NovelToon NovelToon
Kamar No.11B

Kamar No.11B

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Contest / Rumahhantu / Eksplorasi-misteri dan gaib / Hantu / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:8.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: vikryviik

Ada apa di kamar 11B? Sejak Adi menempatinya, hal-hal tak biasa sering ia alami. Mimpi buruk kadang mengganggu tidurnya, bahkan sesosok wanita sering menghantuinya? Apa karena harga kost tersebut murah? Sampai-sampai Adi tak berniat pindah dari sana.

Atau ada hal lain? Yang membuatnya harus tetap bertahan demi menguak misteri yang terjadi.

Belum lagi, puluhan ekor kucing kadang mengganggu Adi. Seolah selalu memperhatikan dan mengawasinya.

Rasa takut bercampur penasaran menggelayut di kepala Adi. Dapatkah Adi menemukan jawaban tentang sesuatu yang mengganggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vikryviik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 3

Malam ini mulai kukemas seluruh barang-barangku. Tak enak rasanya menumpang cukup lama di kontrakan Mas Gun. Memang, ia tak pernah mempermasalahkan berapa lama kutinggal di sana, apa saja yang kulakukan. Tapi, kurang nyaman kalau harus terus menumpang.

"Mas, suwun yo," ujarku singkat sembari merapikan beberapa lembar pakaianku.

"Apaan sih Di, lebay amat." jawabnya singkat dengan hisapan rokoknya dalam.

"Gue maunya lo bareng kost di sini sama gue. Eh, malah mau kost sendiri." sambungnya.

"Kan udah gue bilang mas, nggak enaklah. Temen sampeyan tiap hari banyak yang datang ke sini." jawabku.

"Ya kalau nggak enak, kasih kucing aja Di. Hehehehe." Mas Gun terkekeh.

Mas Gun memang seniorku paling baik sejak nyantren dulu. Aku ingat sewaktu di pondok dulu, dia melindungiku dari senior iseng yang hendak membully. Mas Gun adalah murid ayahku saat di bangku sekolah dasar dulu. Info tentang kuliah dan kampus pun kudapat darinya.

drrrttt drrrttt

Ponselku bergetar. Mbak Ani?

"Assalamu'alaikum mbak." aku menjawab telpon mbak-ku.

"Waalaikumsalam. Kamu sehat Di?" tanyanya di sana.

"Alhamdulillah sehat mbak. Mbak sendiri sehat?"

"Sehat alhamdulillah. Gimana kuliahnya? Lancar?"

"Ya begitu mbak, masih lancar saja karena masih awal semester belum banyak kendala sih. Ayah ibu sehat mbak?" tanyaku.

"Bagus kalau lancar. Ayah sehat, cuma ibu lagi kurang enak badan. Biasalah, masuk angin," jawab Mbak Ani.

"Gimana, kamu sudah dapat kost-an belum Di? Ndak enak kalau numpang terus sama Guntur"

"Sudah mbak, baru tadi sore dapat harga yang cocok. Iya mbak, aku juga sudah bilang sama Mas Gun, ndak enak kalau numpang terus di sini." jawabku.

"Alhamdulillah kalau sudah dapat. Yowes, mbak cuma mau tanya kabar kamu saja. Inget pesan ayah ya, shalat jangan di tinggal."

"Nggih mbak, nggak di tinggal dong"

"Yasudah, salam buat Guntur. Bilang makasih sudah mau nampung Adi selama dua minggu. Assalamu'alaikum."

"Nggih mbak, nanti di sampaikan salamnya. Waalaikumsalam mbak."

Setelah percakapan singkat dengan Mbak Ani, aku kembali membereskan barang-barangku. Mas Gun sedang asik dengan game di ponselnya. Setelah selesai membereskan barang, aku membuat secangkir kopi dan duduk di depan kamar.

Kontrakan Mas Gun terletak di padat pemukiman dekat kampus. Banyak kost berjejer dan bertingkat-tingkat. Jam di ponselku menunjukkan pukul 22:41, suasana di sini tak begitu sepi. Masih banyak motor lalu lalang. Beberapa penjual makanan gerobak pun sesekali masih lewat.

