Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah kejadian malam itu, Wira setiap hari melewati jalan raya tempat Rani menghilang. Wira mencari informasi siapa tahu ada yang menemukan jasad Rani.
Wira bahkan rela membuang waktunya memancing di pinggir sungai hanya demi mendapatkan informasi. Kejadian malam itu memang hanya menjadi rahasia Wira dan kedua temannya. Wira merasa lega.
Kedua orang tua Wira selalu menanyakan Rani. Tidak seperti biasanya Rani tidak menjawab telepon dan membalas pesan mereka. Orang tua Wira khawatir, mereka akan pulang lebih cepat dari waktu yang sudah direncanakan sebelumnya.
Wira bingung bagaimana menjelaskannya. Rani tidak mempunyai teman yang akrab. Rani selalu menghabiskan waktu di rumah bersama ibunya membuat kue dan keluar hanya untuk mengantarkan pesanan.
Wira memang tidak menyukai Rani. Sudah lama Wira ingin Rani menghilang dari kehidupan keluarganya. Rani hanya beban.
Dan sore itu, kedua orang tua Wira tiba di rumah. Mereka langsung mencari Rani. Wira bilang Rani sudah beberapa hari tidak pulang. Terakhir kali hari di mana ibu dan ayahnya pergi ke luar kota. Rani pamit pergi bersama temannya.
Damin dan Mira tahu, selama ini Wira tidak suka Rani. Damin dan Mira kemudian mengajak Wira duduk di ruang tamu. Damin secara perlahan menjelaskan keadaan perekonomian mereka.
Selama ini Wira tidak perduli dengan kondisi keluarganya. Damin mengatakan, pasca covid 19, Damin terpaksa menjual rumah untuk membayar hutang. Rani mengizinkan mereka menempati rumahnya karena hanya mereka keluarga Rani.
Rani memberikan perhiasan ibunya untuk dijual agar bisa membiayai sekolah Rani dan Wira. Semua itu Rani yang berikan.
"Wira, itulah alasannya mengapa Ayah tidak bisa memenuhi keinginanmu. Semua yang kamu nikmati adalah uang Rani. Ayah malu jika terus memakai uang Rani."
"Sudah saatnya kamu tahu. Rani menganggap kami orang tuanya. Kamu itu adalah saudaranya. Kita semua berhutang banyak kepada Rani. Wira, bersikap baiklah kepada Rani."
Wira terdiam. Wira baru mengetahui ternyata alasan Damin tinggal di rumah Rani karena Damin sudah menjual rumah besarnya. Wira juga baru tahu, Damin mempunyai banyak hutang.
Wira sedikit merasa bersalah kepada Rani. Tapi, bisa saja semua itu hanya karangan kedua orang tuanya supaya Wira tidak membenci Rani. Wira akan membuktikan apakah benar rumah besarnya benar-benar dijual.
Wira memutuskan pergi ke rumah lamanya. Sedangkan kedua orang tuanya mencari Rani dengan mendatangi semua pelanggan yang memesan kue. Jika mereka tidak menemukan Rani, mereka akan melaporkan orang hilang ke kantor polisi.
...----------------...
🌑 Rumah Sakit Umum Kota Goldie.
Rani dan cowok yang menolong Rani ditemukan mengapung oleh nelayan di tengah lautan. Setelah memastikan mereka masih bernapas, Rani dan cowok itu dibawa ke rumah sakit terdekat.
Dan beruntungnya, Dokter yang pada waktu itu berada di ruangan UGD adalah keluarga dari cowok yang menolong Rani. Cowok itu diketahui bernama Bima.
Bima terluka sangat parah. Ditemukan banyak luka di bawah pundaknya. Dokter itu menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Bima. Dokter dibantu perawat berusaha untuk menyelamatkan nyawa Bima.
Sementara itu, Rani juga mendapatkan luka goresan, benturan di kepalanya. Salah satu nelayan yang membawa Rani, setia menemani Rani. Dia tidak menemukan identitas diri Rani. Pria itu untuk sementara akan menjadi wali Rani.
Setelah Dokter memeriksa Rani dan Bima, Dokter menemui nelayan itu. Dia bernama Latif. Dokter bertanya di mana pak Latif menemukan Bima dan cewek yang bersamanya. Pak Latif bilang mereka berdua mengapung di tengah laut.
Pak Latif bersedia membawa Rani untuk tinggal di rumahnya untuk sementara. Di saat itu keluarga pak Latif yaitu Istri dan dua orang anaknya tiba di rumah sakit. Pak Latif menceritakan semuanya kepada keluarganya.
