Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pukulan mental.
Sepanjang jalan, Aruna terus memikirkan taktik apa lagi yang bisa ia gunakan supaya Axel marah besar dan akhirnya membatalkan perjodohan mereka. Melihat Aruna yang hanya diam dan termenung, Axel justru merasa heran.
"Aruna.." panggil Axel lembut.
"Are you okay?" tanyanya lagi.
"Hah.. ok dong. Aku agak gugup aja dikit. Gugup karena bentar lagi bakalan keliling mall buat belanja sepuasnya, ngabisin duit kamu." balas Aruna mencoba terlihat santai, padahal hatinya sedang meronta dan ia sudah benar-benar buntu ide.
"Kamu bisa belanja apapun yang kamu mau." Ucap Axel sambil menyerahkan kartu kredit hitam miliknya. Dengan cepat Aruna mengambilnya. Seperti orang yang takut, kehilangan Arah. Cepat sekali.
"Oh makasih banyak deh.." Ucap Aruna seolah senang, tapi sebenarnya ia sendiri bingung harus diapakan kartu itu.
Sesampainya di mall, Aruna yang tadi buntu tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Saat melihat antrean panjang di kasir, terpikirlah olehnya ide jahil yang ekstrem.
"Axel, aku bisa beli apapun kan?" tanya Aruna memastikan. Wajahnya sumringah.
"Ya." Jawab Axel singkat namun penuh keyakinan.
"Sempurna.." ucap Aruna sambil tersenyum misterius.
Ia lalu berjalan cepat ke arah orang-orang yang sedang mengantri. Tampak ia membisikan sesuatu pada mereka. Disana ada sekitar 12 orang, Axel hanya diam memperhatikan dengan gaya gagah dan berwibawa, rasa penasarannya memuncak.
"Kita lihat.. kamu punya ide gila apa lagi, Aruna.." batin Axel.
Beberapa detik kemudian.. HP Axel bergetar, muncul notifikasi penggunaan kartu kreditnya. Ia heran, bukannya Aruna belum mengambil barang apa-apa? Ia menatap ke arah gadis itu yang kini melambaikan tangan dengan gaya centil.
Ternyata, Aruna menggunakan kartu kredit Axel untuk membayari, seluruh belanjaan orang-orang yang sedang mengantri.
Axel terdiam. Beberapa orang bahkan mendatanginya untuk mengucapkan terima kasih. Luar biasa, jalan pikiran wanita ini benar-benar tak terduga.
"Gimana? Puas kan, aku udah ngabisin duit kamu?" tanya Aruna dengan nada sombong, mendekat dengan gaya sok percaya diri, berharap Axel akan langsung meledak marah.
Tapi siapa sangka, Axel justru tersenyum lebar, bahkan matanya tampak berbinar melihat tingkah Aruna.
"Wow.. ternyata kamu baik hati ya, Sayang. Suka berbagi sama orang lain." ucap Axel malah memuji.
Aruna sampai melongo lebar. "Hah? Yang bener aja masa malah dipuji? Gila ya orang ini. Duitnya habis banyak malah senang?" batin Aruna kesal sendiri.
"Yaudah kalau gitu.. ayo kita lanjut! Aku masih mau belanja lagi." seru Aruna putus asa, mencoba mencari cara lain buat bikin Axel emosi.
"Ya, beli semuanya kalau mau. Kartu ini limitnya gak ada batasnya. Kalau perlu, tokonya kamu beli." jawab Axel santai sambil mengelus kepala Aruna lembut.
Aruna makin kesal, tapi di sisi lain jantungnya malah makin berdegup kencang karena ketenangan dan kemapanan pria itu.
"Ah dasar Panglima aneh!" gerutu Aruna dalam hati.
Karena kesal, Aruna melempar kartu kredit itu tepat ke arah wajah Axel. Namun dengan refleks luar biasa cepat, tangan kokoh Axel langsung menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
Aruna benar-benar sudah lelah pura-pura jadi orang aneh, tapi hasilnya selalu zonk. Axel malah makin terlihat menyukainya.
