NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Menelan Malam

Hujan turun membasahi Kota Ironhold, bukan sebagai berkah, melainkan sebagai tirai yang menyembunyikan dosa. Di atap genting sebuah rumah mewah yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter, sesosok bayangan berjongkok. Air hujan meluncur jatuh dari baju zirah hitam-ungunya tanpa meninggalkan jejak basah, seolah-olah air itu sendiri takut menyentuhnya.

​Varian menatap ke bawah melalui jendela kamar yang sedikit terbuka. Di dalam, target pertamanya—Sang Pedagang dan Istrinya—sedang tertidur lelap di ranjang sutra yang hangat.

​Ini adalah ujian pertama bagi "Void". Bukan ujian kemampuan pedang, melainkan ujian hati. Apakah dia benar-benar telah membuang kemanusiaannya?

​Varian tidak menunggu jawaban dari nuraninya. Dia meluncur masuk. Gerakannya tidak menghasilkan suara, berkat teknik Silent Step yang dia pelajari dari kitab kuno dan adaptasi sihir Void yang meredam getaran udara di sekitarnya.

​Dia berdiri di samping tempat tidur. Bau parfum mahal dan lilin aromaterapi memenuhi hidungnya, kontras yang menjijikkan dengan bau busuk selokan tempat dia dan Elara dulu tinggal.

​Mereka tidur nyenyak, batin Varian dingin. Sementara Elara tidur di dalam tanah.

​Slash.

​Satu gerakan. Cepat. Efisien. Tanpa keraguan.

​Pedang hitam Varian menggores leher sang pedagang. Darah muncrat ke bantal putih, menciptakan pola abstrak kematian. Pria itu terbangun, matanya membelalak kaget, mulutnya membuka untuk berteriak, tapi pita suaranya sudah putus. Dia hanya bisa menggelepar seperti ikan yang diangkat ke darat, tangannya mencengkeram sprei dengan putus asa.

​Istrinya terbangun karena cipratan darah hangat di wajahnya. "Sua... mi?"

​Wanita itu belum sempat memproses horor yang ada di depan matanya ketika tangan kiri Varian yang terbungkus sarung tangan besi membekap mulutnya.

​"Sstt," desis Varian, matanya yang ungu menyala menatap tepat ke manik mata wanita yang ketakutan itu. "Tidurlah. Mimpi indah."

​Jleb.

​Tusukan presisi menembus jantung, menembus selimut tebal dan tulang dada. Wanita itu tersentak sekali, matanya meredup, dan tubuhnya melemas. Varian mencabut pedangnya, membersihkan darahnya ke selimut sutra seharga ratusan koin emas itu dengan ketidakpedulian seorang pelayan yang membersihkan debu.

​Dia keluar dari kamar utama. Lorong rumah itu sunyi. Varian berjalan menuju pintu berikutnya. Kamar anak-anak.

​Pintu terbuka tanpa suara. Di dalam, cahaya lampu tidur yang redup menerangi dua gundukan kecil di balik selimut. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan adiknya perempuan berusia enam tahun. Mereka tidur berpelukan karena badai di luar membuat mereka takut.

​Varian berdiri di kaki tempat tidur mereka. Pedang di tangan kanannya meneteskan darah orang tua mereka ke lantai kayu yang dipoles. Tes. Tes. Tes.

​Tangan pedang Varian berhenti di udara.

​Selama satu detik—hanya satu detik yang terasa seperti satu abad—mata Varian tertuju pada boneka beruang yang dipeluk erat oleh anak perempuan itu. Ingatan itu menghantamnya seperti palu godam. Boneka kain perca yang dulu ia buatkan untuk Elara dari sisa sampah. Elara yang memeluknya saat demam.

​Napas Varian tertahan. Apakah dia akan melakukannya? Membunuh anak-anak yang tidak tahu apa-apa ini?

​Namun, suara doktrin kejam yang ia bangun sendiri selama setahun di hutan Blackwood bergema di kepalanya, menenggelamkan rasa kemanusiaan yang tersisa.

​Kasihan adalah kelemahan. Emosi adalah racun. Jika aku membiarkan mereka hidup, mereka akan tumbuh menjadi yatim piatu yang menderita. Mereka akan menjadi budak, pelacur, atau pengemis yang mati di selokan sepertiku dulu. Atau lebih buruk, mereka akan tumbuh menjadi pendendam yang akan menghalangiku di masa depan.

