NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyerangan Dimalam Hari

Pagi berikutnya, Lucas terbangun dengan perasaan aneh di dadanya. Ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, sesuatu yang belum pernah ia alami. Biasanya ia hanya fokus pada latihan atau misi yang dingin dan terencana.

Ia mengamati pantulan wajahnya di cermin. Tanpa sadar, sebuah guratan senyum tipis terukir. Ia teringat manisnya raut wajah Diana semalam yang begitu tulus. Lucas sedikit terkejut melihat ekspresi yang tidak biasa itu di wajahnya sendiri. Kemudian, ia menyentuh pipinya, bertanya-tanya mengapa rasanya begitu hangat. Seolah sisa kehangatan dari kebersamaannya dengan Diana masih menempel di sana. Pengalaman baru ini membuatnya merasa sedikit canggung namun juga penasaran.

Saat sarapan, Lucas duduk sendirian di meja. Biasanya, ia akan langsung menuju lapangan latihan. Namun, pagi ini pikirannya melayang-layang ke arah Sekte Pedang Berbunga. Ia memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera menyusul Diana ke sana.

Ia tiba-tiba tersadar saat Master Loe menepuk bahunya. "Tumben sekali kau melamun, Lucas? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya sambil terkekeh melihat muridnya yang biasanya fokus kini terlihat linglung. Lucas hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Ia mencoba menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. "Bukan apa-apa, Master, hanya memikirkan teknik baru saja," jawabnya. Dalam hati ia tahu itu adalah bohong besar. Yang ia pikirkan hanyalah Diana.

Lucas yang biasanya kaku dan tanpa emosi, kini sering kali terlihat tersenyum sendiri atau melamun saat latihan. Ini membuat Niama kebingungan dan sesekali menggodanya. "Sepertinya ada yang salah dengan Lucas kita ini, apakah dia terkena demam cinta?" Niama berseru sambil tertawa geli, melihat perubahan aneh pada temannya. Lucas hanya menggerutu pelan, pura-pura tidak mendengar ejekan Niama. Tetapi dalam hatinya ia merasa sedikit kesal karena rahasia perasaannya mulai terbaca. Di sisi lain, ia juga merasakan kehangatan yang menyenangkan setiap kali memikirkan Diana. Seolah kehadiran gadis itu telah membuka dimensi emosi baru dalam dirinya.

Siang harinya, seluruh akademi berkumpul di aula utama yang megah. Aula itu dihiasi bendera-bendera kerajaan dan spanduk-spanduk penyemangat. Mereka menyaksikan upacara kelulusan angkatan terbaru, sebuah momen penting yang selalu dinanti-nantikan oleh para siswa.

Lucas mencari-cari sosok Diana di antara kerumunan. Matanya menelusuri setiap wajah hingga akhirnya menemukan Diana. Gadis itu berdiri anggun di barisan depan, mengenakan jubah kelulusan berwarna biru tua yang menonjolkan kecantikannya. Ini membuat jantung Lucas berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia pun tak kuasa menahan senyum mengembang. Merasa bangga melihat gadis yang telah mengubah kehidupannya itu kini mencapai salah satu puncak penting dalam perjalanan hidupnya. Bahkan Niama yang berdiri di sebelahnya menyenggol lengannya, berbisik, "Sudah sejauh itu ya senyumnya?"

Ketika nama Diana dipanggil, ia melangkah maju dengan percaya diri. Ia menerima gulungan ijazah dari tangan Panglima Tertinggi akademi. Sorak-sorai serta tepuk tangan membahana memenuhi aula, merayakan keberhasilan salah satu murid terbaik mereka.

Diana sempat melirik ke arah Lucas. Sudut bibirnya sedikit terangkat saat pandangan mereka bertemu. Sebuah senyuman yang penuh arti dan hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Seolah mengukuhkan janji yang telah mereka buat semalam di taman. Lucas merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dalam dirinya. Perasaan yang jauh lebih kuat dari euforia saat memenangkan pertarungan terberat sekalipun. Karena menyaksikan kebahagiaan Diana ternyata jauh lebih membahagiakan baginya.

Setelah upacara selesai, Diana berjalan menghampiri Lucas yang sudah menunggunya di dekat pintu aula. Tanpa ragu, ia langsung memeluk Lucas erat. Sebuah tindakan spontan yang mengejutkan Lucas namun juga membuatnya merasa sangat nyaman.

"Aku berhasil," bisik Diana dengan suara bergetar. Ia penuh rasa haru dan bangga, menenggelamkan wajahnya di bahu Lucas. Lucas pun membalas pelukannya, mengusap lembut punggung Diana. Ia berbisik balik, "Aku tahu kamu bisa," ucapnya dengan nada yang lembut dan tulus. Sebuah kalimat sederhana namun mengandung seluruh dukungan dan kebanggaannya terhadap gadis itu. Ini sekaligus mengakhiri babak penting dalam kehidupan mereka di akademi.

