Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Seratus Milyar, Bukan Spesies Baru
"Bruk!"
Emma terhempas ke lantai marmer saat Noah Jones yang baru dikenalnya itu membawanya paksa dari rumahnya.
Sorot mata Emma melotot tajam ke arah Noah Jones di hadapannya.
Noah Jones memandangnya datar tanpa ekspresi.
"Ambilkan aku salinan surat perjanjianku dengan Broeri Goldman!" perintahnya pada salah satu anak buahnya.
"Siap, Tuan Noah." sahut seorang pria berpakaian rapi di sebelah Noah Jones.
Noah Jones memandang Emma Taylor yang terbaring di lantai marmer rumahnya, pandangannya menyipit.
"Sekarang kau milikku, tidak ada yang bisa kau perbuat saat ini." ucap Noah sembari duduk di sofa merah, menatap dingin Emma Taylor.
Emma beringsut pelan, ia tertunduk diam sedangkan tatapan Noah terus mengikutinya.
Datang pria tadi sembari membawa salinan surat perjanjian yang diminta oleh Noah Jones padanya.
"Ini salinannya, Tuan Noah." ucapnya.
"Terimakasih, Simon." sahut Noah.
"Plak!"
Noah Jones melemparkan salinan surat perjanjian itu ke arah Emma Taylor.
"Ambil dan lihatlah sendiri perjanjian itu!" ucapnya.
Emma melirik ke arah Map Beludru berwarna hitam di dekatnya.
"Apa gunanya aku berbohong padamu?" ucap Noah. "Dan untuk apa aku harus susah-susah memaksakan kehendak, semua telah tertulis sah dan sudah ditandatangani sendiri oleh pamanmu."
Noah Jones masih memperhatikan Emma yang ragu-ragu buat mengambil Map Beludru hitam di dekatnya.
"Baca dan kau akan mengerti isi dari surat perjanjian itu. Tidak ada paksaan ataupun tekanan dariku karena pamanmu sudah sepakat denganku."
Noah Jones melanjutkan ucapannya seraya mencondongkan badannya ke depan.
"Bukan aku yang menjaminkan mu padaku namun pamanmu yang tega menjaminkan dirimu atas seluruh hutangnya."
Noah Jones menangkupkan jari jemari tangannya ke depan lalu berkata.
"Dan aku butuh rahimmu sebagai bayaran atas hutang-hutang Broeri Goldman padaku, tanpa aku duga bahwa semua harapanku bakal terwujud nyata setelah aku bertemu pamanmu itu."
Emma membaca isi Map Beludru berwarna hitam ditangannya, tanpa ia sadari, air matanya menggenang di pelupuk matanya yang bening.
Bagaimana bisa pamannya akan setega itu menjaminkan dirinya atas hutang-hutang yang tidak pernah Emma ketahui bahkan ia nikmati.
Emma meremas kuat Map Beludru berwarna hitam itu, ia palingkan wajahnya dengan mata terpejam. Tangannya gemetar, raut wajahnya berubah murung, tak ada tangisan, ataupun ratapan darinya.
Hanya ada getaran tak menentu di dada saat Emma mengetahui semua kenyataan pahit ini.
Noah Jones memperhatikan dari sudut matanya ke arah Emma. Ia tahu kalau Emma sedang memendam kesedihan hatinya.
"Aku tak pernah mengerti apa alasan pamanmu sehingga ia tega menjual mu padahal kau hanya keponakannya." ucapnya datar.
Emma menahan tangisannya, kepalanya yang terangkat penuh harga diri, kini tertunduk lesu. Sebab ia tidak dapat lagi menolak tawaran Noah Jones atas permintaannya untuk menjual rahimnya pada pria asing itu.
"Apa pendapatmu sekarang?" tanya Noah.
Emma hanya menggeleng lemah, lalu menjawab pelan.
"Tidak ada..." sahutnya. Ia menoleh ke Noah Jones Dan terdiam.
"Artinya kau memilih setuju sekarang. Dan kau akan merelakan rahimmu padaku." kata Noah.
"Jujur aku tidak menyukai tawaranmu itu, tapi aku tidak bisa menolaknya karena semua telah disepakati secara legal." sahut Emma bergetar.
"Aku akan membayar rahimmu. Ini tidak hanya cuma-cuma namun ada imbalannya sebab aku tidak suka berlaku curang, Nona Emma Taylor." lanjut Noah.
"Apalah dayaku meski aku menolakmu tetap aku tidak mampu menolaknya." ucap Emma berkaca-kaca.
Noah Jones tersenyum tipis seraya menarik nafas.
"Aku akan membayarmu dengan harga sepadan, Aku bayar rahimmu. Dan kau hamil, mengandung calon pewaris Lucent Gem untukku." ucapnya.
Noah Jones memberi perintah pada seseorang di ruangan ini.
"Tolong ambilkan tas koperku, James!" perintahnya.
"Baik, tuan." sahut pria berpakaian jas biru tua bernama James.
James menuju lemari besi di ruangan tersebut lalu mengambil sebuah tas koper warna hitam dari dalam lemari. Ia menghampiri Noah Jones yang duduk di sofa merah sembari menatap Emma.
