NovelToon NovelToon
HIJRAH RASA

HIJRAH RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Azzurry

Ketika perjodohan menjadi jalan menuju impian masing-masing, mungkinkah hati dipaksa untuk menerima?

Faradanila, mahasiswa S2 Arsitektur yang mendambakan kebebasan dan kesempatan merancang masa depan sesuai mimpinya.
Muhammad Al Azzam, seorang CEO muda yang terbiasa mengendalikan hidupnya sendiri—termasuk menolak takdir.

“Kalau Allah yang menuliskan cinta ini di akhir, apakah kamu masih akan menyerah di awal?”-Muhammad Al Azzam.


Di antara keindahan Venezia, rasa-rasa asing mulai tumbuh.
Apakah itu cinta… atau justru badai yang akan menggulung mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzurry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hijrah Rasa - 03

Kilauan lampu jalanan berpadu dengan gedung-gedung pencakar langit, menciptakan pemandangan mewah yang seharusnya menenangkan. Namun, di dalam penthouse megah ini, suasana justru memanas.

Farah menatap kesal ke arah pria paruh baya yang duduk santai di sofa.

Papanya — Danial, tampak tenang dengan iPad di tangan. Seolah dunia ini baik-baik saja. Seolah masalah perjodohan yang mengusik Farah tak berarti apa-apa baginya.

Tangan gadis itu mengepal di atas meja pantry. Ia berusaha menahan diri agar tidak meledak, sejak pulang dari Cafe tiga jam lalu, Papanya terlihat sengaja menyibukkan diri, entah memang karena pekerjaan atau hanya menghindari Farah.

Merasa kesalnya sudah di ubun-ubun akhirnya Farah membuka suara.

"Pah... Farah nggak mau dijodohkan."

Namun, seperti yang diduga, tak ada reaksi.

Danial tetap fokus pada layar iPad, seolah tak mendengar apa pun.

Farah mulai kehilangan kesabaran. Rahangnya mengeras.

"Pah..., dengar nggak sih Farah ngomong?" Nada suaranya naik satu oktaf ia mulai frustrasi.

Akhirnya, Danial menoleh sebentar, namun tetap dengan ekspresi santai. "Iya, sayang. Papa dengar kok."

Farah berdiri dan duduk di samping Danial yang masih enggan beralih dari layar iPad.

Tanganya bergelayut manja pada lengan sang Papa.

“Tolonglah Pah … batalin perjodohan ini.”

Danial tak menoleh sedikitpun, ia masih sibuk dengan layar iPadnya seolah ucapan Farah hanya hembusan napas yang lenyap begitu saja.

Farah tak ingin menyerah begitu saja ia kembali membujuk Papanya. “ Pah …”

Kali ini Farah berhasil membuat Danial menoleh kearahnya. “Maaf sayang, Papa nggak punya alasan untuk membatalkan perjodohan kalian.” Ucap Danial tegas.

Farah nyaris tidak percaya, ini kali pertama Danial menolak permintaanya, dengan langkah cepat ia berdiri dari sofa dan kembali duduk di pantry.

"Pokoknya aku nggak mau dijodohkan dengan Bang Azzam atau siapa pun itu. Titik!" Tegas Farah.Nada protesnya kuat, tanpa memberi ruang untuk negosiasi.

Kali ini, Danial benar-benar menutup iPad-nya. Ia melepas kacamata baca, meletakkannya di meja, lalu berdiri. Langkahnya santai saat mendekati pantry, tempat putri bungsunya duduk dengan wajah kesal.

Danial menarik kursi di sampingnya, lalu duduk. Tatapannya lembut, tetapi berwibawa.

"Apa alasan kamu menolak perjodohan dengan Azzam? Tolong jelaskan ke Papa."

Farah mendengus. Tangannya terlipat di dada.

"Ya... aku nggak mau aja Pah.”

“Apa Karena Azzam manusia kutub, seperti yang kamu katakan di cafe tadi?” Tanya Danial, wajah terlihat sedang menahan tawa.

“Ya-ya.Buka itu sih Pah …” Farah mengaruk tengkuk yang tak gatal.

“Lalu?” Tanya Danial.

“Ya kali zaman udah modern masih aja dijodohin!" Celetuk Farah.

Danial terkekeh kecil, seolah Farah hanya sedang mengeluh tentang hal sepele. Ia mengusap rambut putrinya itu dengan lembut.

