Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Mereka berdua berjalan melewati gang-gang sempit menuju kompleks kecil di pinggiran kota. Rumah-rumah di sana berdiri rapat, sebagian catnya mulai memudar. Udara terasa lebih berat.
Akhirnya Vira menemukan nomor rumah yang dicari. Ia mengetuk pintu pelan. Sesaat kemudian pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dibalik pintu.
““Assalamualaikum. Bu, perkenalkan, saya Vira, wali kelas Lestari. Apa boleh kami bertemu sebentar dengan Tari?”
Wanita itu, ibu tirinya Tari. Ia tersenyum tipis. “Wa'alaikumsalam. Oh, iya. Silakan masuk dulu.”
Ia berjalan cepat menuju salah satu kamar di dalam rumah, lalu tiba-tiba,
“TARIII!”
Suara teriakannya mengguncang seluruh rumah. Vira dan Rani saling pandang, lalu bergegas menuju ke arah kamar itu.
“Bu, ada apa...”
Kata-kata Vira terhenti. Tubuhnya langsung lemas. Di depan matanya, Tari tergantung di tali kain kusam, wajahnya pucat dengan mata setengah tertutup. Udara kamar itu seolah berhenti bergerak.
“Ya Allah…” suara Rani tercekat.
Vira jatuh berlutut. Tangannya gemetar hebat, air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
“Tari… kenapa kau pilih jalan ini…” suaranya bergetar.
Ibu tirinya memegangi mulutnya sambil menangis histeris. Sementara di luar kamar, dua adik kecil Tari menatap dari ambang pintu merasa bingung dan takut.
Mereka belum mengerti bahwa hari itu, kakak yang selalu mereka tunggu kepulangannya tak akan pernah keluar lagi dari kamar itu.
***
Sementara itu di tempat lain. Anak-anak TK sudah pulang. Ruangan mulai sepi, namun sudah lebih dari satu jam, Alia belum juga dijemput.
Tisha tetap menemani gadis kecil itu bermain balok warna di lantai. “Bu, kok Mama belum datang?” tanya Alia sambil menatap ke arah pintu.
“Mungkin Mama masih sibuk, sayang. Kita tunggu sebentar lagi, ya?” jawab Tisha lembut, mencoba menenangkan.
Alia mengangguk, lalu beranjak ke mejanya. Ia memakaikan tas kecil bergambar kupu-kupu ke punggungnya. “Aku mau tunggu Mama di depan aja.”
“Baiklah, ayo. Biar Ibu temani,” ujar Tisha sambil menggenggam tangan mungil itu.
Mereka berjalan ke depan sekolah. Tisha mencoba menghubungi Vira sekali lagi, tetap tidak ada jawaban. Ia mulai resah.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Dari dalam, turun seorang pria berjaket hitam, mengenakan masker.
“Permisi, saya diminta Ibu Vira untuk menjemput anaknya,” ucap pria itu cepat.
Tisha menatap tajam. “Anda siapa?”
“Saya driver taksi online, Bu.”
“Boleh lihat buktinya? Pesan dari aplikasinya, mungkin?”
Pria itu tampak gelisah. “Kebetulan HP saya mati, Bu. Tapi Ibu Vira sudah kasih alamat sekolah ini. Saya cuma disuruh jemput.”
Tisha menegakkan badan. Suaranya tegas, dingin. “Maaf, saya tidak bisa melepaskan anak murid saya tanpa bukti yang jelas.”
Pria itu mulai kesal. “Keras kepala sekali, saya cuma disuruh jemput. Tanggung jawab saya cuma itu!”
Tisha tak bergeming. “Silakan tunggu di luar pagar kalau memang benar disuruh oleh Ibu Vira. Tapi sebelum saya bisa bicara langsung dengan beliau, anak ini tidak akan pergi dengan siapa pun.”
Suasana menegang. Pria itu mendadak melangkah cepat dan menarik tangan Alia. Gadis kecil itu terpekik kaget.
“Pak! Lepaskan!” teriak Tisha keras, menahan tangan Alia sekuat tenaga.
“Pak Satpam!” serunya.
Satpam yang tengah mengatur mobil jemputan lain segera berlari ke arah mereka. “Ada apa ini?”