"Ini tuan." ucap James.
"Di dalam tas koper ini, ada uang sekitar seratus milyar. Jika kau bersedia menerima tawaran dari ku maka semua uang ini menjadi milikmu. Dan hutang-hutang pamanmu kuanggap lunas dengan syarat." kata Noah Jones.
Emma terkesiap dingin, pandangan matanya langsung tertuju pada sekoper uang yang di pegang James.
Gugup, bingung bercampur satu di pikiran Emma Taylor saat ia melihat milyaran uang di tas koper itu.
Hatinya bingung antara memilih atau menolak namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia butuh hidup.
"Bagaimana?" tanya Noah. "Kau terima atau tidak tawaran ini, Emma Taylor?"
"A-Aku..." sahut Emma gugup sembari berpikir.
"Hanya sembilan bulan kau mengandung benih milikku dan melahirkan calon pewaris bagi Lucent Gem untukku maka tugasmu selesai, uang ini jadi milikmu." ucap Noah datar.
"Dan Aku bebas setelah menyelesaikan tugas darimu?" tanya Emma.
"Terserah padamu, kau bisa memilih bebas atau menjadi pelayan bagi kami. Karena status diantara kita hanyalah prospek masa depan yang saling menguntungkan." sahut Noah.
"Maksud mu?" tanya Emma.
"Tidak ada pernikahan resmi, hanya perjanjian kontrak tertulis diantara kita sampai batas waktu yang telah kita berdua sepakati. Sembilan bulan mengandung, tiga bulan menyusui atau tidak, bukan masalah penting bagiku." sahut Noah ringan.
Noah Jones mengambil satu tumpukan kertas uang dari dalam tas koper, sambil memainkan lembaran-lembaran uang tersebut. Ia melirik tajam ke arah Emma Taylor yang masih duduk di lantai.
"Yang terpenting adalah kau lahirkan seorang anak buatku. Tidak masalah ia berjenis kelamin perempuan atau laki-laki." lanjutnya.
Emma terperangah mendengar ucapan Noah Jones, seakan-akan yang ia katakan terdengar ringan, tanpa adanya beban berat sama sekali.
"Baiklah..." ucap Emma.
"Bisa kau pertegas ucapanmu, Aku tidak mengerti maksud ucapanmu "Baiklah" itu, Emma." kata Noah Jones mengernyitkan dahi.
"Baiklah, Aku terima tawaranmu itu, kau ingin rahimku maka kau akan dapatkan keinginanmu itu. Setelah itu, urusan diantara kita selesai." sahut Emma tegar.
"Kau benar-benar setuju melakukannya?" giliran Noah Jones terpana tak percaya saat Emma menerima tawarannya.
"Ya, Aku setuju. Dan aku terima permintanmu padaku untuk hamil anakmu dengan satu syarat aku bebas tanpa ikatan. Aku bisa pergi membawa seluruh uang itu." kata Emma tegas.
"Dan..." lanjut Noah Jones tampak serius.
"Kau dapatkan calon pewaris, dengan kata lain kau punya anak bagi Lucent Gem sedangkan aku bebas pergi darimu sesuai yang kuinginkan." kata Emma.
"Kau serius mengatakannya, Emma Taylor." kejar Noah Jones.
"Ya, aku serius." jawab Emma. "Syaratnya hutang-hutang paman Broeri Goldman lunas serta aku dapatkan seluruh uang seratus milyar itu. Dan aku pergi bebas setelah kontrak selesai."
Noah Jones terperangah kaget, ia menatap tak percaya pada Emma Taylor.
Bagaimana dengan mudahnya, Emma berubah pikiran padahal ia menolaknya mati-matian tadi.
Kedua tangan Noah Jones gemetar, sikapnya canggung, pikirannya mulai kacau balau, dengan cekatan, ia alihkan perhatiannya pada arah lainnya seraya merapikan letak jasnya.
Noah Jones tidak ingin Emma membaca kekalutan pikirannya, ia berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya.
"Ehem..." Ia menelan salivanya sedangkan sorot matanya berkeliaran tak menentu.
Noah Jones memperbaiki letak duduknya di sofa warna merah lalu ia menoleh pada James yang berdiri disamping sofa.
"Berikan koper itu padanya. Biarkan dia memiliki seluruh uang itu untuknya." perintahnya canggung.
"Baik, Tuan Noah Jones." sahut James hormat seraya melangkah maju ke arah Emma Taylor.
James menyerahkan tas koper berisi uang seratus milyar kepada Emma Taylor yang masih duduk di lantai.
Tak ada kata terucap sepatah kata ataupun sanggahan dari James, ia serahkan koper tersebut.
Emma menerima koper berisi uang seratus milyar dari James dengan ekspresi dingin, sepertinya ia sedang berpikir serius. Diperhatikannya uang di dalam tas koper warna hitam yang ada ditangannya lalu menoleh kepada Noah Jones.
"Kapan aku memulai tugas itu?" ucapnya tenang.