Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
Adrian masih menatap Karina beberapa saat setelah turun dari mobilnya. Tatapan tajamnya seolah berusaha mengingat di mana ia pernah melihat gadis itu.
"Tom..."
Suara Adrian memecah keheningan.
Asisten pribadinya segera menghampiri dan berdiri di samping Karina.
"Iya, Pak?"
Adrian melirik sekilas ke arah Karina dengan tatapan sinis, tatapan yang penuh dengan kecurigaan
"Kenapa ada wanita itu lagi?"
Tomy melihat ke arah Karina sambil menjawab
"Iya, Pak. Kemarin, saya yang menyuruhnya datang."
Tanpa menanyakan alasan lebih jauh, Adrian langsung melangkah memasuki gedung perusahaan.
Karina hanya mampu memandang punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu lobi. Sambil mengikuti langkah atasannya, Tomy sempat berbisik kepada satpam yang berdiri didepan pintu masuk
"Pak, Mbak Karina tamu saya. Tolong persilakan untuk menunggu di lobi."
"Baik, Pak Tomy."
Karina yang sempat ragu akhirnya tersenyum lebar, setelah dirinya dipersilahkan untuk menunggu didalam lobby utama gedung tersebut. Begitu Karina memasuki lobi, matanya dibuat takjub. Lantai marmer yang mengilap, para karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian rapi membuatnya merasa seperti berada di dunia yang berbeda.
Ia duduk di salah satu sofa sambil menggenggam kedua tangannya. Pendingin ruangan terasa amat terasa ditubuhnya, hingga beberapa kali ia harus mengusap kedua telapak tangan nya, berbeda dengan Karina yang menunggu dengan perasaan dipenuhi khayalan tentang kemewahan kantor yang dilihatnya, Adrian dan Tomy asisten pribadinya malah sedang memperdebatkan dirinya
"Apa kamu yakin Tom, dengan pilihan kamu itu?"
"Kenapa Pak Adrian, apa ada yang salah."
"Bukan...., tapi apa wanita seperti itu pantas bekerja dirumah Mahardika?, "Lihatlah penampilan nya terlalu standar dan tidak berpendidikan."
"Tapi pak Adrian, bukankah sudah beberapa kali pekerja yang berpendidikan, tapi tetap tidak bisa diterima oleh pak Surya?, "Saya tau apa yang diinginkan oleh Pak Surya, makanya saya mencoba mba Karina untuk memegang pekerjaan itu pak."
"Aku gak yakin Ayah suka."
"Tapi saya melihat di mba Karina, ada yang berbeda pak Adrian."
"Pokonya aku tidak yakin dengan nya, kau cari saja wanita yang lebih berkelas, bukan wanita rendahan seperti Karina!"
"Baik pak Adrian, tapi setidaknya biarkan pak Surya melihatnya dulu."
"Ok...., aku hanya berikan dia waktu tiga hari, jika aku lihat ayah tidak suka, kamu yang harus mengeluarkan dia dari rumah."
perdebatan kecil itu memang tidak mudah bagi Tomy untuk meyakinkan Adrian menerima Karina bekerja di rumah Mahardika, namun Tomy yakin pilihanya bisa membuat pak Surya menyukai pilihanya itu.
Lima belas menit Karina menunggu, akhirnya sang asisten datang menghampirinya, dia tidak yakin kedatangan nya ke kantor ini sesuai dengan harapan terdalamnya yaitu bisa mendekati Adrian, setelah sang direktur muda itu hanya memandangnya dengan tatapanya yang sinis dan penuh kecurigaan,
"Maaf ya, Mbak Karina, lama ya?"
"Nggak apa-apa, Pak."
Tomy duduk tepat di hadapan Karina.
"Begini, Mbak. Sebenarnya saya menyuruh mba Karina datang kesini buat bekerja dirumah Pak Adrian."
Perkataan itu sontak membuatnya kaget, dia tak menyangka langkahnya yang awalnya hanya untuk bertemu Adrian, kini malah memiliki jalan yang berpihak padanya,
"Sebenarnya kami sedang mencari seseorang untuk merawat Ayah dari Pak Adrian."
Karina tampak heran.
"Ayah Pak Adrian?"
"Beliau baru saja pulang dari perawatan di Singapura. Kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik, tetapi dokter menyarankan agar beliau selalu dibantu dalam setiap aktifitasnya"
Karina mengangguk pelan.
"Sebenarnya kami sudah beberapa kali mempekerjakan perawat profesional. Sayangnya, tidak ada yang bertahan."
"Kenapa bisa begitu?"
Tomy tersenyum tipis
"Iyah, nanti mbak Karina bisa melihat sendiri, Pak Surya orangnya keras kepala, tapi sebenarnya sangat baik, hanya saja Beliau tidak suka diperlakukan seperti orang sakit apalagi yang terlalu banyak larangan, melihat mba Karina kemarin saat mobil kami menabrak motor mba karina, saya langsung tertarik dengan pribadi mba Karina."
Karina terlihat gugup.
"Saya.....Tapi...."
"Semua kebutuhan medis akan ditangani dokter dan perawat yang datang setiap hari. Tugas Mbak hanya menemani pak Surya, itu saja."