​Di mata Varian, dunia ini adalah neraka. Mengirim mereka keluar dari dunia ini lebih cepat adalah bentuk belas kasih yang paling murni.

​"Maaf," bisik Varian. Bukan permintaan maaf karena rasa bersalah, tapi permintaan maaf karena dunia ini begitu rusak. "Aku kirim kalian ke tempat yang tidak ada rasa sakit."

​Mata ungunya menyala dalam gelap, pupil vertikalnya membesar.

​Zrrrt.

​Varian mengayunkan pedangnya. Tidak ada teriakan. Hanya suara daging yang terpisah dan napas yang terhenti selamanya.

​Malam itu, Void lahir sepenuhnya.

​Enam bulan kemudian. Reputasi "Hantu Mata Ungu" telah menyebar di kalangan bawah tanah Ironhold. Bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai bencana alam. Dia tidak pernah bernegosiasi. Dia tidak pernah gagal. Dan yang paling menakutkan, dia tidak pernah menyisakan nyawa.

​Target kali ini berbeda level.

​Target: Baron Gremory & Keluarganya.

Lokasi: Mansion Bukit Utara.

Tingkat Kesulitan: A.

Status Misi: Pemusnahan Total.

​Mansion Baron Gremory lebih mirip benteng kecil daripada rumah tinggal. Tembok batu setinggi empat meter mengelilingi properti itu. Di setiap sudut, penjaga bersenjata lengkap berpatroli dengan anjing pelacak. Total ada lima puluh penjaga elit—mantan tentara bayaran yang disewa khusus karena paranoia sang Baron yang tahu dia punya banyak musuh.

​Hujan badai kembali menjadi sekutu Varian malam ini. Dia berjongkok di dahan pohon ek tua di luar tembok, matanya memindai pola patroli mereka seperti predator mengamati kawanan domba.

​"Lima puluh..." gumamnya pelan. Suaranya hampir tertelan angin. "Terlalu banyak untuk dibantai satu per satu tanpa suara. Harus ambil rute bayangan."

​Langkah 1: Infiltrasi.

​Varian melompat turun. Saat kakinya menyentuh tanah basah, ia mengaktifkan Shadow Step. Tubuhnya seolah melebur menjadi asap hitam, meluncur melewati celah gerbang besi tepat saat dua penjaga berpapasan dan memalingkan muka.

​Seekor anjing penjaga jenis Mastiff mengendus udara. Telinganya tegak. Ia menoleh ke arah bayangan tempat Varian bersembunyi.

​Grrrr...

​Sebelum anjing itu sempat menggonggong dan memicu alarm, sebuah jarum hitam kecil melesat dari kegelapan. Jarum itu dilapisi racun kelumpuhan saraf yang diekstrak Varian dari laba-laba gua. Jarum itu menembus leher anjing itu. Binatang buas itu ambruk tanpa suara, lumpuh total sebelum otaknya sadar ia mati.

​Varian berjalan melewatinya, bahkan tidak melirik bangkai itu.

​Langkah 2: Lorong Kematian.

​Varian berhasil masuk ke dalam mansion lewat jendela lantai dua. Koridor itu mewah, berlapis karpet merah tebal dan dihiasi lukisan leluhur. Di ujung lorong, enam penjaga berdiri memblokir pintu kamar utama. Mereka bersenjata tombak dan pedang pendek.

​Varian tidak bisa lewat tanpa membunuh mereka. Dan dia tidak punya waktu untuk bermain petak umpet.

​Dia menarik Sword of Silence-nya. Bilah hitam itu seakan menyerap cahaya lampu koridor, membuat keberadaan pedang itu sendiri sulit dideteksi mata.

​Varian mengambil sekeping koin emas dari sakunya dan menjentikkannya ke ujung lorong yang berlawanan.

​Ting.

​Suara logam beradu dengan lantai marmer terdengar jelas. Keenam penjaga menoleh serentak, tombak mereka terarah ke sumber suara. "Suara apa itu?"

​Itu adalah kesalahan terakhir mereka. Mengalihkan pandangan dari kematian.

