jangan bilang ke Abang ... jangan sampe Abang tau, Abang itu mata-mata mama."
Lala tertawa, dia mengangguk, mengiyakan ucapan Jenna.
"Berarti aku keluar duluan ya ... aku bilang ke Abang kalo kamu masih ada lembur ... gitu ya."
"Ya ampun, kakak ipar aku pinter banget, baik dan cantik ... makasih Kakak Lala." Jenna tertawa menciumi pipi Lala.
"Kita harus kompak." Lala pun ikut tertawa.
Lelaki yang mengenakan kacamata hitam itu sudah bersandar di badan mobilnya dengan tangan terlipat di dada. Sudah 10 menit dia menunggu Jenna di sana, gadis itu belum juga menampakkan diri.
Baru saja dia akan menghubungi Jenna, gadis itu berlari kecil ke arahnya. Rambut yang di kuncir kuda itu ikut bergerak kesana kemari saat dia berlari.
"Maaf ya Mas, nunggu lama ya," ujarnya beberapa kali menarik nafas.
"Gak kok, biasa aja ... ayo." Radit membukakan pintu mobil untuk Jenna.
"Kenapa lama?" tanya Radit saat mobil mulai meninggalkan kantor Jenna.
"Nunggu Abang sama jodohnya pulang duluan," jawab Jenna.
"Loh emang kenapa?"
"Ya kalo dia tau aku pulang sama kamu mana mungkin boleh."
"Oh ... emang jodohnya siapa?"
"Lala temen kantor aku, mereka bakal tunangan bulan depan."
"Oh ... ini kita mau kemana?" tanya Radit.
"Pulang kan."
"Pulang ke rumah kita lagi?" Radit tersenyum.
"Rumah kita ... rumah kamu," kata Jenna.
"Rumah aku sama kamu jadi rumah kita ... cieee," goda Radit, membuat Jenna tersipu malu.
Alunan musik di mobil itu mengiringi perjalanan pulang mereka ke "rumah kita." Lambat laun Radit mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan salah satu band tanah air itu, sambil sesekali menatap Jenna. Ah, sumpah demi apapun Jenna seperti dibawa melayang jauh ke angkasa.
.......
Memahami hatimu
Tak akan cukup usiaku
Sementara rindu ini
Semakin menusuk dadaku
Ternyata perasaanmu padaku
Biasa biasa saja
Cinta itu sederhana
Yang rumit itu kamu
Mencintaimu itu mudah
Yang sulit adalah
Membuatmu juga mencintaiku
(Rumit ~ LangitSore)
**enjoy reading 😘
bantu Chida dengan like dan komen ya 😘**
dalem banget artinya
Pun patah hati, sering datang tanpa aba aba