Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di rumah besar keluarga Adhitama, tepatnya di ruang utama yang megah. Roselin tengah duduk bersandar nyaman di sofa, sambil menyesap teh chamomile hangatnya.
Wajah cantiknya yang tak terlihat di makan usia, dipenuhi senyum kepuasan.
Di sampingnya, Selene sibuk mengoleskan krim malam ke wajahnya sambil membolak-balik majalah fashion.
"Mami benar-benar jenius." ujar Selene.
"Benarkan."
"Ya, coba kalau Mami tidak memaksa Papi kemarin, pasti Selene yang harus tidur di kamar monster itu malam ini. Selene bahkan merinding cuma membayangkan tatapan mata Regantara tadi di altar, Mi."
Roselin terkekeh pelan, ia meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan denting halus.
"Mami tidak akan pernah membiarkan putri Mami yang cantik ini menderita." jawab Roselin. "Biar si anak pembawa sial itu yang menanggung semuanya. Lagi pula, Zara memang pantas mendapatkan pria kejam seperti Regantara. Dia selalu merasa dirinya sok suci hanya karena dia putri kandung dari wanita yang sudah mati itu."
Selene tertawa kecil, saat mengingat raut wajah Zara tadi.
"Tapi Mi, apa Regantara tidak akan marah saat tahu kita menukar pengantinnya? Pria itu kan terkenal tidak punya belas kasihan."
"Memangnya apa yang bisa Regantara lakukan?" balas Roselin santai sambil mengibaskan tangannya.
"Maksud Mami?"
"Perjodohan itu secara hukum hanya mencantumkan putri dari keluarga Adhitama. Secara legal, Zara adalah anak sah Hendra. Regantara tidak akan punya alasan hukum untuk membatalkan investasi ke perusahaan kita."
Roselin menyandarkan tubuhnya, ia bisa membayangkan masa depan cerah keluarga Adhitama yang bergelimang harta tanpa adanya gangguan dari Zara lagi.
"Lagipula, malam ini Zara pasti sedang menangis ketakutan di sudut kamar. Regantara mungkin sudah menyiksanya secara mental, atau bahkan mengusirnya ke kamar pelayan. Anak itu tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu. Dia hanyalah boneka yang kita manfaatkan untuk menyelamatkan bisnis Papi." lanjut Roselin dengan senyum culas.
Selene tersenyum puas mendengar ucapan ibunya, benar. Zara tidak punya apa-apa.
"Semoga saja Regantara mengurungnya seumur hidup di kamar pelayan atau bahkan ruangan bawah tanah, jadi dia tidak akan pernah muncul lagi di depan kita."
"Tapi Mi, waktu di altar tadi... Regantara ternyata tampan sekali." ucap Selene, nada suaranya berubah menjadi rengekan manja yang penuh dengan kecewa.
"Posturnya tinggi, bahunya bidang, dan wajahnya benar-benar mirip aktor utama di drama-drama mahal. Sumpah, auranya luar biasa dominan!"
Selene membayangkan ia melakukan malam pertama dengan Regantara, bagaimana tubuh pria itu menindihnya, bagaimana bibir pria itu menciumnya dan bagaimana pria itu menggagahinya.
Roselin mengernyitkan dahi, menatap putrinya dengan tatapan heran.
"Tadi siang kamu bilang dia mirip monster yang siap menelanmu hidup-hidup, sekarang kamu bilang dia tampan?"
"Ya kan tadinya Selene takut!" Selene merengut, sambil melipat tangan di dada. "Mana Selene tahu kalau suami yang harusnya jadi milikku itu begitu sesempurna. Kalau dari awal Selene tahu Regantara setampan dan sekaya itu, Mami tidak perlu repot-repot menyuruh Zara menggantikan posisi Selene." lanjutnya penuh penyesalan.
Bayangan wajah tampan Regantara dengan tatapan kelamnya yang mematikan justru mendadak terlihat begitu memikat di mata Selene. Apalagi di kalangan sosialita, pria dari klan tertinggi seperti Benedict bukan sekadar kaya raya, melainkan puncak rantai makanan yang diperebutkan oleh seluruh wanita.
Roselin mendengus pelan.
"Jangan bodoh, Selene. Buat apa menyesali pria kejam yang temperamental? Pria seperti Regantara itu berbahaya, biar saja si sialan Zara yang menghadapi tekanan batin di rumah itu. Kamu tidak perlu iri."
