Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Aroma kopi hitam yang kuat dan roti panggang yang baru matang biasanya membawa kehangatan di rumah mana pun. Namun, di meja makan marmer panjang keluarga Prameswari pagi ini, aroma itu justru terasa mencekam, bersanding dengan keheningan yang menyesakkan dada.
Rindu duduk kaku di kursinya, menatap nanar pada piring sarapannya yang baru tersentuh beberapa suap. Tubuhnya masih terasa remuk redam akibat siksaan latihan Coach Hermawan semalam, ditambah tidur yang tidak nyenyak karena terus dihantui kecemasan.
Di ujung meja, Baskoro duduk dengan wibawa yang menekan, melipat koran paginya dengan gerakan pelan namun tegas. Di sebelah ayahnya, Diana dengan anggun mengoleskan selai ke rotinya, sesekali melirik Rindu dengan tatapan menghakimi yang disembunyikan di balik senyum tipis.
Suara dentingan garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring, memicu detak jantung Rindu berdegup dua kali lebih cepat.
"Mobil jemputan akan standby di depan sekolahmu jam tiga sore teng," suara berat Baskoro tiba-tiba memecah keheningan, dingin tanpa ada kehangatan seorang ayah. "Asisten Ayah akan memastikan kamu masuk ke mobil itu dan langsung menuju kolam renang universitas."
Rindu menahan napas, meremas sendok di tangannya hingga jemarinya memutih. "Iya, Ayah," jawabnya pelan, nyaris berupa bisikan. Ia tidak berani menatap mata ayahnya.
"Bagus kalau kamu sudah sadar," Diana menimpali sambil menyesap tehnya, suaranya terdengar lembut namun penuh sindiran. "Kasihan Ayahmu, Rindu. Semalaman pusing memikirkan nasib kontrak iklan dan saham kita yang bergantung pada performamu. Jangan sampai kelakuan manjamu kemarin terulang lagi dan bikin malu keluarga."
Hantaman kata-kata ibu tirinya membuat makanan di dalam mulut Rindu terasa seperti menelan kerikil. Sepatutnya meja makan menjadi tempat di mana seorang anak ditanya tentang kabarnya atau bagaimana tidurnya semalam. Namun di rumah ini, meja makan hanyalah ruang rapat lain untuk menuntut target dan investasi.
Rindu meletakkan sendoknya perlahan, selera makannya sudah lenyap total. Ia tahu, sore nanti ia tidak sedang pergi untuk berlatih olahraga yang ia cintai, melainkan berjalan menuju tempat "pemasungan" barunya di bawah pengawasan mahasiswa bernama Kenzo Adhyaksa. Dengan hati yang mati rasa, Rindu bersiap menghadapi hari paling berat dalam hidupnya.
Rindu tidak sudi berlama-lama di ruang makan yang beracun itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan bunyi derit yang nyaring di atas lantai marmer.
"Rindu, habiskan sarapanmu! Ayah belum selesai bicara!" suara Baskoro meninggi, sarat akan perintah yang mutlak.
Rindu tidak memperdulikan ucapan ayahnya. Ia menutup telinga rapat-rapat dari gertakan itu. Gadis itu menyambar tas ransel olahraganya yang berat dari atas lantai, membalikkan badan, dan melangkah lebar-lebar meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sedikit pun.
"Mas, lihat itu anakmu! Makin tidak punya sopan santun!" lamat-lamat suara hasutan Diana kembali terdengar dari balik punggungnya, namun Rindu terus berjalan cepat menembus pintu depan.
Sinar matahari pagi yang baru terbit menyambut wajah Rindu begitu ia keluar dari rumah megah yang terasa seperti penjara itu. Mobil jemputan sekolah sudah terparkir di halaman. Rindu membuka pintu mobil dengan sentakan kasar, masuk ke dalam, dan langsung membanting pintunya hingga tertutup rapat.
Di dalam mobil yang bergerak membelah jalanan pagi, Rindu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Pandangannya kosong menatap gedung-gedung yang bergerak mundur. Sarapannya yang tersisa di meja makan seolah menjadi simbol dari sisa-sisa kepatuhannya yang sengaja ia tinggalkan. Hari ini, ia terpaksa berangkat sekolah dan akan diseret ke kolam renang universitas sore nanti, tetapi Rindu bersumpah dalam hati mereka bisa memaksa tubuhnya pergi ke sana, tapi tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa jiwanya untuk kembali berenang.