"Loh,nggak pa-pa sayang," ujarnya. "Mau zaman dinosaurus atau zaman labubu, nggak masalah, kan? Intinya, calon yang akan dijodohkan sama kamu itu orang baik."

Farah mendengus. Matanya menyipit curiga.

"Tahu dari mana Papa kalau Bang Azzam itu baik?"

Danial menipiskan bibirnya, lalu mengangkat bahu santai. "Tahu lah, sayang. Papa sudah kenal Azzam dari dulu. Dari zaman dia masih sekolah, sampai sekarang. Papa nggak pernah lihat dia berbuat yang aneh-aneh."

Farah tertawa sarkastik.

“Baik?Ya kali baik dari mana coba. Baru lihat gue aja, udah kayak mau nelan gue hidup-hidup,” monolognya dalam hati.

Memang sejak pertama kali mereka bertemu, Azzam selalu bersikap dingin. Pria itu selalu menunjukan ketidak sukaanya pada Farah. Hingga membuat Farah merasa kesal saat mereka bertemu dalam acara apapun itu.

Danial mengusap kepala putrinya sembari tersenyum kecil.

"Jadi menurut kamu, Papa salah, nih, menjodohkan dia sama putri Papa satu-satunya?"

Farah cemberut. Bibirnya maju beberapa senti.

"Intinya aku nggak mau ya, Pah, dijodoh-jodohin."

Danial mencubit pipi Farah gemas, lalu terkekeh pelan. "Kenapa sih? Kamu ada masalah sama Azzam?"

Farah membuang napas kasar.

"Boro-boro punya masalah, Pah. Lihat muka Farah aja, dia nggak mau!" Bisiknya pelan nyaris tak terdengar.

"Kamu ngomong apa sayang?" Tanya Danial.

Farah tersentak. Ia takut Papanya mendengar ucapannya barusan.

"Nggak ngomong apa-apa kok Pah," jawabnya cepat.

Danial menghela napas. Tatapannya melembut.

"Papa nggak mungkin jodohin kamu sama orang yang nggak baik, sayang. Papa sudah kenal baik dengan keluarganya. Papa lebih tenang melepas kamu sama Azzam daripada sama cowok lain yang nggak jelas."

Setelah mengatakan itu, Danial berdiri, bersiap pergi ke kamarnya.

Farah merasa panik. "Pah... Farah nggak mau. Tolonglah, Pah..."

Namun, ayahnya hanya tersenyum ringan. Ia mengangkat telunjuk, mengisyaratkan bahwa keputusannya sudah final.

Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia masuk ke kamarnya.

Farah membisu. Kali ini keputusan Papanya sudah Finish,akan sulit untuk berubah.

Farah merebahkan kepalanya pada meja pantry.

Di depannya, hanya ada segelas air putih yang bahkan belum disentuh.

Tiba-tiba, "Arrghh!" pekiknya, frustasi. Tangannya mengacak rambut sendiri.

"Sial! Niatnya ke sini buat minta Papa batalin perjodohan, eh malah makin nggak ada harapan!"

Dengan gontai ia bangkit, dan berjalan ke kamarnya.Begitu sampai, ia langsung menjatuhkan diri ke kasur king-size yang empuk.

Matanya menatap langit-langit kamar. Tapi pikirannya malah melayang ke satu nama yang ingin ia hindari.

Azzam.

Sikap dingin pria itu, tatapan sinisnya, suara beratnya saat memperingatkan Zira untuk tidak berteman dengannya.

"Masih temenan sama dia, Ra? Abang nggak suka ya kamu punya teman yang toxic."

Farah memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Pria kutub itu dari kepalanya.

"Arghtt!" pekiknya frustasi.

Tangannya meraih bantal dan menutup wajahnya.

"Bisa gila gue kalau perjodohan ini beneran jadi!"

***

Langit Jakarta siang ini cukup membakar kulit. Jalanan sibuk, klakson bersahut-sahutan, dan udara terasa berat oleh polusi serta hawa terik yang menyesakkan.

Di sebuah cafe di pusat kota, suasana terasa kontras-sejuk, tenang, dengan alunan musik jazz yang mengalun pelan. Tapi bagi Farah, ketenangan itu tak berpengaruh. Hatinya tetap berdebar tak karuan.

Siang ini Farah meminta untuk bertemu Azzam, ada yang ingin ia bicarakan.

