Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Insiden Salah Masuk
Pintu di depannya terbuka tidak sampai separuh, tetapi cukup untuk membuat Keira melihat sepasang sepatu rumah warna abu-abu dan celana training hitam.
Ia mendongak pelan.
Xavier Sia berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit basah, satu tangan masih memegang gagang. Wajahnya tetap datar. Hanya alisnya yang naik tipis saat melihat Keira berjongkok di depan paketnya, kamera HP masih terbuka.
Keira ingin mengatakan sesuatu yang cerdas.
Yang keluar justru, "Lantai ini bersih banget ya."
Hening.
Xavier menatapnya. Lalu menatap paket. Lalu kembali menatapnya.
"Lo... survei karpet?"
Keira berdiri terlalu cepat sampai kepalanya berkunang-kunang. Ia menahan dinding dengan telapak tangan dan berharap wajahnya tidak terlihat sepucat mayat yang baru selesai olahraga.
"Paketku jatuh," katanya asal. "Maksudku, paket Mama. Ada obat. Aku kira ini punya kami."
Di saat paling buruk, HP di tangannya mengeluarkan suara kamera karena jarinya menyentuh layar.
Klik.
Foto kedua label paket Xavier tersimpan sempurna.
Xavier menunduk ke layar HP Keira.
Keira menekan tombol power dengan panik. "Refleks. Kamera gue sensitif."
Sudut bibir Xavier bergerak, entah menahan tawa atau menahan komentar yang lebih jahat. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk, mengambil dua paketnya, lalu memungut satu amplop hitam tipis yang terselip di bawah kardus.
Keira baru sadar ada amplop serupa di tangannya. Mungkin ikut terbawa saat ia panik memindahkan paket obat Angela tadi.
"Itu punya lo?" tanya Xavier.
Keira melihat amplop hitam itu. Di atasnya hanya ada stiker kecil tanpa nama, mirip sekali dengan sleeve kartu cadangan unit yang Angela letakkan di meja pagi tadi.
"Punya Mama gue," jawabnya cepat.
Xavier menatap stiker itu sebentar, tapi tidak memperpanjang. "Hati-hati kalau cari paket. Jangan sampai salah unit."
Keira mengangguk berkali-kali seperti boneka rusak, lalu mundur ke pintu apartemennya sendiri.
Begitu masuk, ia bersandar di balik pintu dan menutup wajah.
"Mati aja sekalian, Keira. Tapi jangan sekarang. Masih ada misi."
***
Keesokan malamnya, Angela harus kembali ke Jakarta karena rapat mendadak. Sebelum pergi, ia menunjuk meja dekat pintu.
"Kartu cadangan unit Mama taruh di sana. Kalau kamu pusing atau butuh apa-apa, telepon Mama. Jangan sok kuat."
"Siap, Bos Angela."
"Keira."
"Siap, Mama."
Setelah pintu tertutup, apartemen kembali sunyi. Keira memakai piyama katun warna krem, rambutnya dicepol asal, dan di meja nakas, Nokia tua itu menampilkan hitungan misi: `Hari 2/3`.
Status WhatsApp-nya masih sama dengan target.
`Tidak menerima drama.`
Ironis, karena hidupnya sejak kemarin murni drama.
Menjelang pukul sembilan, rasa mual datang tiba-tiba. Keira bangun untuk mengambil obat di tas kecil yang tadi Angela bawa, tapi tas itu tidak ada di ruang tamu. Ia mengingat-ingat. Angela sempat bilang ada obat tambahan di kantong belanja depan pintu.
Keira mengambil amplop hitam di meja, menyangka itu kartu cadangan unitnya. Kepalanya pening. Koridor terlihat sedikit berputar saat ia keluar.
Ia menempelkan kartu ke smart lock.
Pintu terbuka.
Keira masuk sambil menunduk, menahan perutnya. Dua langkah kemudian, ia berhenti.
Aroma ruangan ini berbeda.
Apartemennya sendiri biasa berbau kertas gambar, cat marker, dan bubur ayam sisa Angela. Ruangan ini berbau kopi, deterjen mahal, dan sesuatu yang hangat seperti kayu.
Keira mengangkat wajah.
Ruang tamu di depannya jelas bukan ruang tamunya.
Sofa abu-abu tua. Rak buku tinggi penuh buku hukum, beberapa komik, dan satu figur kucing hitam kecil. Di dekat jendela, ada tanaman hijau yang terlihat terlalu sehat untuk dimiliki Keira. Sepasang sepatu putih dan sneakers hitam tersusun rapi di rak dekat pintu.
Keira membeku.
"Oh, tidak."
Ia berbalik hendak kabur, tapi pintu sudah menutup otomatis di belakangnya.
Kartu di tangannya bukan kartu unitnya.
Kartu itu milik Xavier.
Keira menatap langit-langit. "Tuhan, kemarin aku minta keajaiban. Ini bukan keajaiban. Ini jebakan karakter utama bodoh."