Rindu memejamkan mata erat-erat, deru napasnya masih memburu menahan emosi yang bergejolak di dada. Setiap kalimat beracun yang dilontarkan Diana di meja makan tadi masih terngiang jelas, membuat telinganya panas dan darahnya mendidih.
“Untung gue gak punya adik dari Mak Lampir itu. Kerjanya hanya menghasut saja, entah dari mana Ayah memungut wanita jalang itu”batin Rindu kesal setengah mati.
Tangan Rindu mengepal kuat di atas pangkuannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Diana sampai melahirkan anak. Rumah itu pasti akan menjadi neraka yang jauh lebih mengerikan baginya. Sejak wanita itu masuk ke dalam kehidupan mereka, perlahan tapi pasti, sosok Ayah yang tegas namun sesekali masih bisa tersenyum, berubah total menjadi monster yang hanya peduli pada angka, bisnis, dan citra keluarga. Diana tahu persis di mana letak ego Baskoro, dan wanita ular itu selalu punya cara untuk menyuntikkan racun hasutannya di saat yang tepat.
Rindu menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang buram. Ia merindukan ibunya. Ia merindukan masa-masa ketika kolam renang adalah tempat bermain yang menyenangkan, bukan tempat penyiksaan mental seperti sekarang.
"Neng Rindu... kita sudah sampai di depan gerbang sekolah," suara ramah Pak Joko, sopir pribadinya, membuyarkan lamunan Rindu.
Rindu mengerjap, menatap gedung SMA ternama di hadapannya yang mulai ramai oleh hilir mudik siswa. Ia mengembuskan napas berat, mencoba menata kembali ekspresi wajahnya agar tampak datar dan dingin seperti biasanya. Di sekolah ini, ia adalah Rindu Prameswari sang bintang dan ratu lintasan, tidak boleh ada satu orang pun yang melihat kerapuhannya.
"Terima kasih, Pak. Sore nanti jemput jam tiga tepat ya," ujar Rindu pelan sambil membuka pintu mobil.
"Baik, Neng."
Rindu turun dari mobil, menyampirkan tas ranselnya yang berat di pundak, lalu berjalan memasuki gerbang sekolah. Ia harus bertahan melewati jam pelajaran hari ini, sebelum sore nanti asisten ayahnya akan memastikan dirinya diseret ke hadapan pelatih mahasiswa bernama Kenzo itu.
**
Kringgggg! Kringgggg!
Bunyi nyaring jam waker berbentuk kaleng di atas meja belajar memecah keheningan fajar dengan brutal. Seketika, sebuah tangan yang kokoh menyembul dari balik selimut tebal, meraba-raba dengan gusar, lalu memukul tombol atas jam waker itu hingga suaranya mati seketika. Kenzo Adhyaksa mengerang panjang, memaksa kelopak matanya yang terasa seberat ton untuk terbuka.
Ia melirik angka yang tertera di jam itu. 07.15
Mata Kenzo yang semula masih sepet langsung melotot sempurna. Ia menegakkan tubuhnya di atas kasur busa tanpa ranjang itu dengan sentakan kaget.
"Mati... kalau sampai telat bimbingan sama Prof Tan, habis sudah!" rutuk Kenzo panik, suaranya serak khas orang bangun tidur.
Kenzo melompat dari kasur, mengabaikan rasa pening di kepalanya akibat baru tidur pukul tiga pagi demi menyelesaikan revisi bab empat. Prof Tanudjaya atau yang biasa dipanggil anak-anak jurusan sebagai Prof Tan bukan cuma sekadar dosen pembimbing biasa. Beliau adalah guru besar yang terkenal paling disiplin, paling teliti, dan paling tidak suka melihat mahasiswanya terlambat satu menit pun. Telat menghadap beliau sama saja dengan meneken surat penundaan kelulusan satu semester lagi.
