Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Bukan Milikku
Malam itu belum benar-benar selesai, meskipun Rakha dan anak buahnya sudah menghilang dari pandangan.
Aurora masih berdiri di tempatnya, tubuhnya gemetar, napasnya belum sepenuhnya teratur. Pipi kirinya terasa panas akibat tamparan, sementara lutut dan tangannya perih karena jatuh ke aspal.
Sunyi kembali turun di jalan itu. Namun kali ini, sunyi itu tidak terasa kosong. Ada seseorang yang berdiri di dekatnya.
Tidak lain tidak bukan adalah Zayn.
Aurora tidak langsung menatapnya. Entah kenapa, keberadaan pria itu justru membuatnya semakin bingung. Takut tapi juga anehnya merasa sedikit lebih aman.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
“Bisa jalan?” suara Zayn akhirnya terdengar, rendah dan datar seperti biasa.
Aurora mengangkat kepalanya perlahan. Mata mereka bertemu.
“I-ya… bisa, Pak” jawabnya pelan, meskipun kakinya masih terasa lemas.
Zayn menatapnya sebentar, seolah menilai apakah jawaban itu jujur atau tidak. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik sedikit.
“Saya anter” ucapnya singkat.
Aurora terdiam, “Gak usah, Pak… saya bisa sendiri,” katanya refleks. Lebih karena canggung daripada yakin.
Zayn tidak menjawab. Ia hanya menoleh sedikit, tatapannya tajam, “Jalan.”
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat Aurora tidak membantah lagi.
Aurora menelan ludah, lalu berjalan pelan mengikuti Zayn.
Mobil hitam itu terparkir tidak jauh dari sana. Elegan, gelap, sama seperti pemiliknya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan diantara mereka berdua.
Aurora duduk di kursi penumpang dengan tubuh sedikit kaku. Ia menatap ke luar jendela, mencoba mengalihkan pikirannya dari semua yang terjadi malam ini.
Namun bayangan itu tetap muncul.
Gudang, darah, rakha, dan Zayn.
Semakin ia mencoba mengalihkan pikirannya, semakin pikirannya kembali ke kejadian itu.
Aurora melirik sekilas ke arah pria di sampingnya.
Zayn mengemudi dengan tenang. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Seolah-olah semua yang terjadi tadi hanyalah hal biasa baginya.
Dan itu, membuat Aurora semakin tidak tenang.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah Aurora.
Rumah yang lumayan mewah di lingkungan yang lumayan padat.
Aurora langsung membuka sabuk pengamannya, “Makasih, Pak. Saya--”
“Turun” sela Zayn.
Aurora terdiam sesaat, lalu membuka pintu dan turun. Ia berdiri di depan rumahnya, berpikir semuanya sudah selesai.
Namun suara pintu mobil yang terbuka membuatnya menoleh.
Zayn ikut turun.
Aurora mengerutkan kening, “Pak…?”
Tanpa menjawab, Zayn berjalan mendekat. Tatapannya turun ke arah tangan Aurora yang terluka.
“Masuk” ucap Zayn singkat.
Aurora ragu sejenak. Tapi akhirnya ia membuka pintu rumahnya dan membiarkan Zayn masuk.
Suasana rumah yang biasanya terasa nyaman, malam ini terasa berbeda.
Aurora duduk di sofa, sementara Zayn berdiri sebentar, memperhatikan luka-luka di tubuhnya.
Tanpa banyak bicara, Zayn mengambil kotak P3K yang berada di meja kecil dekat lemari.
Aurora terdiam, sedikit kaget melihat Zayn tahu di mana letak benda itu.
“Pak, gak usah repot-repot-”
“Diam.”
Aurora langsung terdiam.
Zayn duduk di depannya. Tangannya meraih pergelangan tangan Aurora dengan hati-hati. Tidak kasar, tapi tetap tegas.
Aurora menahan napas.
Sentuhan itu, berbeda dari yang ia bayangkan.
Zayn membersihkan luka di tangannya dengan perlahan. Gerakannya tenang bertolak belakang dengan yang dibayangkan Aurora
“Perih?” tanya Zayn tiba-tiba.
Aurora sedikit terkejut. Ia tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
“Sedikit…” jawab Aurora jujur.
