Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BURUNG PIPIT DAN PHOENIX
BURUNG PIPIT DAN PHOENIX
"Enggak lah, mana mungkin aku melamunin mereka berdua. Bisa-bisa Kampung Babakan Soka gempar! Seekor burung pipit ingin menggapai phoenix... apa kata dunia?" kilah Danil dengan ekspresi wajah dibuat selucu mungkin demi mencairkan suasana.
"Bisa aja kamu mencari alasan," ucap Ceceu sambil tersenyum tipis.
Hening sejenak menyelimuti mereka berdua, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri. Danil membuka toples berisi jajanan khas kampung, sementara Ceceu hanya diam memperhatikannya.
"Neil.......
"Ceu.......
Mereka berdua berbenturan saat ingin memulai bicara.
"Kamu duluan aja Ceu," pinta Danil.
"Enggak, kamu aja Neil!" kekeh Ceceu.
Ugh...
Keduanya mendengus kasar. Entah kenapa malam ini terasa begitu canggung dan penuh gugup, tidak seperti biasanya yang selalu riuh dan bercanda.
Danil akhirnya menyerah. Ia tahu betul, gadis di hadapannya ini keras kepala dan sulit ditaklukkan. Pernah suatu waktu ia bersikeras memaksakan kehendak, persahabatan mereka yang sudah berjalan hampir sepuluh bulan malah jadi renggang. Akhirnya baikan juga setelah Rini dan Neng menjelaskan soal kesalahpahaman itu.
"Ceu... Mungkin seminggu lagi aku ada di kampung ini," ucap Danil pelan namun terdengar jelas sampai ke telinga Ceceu.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Ceceu cepat. Wajahnya terlihat kaget meski ia berusaha menyembunyikannya.
"Ekonomi Ceu... yang menuntunku untuk keluar dari kampung ini. Dan juga... rasa malu pada dirimu, serta kedua sahabat kita Rini dan Neng," jawab Danil lesu. Kepalanya menunduk, tak berani menatap wajah gadis di hadapannya.
Walau orang lain sering mencibir dan mengejek Ceceu karena kulitnya yang sawo matang, bagi Danil... gadis itu adalah sosok paling cantik yang pantas mendapatkan tempat istimewa di hatinya.
Uh........
Ceceu menarik napas panjang. Soal ekonomi, ia bisa mengerti dan maklum. Tapi kalimat soal rasa malu itulah yang membuat dadanya terasa sesak.
"Neil... Bisakah kamu jelaskan padaku? Kenapa harus malu terhadap aku dan mereka berdua?"
"Oke, kalau soal ekonomi aku mengerti, mungkin Rini dan Neng juga bakal ngerti. Tapi yang nggak masuk akal dan susah masuk ke otak bercabangku ini... kenapa kamu harus malu sama aku dan sahabat-sahabatku?" tekan Ceceu ingin tahu alasannya.
"Hmmm..." Danil hanya bergumam.
"Eh! Ini anak malah bergumam doang!" ceplos Ceceu kesal, bibirnya manyun lima senti ke depan mirip Tutut sawah yang siap direbus.
"Hehehehe... Sorry Ceu," Danil terkekeh sambil merentangkan dua jari meminta maaf.
"Ya sekarang jelasin! Kenapa kamu harus malu?"
"Aku akui... berat rasanya mau berpisah sama kamu dan mereka. Tapi setelah kupikir-pikir matang, tak ada cara lain. Aku harus merantau, cari kerja, supaya bisa mengangkat derajat keluarga dan harga diriku sendiri."
Danil berhenti sejenak, memberanikan diri menatap wajah Ceceu yang memandangnya lekat-lekat. Rona merah mulai terlihat menghiasi pipi keduanya. Danil buru-buru memalingkan wajah.
"Aku malu sama kamu... Soalnya selama ini kamu udah banyak bantu. Bukan cuma tenaga dan pikiran, tapi juga materi. Uangnya yang udah kuterima jumlahnya lumayan besar lho. Belum lagi sama Rini dan Neng."
Danil menghela napas panjang, "Uhh... Ceu... Aku udah pakai uang kamu kurang lebih lima ratus ribu. Bingung aku harus balas darimana. Terus sama Rini sama Neng juga masing-masing tiga ratus ribu..." lenguh Danil, kini wajahnya semakin tertunduk dalam.
HAHAHAHA... HAHAHAHA!!!
Tiba-tiba Ceceu tertawa terbahak-bahak. Danil sampai mengernyitkan dahi bingung.
