NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 CMDWM

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Wanita itu melangkah keluar dengan tenang. Wajahnya tampak lebih segar setelah membasuh muka, make up nya luntur, tapi lipstik merah di bibirnya masih utuh, tajam, dan mencolok di bawah cahaya kamar.

Tak

Tak

Tak

Bunyi heels yang ia kenakan terdengar jelas di tengah keheningan ruangan. Langkahnya pelan dan teratur, membuat Restu yang mendengarnya seketika menegang di tempat.

Kaki jenjang itu bergerak mendekat. Restu yang menoleh ke arahnya, perlahan beranjak dari duduknya. Ia berdiri kaku, otot punggungnya menegang, dan napasnya mulai terasa tidak beraturan. Setiap langkah wanita itu seperti mengirim gelombang aneh ke kepalanya. Dan ketika jarak mereka tinggal selangkah lagi, wanita itu akhirnya berhenti. Tanpa mengatakan apa-apa, ia meraih tangan Restu perlahan. Lalu menempelkan punggung tangan itu ke dahinya.

Seketika Restu membeku. Ruangan terasa hening. Bahkan detak jam dinding seolah ikut berhenti.

Restu bengong. Tangannya seperti tersengat aliran listrik saat wanita itu menggenggamnya lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi.

"Eh, emang begini ya?" batin Restu mulai ngawur sendiri. "Bukannya harusnya dia langsung cium pipi gue atau apa gitu? Kok malah begini? Apa dia pikir gue guru BP?"

Restu menahan wajah datarnya sekuat mungkin.

"Atau jangan-jangan ini wanita malam versi muslimah," lanjutnya dalam hati.

Saking sibuknya bermonolog sendiri, ia sampai tak sadar wanita di hadapannya sedang melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Tuan..." panggil wanita itu pelan.

Restu langsung tersadar.

"Eh? Iya... apa?"

Tautan tangan mereka pun terlepas.

"Maaf ya, Tuan, sekali lagi," suara wanita itu lembut, senyumnya muncul begitu dekat nyaris membuat Restu kehabisan oksigen.

"Sebagai gantinya, saya akan melayani Anda dengan baik malam ini."

Deg.

Deg.

Derrr.

Restu mencoba menetralkan perasaan gugupnya. "Hm... kamu selalu begini?"

Wanita itu mengerutkan keningnya, bingung.

"Maksud Tuan?"

"Ah..." Restu menggaruk pelipisnya kikuk sebelum kembali membuka suara. "Selalu sopan dan cium tangan sama pelanggan."

Wanita itu hanya menjawab dengan senyuman. Yang entah kenapa, senyum sederhana itu justru membuat Restu semakin gugup tidak karuan.

"Bukankah lebih enak kita ngobrol sambil duduk di sana, Tuan?" ujar wanita itu lembut sambil menunjuk sofa panjang yang berada tak jauh dari mereka.

Restu mengangguk kecil. "Hm... boleh."

Mereka pun duduk berdampingan di sofa panjang itu. Wanita tersebut lebih dulu meraih botol air di atas meja, lalu menuangkannya ke dalam gelas dengan gerakan tenang.

"Silakan, Tuan."

Restu menerima gelas itu dengan canggung. Kemudian tanpa pikir panjang, ia menenggak habis air tersebut dalam sekali teguk.

Wanita itu menatapnya, lalu tersenyum tipis.

"Tuan, bolehkah saya bertanya?"

"Tentu," Restu mengangguk singkat.

"Tuan baru pertama kali datang ke tempat seperti ini, ya?"

Restu refleks menoleh, mendengar pertanyaan itu.

Deg.

"Iya... eh, tidak!"

Restu mengangguk cepat, kemudian buru-buru menggeleng, membuat wanita di sebelahnya tampak bingung.

"Ah... aku sering ke sini, tapi belum pernah membooking wanita," jelasnya dengan kikuk.

