NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Biarkan Allah Yang Mengatur

Faz memasak mi instan di dapur. Sendirian.

Tak ada siapa-siapa selain suara air mendidih dan bunyi sendok yang sesekali beradu dengan panci.

“Ya... tak apa mi instan lagi. Pasti ini sangat lezat,” gumam Faz sambil terus mengaduk mi di dalam panci.

Ia mencoba terdengar santai, seolah semuanya baik-baik saja.

Padahal pikirannya sama sekali tidak tenang.

Hidupku tidak lama lagi.

Kalimat itu kembali muncul di kepalanya.

Entah sudah berapa kali kalimat itu datang tanpa diundang. Setiap kali Faz mencoba mengalihkan pikirannya, bayangan tentang penyakit itu selalu kembali.

Ia menghela napas panjang.

“Sudahlah...”

Mi pun matang.

Faz memindahkannya ke dalam mangkuk, lalu berjalan menuju ruang makan. Ia duduk sendirian di sana. Mangkuk mi diletakkan di hadapannya.

Baru saja ia hendak menyuapkan mi pertama, terdengar suara dari arah pintu.

“Assalamu'alaikum, Faz.”

Faz menoleh.

“Wa'alaikumussalam.”

Rozin masuk sambil meletakkan beberapa barang yang dibawanya. Ia adalah teman Faz sekaligus orang yang selama ini selalu membantu menyiapkan segala kebutuhan untuk pemotretan maupun konten.

Namun, begitu melihat makanan di hadapan Faz, Rozin langsung mengernyit.

“Ya Allah... Faz, makan mi instan lagi?”

“Ndak ada sayuran selain mi,” jawab Faz santai.

Rozin menggeleng.

“Kamu sedang apa, Faz? Kenapa tiba-tiba kamu ingin berhenti dari pemotretan?”

Faz diam.

“Semenjak kemarin kamu juga mulai mengurangi ngonten. Sekarang kamu bilang mau berhenti dari pemotretan.” Rozin semakin kesal. “Kamu ndak semangat hidup atau gimana? Ndak seperti gayamu.”

Tangan Faz yang memegang garpu berhenti.

Ndak salah kamu, Zin.

Memang aku ndak semangat hidup.

Namun, kalimat itu hanya bergema di dalam hati.

Faz tidak mungkin mengatakannya.

Ia kembali mengaduk mi yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk.

“Aku pengen pulang, Zin,” katanya akhirnya.

“Pulang?Tiba-tiba?"

“Iya. Kangen masakan Mama.” Faz tersenyum tipis. “Sepertinya aku sudah bosan dengan mi.”

Ia bangkit, membawa mangkuk mi menuju wastafel tanpa menjelaskan apa pun lagi.

Rozin hanya bisa menatap punggung Faz yang menjauh.

Ia menggeleng pelan.

Ada sesuatu yang berubah dari sahabatnya itu.

Dan Rozin tidak tahu apa.

---¤---

Sementara itu, Hannah pergi ke studio fotonya.

Studio itu kecil dan sederhana. Letaknya tepat di samping sebuah kafe milik seseorang yang selama ini banyak membantunya. Bahkan Hannah bisa menyewa tempat itu dengan harga yang cukup rendah.

Sore itu Hannah duduk di salah satu sudut kafe, tepat di dekat pintu masuk menuju studio fotonya.

Namun, sejak tadi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.

Bagaimana aku membujuk Faz?

Hannah menarik napas panjang.

Apakah aku harus mulai mengirim DM kepadanya?

Tangannya sempat meraih ponsel, tetapi kembali meletakkannya.

Ia masih ragu.

Bukan hanya karena tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.

Lebih dari itu, Hannah takut Faz akan mengenalinya.

Bagaimana kalau dia tahu?

Bagaimana kalau hanya dengan mendengar suaraku saja dia bisa mengenaliku?

Hannah menyentuh ujung cadarnya.

Selama ini cadar memang menutupi wajahnya. Tetapi apakah itu cukup untuk menyembunyikan seseorang dari masa lalu?

“Hannah, sedang ngelamunin apa?”

Hannah tersentak kecil.

Suara itu sangat ia kenal.

“Ndak, Rif. Aku sedang memikirkan pemotretan untuk kali ini,” jawab Hannah.

Arif berdiri di samping mejanya.

“Mau latte?”

Hannah mengangguk.

Arif kemudian pergi sebentar.

Hannah kembali menatap ponselnya.

Nama Faz masih ada di sana.

Hanya dengan melihat nama itu, jantungnya kembali berdebar.

Ia tidak tahu harus memulai dari mana.

Tak lama kemudian Arif kembali membawa secangkir latte dan sepiring kecil lava cake.

“Ini lattenya.”

Arif meletakkannya di hadapan Hannah, kemudian duduk di kursi seberangnya.

Hannah menatap piring kecil itu.

“Kok ada lava cake? Aku kan ndak pesan.”

“Aku tahu kamu sedang banyak pikiran, Han.” Arif tersenyum. “Cokelat dapat membantu.”

Hannah terdiam sejenak.

Arif memang selalu begitu.

Ia mengenal Hannah cukup lama. Bahkan ketika wajah Hannah tertutup cadar, Arif tetap bisa membaca perubahan dari sorot matanya.

“Thanks. Jazakallahu khairan.”

Hannah mulai menyendok lava cake itu perlahan.

Arif tidak banyak bertanya.

Ia hanya duduk menemaninya sambil memandang keluar melalui kaca. Motor berlalu-lalang di jalan di depan kafe.

Beberapa saat mereka tenggelam dalam keheningan.

Hannah kemudian memecahnya.

“Rif...”

“Hem...” jawab Arif tanpa menoleh.

“Kalau saja kamu bertemu seseorang yang pernah kamu kenal di masa lalu...” Hannah berhenti sejenak. “Apa yang akan kamu lakukan?”

Arif akhirnya menoleh.

Hannah menunduk, memainkan sendok kecil di tangannya.

“Kalau masa lalu itu ingin kamu lupakan,” lanjutnya pelan.

Arif terdiam.

Ia berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu, Han.”

Hannah menatapnya.

“Namun, yang pastinya...” Arif menghela napas pelan. “Aku tidak akan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.”

Hannah diam.

“Biarkan Allah yang mengatur semuanya.”

Kalimat sederhana itu membuat Hannah terdiam cukup lama.

Biarkan Allah yang mengatur semuanya.

Perlahan, sudut matanya melembut.

“Betul juga.”

Senyum kecil mulai muncul di balik cadarnya.

Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana jika Faz mengenalinya.

Bagaimana jika Faz menolaknya?

Bagaimana jika masa lalu mereka kembali terbuka?

Padahal semua itu bahkan belum terjadi.

Hannah menggenggam ponselnya.

Untuk pertama kalinya sore itu, keraguannya sedikit berkurang.

Kalau memang Allah menghendaki mereka bertemu kembali, ia tidak akan mampu menghindarinya.

Dan jika Allah menghendaki jalan mereka berbeda, Hannah pun harus belajar menerimanya.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian membuka kembali layar ponselnya.

Nama Faz masih ada di sana.

Kali ini, Hannah tidak langsung menutupnya.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!