'Gila apa gimana nih cewek? Kok malah ketawa? Apa dia kesurupan jin Raginang yang barusan aku makan?' batin Danil panik.
"Ceu! Kamu kenapa sih? Kerasukan jin apa?" tanya Danil was-was.
"Aisshh... Sialan kau Neil!" desis Ceceu sambil memukul lengan Danil pelan.
"Lagian ketawanya kaya Kuntilanak banget! Bikin bulu kuduk merinding ah. Kalau yang bawah merinding sih gak masalah, wajar kan kalau lihat tubuh secantik dan seseksi kamu..."
UPS!
Danil buru-buru menutup mulutnya. Ia tidak sengaja keceplosan mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa membuat Ceceu tersinggung.
Namun, bukannya marah, wajah Ceceu justru memerah padam layaknya tomat matang yang siap diulek dengan cabai dan kencur jadi sambal.
'Gak salah tuh bocah ngatain aku seksi dan molek? Uhuk... Makasih ya pujiannya,' batin Ceceu berbunga-bunga.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Ceceu berpura-pura batuk untuk menutupi rasa malunya, berusaha membuat wajahnya kembali normal. Ia tak ingin Danil tahu kalau hatinya sekarang sedang mekar berbunga-bunga karena gombalan tak sengaja itu.
"Neil..."
Ceceu menatap Danil dengan wajah serius. Danil pun langsung menatapnya balik.
"Soal uang yang kamu omongin tadi... itu murni bukan hutang yang harus kamu balikin. Itu semua tulus dari aku. Karena cuma kamu satu-satunya orang yang bisa menghargai harga diriku apa adanya di tengah cercaan orang lain."
"Dan untuk uang yang kamu pinjam dari Rini sama Neng... tenang aja. Itu udah aku lunasin semua. Jadi kamu gak berhutang apa-apa sama mereka," jelas Ceceu lembut.
DUG... DUG... DUG...
Jantung Danil berdegup kencang tak beraturan. Dadanya sesak mendengar pengorbanan gadis ini. Ceceu rela melakukan apa saja demi ketenangan dan masa depannya, bahkan sampai menanggung beban biaya. Andai ada kerudung atau topeng, rasanya Danil sudah pakai dari tadi karena malu luar biasa pada wanita berkulit hitam manis di hadapannya.
"Neil... Sebenarnya aku pengen banget kamu lanjut sekolah ke SMA. Soal biaya jangan kamu pikirin, itu jadi tanggung jawab aku. Kamu fokus belajar yang bener aja," lanjut Ceceu lagi.
Danil makin terkejut. Ini kali kedua ia dibuat terpana. 'Kenapa dia sebaik ini? Apa istimewanya aku sampai dia mau berkorban sejauh ini?'
Ceceu sedikit membungkuk, kedua tangannya ia letakkan di bahu Danil, menatapnya dalam.
"Aku harap kamu jangan pergi... Jangan tinggalin aku," bisiknya pelan namun begitu menyayat hati.
"Ceu..." lirih Danil. Kepalanya makin tertunduk karena rasa malu dan haru bercampur jadi satu.
"Ceu..." panggil Danil lagi, sedikit lebih keras.
"Iya Neil? Kenapa?" tanya Ceceu.
"Ceu..." Danil mengulang lagi, sampai Ceceu akhirnya ngegas.
"IYA DANIL DWI CAHYA! YANG PALING TAMPAN, PALING PINTAR, PALING GANTENG, PALING BAIK, PALING SEGALANYA! ADA APA SIH?!"
Uh........
Danil menghela napas panjang, jantungnya berpacu makin cepat.
"CEU INTAN NURAENI... YANG PALING SEKSI DAN PALING BAHENOL PANTATNYA! Tolong dong lepasin dulu tanganmu yang neken bahu gue ini! Biar gue bisa angkat muka, terus natap wajah kamu yang anggun itu... terus kalau boleh jujur, gue pengen natap seluruh tubuh kamu tanpa busana deh! Hahaha!"
BRUK!
Tanpa ampun, Ceceu memukul bahu Danil dengan keras hingga pemuda itu kehilangan keseimbangan dan JATUH DARI SAUNG!
"AWWWW... SAKIT TAHU CEU!" teriak Danil meringis kesakitan di tanah.
"RASAIN! DASAR MULUT TAK BERTULANG! BISA-BISANYA BICARA NGALOR NGIDUL!"
"Aduh... Aku kan cuma bercanda Ceuuu..." rengek Danil sambil bangkit dan berusaha naik kembali ke atas saung.
Bersambung...