"Oh, begitu rupanya," wanita itupun mengangguk paham. "Tuan sudah menikah?"

"Belum," jawab Restu singkat. "Memangnya kenapa?"

"Emm... pria seusia Tuan, biasanya datang ke tempat seperti ini hanya untuk melampiaskan hasrat. Sering juga karena sedang cek-cok dengan istrinya di rumah. Tapi Tuan terlihat berbeda."

"Oh ya?" Restu menaikkan alisnya. "Kamu sudah lama kerja di sini?"

Wanita itu mengangguk, "Sudah, Tuan."

Berbeda dari kebanyakan pelanggan yang biasa ia temui, Restu tidak terlihat agresif. Pria itu juga tidak bersikap genit atau asal menyentuh seperti pria-pria lain yang datang ke tempat ini.

Karena itulah, wanita tersebut juga memilih bersikap sopan daripada bertingkah binal.

Entah kenapa, instingnya mengatakan bahwa Restu adalah pria baik-baik yang hanya tersesat ke tempat seperti ini.

Dilihat dari cara berpakaiannya, memang terlihat kuno dan sedikit cupu. Tapi kalau diperhatikan lebih intens, pria itu sebenarnya tampan. Mungkin akan jauh lebih menarik kalau kacamata besarnya dilepas.

Suasana di antara mereka pun perlahan terasa lebih santai. Dan tanpa sadar, Restu mulai merasa nyaman.

**

Setelah beberapa saat hening, Restu kembali membuka suara.

"Siapa namamu?"

"Saya Azalea, Tuan. Kalau Anda?"

Restu sempat terdiam sepersekian detik. "Namaku..." Ia berpikir cepat. "Angga. Yah... Angga," jawabnya akhirnya.

Azalea mengangguk pelan.

Suasana kembali hening beberapa detik. Restu ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya terasa kelu.

"Boleh saya panggil kamu Lea aja?" Akhirnya pertanyaan itu lolos juga.

"Tentu sangat boleh, Tuan."

"Panggil Mas saja, Lea..."

"Baiklah, Mas Angga," ucap Azalea terkesan biasa, namun senyum hangatnya sukses membuat hati Restu berdesir hebat.

"Emm.. Jadi, Mas Angga... sudah sering kesini, tapi belum pernah itu....." tanya Azalea sambil menggerakkan kedua jarinya memberi isyarat.

Pendangan mereka sempat bertemu, tapi Restu memalingkan muka lebih dulu karena tidak mampu menatap Azalea terlalu lama. Mendengar Azalea memanggilnya "Mas" telinganya seketika memerah.

"Iya, Lea... Ini pertama kalinya," katanya malu.

Azalea mengangguk pelan. "Maaf kalau Lea lancang, Mas," ucapnya hati-hati. "Lea cuma penasaran... kenapa pada akhirnya Mas bisa sampai di titik ini?"

Restu terdiam.

"Kenapa tidak memilih menikah saja? Atau..." Azalea tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan, "melakukannya dengan kekasih, Mas, mungkin?"

Restu terkekeh ringan, membuat Azalea mengerutkan kening. Pelan-pelan, ia mulai menceritakan semuanya. Tentang dirinya yang belum pernah benar-benar menjalin hubungan dengan wanita, sampai bagaimana ketiga sahabat gilanya memaksanya dan berakhir di kamar ini malam ini.

Azalea mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Tatapannya perlahan berubah, antara heran dan tidak percaya. Ternyata, masih ada pria semacam Angga di zaman ini.

"Jadi Mas belum pernah pacaran, belum pernah ciuman, pelukan juga belum pernah?" tanyanya beruntun dengan mata membulat penasaran.

Restu sampai salah tingkah sendiri mendengar rentetan pertanyaan itu. Kali ini, wajahnya benar-benar memerah bak kepiting rebus.

"Belum..." jawabnya jujur sambil mengusap tengkuknya kikuk.

