Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sistem Penguasaan Elemen
Kaelen masih terbaring di atas rumput kering di tengah reruntuhan kediaman keluarganya. Napasnya masih terengah-engah, namun rasa sakit yang tadi menyiksanya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang menyebar ke seluruh tubuh, seolah ada aliran energi halus yang berputar di dalam pembuluh darahnya. Di hadapan matanya, dunia terlihat berbeda.
Langit senja yang biasanya hanya tampak berwarna oranye kemerahan. Kini dipenuhi oleh jutaan cahaya kecil yang berterbangan. Ada partikel berwarna merah menyala, biru jernih, cokelat kokoh, hijau lincah, kuning terang hingga putih bersih. Partikel-partikel itu melayang bebas di udara. Bergerak mengikuti aliran angin. Mengisi tanah di bawah kakinya, dan memenuhi seluruh alam semesta di sekelilingnya.
[SISTEM PENGUASAAN ELEMEN TELAH BERHASIL DITERAPKAN]
[Status Pengguna: Kaelen Voss]
[Tingkat Kekuatan: Tingkat 1 (Pemula)]
[Afinitas Elemen: TIDAK TERBATAS — Mampu menyerap dan menguasai SEMUA jenis elemen yang ada.]
[Elemen yang telah dikuasai: TIDAK ADA]
[Kemampuan Khusus: Analisis Elemen, Penyerapan Energi, Penyatuan Unsur.]
[Informasi Dasar: Di dunia ini, setiap manusia hanya memiliki 1 hingga 2 jenis afinitas elemen. Pengguna adalah satu-satunya makhluk yang memiliki akses ke seluruh elemen alam. Potensi kekuatan: TAK TERBATAS.]
Suara mekanis itu terdengar lagi. Jelas dan nyaring di dalam kepalanya. Namun kali ini tidak lagi menakutkan. Justru setiap kata yang terdengar langsung dipahami oleh otak Kaelen seolah-olah itu adalah pengetahuan yang sudah dia miliki sejak lahir.
Kaelen perlahan mengangkat tangannya. Dia Menatap telapak tangannya yang bersih dan utuh. Luka-luka kecil akibat pukulan kemarin pun telah sembuh total. Dia mencoba berkonsentrasi, memikirkan partikel berwarna hijau yang bergerak paling cepat di udara. Partikel itu adalah Elemen Angin.
"Kalau begitu aku bisa mengendalikannya?" batinnya bertanya. Penuh keraguan namun juga harapan besar.
Tanpa sadar, Kaelen memusatkan pikirannya ke sekeliling telapak tangannya. Dan hal yang menakjubkan pun terjadi. Partikel-partikel Hijau itu seolah tertarik oleh magnet raksasa. Berputar dan berkumpul di tangannya, lalu membentuk pusaran angin kecil yang sejuk dan berhembus pelan.
"Benar... benar-benar bisa!" seru Kaelen berbisik.
Tatapan mata Kaelen membelalak tak percaya. Senyum lebar merekah di wajahnya. Perasaan yang dia rasakan saat itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Rasa sedih, sakit hati, dan keputusasaan yang menumpuk selama bertahun-tahun seolah terhapus seketika. Digantikan oleh semangat yang membara.
Kaelen bukan lagi sampah. Dia bukan lagi pemuda yang tidak berguna. Dia memiliki kekuatan yang bahkan tidak dimiliki oleh penyihir terhebat sekalipun.
Namun kegembiraan itu harus dia tahan sejenak saat suara langkah kaki yang berat dan banyak terdengar dari arah jalan setapak menuju keluar reruntuhan. Suara ejekan yang sangat dia kenal mulai terdengar mendekat.
"Lihat ke sana! Bukankah itu si pemuda tak berharga itu? Dia masih saja berlama-lama di tempat sial ini."
Tentu saja. Itu adalah suara Rian.
Kaelen buru-buru menurunkan tangannya. Dia menyembunyikan pusaran angin kecil itu, dan bangkit berdiri perlahan.
Kaelen kemudian membalikkan badan dan melihat rombongan Rian berjalan mendekat.
Rian berjalan di paling depan dengan tangan di belakang punggung. Wajahnya penuh dengan kesombongan, diikuti oleh dua pengikut setianya yang berbadan besar. Mereka baru saja pulang dari berlatih sihir di luar kota.
Rian berhenti tepat beberapa langkah di depan Kaelen, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. Sama seperti biasanya.
"Kau masih hidup ternyata?" ucap Rian sinis sembari tertawa kecil. "Kukira kau sudah mati kelaparan atau memutuskan untuk lompat dari tebing sini supaya dunia ini sedikit lebih bersih dari keberadaanmu."
Teman-teman Rian tertawa keras mendengar ucapan itu. Bagi mereka, menghina Kaelen adalah hiburan gratis yang paling menyenangkan.
Kaelen mengepal tangannya erat-erat di samping tubuhnya. Dulu saat mendengar kata-kata kasar seperti itu, dia hanya bisa menunduk diam, menahan amarah, dan membiarkan diri dihina.
Tapi sekarang, rasanya berbeda. Ada kekuatan yang mengalir di dalam dirinya membuatnya merasa berani dan merasa setara. Bahkan merasa lebih unggul dari pemuda angkuh di hadapannya ini.
Namun Kaelen tahu dia belum paham benar cara menggunakan kekuatan barunya. Dia tidak boleh bertindak gegabah. Dia harus bersabar dan melihat situasi.
"Aku mau pulang," jawab Kaelen singkat.
Kaelen berusaha melewati Rian dan rombongannya. Dia tidak mau berkelahi sekarang, belum waktunya.
Namun Rian mengulurkan tangannya. Dia menghalangi jalan Kaelen dengan kasar. Wajahnya berubah menjadi dingin dan mengancam.
"Berani sekali kau bicara padaku dengan nada seperti itu," kata Rian rendah. "Apa kemarin kau belum cukup diberi pelajaran? Atau mungkin kau lupa peringatanku? Besok adalah Hari Penilaian Kota. Aku dengar kau mendaftar?"
Mata Rian menyipit tajam. Dia mendengar kabar bahwa Kaelen diam-diam mendaftar untuk ikut serta dalam ujian bakat tahunan. Bagi Rian, hal itu adalah penghinaan besar. Bagaimana mungkin 'sampah' seperti Kaelen berani tampil di panggung yang sama dengan para calon penyihir berbakat?
"Kau pikir kau bisa apa di sana?" lanjut Rian dengan nada penuh ancaman. "Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dan ingatan buruk keluargamu. Dengar baik-baik, Kaelen! Batalkan pendaftaranmu. Atau aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan lagi besok."
"Aku berhak ikut serta, sama seperti orang lain," jawab Kaelen. Suaranya tenang namun tegas. Dia menatap lurus ke mata Rian. Dia tidak lagi menunduk.
Tatapan itu membuat Rian marah luar biasa. Selama ini, Kaelen selalu menunduk takut. Selalu pasrah. Melihat Kaelen menatap balik seolah memiliki keberanian membuat harga dirinya terasa terinjak.
"Berani kau melawanku?!" Rian berteriak.
Api merah menyala seketika di telapak tangannya, panasnya terasa hingga ke wajah Kaelen.
"Kau benar-benar mencari mati!"
Tanpa ragu, Rian mengayunkan tangannya. Sebola api berukuran kecil namun panas melesat cepat ke arah dada Kaelen. Dia hanya ingin membuat Kaelen terluka sedikit, membakar bajunya, dan membuatnya menangis minta ampun seperti biasanya.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/