Tisha menunjuk pria itu. “Orang ini mau bawa anak murid saya tanpa izin orangtuanya!”
Pria itu tampak panik. Ia melangkah mundur beberapa langkah, lalu buru-buru naik ke mobil dan melarikan diri.
Hening. Hanya suara napas mereka yang tersisa. Tisha berjongkok, memeluk Alia yang menangis ketakutan. “Sudah, sayang, sudah kamu aman sekarang.”
***
Disisi lain, saat melihat kematian yang tak wajar itu, Rani langsung bertindak cepat. Ia langsung menghubungi rekannya dan memerintahkan petugas untuk membawa jenazah Lestari ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.
“Ini bukan sekadar kasus bunuh diri biasa,” ucapnya pada polisi yang datang ke lokasi. “Dia masih muda dan ada banyak hal yang belum terjawab.”
Beberapa jam kemudian, hasil autopsi keluar. Laporan medis menunjukkan bahwa Lestari memang meninggal karena gantung diri. Namun, hasil lain membuat mereka semua terdiam Lestari terbukti hamil.
Pihak forensik segera mengambil sampel DNA dari janin dalam kandungannya, untuk disimpan sebagai bukti dan bahan pencocokan jika pelaku pemerkosaan ditemukan nanti.
Di sisi lain, ibu tiri Lestari yang baru mendengar hasil itu langsung menangis histeris.
Ia teringat semua kata-kata kasarnya, tuduhan bahwa Lestari menjual diri, ia menyesal telah melontarkan umpatan tanpa tahu kenyataan sesungguhnya.
“Ya Allah… apa yang sudah aku lakukan,” isaknya, jatuh terduduk di lantai rumah sakit. “Dia cuma anak baik tapi aku malah menyakitinya…”
Vira berdiri di dekat pintu ruang forensik, wajahnya pucat. Sejak pagi ia belum sempat makan, pikirannya penuh.
Ia menatap Rani yang sibuk berbicara dengan penyidik. Rasa lelah, sedih, dan marah bercampur jadi satu dalam dadanya.
Lalu ia melirik jam di pergelangan tangannya.
“Ya ampun, ” gumamnya lirih, “aku lupa menjemput Alia.”
Rani menoleh, meletakkan map hasil visum di meja. “Pergilah, Vir. Jemput anakmu. Di sini biar aku yang urus.”
Vira menghela napas panjang. Ia menatap Rani dengan mata penuh tekad.
“Rani, kita nggak bisa diam. Kita harus usut ini sampai tuntas. Siapa pun di balik semua ini, harus bertanggung jawab.”
Rani mengangguk tanda setuju. Vira lalu bergegas keluar dari rumah sakit menuju mobilnya.
Namun, tak jauh dari sana seseorang tengah memperhatikannya. Sosok itu berdiri tenang di balik mobil hitam yang terparkir tidak jauh. Ia menatap Vira melalui kaca spion, lalu membaca pesan yang baru masuk di ponselnya:
“Yang satu sudah out. Urusan jadi lebih mudah. Secepatnya lenyapkan dia.”
Sosok itu tersenyum tipis, lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket. Matanya tetap mengikuti arah kepergian Vira perlahan, seperti pemangsa yang sedang menandai buruannya.
Vira melangkah cepat keluar dari rumah sakit. Ia bergegas menyalakan mesin mobilnya. Vira menatap sekilas ke kaca spion, matanya tampak lelah, namun ada keteguhan di sana.
“Alia pasti sudah menunggu,” gumamnya sambil menekan pedal gas.
Di sisi lain jalan, mobil hitam yang tadi diam mulai mengikuti dari kejauhan. Perjalanan menuju sekolah tidak begitu jauh, tapi jalanan sore itu sangat padat.
Beberapa menit berlalu, langit mulai gelap. Gerimis jatuh satu-satu, menimpa kaca depan mobil. Di tikungan jalan kecil menuju arah kota, sebuah truk besar melaju pelan di depannya.
Vira memperlambat laju mobil. Namun di sisi kiri arah berlawanan, mobil hitam yang sejak tadi mengikutinya mulai mendekat. Lampu depannya dinyalakan mendadak terang menyilaukan.
Vira sempat menyipitkan mata. “Apa ini…” gumamnya.