Istri dan kedua anaknya pak Latif menjenguk Rani. Entah ada perasaan apa, mereka sepertinya ingin sekali merawat Rani. Mereka semua berdiri di samping tempat tidur Rani.
Rani perlahan membuka mata. Dokter langsung mencek kondisi Rani. Dokter menanyakan apakah Rani merasakan sakit. Rani merasakan sakit yang luar biasa di kepala dan seluruh tubuhnya.
Rani juga menanyakan apa yang terjadi padanya dan siapa dirinya. Dokter meminta Rani perlahan mencoba mengingat siapa dirinya. Rani tidak bisa mengingat apa-apa.
Dokter mengenalkan Rani kepada pak Latif dan keluarganya. Pak Latif lah yang menemukan Rani mengapung di tengah laut bersama Bima keponakannya.
"Apa kamu ingat Bima?" Dokter mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Bima kepada Rani.
"Maaf, Dok. Saya tidak ingat," jawab Rani.
Akibat benturan di kepala yang begitu keras, Rani mengalami amnesia. Dokter menganjurkan agar Rani tidak memaksakan diri untuk mengingat. Rani harus banyak istirahat dan minum obat.
Pak Latif dan keluarganya sangat perhatian kepada Rani. Mereka menawarkan Rani untuk tinggal sementara di tempat mereka. Mereka juga akan membantu mencari informasi tentang Rani.
...----------------...
Rani berangsur-angsur pulih dari sakitnya. Sebelum meninggalkan rumah sakit. Rani menjenguk Bima di dalam ruangannya. Sama seperti Rani, Bima juga kehilangan memori ingatannya.
Rani mengucapkan terima kasih kepada Bima. Karena dari yang Rani dengar dari pak Latif, Bima memeluknya. Mungkin saja waktu itu Bima ingin menyelamatkan Rani.
Rani bertanya kepada Bima, apakah Bima ingat siapa namanya. Bima menggelengkan kepala. Rani berharap, Bima dan dirinya akan segera mengingat semuanya.
Rani dijemput oleh pak Latif, ibu Sekar, Rama dan juga Dita. Rani mereka beri nama Dinda, untuk mempermudah panggilan. Dinda panggilan untuk anak yang paling kecil.
Pak Latif dan keluarga menyambut hangat kedatangan Rani di rumah mereka. Rani merasakan kehangatan keluarga. Mereka terlihat tulus, tidak seperti dibuat-buat dan ada maunya.
Rama dan Dita mengajak Rani ke pantai dekat dengan rumah mereka. Mereka naik motor pick up roda tiga yang biasa pak Latif pakai untuk membawa ikan hasil tangkapannya di laut.
Rama dan Dita mengenalkan Rani kepada para tetangga mereka. Para tetangga masih mengingat Rani. Dia yang mereka temukan di lautan. Mereka menanyakan keadaan Rani. Mereka senang melihat Rani selamat.
Lagi-lagi Rani meneteskan air mata haru. Rani merasakan kebaikan yang datang silih berganti. Mereka baru saja menyelamatkannya dari bahaya. Mereka tidak curiga kepada orang asing sepertinya. Mereka juga tidak takut seandainya Rani mencuri sesuatu dari mereka.
Dari tengah laut, seseorang yang berada di atas perahu melambaikan tangannya ke arah Rama. Rama berlari ke pinggir pantai. Rama menunggu orang itu menepikan perahunya.
Orang itu semakin mendekati pantai. Dia melemparkan tali ke arah Rama. Rama dengan cepat meraih dan menangkap tali perahu dan mengikatnya di batang pohon yang ada di tepi pantai.
"Daffa, ada apa?" Rama melihat Daffa sibuk sekali mengangkat sesuatu dari perahunya.
"Rama, aku menemukan ini di laut," Daffa mengangkat jok motor.
"Jok motor? Kok bisa?"
"Jok itu tersangkut di jalaku. Apa jok ini ada hubungannya dengan gadis itu?" tunjuk Daffa ke arah Dinda.
Rama menoleh ke belakang. Rama memanggil Dinda dan Dita. Rama mengambil jok motor yang ditemukan Daffa di laut.
"Dinda, apa kamu mengingat ini?"
Dinda melihat jok motor yang basah. Terlintas di benaknya ada tetesan darah di atas jok motor. Dinda langsung bereaksi, tubuhnya bergetar hebat, Dinda sangat ketakutan, begitu paniknya, Dinda berlari sekencang-kencangnya menuju rumah pak Latif.
Dinda masuk ke dalam rumah pak Latif. Dinda memegangi kepalanya yang sakit. Dinda jatuh tidak sadarkan diri di pangkuan Sekar.
"Dinda, kamu kenapa Nak. Dinda!" Teriak Bu Sekar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...