Sore harinya, gerbang utama akademi yang kokoh terbuka lebar. Sebuah kereta kuda mewah berhias ukiran naga perak telah menanti di sana. Kereta itu siap membawa Diana menuju Sekte Pedang Berbunga, tempat petualangan barunya akan dimulai.

Lucas berdiri di antara para pengajar dan beberapa teman yang lain. Matanya tidak lepas dari Diana yang melangkah masuk ke dalam kereta. Ia merasakan sedikit sesak di dadanya. Sebuah perasaan aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya setiap kali berpisah dengan seseorang. Ia mengangkat tangannya untuk melambaikan perpisahan. Diana membalas lambaiannya dari dalam kereta, guratan senyumnya seolah mengucapkan janji bahwa mereka pasti akan segera bertemu kembali.

Kereta kuda itu perlahan bergerak, menjauh dari gerbang akademi. Ia membawa pergi Diana bersama segala kenangan dan janji yang telah terukir di hati Lucas. Lucas masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap ke arah jalan setapak yang kini kosong. Seolah berharap Diana akan kembali muncul entah dari mana. Ada kekosongan yang terasa di hatinya. Seperti sebuah bagian penting dari dirinya telah ikut pergi bersama gadis itu. Ia menyadari betapa besar pengaruh Diana dalam hidupnya, melebihi sekadar rival latihan.

Niama menghampiri Lucas, menepuk pundaknya pelan. "Dia akan baik-baik saja, Lucas, lagipula kau kan sudah berjanji akan menyusulnya," ujarnya dengan nada menghibur. Ia mencoba membangkitkan semangat Lucas yang terlihat sendu. Lucas menoleh, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya. "Tentu saja," jawabnya dengan keyakinan yang terpancar di matanya. Karena ia tahu bahwa kepergian Diana bukanlah akhir. Melainkan awal dari petualangan baru yang akan ia tempuh demi memenuhi janjinya.

Malam harinya, ketika Lucas sedang terlelap dalam tidurnya yang pulas, tiba-tiba ia terbangun. Jeritan pilu memekakkan telinga terdengar dari kejauhan. Kobaran api memantul di jendela kamarnya. Ia segera bangkit dengan perasaan tidak tenang. Karena jelas sekali itu bukan suara latihan biasa melainkan tanda bahaya yang mengerikan.

Jantungnya berdebar kencang saat ia melangkah keluar kamar. Pemandangan di koridor membuatnya terkesiap. Beberapa rekannya terkapar di lantai dengan luka mengerikan. Api melahap bagian-bagian akademi, menciptakan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia segera menyambar pisaunya yang selalu ia simpan di dekat bantal. Naluri pembunuh bayarannya langsung mengambil alih. Membuatnya siap menghadapi ancaman apa pun yang datang.

Lucas melesat cepat menuju aula utama. Di sana suara keributan terdengar paling jelas. Ia melihat Master Loe dan Niama berjuang mati-matian. Mereka melawan sekelompok penyerang bertopeng yang bergerak lincah dan tanpa ampun. Penyerang itu melebihi kekuatan yang pernah mereka hadapi.

Master Loe, dengan jenggotnya yang berantakan dan napas terengah-engah, masih mencoba melindungi para junior yang tersisa. Niama, yang biasanya ceria, kini terlihat pucat dan kewalahan. Ia menghadapi rentetan serangan api gelap dari salah satu musuh yang tangguh. Ini memperlihatkan betapa berbahayanya situasi saat itu. Lucas merasakan kemarahan yang membuncah di dadanya melihat rekan-rekannya terdesak. Sebuah emosi yang jarang ia rasakan. Ia tahu ia harus segera bertindak untuk membantu mereka.

Dengan kecepatan yang tak terlihat, Lucas bergerak menembus barisan musuh. Ia menyerang dari bayangan dengan presisi mematikan. Ia menjatuhkan beberapa penyerang sebelum mereka menyadari kehadirannya. Lucas mendengar teriakan terkejut dari musuh-musuh itu saat pisau Lucas mengenai target mereka. Ia melesat ke sisi Niama, menangkis serangan api yang datang. Ia berbisik cepat, "Mundur Niama, lindungi yang lain," perintahnya dengan nada serius yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya. Niama menatap Lucas dengan sorot mata lega dan mengangguk patuh. Ia merasa sedikit lega karena bantuan telah datang. Lucas kini berdiri di garis depan, siap menghadapi sisa penyerang dengan seluruh kekuatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!