Dengan gerakan kilat, Kenzo menyambar handuk yang tergantung di balik pintu, menyisihkan tumpukan kertas revisi ke dalam map, dan langsung melesat ke kamar mandi luar. Suara gayung yang beradu dengan bak mandi terdengar bertalu-talu, menggambarkan betapa paniknya sang pemegang rekor kejurnas itu pagi ini.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Kenzo sudah rapi. Ia tidak sempat memikirkan gaya pakaian yang necis; ia hanya menyambar kemeja flanel kotak-kotak yang digantung di balik lemari, celana jin hitam, dan sepatu sneakers yang langsung dipakai tanpa kaus kaki karena terburu-buru.
Sambil menyandang ransel besarnya yang berisi laptop dan berkas skripsi, Kenzo berlari ke parkiran kos. Ia menyalakan mesin motor matik hitamnya, membiarkannya memanas beberapa detik sambil memakai helm dengan tergesa-gesa.
"Ayo, lah, jangan ngadat pagi ini," gumam Kenzo pada motornya saat ia menarik gas dalam-dalam, membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan.
Pagi ini, fokus Kenzo sepenuhnya tersedot untuk menyelamatkan masa depan akademisnya di hadapan Prof Tan. Ia sama sekali belum sempat memikirkan tentang jadwal latihan privat sore nanti, atau tentang bagaimana ia harus menghadapi Rindu Prameswari si gadis pemegang rekor nasional yang kemarin sukses membuatnya menunggu sampai lumatan kaporit di kolam renang mengering. Yang ada di kepala Kenzo sekarang hanyalah: Jangan sampai Prof Tan mencoret bab empat gue lagi.
Kenzo memarkir motor matiknya dengan asal di lahan parkir fakultas yang mulai padat. Tanpa membuang waktu untuk merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin, ia langsung melompat turun dan berlari setengah matang menuju gedung jurusan Pendidikan Olahraga.
"Eh, Coach Kenzo! Baru dat—"
"Duluan, ya!" potong Kenzo cepat tanpa menoleh. Ia mengabaikan begitu saja sapaan dari salah satu junior UKM Renang yang berpapasan dengannya di koridor kampus. Langkah kakinya yang panjang berderap cepat di atas ubin, menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat jajaran kubikal dosen berada.
Napas Kenzo memburu saat ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati dengan papan nama kuningan bertuliskan: Prof. Dr. Tanudjaya, M.Pd.
Kenzo mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam digital yang melingkar di sana.
07.55.
"Huft... untung masih lima menit lagi," gumam Kenzo, mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menepuk-nepuk dadanya yang naik-turun, mencoba mengatur ritme napas agar tidak terdengar seperti orang yang habis dikejar anjing saat masuk nanti. Ia juga merapikan kerah kemeja flanelnya yang agak melintir.
Setelah memastikan draf bab empatnya sudah aman di dalam dekapannya, Kenzo menarik napas dalam-dalam. Ia pun mengetuk sopan pintu ruangan "keramat" milik Prof Tanudjaya. Tiga ketukan berirama konstan, standar protokol menghadapi dosen paling ditakuti se-fakultas.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," terdengar suara berat dan berwibawa dari dalam.
Kenzo memutar kenop pintu perlahan, memasang senyum paling ramah dan sopan yang ia punya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma buku tua dan kopi mahal tersebut. Di balik meja kerja besar yang rapi, Prof Tan sudah duduk membaca dokumen dengan kacamata yang bertumpu di ujung hidungnya. Pertarungan akademis Kenzo pagi ini resmi dimulai.
Prof Tan mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang dibaca, menurunkan sedikit kacamata bacanya, lalu menatap Kenzo dari balik meja kerjanya yang rapi.
"Oo, Kenzo. Mari masuk," ujar Prof Tan, nadanya datar namun selalu berhasil memberikan aura mengintimidasi bagi setiap mahasiswa yang mendengarnya.
"Terima kasih, Prof," jawab Kenzo sesopan mungkin. Ia melangkah maju dengan hati-hati, lalu mendudukkan diri di kursi kayu di hadapan sang profesor. Ia segera mengeluarkan draf Bab 4 yang semalam ia kerjakan setengah mati sampai matanya berkantung tebal, lalu meletakkannya di atas meja dengan posisi yang rapi.
Prof Tan meraih tumpukan kertas itu. Ruangan mendadak menjadi begitu sunyi, hanya terdengar suara lembar demi lembar kertas yang dibalik. Kenzo menahan napasnya, mengamati setiap perubahan ekspresi wajah dosen pembimbingnya. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia bersiap melakukan diving di Kejurnas.