​Varian bergerak. Bukan berlari, tapi meluncur. Shadow Step mendorong tubuhnya maju dengan kecepatan yang tidak wajar.

​Slash. Slash. Slash.

​Dalam hitungan tiga detik, Varian telah melewati keenam penjaga itu. Dia muncul di belakang mereka, berlutut dengan satu kaki, menyarungkan pedangnya perlahan.

​Klik.

​Saat pedang masuk ke sarungnya, leher keenam penjaga itu terbuka serentak. Darah tidak menyembur liar karena Mana Void di pedang Varian telah "memakan" momentum luka itu, membekukan pembuluh darah seketika, namun tetap mematikan. Mereka ambruk seperti boneka yang tali-talinya diputus. Tanpa teriakan. Tanpa perlawanan.

​Langkah 3: Kepala Keluarga.

​Varian membuka pintu kamar utama. Baron Gremory, pria gemuk yang dikenal suka menyiksa pelayan demi kesenangan, sedang mendengkur.

​Varian berdiri di samping ranjang. Dia menatap wajah pria itu dengan rasa jijik. Bukan karena pria itu jahat, tapi karena pria itu lemah dan lalai.

​"Bangun," bisik Varian.

​Mata Baron Gremory terbuka. Dia melihat sepasang mata ungu menyala dalam kegelapan. Dia membuka mulutnya untuk berteriak.

​Tangan Varian membekap mulutnya dengan kekuatan besi yang tak sebanding dengan ukuran tubuh kecilnya.

​"Sstt. Jangan bangunkan istrimu dulu. Biarkan dia mati dalam mimpi," ucap Varian datar.

​Dengan tatapan kosong, Varian menancapkan belati ke tenggorokan Baron. Ia memutarnya sedikit untuk memastikan pita suaranya hancur, lalu mencabutnya. Baron itu menggelepar, matanya melotot menahan sakit dan horor saat darah membanjiri paru-parunya sendiri.

​Varian beralih ke sang istri. Tanpa ragu, Varian menusuk jantung wanita itu menembus selimut. Satu tusukan presisi. Wanita itu hanya tersentak sekali, lalu mati tanpa tahu apa yang membunuhnya.

​Langkah 4: Harta dan Penghapusan Jejak.

​Varian menggeledah ruangan itu. Di laci meja kerja Baron, matanya menangkap kilauan biru. Sebuah cincin dengan batu permata sapphire yang berdenyut pelan.

​Cincin Penyimpanan Ruang (Spatial Ring).

​"Jackpot," gumam Varian. Ini barang langka yang harganya setara dengan satu desa kecil.

​Dia memakai cincin itu di jari telunjuknya yang kurus. Dia mengalirkan sedikit mana-nya. Cincin itu menyala, menerima tuan barunya. Varian segera menyapu semua perhiasan, emas batangan, dan dokumen penting di ruangan itu ke dalam dimensi saku cincin tersebut. Praktis.

​Sekarang, bagian terakhir. "Tanpa jejak."

​Varian menggunakan kekuatan Void-nya. Dia tidak membakar ruangan itu dengan api yang mencolok. Sebaliknya, dia meletakkan tangannya di atas luka mayat Baron. Energi ungunya menyerap sisa-sisa darah yang tercecer di sprei dan lantai, menguapkannya menjadi ketiadaan.

​Kamar itu kini bersih. Mayat-mayat itu tampak pucat seolah darah mereka dihisap habis vampir, tapi tidak ada tetesan darah yang bisa dilacak. Tidak ada jejak kaki berlumpur.

​Varian membuka jendela. Badai di luar akan menghapus jejak baunya di halaman. Ia melompat keluar, menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan mansion yang kini menjadi makam raksasa.

​Keesokan paginya, Kota Ironhold gempar. Lima puluh penjaga elit tidak melihat apa-apa. Baron dan keluarganya mati tanpa perlawanan. Harta mereka lenyap. Orang-orang mulai berbisik ketakutan, menyebut nama "Void" bukan lagi sebagai rumor, tapi sebagai kutukan yang nyata.

​Sementara itu, di sudut gelap Tavern Tengkorak Retak, Varian duduk tenang, meminum segelas air putih sambil menghitung koin emas di dalam cincin barunya. Wajahnya tetap datar, seolah dia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah, bukan pembantaian massal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!