Azalea menatap Restu beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Tak lama, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kini mulai mengerti bagaimana Restu bisa berakhir di tempat ini.

Di satu sisi, ia paham mungkin sahabat-sahabat pria itu hanya ingin membantu. Namun tetap saja, menurutnya cara mereka salah.

Sangat salah.

"Tapi Lea nggak setuju sama kelakuan sahabat laknat Mas itu," protesnya tiba-tiba.

Restu sampai terkejut melihat perubahan ekspresi Azalea yang mendadak merengut, tapi justru terlihat lucu di matanya.

"Semua ini nggak baik. Iya kalau Mas cuma sekali..." wajahnya terlihat cemas. "Kalau setelah ini Mas malah jadi kecanduan seks, gimana? Nggak, nggak, nggak... Lea nggak suka."

Seketika bibir Restu tersungging, ia dengan senang hati mendengar omelan Azalea.

"Kalau mereka benar-benar teman baik, harusnya mereka nggak menjerumuskan Mas begini," lanjut Azalea lagi lalu meraih segelas air di atas meja.

Kening Restu langsung berkerut. Entah kenapa, ucapan itu terasa aneh keluar dari mulut seorang wanita malam seperti Azalea.

Padahal, bukankah seharusnya wanita itu mendukungnya saja? Harusnya ia senang-senang saja, kan yang penting malam ini dapat uang, dan yang jelas pelanggannya bertambah.

"Tadi bahkan mereka memberiku ini..." gumam Restu sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.

Byurrr

Azalea refleks menyemburkan air yang baru saja ia minum, dan langsung terbatuk hebat.

Matanya membelalak saat melihat Restu dengan polosnya mengangkat sekotak k**d*m di depan wajahnya.

Sementara itu, Restu buru-buru kembali menyelipkan benda tersebut ke dalam saku celananya, merasa sedikit bersalah melihat reaksi Azalea yang tampak syok.

"Kamu nggak apa-apa, Lea?" tanyanya panik sambil menepuk pelan punggung wanita itu.

Azalea hanya mengangkat tangan, memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja.

"Maaf, Mas..." ucapnya pelan sambil menerima tisu dari tangan Restu, lalu menyeka bibirnya.

Restu menghela napas lega, tapi juga sedikit heran. Bukankah seharusnya Azalea sudah terbiasa dengan benda seperti itu?

"Wah, keknya benar-benar wanita malam versi muslimah nih," batinnya sambil tersenyum simpul.

"Gilaaa! Kenapa pria sebaik Mas Angga bisa punya temen laknat kek gitu sih!" gerutu Azalea dalam hati.

Azalea memutar tubuhnya, membuat mereka berhadapan satu sama lain. Ia memandang Restu dalam-dalam. Raut wajahnya serius, tulus dan penuh empati. Kedua tangannya menyentuh pundak pria itu, lagaknya teman yang peduli.

"Mas, dengerin Lea baik-baik, ya..." suaranya lembut, tapi tegas. "Mas jangan ikut-ikutan maksiat kayak teman-teman Mas... Sayang banget, Mas itu orang baik!"

"Lea yakin, Mas, orang baik!" ulangnya sekali lagi.

Restu terpaku. Tidak menyangka akan dapat wejangan di tempat seperti ini.

"Menurut Lea ya... bercinta itu nggak butuh pengalaman dulu."

Ia tersenyum tipis menatap Restu, bukan senyum menggoda, melainkan senyum yang tulus. "Lebih baik dilakukan dalam ikatan yang halal, dalam pernikahan. Bersama istri sah Mas kelak."

Azalea menghela napas pelan. "Bukan karena ingin coba-coba, apalagi karena dipaksa orang lain,"ujarnya memutar bola mata.

Ucapan itu mengendap di hati Restu. Ia hanya bisa terdiam menatap wanita di sampingnya yang masih berkomat-kamit.