"Kenapa sayang? Sudah capek ya?" tanya Axel berbisik tepat di telinganya. Seakan dia tahu, bahwa sejak awal Aruna hanya mencoba mempermainkannya saja.
Tanpa peduli banyak pasang mata yang memperhatikan, tangan Axel mulai membelai rambut panjang Aruna dari belakang, dengan sangat lembut dan penuh rasa memiliki.
Aruna tak menjawab. Ia hanya membalikkan badan, membelakangi Axel dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Wajahnya manyun dan pikirannya kacau. Tapi beberapa detik kemudian, otaknya kembali bekerja menyusun strategi baru.
"Axel.. kamu tahu Bibi Lidia?" tanya Aruna tiba-tiba, suaranya terdengar datar dan serius.
"Ya. Hanya namanya saja," jawab Axel santai.
"Dia juga dijodohkan sama suaminya," jelas Aruna. Nada bicaranya berubah menjadi sangat tegas, seolah ingin membahas hal yang sangat penting.
Axel mendengarkan, tapi tangannya dan wajahnya tak diam. Hidung mancungnya mulai menelusuri setiap inci leher jenjang Aruna, dengan sentuhan yang sangat mengoda, menghirup aroma wangi parfum gadis itu, membuat bulu kuduk Aruna meremang dan tubuhnya bergidik geli.
Dengan cepat Aruna mendorong dada bidang pria itu menjauh.
"Aku sedang serius nih.." protes Aruna sambil membalikkan badan menghadap Axel, wajahnya memerah menahan kesal dan malu campur aduk.
"Aku juga serius, sayang.." balas Axel tak mau kalah, matanya menatap tajam dan penuh godaan ke manik mata gadis itu.
"Dengar! Aku gak mau seperti bibiku.. dia kehilangan segalanya saat dijodohkan dengan suaminya yang punya kedudukan sama kayak kamu.. dan aku gak mau kayak dia!!" ucap Aruna setengah berteriak, matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.
Axel mulai mengerti jalan pikiran wanita di depannya itu. Ia tidak membalas dengan kata-kata, melainkan langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukannya erat-erat, seolah ingin menenangkan guncangan emosi yang sedang melanda gadis itu.
"Takdir itu selalu berbeda untuk setiap orang, sayang.." bisik Axel serius tepat di telinganya, suaranya lembut namun tegas.
"Kamu tidak akan mengerti.." balas Aruna frustasi, bahunya masih terguncang karena emosi. Ia merasa pria ini tidak akan pernah bisa memahami rasa takutnya.
"Katakan dengan jelas detailnya padaku.. ayo kita ngobrol di tempat lain..." ajak Axel lembut namun mendesak. Ia ingin tahu segalanya agar bisa meyakinkan Aruna.
Axel pun membawa Aruna ke sebuah tempat makan yang lebih tenang dan privat. Mereka duduk berhadapan, namun wajah Aruna masih manyun dan terlihat sangat tak senang.
"Coba jelaskan.." Pinta Axel sambil mencoba membelai pipi mulus Aruna dengan ibu jarinya.
Namun Aruna dengan cepat mengalihkan wajahnya, enggan menatap mata tajam Axel lebih lama. Ia merasa kata-kata manis pria itu hanyalah tipuan belaka.
"Bibi Lidia kehilangan anak dan dirinya sendiri. Setelah menikah dia hanya jadi pabrik bayi karena permintaan suaminya. Aku gak mau kayak dia!!" curhat Aruna dengan suara bergetar, air matanya hampir jatuh.
Axel tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka pengalaman bibinya seburuk itu. Wajahnya berubah serius, ia menatap mata Aruna lekat-lekat.
"Dengarkan aku Aruna.. aku tidak akan memaksamu soal itu. Kamu mau punya bayi atau tidak itu bisa kamu pilih. Aku tidak akan memaksa.." ucap Axel tegas, berusaha meyakinkan.
"Bohong!!" sergah Aruna cepat, matanya membelalak.
"Dulu juga suami bibiku bilang begitu tapi malah jadi berbeda setelah menikah. Dia ditekan habis-habisan.. Huuuhhhh.. aku gak mau!!" tangis Aruna pecah, ia benar-benar ketakutan membayangkan nasib yang sama menimpanya.