Karina masih tampak ragu.
"Saya yakin Mbak Karina bisa."
Pernyataan itu membuat Karina terdiam beberapa saat, benar benar diluar dugaan nya, dalam hatinya dia berguman "Apa ini awal dari perubahan hidup ku?"
Ditambah lagi dengan penjelasan Tomy mengenai gaji yang akan dia dapatkan, karina langsung beranggapan ini adalah kesempatan baginya, untuk bisa mendekati Adrian dan sekaligus bisa cepat memiliki banyak uang.
"Ini langkah pertamaku... Aku harus bisa mengambil hati orang orang yang ada disana, termasuk Adrian."
Tomy kembali melanjutkan
"Baiklah kalau begitu mba Karina, kalau mba Katina setuju, kita akan langsung bertemu dengan Pak Surya."
Karina mulai berfikir sebentar hati nya mulai ragu, bila menerima pekerjaan ini, dia harus berhenti bekerja dibengkel, pasti akan membuat pak hendra dan Dimas kecewa, namun ini adalah kesempatan baginya, dia tidak boleh menyia - nyiakan kesempatan emas ini. Kemudian dia menjawab dengan penuh keyakinan dan menerima pekerjaan tersebut. Tak lama mereka pun pergi meninggalkan kantor Mahardika Grup, sepanjang jalan Tomy menjelaskan aturan dalam rumah, dan semua tentang pak Surya.
"O...yah, mba Karina....pak Adrian hanya akan memberi waktu tiga hari buat mba Karina."
"Kenapa tiga hari pak?" hatinya mulai menciut kembali mendengar pria incaran nya hanya memberinya waktu tiga hari, waktu yang sangat singkat
"Yahhh, karna pak Adrian tidak yakin sama mba Karina."
"Saya akan berusaha semampu saya."
"Iya....saya yakin Mba Karina mampu mengambil hati pak Surya."
Karina berdecit dalam hatinya "Tentu saja... akan aku buat semua kagum dengan ku, termasuk Adrian."
Sementara dirumah Mahardika, pak Surya yang telah diberitahu oleh Adrian tentang adanya pegawai baru, dirinya sudah bersiap memyambut kedatangan mereka.
"Siapa lagi yang dibawa untuk menjagaku?"
Sejak Ayahnya sakit, Adrian terlalu protektif dengan dirinya, takut kehilangan sang Ayah yang sempat terjatuh saat beraktifitas, Adrian terus berusaha mencarikan seseorang yang bisa menjaga sang Ayah, Namun yang di dapat selalu tidak sesuai dengan keinginan sang Ayah, tapi kali ini Tomy lah yang mencarikan untuknya, dia tahu tomy pasti tau yang diinginkan sang Direktur. Mobil akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Mahardika. Karina menahan napas, rumah itu jauh lebih megah daripada yang pernah ia bayangkan. Halamannya luas, dipenuhi taman yang terawat rapi. Air mancur berdiri di tengah halaman, sementara beberapa mobil mewah terparkir di garasi, Tomy mengajaknya masuk, di ruang keluarga, seorang pria berusia sekitar enam puluh lima tahun sedang duduk sudah menunggu kedatangan mereka.
"Itu pak Surya," bisik Tomy dari kejauhan
langkah mereka makin dekat, seketika pak Surya melihat kearah mereka, Pandangan nya kini beralih fokus ke arah karina lalu mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki, keningnya langsung berkerut, ternyata dirinya sependapat dengan pembicaraan Adrian ditelpon tadi, Dalam hati, kenapa Tomy membawa wanita seperti ini dihadapanya. Dan mulai meragukan pilihan asisten nya. sementara Tomy menoleh bergantian ke arah Tuan Surya dan Karina. Jantungnya ikut berdebar. Ia mulai khawatir pilihannya kali ini justru menjadi kesalahan terbesar selama bekerja untuk keluarga Mahardika. Suasana mendadak hening. Karina yang penuh ambisi tidak akan menyerah, mencoba memperkenalkan dirinya dengan penuh keyakinan, kata demi kata yang keluar sangat lembut, dan penuh makna, namun hal itu tidak membuat pria paruh baya itu bersimpati padanya.
karina mulai kikuk dibuat tuan nya yang tanpa ekspresi.
"Maaf pak Surya saya akan bekerja sebaik mungkin untuk anda, saya akan berada jauh dari anda, dan saya akan selalu siap kapan pun anda membutukan bantuan saya."
Melihat ekspresi tuanya tomy pun tidak yakin ini akan berhasil, sementara Karina masih berdiri dengan kepala tertunduk, menunggu keputusan pak Surya.
Pria itu mengembuskan napas panjang,
"Baik..., Karina, "Kamu boleh bekerja di sini."
Wajah Karina langsung berbinar, namun sebelum senyumnya sempat mengembang, Tuan Surya kembali melanjutkan ucapannya.
"Saya menerima kamu disini Karna Tomy asisten saya, dan kamu juga harus bisa meyakinkan putraku, Adrian, karna dia yang akan menggaji mu."
Dengan sorot mata yang tajam, Karina mengepalkan kedua tangannya, apa pun yang terjadi, ia harus bertahan, ini adalah langkah awal menuju obsesinya.