NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 03. Sekolah & Teman Baru

Hari ini, Nuha tampak lebih segar dengan seragam putih abu-abu barunya yang masih kaku. Atribut-atribut aneh bin ajaib dari karton dan segala tetek bengek-nya kini sudah resmi masuk ke dalam tempat sampah.

Ada sebersit rasa bangga yang menyelinap di dadanya karena Masa Orientasi Siswa yang berlangsung tiga hari ini ia berhasil memenuhi semua tuntutan nyeleneh tersebut. Berkat bantuan sang kakak, teka-teki rumit itu berhasil dipecahkan.

Cokelat lumba-lumba yang dimaksud ternyata merujuk pada cokelat merek Dolphin. Sementara untuk nasi goreng pelangi, ia memutar otak dengan cerdik. Warna merah menggunakan beras merah, warna kuning dari nasi kuning, warna hijau memanfaatkan sari pandan, sedangkan warna jingga dan ungu diperoleh dari campuran umbi-umbian.

Terakhir, kaus kaki zebra yang sempat membingungkan itu rupanya hanyalah kaus kaki belang bergaris dua warna. ​Namun, di balik keberhasilan kecil yang membanggakan itu, sebuah pengalaman pahit rupanya telah menanti untuk membayangi harinya.

Nuha berbisik lirih, ​"Fiuh, akhirnya MOS udah selesai, Hawa. Kuharap dunia kembali damai dan tenang setelah ini," ia ​melangkah masuk ke ruang kelas XMM2 yang kedua pintunya telah terbuka lebar. Namun sial, baru saja kakinya menaiki undakan lantai di ambang pintu--

​Bruk!

Ia tersandung, jatuh tengkurap di atas lantai tegel yang sudah lawas. Seketika, beberapa murid yang sedang asyik mengobrol di bangku masing-masing langsung menoleh.

​"Langkah kaki aja nggak becus."

"Payah banget! Hahaha!" ​

Ejekan itu terasa menepis paksa harga diri Nuha, menyisakan rasa perih yang menjalar di hatinya. Namun sebelum air matanya sempat luruh, dua orang siswi yang kebetulan juga baru masuk segera bergerak menolongnya.

​"Lo nggak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka. Dengan lembut ia mengulurkan tangan untuk membantu Nuha bangkit berdiri.

​"Aku ... nggak apa-apa."

Nuha mengerjap pelan. Ia menatap penampilan kedua siswi di hadapannya yang sangat bertolak belakang, seperti minyak dan air yang dipaksa bersatu dalam satu wadah.

"Gue Asa Tantri. Panggil aja Asa," sebut ​siswi yang berpenampilan ala anak emo berambut jamet tomboi. Gaya rambutnya pendek acak-acakan khas tren masa itu, dengan lengan kemeja seragam yang digulung asal-asalan hingga ke siku.

"Dan ini sahabat gue, Sifa Zifara. Panggil aja Sifa," ​Di sampingnya, berdiri sang sahabat yang memiliki pipi chubby menggemaskan. Kontras dengan si tomboi, Sifa tampak sangat anggun dengan rambut hitam bergelombang panjang yang jatuh rapi hingga ke pinggang, memancarkan aura feminin yang ramah.

"Salam kenal, Nuha," Sapa Sifa.

"I-- iya, salam kenal," balas Nuha kikuk.

"Hei, kalian! Sini!"

​Sebuah seruan bersahabat memecah kecanggungan mereka. Dari sudut kelas, sebuah tangan melambai ramah, mengajak mereka bertiga untuk mendekat. Nana Isfani, siswi penggemar Harry Potter yang setiap hari selalu memeluk novel kebanggaannya tersebut kemana saja. Lambaian itu seketika mencairkan Atmosfer tegang di dalam ruangan, seolah membawa seberkas cahaya hangat bagi Nuha yang sempat terpojok.

​Seorang introvert akut seperti Nuha memang membuat urusan menjalin hubungan sosial terasa serumit rumus fisika kuantum. Jika tidak ada orang luar yang berbaik hati menariknya keluar dari tempurung, Nuha mungkin akan terus hanyut dan tenggelam dalam dunia sepinya sendiri.

​Dan tampaknya,

insiden Nuha yang terlambat di hari pertama MOS hingga dihukum justru menarik perhatian besar bagi mereka bertiga Apalagi, sosok Nuha kian menjadi buah bibir akibat kejadian di aula kemarin. Saat Nuha ditertawakan satu sekolah karena terlalu gugup membaca puisi buatannya sendiri.

Di saat orang lain mengejek, mereka bertiga justru menganggap puisi itu sangat indah dan magis. Hal itulah yang membuat mereka bertekad ingin berteman dengan Nuha, karena mereka yakin, di balik sifat tertutupnya, gadis cupu ini menyimpan sisi lain yang luar biasa.

​​Tok! Tok! Tok!

​Pintu kelas XMM2 diketuk.

Tiga pengurus inti OSIS berseragam rapi dengan jas almamater biru dongker melangkah masuk, langsung mendominasi ruangan. Sekertaris berkacamata segera mengangkat sebendel formulir tebal.

​"Selamat pagi, Multimedia Dua!" sapa sang Ketua OSIS. Suara baritonnya lantang penuh karisma, kontras dengan ban kapten 'Ketua OSIS' di lengan kanannya. "Mohon maaf mengganggu. Kami ingin menyampaikan pengumuman penting."

​"Tahun ajaran baru berarti reorganisasi," lanjutnya sambil tersenyum. "OSIS resmi membuka pendaftaran untuk kelas sepuluh. Kami mencari kalian yang berkomitmen dan bertalenta, terutama dari jurusan Multimedia untuk divisi Humas dan Dokumentasi!"