"Tapi tetap saja, Mi..." Selene menggigit bibirnya, karena rasa tidak rela tiba-tiba menggerogoti hatinya.
"Zara sekarang hidup di istana megah, memakai perhiasan mahal, dan bergelar Nyonya Benedict."
"Dia hanya dijadikan alat pengorbanan. Sudah, jangan pikirkan mereka lagi. Besok atau lusa, Papi pasti akan mendapatkan suntikan dana dari Benedict Group untuk menyelamatkan perusahaan kita. Itu yang jauh lebih penting dari sekadar wajah tampan Regantara." balas Roselin.
.
Sedangkan di benua lain.
Tepatnya di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat kota Jenewa, suasana di dalam ruang rapat bernuansa minimalis itu begitu hening, dan hanya di isi oleh ketukan jemari yang teratur di atas meja kaca.
Regantara Benedict duduk di kursi utamanya.
Tuksedo pernikahan yang tadi ia kenakan kini sekarang telah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku.
Meski baru saja menempuh penerbangan belasan jam melintasi belahan bumi, tidak ada raut lelah sedikit pun di wajah tampannya.
Di sampingnya, sekretaris pribadinya, Alaric menyerahkan sebuah tablet tipis berisi laporan.
"Tuan, laporan mengenai pergantian pengantin wanita kemarin sudah saya verifikasi. Seperti perkiraan Anda, keluarga Adhitama secara sepihak mengganti posisi Selene dengan Zara Adhitama." ujar Alaric.
Regantara menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia menyilangkan kaki, lalu menyipitkan mata saat menatap foto profil Zara yang terpampang di layar. Tadi di altar ia sama sekali tidak memperhatikan detail wajah istrinya itu karena terhalang oleh veil, Regantara kembali menatap foto yang menampilkan wajah Zara dengan senyum lembut namun menyimpam keteguhan di sorot matanya, sangat berbeda dengan Selene.
Ia sama sekali tidak pernah mencari data Zara karena putra Adhitama yang paling menonjol adalah Selene, jadi selama ini yang ia cari tahu adalah Selene Adhitama.
"Kenapa mereka menggantinya?" tanya Regantara pada Alaric.
"Selene Adhitama menolak karena takut akan reputasi Anda, Tuan." jawab Alaric dengan hati-hati. "Sedangkan Roselin, ibu tiri Zara, memanfaatkan momen ini untuk membuang Zara sekaligus memanfaatkan nama besar Benedict untuk menyelamatkan bisnis keluarga Adhitama yang sedang sekarat." jelasnya.
Sebuah senyum miring yang dingin terukir di bibir Regantara.
"Keluarga bodoh, mereka pikir aku tidak akan tahu permaian murah ini? Mereka mengira bisa memberiku anak yang tidak berguna sebagai tumbal?" gumam Regantara pelan, ia kembali mengetukkan ujung jarinya ke permukaan meja.
"Apakah Anda ingin saya membekukan seluruh aset dan membatalkan kerja sama dengan Adhitama Corp sekarang juga, Tuan?" tanya Alaric siap.
Regantara diam, matanya tertuju pada foto Zara lagi. Ia mengingat kembali saat ia menjabat tangan wanita itu dan memasangkan cincin pernikahannya di altar tadi. Tangan wanita itu bergetar hebat, namun matanya tetap menatap lurus ke depan tanpa meneteskan air mata sedikitpun.
Ada sesuatu yang menarik dari cara wanita itu menahan luka, dan Regantara menyukai hal itu.
"Tidak usah, biarkan mereka menikmati ilusi kemenangan mereka untuk sementara waktu." jawab Regantara singkat, kemudian mematikan layar tablet di tangannya.
"Lalu... bagaimana dengan Nyonya Zara di kediaman utama, Tuan?"
Regantara menoleh ke arah jendela kaca, menatap malam di kota Jenewa yang begitu dingin.
"Biarkan dia sendirian di sana. Kita lihat, sampai sejauh mana gadis kecil itu sanggup bertahan di rumahku. Jika dia cukup cerdas, dia akan memanfaatkan namaku untuk menghancurkan keluarganya sendiri. Tapi jika dia lemah, dia akan hancur dengan sendirinya."