Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mendapat Restu
Merasa sedikit berat pada bagian dadanya membuat Bryssa membuka matanya secara perlahan, hal yang pertama kali dilihat olehnya adalah wajah tampan dari Davian dengan mata masih terpejam, napas teratur juga ketampanan yang bagi Bryssa tidak pernah berkurang sedikitpun, bahkan terkadang pikiran konyol Bryssa sampai membayangkan bagaimana wajah tampan di depannya itu sekarang jika sedang buang air besar, akan lah wajah tampan itu berubah menjadi jelek atau terlihat konyol. Sialan, mengingat itu membuat Bryssa merasa bodoh sendiri.
Gadis itu meraba wajah tampan Davion lalu menyunggingkan senyumnya.
Tentang tadi malam, keduanya semakin berani dari sebelumnya, lihat saja pakaian Bryssa yang entah tergeletak dimana, tubuh polosnya kini masih tertutup selimut bersama dengan Davion.
Meski sama-sama tidak mengenakan pakaian sedikitpun, tetapi mahkota Bryssa sampai detik ini masih terjaga, bahkan jika mengingat ucapannya tadi malam, Bryssa malu sendiri rasanya, ia dengan sangat sadar menawarkan hal yang paling berharga dalam hidupny, beruntung Davion masih bisa mengingatkannya, juga masih bisa mengendalikan diri meski keduanya sama-sama mencari kepuasan.
Dikecupnya singkat bibir berisi Davion yang terlihat sangat merah menggoda, terkadang Bryssa iri dengan laki-laki di depannya ini, tanpa harus perawatan berlebih, Davion bisa memiliki bibir merah alami. Menyebalkan memang, tetapi tidak dipungkiri Bryssa juga menyukainya, apa lagu Bryssa juga bisa menikmatinya.
"Ini kalau nikah sama gue, anaknya pasti cekap parah," gumam Bryssa menelusuri bibir merah Davion dan berakhir pada alis tebal laki-laki tampan itu.
Puas menikmati wajah tampan Davion. Bryssa berniat untuk bangun dan membersihkan diri, niatnya untuk memesan sarapan untuk keduanya, namun sebelum ia bangkit dari ranjang, ponsel milik Davion yang dibiarkan di samping laki-laki tampan itu menyala, tidak berdering juga bergetar.
Karena penasaran, Bryssa mengambilnya, bukan berniat lancang, Bryssa hanya penasaran tanpa berniat membuka pesan tersebut.
Matanya menyipit saat tahu siapa yang mengirim pesan pada Davion, lebih membuat Bryssa kaget saat pesan yang bia ia baca tanpa harus membukanya itu tertulis jika Davion ditunggu untuk makan siang oleh mamanya dan seorang gadis bernama..
Ara? Siapa Ara?
Batin Bryssa mengembalikan ponsel milik Davion ke tempatnya, lalu menatap wajah tampan itu yang masih terlelap, hatinya mengganjal, entah kenapa Bryssa merasa Davion menyembunyikan sesuatu darinya, setelah membaca pesan singkat dari orang tua Davion, dapat disimpulkan bahwa Davion baru saja bertemu dengan seorang gadis, bahkan sudah makan malam bersama. Pantas tadi malam Bryssa menunggu Davion cukup lama sampai membuat Bryssa ketiduran.
Tidak ingin berlarut, Bryssa beranjak dan segera membersihkan diri, ia ingin tampil cantik ketika Davion bangun nanti, setidaknya tetap memikat Davion meski laki-laki itu baru saja bertemu dengan seorang gadis yang, ah entahlah, Bryssa kesal sendiri setiap mengingatnya, bahkan ia sampai menjatuhkan sikat giginya ketika mengingat itu.
"Ck," decaknya semakin kesal. Bukannya mengambil sikat gigi miliknya yang terjatuh, Bryssa justru menginjaknya terlebih dahulu, sebelum akhirnya memungut dan membuangnya.
"Lo sama persis kaya cewek yang baru aja ketemuan sama om Dav," kesal Bryssa melirik sikat gigi miliknya yang baru saja dianiaya. Lalu kembali membersihkan diri.
Sekitar 15 menit berlalu, Bryssa sudah selesai, ia keluar dari kamar mandi dan terjengit kaget saat Davion sudah berada di depannya, menatap Bryssa dengan pakaian lengkap.
Apa? Pakaian lengkap?
Seketika Bryssa baru tersadar akan sesuatu.
"Om? Mau kemana?" tanyanya langsung.
Bahkan Bryssa belum memberi kejutan untuk Davion ketika tidur, ia masih mengenakan jubah mandi dan belum bersiap diri. Tanpa Bryssa ketahui, dengan wajah polosnya tanpa make up, bagi Davion Bryssa terlihat semakin cantik dan terlihat seperti gadis seusianya. Davion menyukainya meski tidak diakui secara langsung.
"Ada urusan penting Bry, saya harus segera ke kantor sekarang." Davion memegang pundak Bryssa, menatap lamat Bryssa.
