Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Keluarga ahmed telah sampai dirumah Alie dengan selamat. Alie juga istrinya menyambut baik mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullah." Salam mereka.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawab Alie juga istrinya. "Mari masuk." Ajak fatemah
Mereka duduk dengan tenang, Fatih merasa tak asing dengan rumah milik Alie.
"Ini, anakmu Ahmed?" Tanya Alie.
"Ya, ini putra ku." Jawab Ahmed. "Al, kenalkan dirimu."
Fatih mengangguk. "Perkenalkan, paman, saya Al Barra' Fatih Ahmed."
Alie juga fatemah kagum dengan ketampanan juga kesopanan Fatih.
"Maa syaa Allah, saya Alie dan ini istri saya fatemah."
"Na'am paman, Abah sering bercerita tentang paman." Ujar Fatih
"Oh yah? Senang paman mendengarnya."
"Mas, suruh minum dulu dong.... Pasti mereka capek."
Seusai bertamu dirumah Alie, kini Fatih lebih banyak merenung. Hingga seseorang meredupkan lamunannya.
"Assalamu'alaikum." Salamnya sambil menepuk bahu Fatih.
Fatih tersenyum dan menjawab salam darj sahabatnya.
"Lamunin apa?" Tanyanya.
"Seperti biasanya." Singkat Fatih tak ingin bercerita.
Amar mengangguk kecil. "Dicari kyai." Ucapnya. "Kalau butuh saya, saya di perpus. Kyai sudah mencari antum sedari tadi, saya pamit dulu, assalamu'alaikum." Amar menepuk bahu Fatih dua kali lantas ia berlalu pergi.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi. Al, darimana?"
Fatih tersenyum simpul. "Dari taman, ada apa Abah?"
"Sudah dapat jawabannya?"
Dengan ragu Fatih mengangguk samar. Ahmed melihatnya namun ia tidak bisa membaca raut wajah sang anak saat ini.
"Apa jawabanmu nak?"
"Bisa kita berkunjung ke beit paman Alie sekarang Abah?"
Ahmed mengernyit bingung namun, setelahnya ia tersenyum. "Tentu, ayo bersiap."
Fatih mengangguk lalu pergi memasuki kamarnya untuk bersiap, begitupun dengan Ahmed.
Fatemah menyiapkan jamuan untuk tamunya. Dari dapur terdengar suara salam yang ia kenali. Lantas fatemah bergegas membawa jamuan yang sudah ia buat seusai mendengar suaminya mempersilahkan sang tamu untuk duduk.
Alie melihat sang istri yang kesusahan membawa nampan berisi jamuan pun lantas ia membantunya.
"Silahkan di minum dulu Ahmed, Hafshah, dan Al barra'."
Mereka mengangguk. "Terimakasih Alie, fatemah, maaf merepotkan." Ucap Ahmed.
"Tidak sama sekali, silahkan dinikmati dulu." Ujar fatemah.
Titt... Titt....
Bunyi tersebut berasal dari monitor jantung. Mendengar bunyi tersebut yang semakin keras membuat fatemah segera pergi memasuki kamar anaknya.
Begitupun dengan Alie dan keluarga Ahmed yang ikut menyusul fatemah.
Fatemah melihat putrinya sedang tersengal-sengal napasnya. Membuat perasaanya kalut, kakinya lemas seolah tak bisa ia gerakkan, lidahnya kelu untuk sekedar memanggil nama anaknya.
Alie segera menghubungi tim medis. Hafshah menopang fatemah yang mungkin saja akan jatuh.
"Kita disini fatemah..., berdoa sama-sama yah.., insyaallah anakmu baik-baik saja."
Hafshah memberikan sedikit penyemangat agar fatemah bisa lebih tenang.
Fatih masuk setelah mendapat izin dari Alie. Fatih berdiri dekat pintu bersebelahan dengan abah nya.
Fatih mengucapkan dengan lirih doa-doa untuk kesembuhan anak teman Abah nya. Seiring dengan doa nya Fatih, khaulah mulai lebih tenang napasnya mulai teratur dan disaat itulah dokter datang. Kedua keluarga memberikan ruang untuk dokter memeriksa keadaan khaulah. Dokter menatap fatemah.
"Alhamdulillah, Salma sudah stabil bahkan kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya."
Semua orang terharu mendengar pernyataan dokter. Fatemah meneteskan air mata nya lagi tapi kali ini air mata bahagia.
"Dokter, apa Salma akan siuman?"
Dokter mengangguk. "Yah, kabar baiknya Salma akan sadar dari tidur panjangnya. Kita tunggu sama-sama yah Bu, pak."
"Alhamdulillah." ucap mereka sama-sama.
Khaulah menggerakkan jarinya, matanya perlahan mulai terbuka mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk dalam retina nya.
"Sayang..., Alhamdulillah terimakasih ya Allah."
Khaulah tersenyum melihat keberadaan uminya. "Umi..." panggilannya lirih hampir tak terdengar.
"Umi disini nak." fatemah memeluk khaulah erat semua orang yang ada disitu terharu dan tak berhenti mengucap syukur kepada Allah.