"Analisis data kamu di bagian metodologi latihan anaerobic sudah jauh lebih rapi dibanding minggu lalu," Prof Tan membuka suara setelah beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad bagi Kenzo.
Kenzo diam-diam mengembuskan napas lega di dalam hati. Aman satu poin batinnya.
"Tapi," Prof Tan mengetukkan pena mahalnya ke atas kertas, membuat Kenzo kembali menegang. "Saya dengar dari kepala lab olahraga, kemarin atlet privat yang saya tugaskan ke kamu tidak datang? Rindu Prameswari."
Kenzo agak terkejut karena Prof Tan langsung menanyakan hal itu. Ia berdeham pelan untuk menetralkan suaranya. "Benar, Prof. Kemarin saya tunggu sampai jam latihan selesai, yang bersangkutan belum hadir. Mungkin masih penyesuaian jadwal sekolah."
Prof Tan melepas kacamatanya, menatap Kenzo dengan serius. "Kenzo, kasus Rindu ini bukan cuma sekadar tugas tambahan untuk skripsi kamu. Ayahnya punya pengaruh besar di komite olahraga, dan mental anak itu sedang di ambang kehancuran karena tekanan dari klub lamanya. Pihak kampus merekomendasikan kamu karena kamu adalah atlet aktif yang paham betul rasanya berada di bawah tekanan rekor. Jika kamu bisa mengembalikan performa dia, saya pastikan tanda tangan ACC untuk sidang skripsimu akan keluar bulan ini."
Kenzo menelan ludah. Tantangan ini rupanya jauh lebih besar dan saling mengikat. Skripsinya, kelulusannya, dan masa depan seorang juara nasional kini berada di tangannya.
"Baik, Prof. Sore ini jadwal privat kedua. Saya akan pastikan dia datang dan saya sendiri yang akan menangani perkembangannya," jawab Kenzo mantap, menyanggupi dengan penuh tanggung jawab.
Prof Tan tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka di ruangan itu. Beliau menarik draf skripsi Kenzo, lalu membubuhkan coretan tanda tangan revisi di pojok atas. "Selesaikan perbaikan kecil di halaman tiga puluh. Sore ini, fokuslah pada tugasmu di kolam."
“Baik Prof terima kasih, saya permisi” ucap Kenzo sopan.
"Ya, silakan. Jangan lupa revisi kecil tadi sore sudah harus beres," sahut Prof Tan sambil kembali memakai kacamata bacanya, beralih pada tumpukan berkas lain yang ada di mejanya
"Baik, Prof. Permisi," ucap Kenzo sekali lagi dengan anggukan hormat.
Ia meraih draf skripsinya yang kini sudah dihiasi tanda tangan berharga itu, lalu melangkah mundur dan menutup pintu kayu jati tersebut dengan sangat pelan.
Cklek.
Begitu pintu tertutup sempurna dan ia kembali berdiri di koridor kampus, Kenzo langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban seberat lima puluh kilogram dari dadanya. Senyum lebar tak bisa dibendung dari wajahnya yang tampak lelah.
"Yes! ACC sidang tinggal selangkah lagi!" bisiknya girang, mengepalkan tinju ke udara. Rasa kantuk yang sejak subuh menggelayuti matanya mendadak menguap entah ke mana, digantikan oleh gelombang energi baru.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Kenzo menunduk, menatap map biru berisi data Rindu Prameswari yang terselip di balik dekapannya. Perkataan Prof Tan tadi kembali berdengung di kepalanya.
“Mental anak itu sedang di ambang kehancuran... Jika kamu bisa mengembalikan performanya, saya pastikan tanda tangan ACC untuk sidang skripsimu akan keluar bulan ini.”
Kenzo berjalan menyusuri koridor menuju tangga turun dengan langkah yang perlahan melambat. Tugas ini bukan lagi sekadar formalitas kuliah. Ini adalah pertaruhan ego antara dirinya sebagai pelatih pemula, dan seorang "Ratu Lintasan" yang sedang mogok total karena hancur oleh ekspektasi.
Sambil melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, Kenzo bergumam lirik, "Oke, Rindu Prameswari. Kita lihat, apa sore ini lo bakal nunjukin batang hidung lo, atau lo milih buat kehilangan masa depan lo sekalian."
—bersambung—