Untuk bertemu dengan Pria itu tentu tidak mudah, Zira andil dalam mengatur pertemuan ini. Hal hasil disini lah Farah.

Tak perlu menunggu lama, kini, pria yang ditunggu akhirnya muncul di balik pintu cafe.

Farah meneguk salivanya saat sosok tinggi dengan setelan kasual berwarna gelap itu melangkah masuk. Azzam tak repot-repot menoleh ke sekeliling. Dengan ekspresi datar, Pria itu langsung menuju meja di mana Farah duduk.

Farah menarik napas dalam-dalam seakan oksigen diruangan itu tiba-tiba hilang. Ia menggigit bibirnya, mencoba mengusir kegugupan yang tiba-tiba melandanya saat melihat ekspresi Azzam yang begitu dingin.

Satu kursi ditarik. Tanpa sapaan, tanpa basa-basi, Azzam duduk. Wajahnya tetap dingin-seperti es yang tak bisa mencair, bahkan di tengah panasnya Jakarta.

Farah kembali menarik napas dalam entah sudah berapa kali sepertinya ia sedang butuh banyak oksigen. Keheningan menyergap, membuat atmosfer di antara mereka terasa menyesakkan.

"Ada apa? Cepat katakan. Saya tidak punya banyak waktu."

Nada suara Azzam tajam, datar, penuh dominasi.

Farah meneguk paksa salivanya. Kata-kata yang sudah ia susun dalam pikirannya mendadak buyar.

Azzam menautkan kedua alisnya, sedikit mencondongkan tubuh. Tatapannya tajam, mengintimidasi. "Katakan.."

Farah mengepalkan jarinya di bawah meja. Ia menatap Tajam pada Azzam. Kesal jangan di tanya lagi.

“Berhenti menatap saya seperti itu,” ucap Azzam datar. “ Jangan buang waktu saya. Cepat bicara.”

"Cih. Abang pikir, saya mau buang-buang waktu buat ketemu abang?" Sindir Farah.

Azzam menaikkan sebelah alis. Sekilas, bibirnya terangkat seringai tipis nampak di sana.

"Lantas, untuk apa ngajak saya ketemuan di sini?"

Farah menegakkan punggung. Tanpa basa basi Farah berucap. "Saya mau Abang menolak perjodohan kita."

Seketika, hening.

Lalu, Azzam tertawa kecil-bukan karena geli, tapi lebih seperti meremehkan. “Kamu pikir, saya mau terima?"

Farah terdiam. Menatap Sinis pada Pria angkuh di hadapannya, rasanya ingin dia tonjok saja muka datar itu.

Azzam mengulas senyum tipis.Lalu berucap lagi.

“Jangan terlalu kegeeran,Omongan orang tua kita itu cuma wacana yang tidak akan pernah terjadi."

Farah menggigit bibirnya. Sekarang dadanya terasa sesak, seperti pria itu memang tidak pernah menginginkannya.

"Baguslah," katanya mantap. "Setidaknya saya bersyukur nggak dijodohin sama manusia kutub.”

“Manusia kutub?” Azzam mengulang ucapan Farah.

Farah menaikan alisnya beberapa kali dan mengulas senyum manis. “Abang coba deh lebih hangat dikit, pasti cepat dapat jodohnya. Nggak perlukan di jodohin gini,Hm.”

Tatapan Azzam berubah, tetapi senyum sinis itu tetap bertahan di wajahnya. Dengan gerakan santai, ia bangkit dari duduknya. Tapi bukannya pergi, pria itu justru membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Farah. Tangannya bertumpu di meja, memangkas jarak di antara mereka.

"Apa kamu sedang menantang saya?” Ucap Azzam tajam.

“Saya cuma memberi saran.Mungkin bisa memudahkan Abang.” Jawab Farah enteng.

Azzam semakin memangkas jarang diantara mereka. Seketika Farah semakin memundurkan tubuhnya karena jarak mereka hanya beberapa senti saja.

“Sepertinya saya Akan menerima perjodohan ini.”

Mata Farah membulat sempurna.” Loh—

Azzam berbisik,”Persiapkan dirimu. Minggu ini, kita menikah.”

***

Jangan lupa like,komen dan subcribe.

follow author juga ya...

kamshammida.

1
Wilana aira
keren ceritanya, bisa belajar sejarah Islam di Italia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!