Untuk pertama kalinya malam ini, ia merasa tidak sedang dihakimi. Tidak diejek, apalagi dianggap aneh. Sedari awal, Azalea mendengarkan dan menasihatinya dengan cara yang tenang.

Dan entah kenapa, hal itu membuat Restu terkesan.

"Tapi Azalea justru kagum sama Mas." Ia menatap Restu dengan tenang. "Di zaman seperti sekarang, masih ada laki-laki yang bisa menjaga dirinya seperti Mas."

Azalea tersenyum tipis. "Lea percaya kok, wanita yang akan menjadi istri Mas kelak pasti juga menjaga dirinya sangat baik seperti Mas. Jadi nggak ada salahnya Mas punya prinsip seperti itu. Mungkin memang terdengar kolot, tapi justru itu yang bikin Mas berbeda," ucapnya pelan, disertai tawa kecil yang ringan. "Tapi ya Mas, saran Lea...Coba deh, pelan-pelan belajar membuka hati. Mau bagaimana pun, Mas juga butuh seorang pendamping."

Restu menghela napasnya, seolah beban di pundaknya sedikit berkurang.

"Baiklah," ucapnya lirih. "Terima kasih atas wejangan malam ini, Mrs. Azalea. Dengan senang hati saya akan menuruti ucapan Anda."

Azalea nyengir. "Mas bisa aja, baiklah, deal kalau begitu. Jangan bosan menjadi orang baik ya, Mas!" Ia mengulurkan tangannya.

Restu menyambutnya. "Tentu, kamu juga!"

Jabat tangan itu terasa sederhana, tapi entah kenapa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat mereka sama-sama diam lebih lama dari seharusnya.

Mata mereka bertemu.

Hening

Bukan hening canggung, tapi hening yang terasa, dan perlahan mereka menyadari jarak antara mereka semakin dekat.

Namun tidak ada yang benar-benar menarik diri. Dan di detik berikutnya, batas itu runtuh begitu saja. Mata mereka perlahan terpejam, bibir keduanya perlahan saling menempel.

Deg

Deg

Deg

Jantung keduanya terdengar saling bersahutan.

Beberapa detik berlalu, Restu mulai menyesap bibir itu. Lembut, begitu terasa hangat dan memabukkan. Ada rasa manis yang mengalir, membuatnya seperti ingin terus menahan momen itu.

FLASHBACK OFF

Bersambung.........

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Filan
Restu, ga yakin nih si Nadine ga ganggu lagi.
Filan
terlalu penasaran atau obsesi
Filan
Dia udah kesambet sih ya...
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
Miu.Nuha
hahaha ngelawak mulu neneknya 😭😭
Miu.Nuha
hilih, giliran nama cucuny aja gk mau nyebut, lupa apa niat ngelupa lagi nih 😫
Miu.Nuha
apa itu mendiang suami 🤔
Miu.Nuha
Omamu tau2 ketemu sama qiana, Res...
entah apa yg terjadi sama Oma, malah jadi akting jadi nenek pikun 😭
Miu.Nuha
mahal pak beli susu 😭😆
Miu.Nuha
mungkn saatny pk restu tampil 👍
gk mau kalah sama Angga
Miu.Nuha
calon istriku sholihah bngt, batin restu ❤
Miu.Nuha
stalker cucunya donk 😆😆😆
Miu.Nuha
takut ketauaann 😭
astagaa... bestiemu msh setia bngt Res smpe inget sama gadis yg bikin kamu gk bisa mupon...
Miu.Nuha
siap2 jadi Angga terus kamu Res kalo smpe nikah sama Qiana 😆😆
Miu.Nuha
untung bisa boong
Mingyu gf😘
heh justru itu bagus, karena se*s bebas sarang penykit
Mega Siregar
janganlah dipaksa...
jika buru2 tanpa mengenal baik pasangan yang ada hanya menimbulkan ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!