Ia seharusnya langsung keluar. Benar-benar langsung keluar.
Tapi matanya menangkap rak sepatu itu lagi.
Sneakers putih. Loafer hitam. Sepatu olahraga abu-abu. Semuanya rapi, semua warnanya netral. Di gantungan dekat pintu ada jaket denim gelap dan hoodie hitam-putih yang kemarin dipakai Xavier. Di atas meja kecil, ada jam tangan hitam dan parfum dengan botol minimalis.
Informasi.
Sistem di laci kamarnya seolah berbisik. Kalau ia ingin hidup, ia harus meniru target.
"Lima detik," bisik Keira. "Gue cuma lihat lima detik. Ini bukan mencuri. Ini riset survival."
Lima detik menjadi tiga puluh.
Ia berjalan pelan ke area dekat kamar yang pintunya setengah terbuka. Dari celah itu, ia bisa melihat lemari pakaian. Warna-warna di dalamnya seperti hidup Xavier dirancang oleh orang yang alergi keceriaan: hitam, putih, abu-abu, navy, sedikit cokelat.
Keira mengeluarkan HP, membuat catatan cepat.
`Xavier: basic, clean, mahal, tidak ada warna norak.`
Ia baru selesai mengetik saat sesuatu bergerak dari bawah sofa.
Sepasang mata kuning menatapnya.
Keira menahan napas.
Seekor kucing hitam keluar perlahan. Bulunya pekat, ekornya tegak, wajahnya terlalu percaya diri untuk ukuran makhluk berbulu. Di lehernya ada kalung kecil bertuliskan `Mochi`.
"Halo," bisik Keira. "Aku cuma tersesat. Jangan lapor pemilikmu."
Mochi mengeong.
"Ssst."
Mochi melangkah mendekat.
Keira mundur.
Mochi melompat.
"Aaa!"
Keira terhuyung ke sofa saat kucing itu mendarat tepat di dadanya. Refleks, ia memeluk tubuh kecil berbulu itu agar tidak jatuh. Mochi, bukannya takut, malah menyusup nyaman ke pelukannya dan mengeong lagi seperti baru menemukan bantal pribadi.
Pintu utama berbunyi.
Klik.
Keira menoleh dengan Mochi masih di pelukan, piyama kusut, rambut hampir lepas, dan wajah penuh dosa.
Xavier berdiri di pintu.
Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya selama total dua kejadian memalukan, wajah datar Xavier retak.
Ia menatap Keira.
Menatap Mochi.
Menatap kembali Keira.
"Ini," katanya pelan, "masih survei karpet?"
Panas naik ke seluruh wajah Keira.
"Gue bisa jelaskan."
Mochi mengeong seolah ikut menagih penjelasan.
Xavier menutup pintu di belakangnya. "Silakan."
Keira membuka mulut. Tidak ada kalimat yang pantas keluar. Tidak ada versi cerita yang membuat seorang cewek berpiyama, berada di apartemen cowok asing, sambil memeluk kucingnya, terdengar normal.
"Aku salah masuk."
"Dengan kartu unit gue?"
Keira melihat kartu hitam di tangannya. Tenggorokannya kering.
"Kemarin... kayaknya ketukar."
Xavier diam.
"Aku sakit kepala, terus ambil kartu yang salah. Terus pintunya kebuka. Terus aku sadar ini bukan rumahku. Terus..."
"Terus lo jalan sampai depan kamar gue?"
Keira memejamkan mata. Tamat.
"Riset."
"Apa?"
"Maksudku, refleks. Aku panik. Kalau panik, orang kan bisa jalan nggak jelas."
Xavier menatapnya lama sekali. Keira semakin ingin menyatu dengan sofa.
Lalu Mochi, makhluk pengkhianat itu, menggosokkan kepala ke dagu Keira.
Tatapan Xavier turun ke kucingnya. Sesuatu yang sangat halus lewat di wajahnya. Keira tidak sempat membaca itu apa.
"Mochi biasanya nggak suka orang baru," katanya.
"Mungkin dia punya selera buruk."
"Mungkin."
Keira mengembalikan Mochi ke sofa dengan hati-hati. "Aku pulang."
"Kartu gue."
"Oh. Iya."
Ia menyerahkan kartu itu dengan dua tangan seperti menyerahkan barang bukti di kantor polisi. Lalu ia membuka pintu, hampir tersandung sandal sendiri, dan kabur ke unit seberang tanpa berani menoleh.
Pintu apartemennya tertutup.
Keira menempelkan punggung ke pintu, menutup mata, dan mengeluarkan suara tanpa bentuk.
Di seberang lorong, Xavier masih berdiri di ruang tamu. Dua detik. Tiga detik.
Lalu ia tertawa pelan.
Keira tidak mendengarnya.
Yang ia dengar lima menit kemudian adalah bunyi notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal.
`Besok mau jelaskan soal tadi, atau mau aku lapor satpam? :)`