Aaron Bernard merupakan presiden direktur dari perusahaan raksasa, dia pria yang berkuasa, dingin, dan penuh misteri.
Malam-malam, saat sedang dalam perjalanan pulang dari perusahaannya, di tengah jalan dia menemukan seorang gadis yang tergeletak di tengah jalan.
Aaron yang pensaran meminta asistennya untuk mengecek kondisi perempuan tersebut, dia takut hanya sebuah jebakan untuk membunuhnya.
Namun, ternyata salah, gadis itu benar-benar pingsan tak sadarkan diri dengan kondisi yang memprihatinkan.
Aaron meminta asistennya untuk memasukkan kedalam mobilnya, dan membawanya ke rumah.
Dia merawat gadis itu hingga sembuh sampai akhirnya menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Setibanya di mansion, suasana langsung terasa sunyi. Lampu-lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan pepohonan di dinding bangunan megah itu. Miko turun lebih dulu dari mobil, lalu dengan sigap mengangkat tubuh Ayla yang terkulai lemas di jok belakang. Aaron ikut turun, menatap Ayla sekilas dengan ekspresi sulit ditebak sebelum melangkah mengikuti Miko.
“Bawa dia ke kamar tamu, Mik,” ucap Aaron pelan tapi tegas, langkahnya mantap di belakang Miko.
Miko mengangguk tanpa banyak bicara. Dia melangkah cepat masuk ke dalam mansion, melewati lorong panjang dengan lantai marmer yang dingin. Setibanya di kamar tamu lantai bawah, Miko langsung merebahkan Ayla di atas ranjang besar dengan sprei putih. Gerakannya hati-hati, seolah takut sedikit saja salah, luka di tubuh Ayla akan semakin parah.
Ayla masih tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, napasnya tipis, sementara lebam dan luka gores tampak jelas di beberapa bagian tubuhnya. Miko berdiri di samping ranjang, menatap kondisi Ayla dengan pandangan rumit.
“Luka di tubuhnya sangat banya, Tuan, kita harus memanggil dokter untuk memeriksanya.” ucap Miko.
Aaron berdiri beberapa detik di depan pintu, menatap Ayla tanpa ekspresi. Matanya dingin, tapi sorotnya tajam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar luka fisik.
“Panggil Hans ke sini,” ucap Aaron singkat. “Aku ke kamar ku dulu.”
Tanpa menunggu jawaban, Aaron berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Langkahnya terdengar berat di lorong, lalu menghilang di balik pintu kamarnya sendiri.
Begitu Aaron pergi, Miko langsung bergerak. Dia meraih ponselnya, menekan nomor dokter Hans, dokter pribadi Aaron yang selalu siap dipanggil kapan saja. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terangkat.
“Dokter Hans? Kami butuh Anda segera ke mansion. Ada pasien dengan banyak luka, kondisinya cukup parah.” ucapnya buru-buru.
Setelah panggilan berakhir, Miko kembali mendekati ranjang. Dia mengambil selimut tipis, menutup tubuh Ayla dengan perlahan. Sesekali dia melirik wajah wanita itu, ada rasa kasihan bercampur heran di matanya.
“Entah apa yang sebenarnya kamu alami sampai bisa separah ini,” gumam Miko pelan, nyaris tak terdengar.
Di luar kamar, mansion tetap sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar jelas, seakan menghitung waktu sambil menunggu dokter Hans datang. Sementara itu, Ayla masih terbaring tak berdaya, tanpa tahu kalau hidupnya mulai memasuki babak baru di tempat yang sama sekali asing baginya.
Selang berapa lama Hans datang dengan membawa tas yang berisi alat medisnya.
"Siapa yang sakit?" tanya Hans kepada Miko.
"Kami tidak tahu dia siapa, tadi kami menemukan perempuan itu di jalan" jawab Miko.
"Hah? Bagaimana bisa kalian membawa orang asing itu masuk ke mansion ini. Kalian tidak takut kalau wanita itu ternyata hanya umpan untuk merampok mansion ini?" tanya Hans, setahu dia Aaron sangat berhati-hati mengajak seseorang untuk masuk kedalam mansionnya.
"Kau kebanykan menonton sinetron" cibir Miko. "Sudah sana periksa, sebelum tuan Aaron kesini" kata Miko.
Mereka berdua pun akhirnya masuk kedalam kamar yang di tempati Ayla. Dokter Hans terkejut ketika melihat kondisi tubuh Ayla. Banyak sekali memar dan luka gores di tubuhnya.
"Dia seperti di aniaya" gumamnya sambil memeriksa kondisi Ayla.