Axel kembali menarik tubuh Aruna ke dalam pelukannya erat-erat, berusaha menenangkan guncangan emosi yang sedang gadis itu rasakan.
"Ya saat ini aku memang belum bisa membuatmu seratus persen yakin, tapi percayalah.. setiap kata-kataku bisa kamu pegang Aruna. Aku tidak akan pernah menyakitimu," ucapnya lembut namun tegas.
"Eughhhht... lagi pula apa motivasi kamu mencintaiku? Kita baru kenal, sudah dijodohkan begini. Bagaimana mungkin kamu tiba-tiba menyayangiku.." bantah Aruna, masih mencoba mencari alasan untuk menjaga jarak.
"Entahlah.. tapi rasanya kamu berbeda Aruna.. kamu menarik. Bahkan dengan segala kelakuan anehmu," jawab Axel jujur apa adanya.
Aruna langsung mendorong dada bidang itu menjauh, lalu berdiri tegap dengan mata yang sudah berkaca-kaca penuh air mata.
"Lalu bagaimana kalau nanti kamu mati? Lalu aku sendirian? Pekerjaanmu itu penuh resiko, Axel! Kamu seorang Panglima !" serunya dengan suara bergetar, mengeluarkan senjata pamungkasnya. Kali ini Aruna benar-benar mencoba meruntuhkan rasa percaya diri pria itu.
Dan terbukti, itu sangat ampuh. Axel terdiam mendengarnya. Ia menarik napas panjang, menatap wajah wanita yang kini menangis itu.
"Ya kamu benar..." jawabnya pelan, nada suaranya terdengar berat dan rendah. Ia tidak bisa menampik fakta itu.
"Kamu mau aku menderita atau bagaimana?!" tanya Aruna lagi, suaranya memecah keheningan.
Axel tak lagi bisa membalas ucapan Aruna barusan. Ia terpaku. Dia sadar betul, pekerjaannya memang penuh resiko. Nyawanya selalu tergantung setiap detik, dan menyakiti atau meninggalkan orang yang dicintai sendirian adalah hal yang tak ingin ia lakukan.
"Pikirkan itu baik-baik. Jika kamu mau menikahiku. Aku benar-benar tidak siap dengan semua risiko itu Axel.." ucap Aruna dengan suara bergetar, lalu tanpa menunggu jawaban, ia berbalik badan dan pergi begitu saja.
Langkah kakinya cepat dan tegas, seolah ingin lari menjauh dari kenyataan. Tapi dibalik itu semua, terselip senyum puas di hati kecilnya. Melihat Axel yang tak lagi terlihat begitu perkasa dan percaya diri. Tandanya, ia berhasil membuat mental pria itu terguncang.
Axel terpaku di tempatnya. Tubuhnya kaku, matanya tak lepas memandangi punggung wanita itu yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan.
Angin malam seolah ikut meredupkan suasana. Hatinya terasa berat, sangat berat. Kata-kata Aruna tadi terus berputar di kepalanya, menampar kesadarannya.
"Aku tidak siap dengan semua risiko itu..."
Axel menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke lantai. Ia sadar sepenuhnya, Aruna benar. Pekerjaannya sebagai Jenderal bukanlah pekerjaan biasa. Setiap hari adalah pertaruhan nyawa, bahaya selalu mengintai dari segala arah.
Dan jika mereka menikah... Aruna akan menjadi orang yang paling menderita. Ia akan hidup dalam ketakutan setiap kali Axel pergi bertugas, menunggu dengan cemas tanpa tahu apakah orang yang dicintainya akan pulang dengan selamat atau tidak.
"Aku tidak bisa menyalahkannya..." gumam Axel pelan, suaranya terdengar serak dan penuh beban. "Dia hanya ingin hidup tenang, dan aku... aku tidak bisa memberikannya itu."
Axel memijat pelipisnya yang terasa berat. Untuk pertama kalinya, pria sekuat dan seberani dia merasa begitu tidak berdaya. Cinta dan kewajiban kini seolah berada di dua sisi yang berlawanan, dan ia tidak tahu harus memilih yang mana.
***