Aku bersandar pada dinding depan kost Mas Gun, sesekali kuseruput kopi. Kupandangi suasana sekitar, namun mataku tertuju kepada sebuah bayangan tak asing. Kupicingkan mataku tajam, agar lebih jelas terlihat. Bayangan itu seperti sosok kakek tua yang berpapasan denganku tadi. Bayangan itu ada di samping sebuah kontrakan, dekat dengan sebidang tanah tempat pembuangan sampah.

Kuusap mataku berkali-kali, agar yakin dengan apa yang kulihat. Bayangan itu kini lebih jelas terlihat sebagai sosok kakek tua dengan blangkon dan baju hitamnya. Aku bangun dari dudukku, kuperhatikan si kakek. Matanya tajam melihatku. Separuh wajahnya gelap tak terpancar sinar, namun tatapannya jelas.

"Kek, kek! Kakek!" panggilku.

Si kakek tak menjawab. Ia hanya diam dan masih menatapku. Kupakai sandal, dan berjalan pelan menuju tempat si kakek berdiri.

"Wooii Di!" panggil Mas Gun dari dalam.

"Ya mas!" jawabku.

"Mau kemana? Ke warung ya?" tanya Mas Gun.

Aku kembali ke kamar dan menghampiri Mas Gun.

"Enggak kok," jawabku.

"Lah, terus lo mau kemana kalau bukan ke warung?"

"Em, itu. Anu mas," aku tergagap.

"Anu anu aja. Ini gue nitip rokok." Mas Gun memberikan selembar uang.

"Iya mas."

Aku berjalan menuju tempat si kakek tua berdiri. Sosoknya sudah tidak ada. Cukup lama aku berdiri dekat tempat pembuangan sampah, mencari sosok kakek tua. Namun tidak ada. Hanya segerombolan tikus sedang mengacak-acak seonggok plastik sampah. Aku pun berlalu, menuju warung membeli rokok.

"Beli rokok dimana Di?" tanya Mas Gun, dua jempolnya masih menari di layar ponselnya.

"Biasa mas, di warung Teh Kokom." jawabku sembari melempar sebungkus rokok pesanan Mas Gun.

"Oh di Teh Kokom, kirain beli di Kudus,"

"Hehehehehe, emang kenapa mas?" tanyaku.

"Lama banget pergi ke Teh Kokom doang. Gue kirain lo ke Kudus."

"Eh mas, masa tadi gue lihat kakek-kakek yang tadi deh." ucapku.

"Kakek-kakek yang mana?" tanya Mas Gun.

"Itu lho, kakek-kakek yang papasan sama gue di lapangan sana. Yang tadi gue cerita di tukang pecel. Lupa?"

"Iya inget. Terus kenapa?"

"Tadi pas gue samperin, udah ilang masa!" ujarku.

"Aaahh mati lagi! Sial!" Mas Gun teriak. Ia meletakkan ponselnya.

"Di, gue tanya sekali lagi ya," Mas Gun berkata. Aku mengangguk.

"Lo yakin mau kost di daerah sana?" tanyanya.

"Kenapa mesti nggak yakin mas?"

"Yeee ni anak, di tanya malah balik nanya. Jawab dulu!" sungut Mas Gun.

"Yakinlah mas. Masa nggak yakin, cuma ngekost doang kok." jawabku.

"Bukan itu masalahnya. Kalau cuma ngekost doang semua orang juga yakin-yakin aja. Di, di sana itu daerah sepi, banyak yang bilang disana itu daerah serem. Lo yakin masih mau kost di sana?" tanya Mas Gun meyakinkanku.

"Mas, bukannya gue nggak dengerin saran lo. Tapi, cuma di sana gue dapat harga lumayan murah, terus suasananya gue seneng. Gue yakin kok." jelasku.

"Menurut lo, kakek-kakek yang lo temuin tadi itu pertanda apa cuma kebetulan aja?" tanya Mas Gun kembali.