Hans menghela napas panjang sebelum akhirnya mendekat ke ranjang. Tas medisnya dibuka, satu per satu alat dikeluarkan. Matanya menyapu tubuh Ayla yang terbaring pucat, napasnya lemah, wajahnya penuh bekas luka yang sudah mulai mengering. Alis Hans langsung berkerut, ekspresinya berubah serius. Ini jelas bukan luka jatuh biasa.
“Ini parah,” gumam Hans sambil meraba pergelangan tangan Ayla, mengecek denyut nadinya. “Nadinya lemah, tapi masih stabil. Dia kekurangan cairan juga. Kalian nemunya beneran di jalan?” tanyanya lagi, kali ini nadanya lebih rendah.
“Iya, dia pingsan di tengah jalan, badannya dingin. Kalau tidak kita bawa ke sini, bisa jadi nyawanya tidak akan tertolong.” jawab Miko, karena jalanan yang mereka lalui sangat sepi, sudah tidak ada orang yang berlalu lalang.
Hans mendecih pelan. Tangannya berhenti di satu titik di lengan Ayla, bekas memar keunguan yang bentuknya jelas bukan benturan sembarangan. Ada bekas cekikan di leher, ada goresan panjang di kakinya. Hans sudah terlalu sering melihat korban kekerasan, dan tubuh Ayla memancarkan semua tanda itu.
“Ini bukan hanya dianiaya, tapi dia juga disiksa. Luka-lukanya beda. Ada yang lama, ada yang baru. Sepertinya ini sudah terjadi berkali-kali.” ucap Hans sambil menggeleng pelan.
Miko terdiam. Biasanya mulutnya paling cerewet, tapi kali ini dia hanya berdiri dengan tangan terlipat di dada. Ada rasa nggak enak yang tiba-tiba muncul. “Separah itu?”
Hans mengangguk. Dia membersihkan salah satu luka Ayla dengan hati-hati, seolah takut perempuan itu akan terbangun karena rasa sakit. Ayla hanya mengerang pelan, alisnya sedikit berkerut, tapi matanya tetap terpejam.
“Dia trauma, Lihat reaksinya. Tubuhnya tegang walaupun dalam keadaan tidak sadar. Sepertinya dia baru kabur dari sesuatu… atau seseorang.” ucap Hans mengamati wajah Ayla.
Miko menghembuskan napas kasar. “Kalau tuan Aaron tahu soal ini—”
“Dia harus tahu, kondisi perempuan ini tidak bisa dianggap sepele. Dia butuh perawatan, istirahat, dan yang paling penting… rasa aman.” potong Hans.
Seolah tahu dirinya sedang di bicarakan, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Aaron berdiri di ambang pintu, wajahnya datar tapi sorot matanya tajam ketika melihat Ayla di atas ranjang dan Hans yang sedang merawatnya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya singkat.
Hans yang tadinya masih menunduk di samping ranjang akhirnya berdiri menengakkan tubuhnya. Dia menghela napas pelan sambil menutup tas medisnya perlahan, gerakannya hati-hati, seolah tidak mau membuat suasana semakin tegang.
“Aaron, perempuan ini korban kekerasan berat, dan menurutku… dia baru saja kabur dari seseorang.” ucapnya serius.
Ucapan itu membuat ruangan terasa semakin sunyi. Aaron kembali menatap Ayla. Tubuh wanita itu terbaring lemah, wajahnya pucat, ada lebam yang belum sepenuhnya pudar, dan bekas luka yang jelas bukan luka jatuh biasa. Tatapan Aaron yang biasanya kosong mendadak sedikit berubah. Ada sesuatu yang bergerak di balik mata dinginnya, perasaan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti.
Entah kenapa, dia merasa pertemuannya dengan perempuan ini bukan kebetulan. Terlalu banyak tanda. Terlalu pas. Seolah semesta sengaja melemparkan Ayla ke jalannya, membawa masalah yang belum dia pahami, tapi mau tak mau sudah ikut menyeretnya masuk.
“Rawat dia, obati dia sampai sembuh” ucap Aaron akhirnya, suaranya rendah tapi tegas.
Hans menoleh cepat, jelas terkejut. “Kau serius?” tanyanya memastikan. Dia mengenal Aaron lebih dari siapa pun. Pria itu bukan tipe yang gampang iba, apalagi pada orang asing. Tapi kali ini berbeda.
Aaron tidak menoleh. Wajahnya tetap keras, seolah keputusan barusan bukan apa-apa.
“Lakukan saja, tidak perlu banyak tanya.” ucapnya dingin.
Setelah itu, tanpa menunggu jawaban, Aaron berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar. Suara langkahnya menjauh, tapi bayangan Ayla masih tertinggal di pikirannya.