Demi balas dendam pada orang-orang yang sudah menjualnya, Aradella terpaksa setuju untuk menikah dengan Devandra, seorang CEO yang dingin dan arogan. Sebuah kisah pernikahan pilu tanpa adanya cinta.
Ketika cinta mulai menyatukan mereka, tiba-tiba saja seorang wanita lain datang mengaku sebagai tunangan Devandra.
~Follow Instagram @asti.amanda24
~Facebook : Asti Amanda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Gadis 500 Juta
Suara bising dan gumaman terdengar nyaring di dalam lobi Gedung Ghou yang megah. Tepat di depannya, sebuah mobil sedan hitam premium berhenti mulus. Dari sana, Devandra melangkah keluar, mengenakan kacamata hitam yang menyembunyikan tatapan birunya, ditemani oleh Asisten Hansel. Aura dingin dan berkelas menguar dari sosok Presdir muda itu.
"Hansel, kau tahu di mana lokasi lelang?" tanya Devandra, langkahnya mantap menuju pintu masuk, tanpa menoleh.
"Di ruangan D342, Presdir," jawab Hansel.
Devandra memasuki lift. "Baiklah, aku akan masuk sendiri. Kau awasi pergerakan para tamu yang keluar masuk di sekitar pintu ruangan."
"Tapi, Presdir," Hansel tampak cemas, "Bagaimana dengan keamanan Anda?"
"Tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Devandra berdiri angkuh, membenarkan kerah kemeja hitamnya, sedikit rasa ingin tahu mulai muncul.
"Baik, Presdir," ucap Hansel, mengerti batasannya.
Tak lama kemudian, Devandra tiba di lantai yang dituju. Ia menemukan ruangan rahasia itu—sebuah tempat yang hanya diketahui oleh para pengusaha kelas atas yang terlibat dalam bisnis ilegal ini. Ia masuk sendirian, meninggalkan Hansel untuk berjaga di luar.
Begitu masuk, kebisingan mulut para pengusaha langsung menghantam telinganya. Ia bisa mendengar jelas niat-niat kotor dan keserakahan yang melingkupi pikiran setiap orang di ruangan itu.
Devandra memilih duduk di kursi paling belakang. Ia tidak ingin menarik perhatian, mengingat identitasnya sebagai Presdir baru Grup Welfin masih menjadi misteri bagi banyak pihak.
"Cih, membosankan sekali," decak Devandra. Ia duduk dengan santai saat pelelangan akhirnya dimulai.
Pelelangan dibuka dengan menampilkan Liontin Giok kuno dari Tiongkok. Liontin unik itu memiliki harga yang sangat mahal. Pembawa acara segera membuka harga awal, dan sontak para pengusaha saling bersahutan menaikkan tawaran. Mereka berebut benda antik yang memukau mata itu.
Namun, Devandra tetap diam. Ia hanya mengamati gerak-gerik penuh nafsu dari para pengusaha itu. Ia merasa bosan. Hanya sebuah liontin kecil yang diperebutkan sebegitu hebatnya. Walaupun liontin itu memang indah dan cocok untuk hadiah para wanita, hal itu sama sekali tidak menarik baginya.
Liontin Giok terjual. Pelelangan berlanjut menampilkan benda-benda antik unik lainnya. Devandra semakin merasa jenuh. Tidak ada yang menarik. Ia bahkan berniat meninggalkan kursinya karena sudah tidak tahan mendengar hiruk pikuk yang membuat telinganya sakit.
Tepat saat ia hendak berdiri, pembawa acara berteriak dengan nada heboh, "Baiklah! Ini adalah lelang penutup! Dan kali ini kami menjamin ini adalah barang yang SANGAT MENARIK!"
Devandra kembali duduk, rasa penasaran sesaat menahannya. Ia harus melihat apa yang disebut menarik oleh pembawa acara itu.
Mata biru Devandra melebar. Ia terkejut. Di atas panggung, seorang gadis muda dituntun masuk. Ia hanya mengenakan dress putih panjang sederhana yang menutup tubuhnya. Ini adalah pemandangan yang belum pernah dilihat Devandra: perdagangan manusia.
Devandra mencengkeram erat sandaran kursinya. Rasa kecewa dan kemarahan muncul. Ia merasa pemandangan ini mengotori matanya.
"Ck, apa-apaan ini. Benar-benar menjijikkan," desisnya tak karuan.
"Baiklah, lelang penutupan kali ini! Harga dibuka dengan sepuluh juta!" teriak pembawa acara.
Aradella yang terborgol rantai hanya bisa menunduk. Air mata menetes di pipinya. Ia merasa sangat rendah, dihargai dengan jumlah sekecil itu.
Para pengusaha langsung bersorak, berlomba mengajukan harga tertinggi. Mereka memperebutkan Aradella, yang memiliki tubuh lumayan ramping dan belahan dada yang sedikit terlihat—cukup untuk menggoda para hidung belang.
Devandra tetap membisu. Kali ini, ia benar-benar muak. Ia membenci wanita yang menjual diri demi uang. Dalam pikirannya, Aradella adalah salah satu dari mereka, meskipun faktanya Aradella adalah korban penipuan.
Devandra berdiri, siap untuk pergi. Namun, suara lirih yang terdengar lemah mencapai telinganya, membuatnya seketika terhenti.
"Hiks, kumohon... tolong aku," rintih suara kecil itu, memohon bantuan.
Devandra berbalik. Tatapannya tertuju pada Aradella.
"Baik, karena tidak ada lagi tawaran, gadis ini jatuh kepada Tuan... dengan harga 400 juta!" teriak Pembawa Acara, menunjuk pihak yang menawar terakhir.
"Lima ratus juta! Berikan gadis itu padaku!" seru Devandra lantang. Ia berdiri tegak, menunjuk Aradella yang masih menunduk meratapi nasibnya.
Pihak yang tadi menawar 400 juta merasa geram. Namun, tatapan membunuh dari mata Devandra membuat pria itu langsung menciut dan mundur.
"Baiklah! Lelang kali ini jatuh kepada Tuan Muda Devandra!" seru pembawa acara dengan senyum penuh arti.
Ternyata dia tertarik juga pada gadis ini, Tuan Muda, batin pembawa acara. Devandra hanya mencibir.
"Nona, silakan ikut dengan Tuan Muda," ujar Pembawa Acara, segera membuka borgol rantai Aradella dan membawanya ke arah Devandra.
Devandra merasa risih melihat Aradella yang begitu menyedihkan. Namun, rasa kasihan tak bisa ia singkirkan sepenuhnya. Ia melepaskan kemeja hitamnya dan menyampirkannya ke pundak Aradella.
Aradella terkejut dengan perlakuan orang yang membelinya. Ia mendongak, melihat siapa pria itu. Aradella tertegun oleh ketampanan Devandra. Ia mengira orang yang membelinya adalah pria hidung belang tua, tetapi ternyata seorang pria muda tampan dengan raut wajah dingin.
'Tuan, terima kasih,' batin Aradella sambil menunduk.
Devandra yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini langsung berkata, "Ikut aku pulang." Ia berbalik angkuh, meninggalkan tempat itu.
Aradella mengangguk. Ia melirik sekilas ke arah para pengusaha yang menatapnya penuh nafsu, seakan ingin menculiknya. Ia segera bergegas mengikuti Devandra.
...______...
yg bener masuk ke dalam selimut atau ke dlm bed cover...