“Tahan.”
Beberapa detik kembali hening.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Zayn lagi, suaranya lebih rendah.
Aurora menatapnya. Untuk sesaat, ia bingung bagaimana harus menjawab.
“I-ya, saya nggak apa-apa, Pak” ucapnya akhirnya.
Zayn berhenti sejenak. Matanya terangkat, menatap langsung ke mata Aurora.
“Flora.”
Aurora langsung mengerutkan kening.
“Pak, nama saya bukan Flora” ucapnya pelan, tapi jelas.
“Nama saya Aurora.”
Zayn tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju padanya. Seolah mempertimbangkan sesuatu.
“Sekarang itu nama kamu” ucap Zayn.
Aurora terdiam.
Ada sesuatu dalam cara Zayn mengatakannya yang membuat Aurora sulit untuk membantah lagi.
Aurora menelan ludah, lalu mengalihkan pandangannya.
Zayn kembali melanjutkan mengobati luka di lututnya. Kali ini lebih hati-hati.
Aurora menggigit bibirnya pelan saat rasa perih muncul.
“Sakit?” tanya Zayn lagi.
Aurora menggeleng pelan, meskipun jelas terasa sakit.
Zayn tidak memaksanya menjawab. Ia hanya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan rapi.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri.
“Sudah.”
Aurora melihat luka-lukanya yang sudah dibersihkan dan ditutup dengan perban.
“Terima kasih, Pak” ucap Aurora pelan.
Zayn tidak menjawab. Ia hanya menatap Aurora sebentar, “Besok” ucapnya.
Aurora mengangkat kepalanya.
“Kalau masih sakit, nggak usah dipaksain masuk.”
Aurora sedikit terkejut mendengar itu.
Namun sebelum ia sempat merespons, Zayn melanjutkan, “Tapi kalau bisa, masuk.”
Nada suaranya tetap datar. Tidak terdengar memaksa. Tapi entah kenapa terasa seperti perintah.
Aurora mengangguk pelan, “Iya, Pak.”
Zayn berbalik dan berjalan menuju pintu. Langkahnya tenang. Seolah tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata, “Istirahat, Flora.”
Lalu ia pergi. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Aurora masih duduk diam di tempatnya.
Tangannya perlahan menyentuh perban di lengannya.
“Si kulkas itu ternyata bisa perhatian juga” batin Aurora.
Aurora menghela napas pelan, “Flora…” gumamnya.
“Kenapa dia manggil aku Flora? Apa karena nama lengkapku Flora?” batinnya.
Ia masih tidak mengerti. Dan mungkin ia tidak akan mengerti.
Keesokan paginya, tubuh Aurora terasa berat. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya pegal, dan bekas luka semalam masih terasa nyeri.
Ia menatap dirinya di cermin. Ia merasa lelah, ia tahu seharusnya ia istirahat.
Tapi entah kenapa, langkahnya tetap membawanya ke kantor. Seolah-olah, ada sesuatu yang menariknya kembali ke tempat itu.
Aurora tiba di kantor seperti biasa. Namun kali ini, langkahnya lebih lambat.
Beberapa karyawan menoleh, sedikit heran melihat kondisinya.
Aurora mencoba tersenyum kecil dan langsung menuju mejanya. Ia duduk, mencoba terlihat normal.
Namun tidak lama, pintu ruang CEO terbuka.
Aurora langsung menegang.
Zayn keluar dari ruangannya.
Tatapan pria itu langsung jatuh ke arah Aurora.
Dan dalam satu detik, Zayn menyadari sesuatu. Aurora tidak sebaik yang ia katakan semalam.
Zayn berjalan mendekat. Langkahnya pelan, tatapannya tajam, rahangnya mengeras.
Aurora menunduk sedikit, pura-pura fokus pada berkas di depannya. Namun ia bisa merasakan kehadiran Zayn semakin dekat.
“Flora.”
Suara itu kembali terdengar.
Aurora menutup matanya sebentar. Ia tahu hari ini tidak akan lebih mudah dari kemarin.
Dan entah kenapa, perasaan tidak tenang itu kembali muncul. Seolah-olah sesuatu yang lebih besar sedang menunggunya.