​Kelas langsung berbisik heboh. Sementara itu, Nuha spontan merosotkan tubuh, bersembunyi di balik punggung teman di depannya. Baginya, OSIS adalah sumber segala kerepotan.

​Hawa tiba-tiba melayang turun, menyeringai jahil. "Nuha ... melihat bakat surat cintamu yang ajaib kemarin, firasatku kamu nggak bakal bisa sembunyi."

​"Sttt, diam Hawa," desis Nuha.

​"Kamu Inara Nuha, kan?" Suara Lina Meilani, sang Waketos, memecah suasana. Matanya memicing tajam ke baris ketiga, tepat ke arah kuncir poni air mancur Nuha yang gagal tersembunyi.

​Nuha tersentak, jantungnya deg-degan.

​Lina tersenyum tipis sambil melipat tangan. "Surat cinta buatanmu saat penutupan MOS kemarin sangat menarik. Diksimu bagus dan puitis. Kamu dapat jalur khusus untuk langsung bergabung dengan Tim Kreatif OSIS."

​"Cieeee ..." Kelas XMM2 bersorak kompak diikuti siulan menggoda. "Kamu memang luar biasa, Nuha! Huuu ... Lanjutkan!!"

​Nuha rasanya ingin menghilang. Momen memalukan saat ia dipaksa maju ke depan aula dan membaca surat cinta absurd itu dengan lutut gemetar di depan ratusan mata kembali terbayang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

​"A-aku... nggak bisa," tolak Nuha,

menunduk dalam.

​Suasana kelas langsung berubah sinis. "Astaga, sombong banget. Huuu!" sorak seorang siswa dari pojok belakang. "Dapat jalur khusus malah ditolak."

​Lina mengangkat sebelah alis, tak menyangka akan ditolak di depan umum. Namun sebagai senior, ia tetap tenang. "Ini kesempatan langka, Nuha. Biasanya semua harus lewat seleksi ketat," bujuknya lembut sambil meletakkan selembar formulir di meja Nuha. "Dicoba dulu aja."

​Nuha menatap kertas itu bak lembaran kutukan. Mengumpulkan sisa keberaniannya, ia menegaskan, "Ma-- maaf, Kak. Saya tetap tidak mau."

​Mendengar penolakan kedua itu, siswi di sebelah kanan Fani langsung berdiri dan melipat tangan dengan pandangan meremehkan.

​"'Kau adalah bait puisi yang tak sempat kuselesaikan ...'" cibirnya, menirukan kegugupan Nuha kemarin. "Haha, surat lo kemarin itu lucu banget, sumpah! Lo kayak anak TK. Harusnya lo berani tampil demi nama baik kelas. Dasar cupu! Gitu doank ketakutan, huu cemen lu!"

​"Maaf ..." cicit Nuha.

​"Malu-maluin kelas aja!" timpal siswa di belakang, memanaskan suasana. "Bakat hebat tapi cemen. Bodoh banget kesempatan emas dibuang!"

​Melihat situasi mulai tak kondusif, Lina mencoba menengahi. "Teman-teman, harap tenang! Jangan memojokkan--"

​Namun, kalimat Lina terputus.

​Ejekan dan tawa di sekelilingnya mendengung hebat, membuat kepala Nuha serasa mau pecah. Rasa gemetar di tangannya kini berubah menjadi letupan amarah yang mendidih. Mode defensifnya telah mencapai batas maksimal.

​BRAK!

​Nuha menggebrak meja kayunya keras-keras. Seketika, seluruh kelas membeku.

​"Bisa diam nggak?!" bentaknya.

Napasnya memburu, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang pecah. Ia menatap tajam dua orang yang menghinanya tadi. "Kalian semua menyebalkan! Aku nggak mau ya nggak mau! Aku cuma ingin tenang sekolah di sini. Tapi kalian ... kalian malah menghina dan mengata-ngataiku. Itu jahat!"

Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak senyap seketika. Bunyi detak jarum jam dinding bahkan terdengar samar di antara deru napas Nuha yang memburu.

​"Kenapa kalian yang sewot?!" suara Nuha naik satu oktav lagi, serak dan bergetar hebat. "Ini hidupku! Mau aku cemen, mau aku buang kesempatan, itu urusanku! Apa ruginya buat kalian sampai harus mempermalukan aku seperti ini?!"

Hawa menangkan, "Nuha, tenang ..."

​Mengambil alih situasi, Lina menarik kembali formulirnya dari meja Nuha. "Maaf kalau tawaran kami membuatmu terganggu, Nuha. Kami hargai keputusanmu," ujarnya lembut, sebelum berbalik menatap tajam seisi kelas. "Dan untuk kalian, menghargai privasi teman adalah bagian dari kedewasaan. Tolong diingat itu."

​Teguran sang Waketos rupanya tak cukup untuk membungkam dendam yang terlanjur tersulut. ​Saat atensi pengurus OSIS teralih ke barisan depan untuk membagikan formulir sisa, siswa di pojok belakang menatap punggung Nuha dengan kilat benci.

Dengan gerakan lambat yang penuh provokasi, tangannya meremas selembar kertas corat-coret hingga membentuk gumpalan keras. ​Matanya menyipit, membidik tepat ke arah belakang kepala Nuha. ​Satu sentakan lengan, dan gumpalan kertas itu melesat cepat di udara.

.

.

. NEXT》Bab 04. Besok lagi ya ... 👋

1
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
Filan
'persahabatan' yang punya arti lain,
Filan
tanggung jawabnya macam apa, aslinya lu ga punya apa-apa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!