"Tidak apa-apa kan saya tinggal? Sarapan kamu sudah ada di atas meja," lanjut Davion mengecup sekilas kening Bryssa dengan lembut, lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Meremat tangannya, Bryssa berlari mengejar Davion, tidak peduli sekalipun ia masih menggunakan jubah mandi dan harus keluar dari apartemen Davion dengan pakaiannya seperti sekarang ini. Ada yang harus Bryssa tanyakan agar tidak berkepanjangan dan membuatnya semakin over thingking tentang Davion.
"Om! Tunggu!"
Sialan, Davion terlalu jauh dan tidak mendengarnya, bahkan lift yang dimasuki Davion sudah semakin membuat jarak di antara keduanya. Tidak sabar untuk memasuki lift, Bryssa memilih turun melewati tangga untuk mengejar Davion. Beruntung tangga cukup sepi hanya beberapa kali saja ia berpapasan dengan seseorang.
"Sial, gue nggak bawa hp lagi," umpatnya kembali menuruni anak tangga.
Sampai akhirnya Bryssa sampai di pakiran, mobil Davion baru saja keluar dari sana, sudah tidak sanggup lagi untuk mengejar, pada akhirnya Bryssa memilih untuk diam dengan mengatur napasnya lagi.
"Akhh," kesalnya.
"Oh, jadi kamu ya gadis itu?"
Suara yang tiba-tiba saja datang seketika membuat Bryssa menoleh. Seorang wanita dengan penampilan anggun dan elegan berjalan tenang menghampiri Bryssa. Berhenti tepat di depan Bryssa lalu menatap dari ujung kaki sampai kepala. Sudut bibirnya tertarik ke atas, bukan senyuman manis, melainkan seringai yang terlihat sangat merendahkan Bryssa sekali, terlihat dari tatapan merendahkan itu.
"Jauhi anak saya," ujarnya tiba-tiba.
Bryssa semakin tidak mengerti, ia menatap aneh wanita di depannya itu, lalu berniat kembali ke apartemen dari pada menanggapi wanita yang tidak ia kenal, sangat asing baginya meski penampilan wanita itu sangat meyakinkan, jika beliau bukan orang sembarangan.
"Permisi bu, saya duluan," pamit Bryssa membalikan tubuhnya.
"Jauhi Davion."
Detik itu juga langkah Bryssa terhenti. Tidak langsung menoleh memang, karena otaknya sedang mencerna kata-kata wanita tersebut.
"Kamu pikir saya tidak tahu hubungan kamu dengan anak saya?"
Bryssa membalikan tubuhnya, menatap wanita itu dengan diam, namun serius. "Maaf, anda ini siapa ya?" tanyanya terdengar sangat bodoh memang. Harusnya Bryssa sudah tahu siapa wanita di depannya itu.
"Halah, pura-pura tidak tahu, saya yang kemarin mengangkat telepon kamu di nomor anak saya," jelasnya seketika membuat Bryssa semakin yakin jika wanita di depannya ini memang ibunya Davion.
Sialan, Bryssa jadi bingung sendiri harus bersikap seperti apa, dari pertemuannya tadi terlihat jelas jika beliau tidak menyukai Bryssa.
"Oh, ya ampun tante, jadi tante mamanya om Davion?"
Bryssa mengulurkan tangannya, tetapi tidak mendapat respon dari wanita di depannya itu, justru tatapan sinis yang semakin kentara.
"Cih, bahkan kamu panggil saya tante? Dan panggil Davion, om?" menggelengkan kepalanya, beliau mengalihkan pandangannya.
Sementara Bryssa mengumpat dalam hatinya, bisa-bisanya disaat sedang genting seperti sekarang ini ia sala berucap. Tangannya kembali ia tarik dengan helaan napas.
"Maaf tante, maksud saya Davion Sakya," cicitnya tidak mendapat jawaban.
"Langsung saja, kamu butuh uang berapa untuk jauhi anak saya?"
Bryssa mengernyitkan keningnya, menatap bingung wanita cantik di depannya.
"Tidak usah pura-pura, saya tahu kamu butuh biaya untuk masuk kuliah, saya yang akan menggantikan Dav membiayai kamu, tapi jauhi dia dan jangan pernah hubungi Davion lagi."
Brengsek, kalau saja wanita di depannya ini muncul dulu diawal-awal hubungannya dengan Davion atau setahun sebelumnya, mungkin Bryssa akan dengan senang hati mengiyakan.
Tetapi sekarang berbeda, ada rasa untuk laki-laki tampan itu, Bryssa menginginkan Davion lebih dari sekedar sugar daddy.
"Maaf tante, saya tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak, kalaupun saya bersedia menjauhi anak tante, om Dav harus juga tahu tentang ini," tegas Bryssa tidak ingin berbelit, apa lagi sandiwara pada wanita yang merupakan mama dari sugar daddy nya.
"Yakin kamu bilang seperti itu? Sementara Davion saja baru pergi meninggalkan kamu untuk menemui seorang wanita, kalau tidak percaya kamu bisa datang ke restoran dekat kantornya."
"Hubungi saya kalau kamu berubah pikiran."
Setelah mengatakan itu, beliau pergi dengan langkah elegan, persis seperti wanita-wanita kaya. Sementara Bryssa terdiam di tempatnya, entah kenapa ia mulai goyah setelah mendengar ucapan mama Davion. Rasa penasaran untuk memastikan langsung membuatnya segera bergegas kembali ke apartemen.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️