"Hahahahaha, ketemu kakek-kakek doang mas. Pertanda apaan? Hahahahaha." ledekku.

"Idiiihh, malah becanda ni anak."

"Lagian lo lebay mas. Masa ketemu kakek-kakek di bilang pertanda. Pertanda apaan mas?" ujarku.

"Gue nggak tau pertanda apa. Kan lo sendiri yang cerita, papasan sama kakek-kakek terus tiba-tiba tuh kakek hilang. Tadi juga, lo liat kakek yang tadi, pas di samperin hilang. Menurut lo itu pertanda apa kebetulan?" Mas Gun berkata.

"Oke mas, oke. Emang aneh sih, tapi menurut gue itu cuma kebetulan aja. Atau cuma halusinasi gue aja kali." ujarku.

"Oke, berarti kebetulan ya. Mudah-mudahan cuma kebetulan atau halusinasi lo aja ya." tanggap Mas Gun.

"Santai aja mas. Gue yakin nggak ada yang aneh-aneh." aku menenangkan Mas Gun.

"All right, that's your bussiness." gumam Mas Gun.

"Oalaahh, mulai deh gaya songongnya nih. Hahahahaha." ucapku sembari menonjok bahu Mas Gun pelan, ia pun tertawa.

Malam itu aku berbincang hingga larut dengan Mas Gun, ini adalah malam terakhirku di kontrakannya. Kebetulan juga, besok tidak ada jadwal kuliah. Mas Gun bilang, lusa akan ikut membantuku pindahan ke Kost Pak Thamrin. Baguslah, semoga semua berjalan lancar.

1
Dewii Ratna Daffa'rizkiansyah
iya nih kek badrun y kmna gak muncul2..
Mila Karmila
aneh ya kok semuax bengong bukan membunuh si merah mlh santai santai aja gimn sih ceritax g paham aq
Mila Karmila
ha ha ha jagox kalah
Mila Karmila
mn tika
Mila Karmila
mana ilmu di cemen
Mila Karmila
bukanx mau ambil mustika lupa yaaaa
Shankara Senja
bukan tokoh utamanya yg ga peka.taoi penulisnya ga peka sama konent pembaca
Shankara Senja
si adi lemot apa bodoh ya..secara lulusan pesantren gtu loh..kecuaki orang biasa..hapalan doa untuk apa jg pasti diajarkan..apa penulis yg kurang paham
Wiwit
koq Adi ga ada nanya yg ada perempuan d rmh mang Ujang, koq ceritanya ngambang trus
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
ujang gmn?
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
perasaan udah jelas banget... kalau si adi bakal di jadiin tumbal si kunti *merah* tapi karna punya jimat pengganti nya si wati..... masa adi masih ga paham juga... padahal udah di kasih tau dan dapat petunjuk banyak bangat (dari mimpi).
cumi cumi kecil🦑🌸🌈👑
itu mereka ga ada kepikiran buat cari si bagas di rumah mba kunti apah?
KATAKURI
Jujur gua benci sama wanita kayak Kemala ini!!!! asli!!!!
Achiek
adi... adi..... cara pikir mahasiswa kok gitu sih.... yg diincar bkn hny loe... tika dan nyokap kemala kan diincar juga....
Achiek
lho bknnya nyai asih blm meninggal saat keguguran... dan dikuburkan bkn disekitar rumahnya.... ini crt kok jd mundur maju.... belibet nggak jelas....
Achiek
bodoh.... kok bs sich thor sosok bodoh dijadikan aktor utama....
Aris Setyawan
si guntur emang g berguna,,malah nambah masalah
Aris Setyawan
bentar2 dengkul lemas,, aslinya adi punya nyali g sich
Aris Setyawan
selain adi yg pekok,, ternyata anak ponpes satunya juga g kalah pekoknya...hehehehe..
Aris Setyawan
ne cerita nya adi tokoh utama yg g peka,, katanya lulusan ponpes kok g peka,, katanya nyaman dikost ternyata merasa dihantui,, nyamannya dimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!