Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Vana dan pemuda tadi yang bernama Aska kini sudah sampai di apartemen nya. Di sana juga ada Hana yang merupakan tetangganya tempat Azam menitipkan kunci apartemennya tadi. Hana juga membantu Vana untuk membersihkan luka Aska. Setelah memastikan Aska istirahat, Hana dan Vana pergi memasak sambil berbincang tentang kecelakaan tadi.
"Wah, kalau seandainya ada kakak disana udah pasti kakak tendang dia sampai keluar dari bumi ini Van. Bisa -biasanya tu manusia main kabur aja setelah nabrak anak orang. Emang nggak ada otak tu biawak. " Ujar Hana yang menggebu-gebu.
Vana tertawa pelan mendengar nya. Dia juga setuju dengan pendapat Hana. Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar kabar anaknya yang kecelakaan dan pelakunya kabur begitu saja.
"Do'ain aja supaya pelakunya juga dapat karma atas perbuatan nya kak. " Balas Vana.
Hana mengangguk, "Amiin."
Tak berselang lama, masakan mereka pun sudah matang dan siap dihidangkan.
"Nah, udah jadi. " Ujar Hana. "Sekarang bangunin Askanya. Kasihan dia belum makan. " Sambung Hana sambil meletakkan sepiring ayam kecap dan tumis kangkung di atas meja.
"Nanti kalau ada apa-apa kamu panggil kakak aja ya. Kakak mau pulang dulu. " Ujar Hana berpamitan dan di angguki oleh Vana. Tapi sebelum Hana pergi, Vana mencegahnya dan memberikan sepiring ayam kecap tadi, kebetulan mereka tadi membuat nya cukup banyak.
"Eh, nggak usah Van. " Tolak Hana.
Vana menggeleng. " Untuk si bocil, pasti dia juga lapar. "Ucap Vana. Bocil yang dimaksud Vana adalah anak laki-laki Hana, sebenarnya namanya bukan bocil tapi Vana dan Azam sering memanggilnya dengan sebutan bocil.
"Kamu ini. Udah kayak sama siapa aja. Yaudah, makasih ya Van. " Hana menerima piring berisi ayam kecap itu.
"Seharusnya aku yang berterima kasih loh Kak. "Ucap Vana.
Hana tersenyum dan mengangguk kecil. "Yaudah kalau gitu Kakak pulang dulu ya, Assalamualaikum" Pamit Hana.
"Waalaikumsalam."
Setelah Hana pergi,Vana berjalan menuju kamarnya. Ia membiarkan Aska beristirahat dikamarnya. Di Apartemen itu cuma ada dua kamar, yaitu kamarnya sendiri dan kamar Azam. Karena tidak ada Azam di rumah dan Vana juga belum meminta izin,jadi ia memutuskan untuk membiarkan Aska beristirahat dikamarnya. Vana tidak ingin mengganggu privasi adiknya itu.
Dikamar, Aska tampak masih tertidur setelah berganti pakaian tadi. Vana mengambil salah satu baju Azam untuk Aska. Melihat Aska yang tertidur lelap, Vana menjadi tak tega untuk membangunkannya. Ia pun memilih pergi. Namun, gerakan tangannya terhenti saat mendengar panggilan Aska.
"Mami.... "
Dilihat nya Aska yang menatap ke arahnya, membuat Vana mengurungkan niatnya untuk pergi. Vana memilih mendekati Aska yang saat ini hendak bangun. Dengan pelan dan lembut Vana membantu Aska duduk, Ia juga memberikan bantal di punggung Aska agar lebih nyaman.
"Mami.. " Panggil Aska pelan.
Vana menunjuk dirinya. "Saya." Aska mengangguk.
"Saya bukan mami kamu. " Ucap Vana. Aska menggeleng keras.
"Enggak, Kamu maminya Aska. " Ucap kekeh Aska menganggap Vana sebagai maminya.
Vana menggeleng, "Denger ya, kakak bukan Mami kamu. Kakak orang yang membantu kamu tadi. Mungkin Mami kandung kamu sedang menunggu kamu di rumah." Ucap Vana memberi pengertian pada Aska dengan nada lembut. Ia takut nanti ucapan nya dapat menyinggung Aska yang kini tatapannya berubah menjadi sendu.
Apa kepala Aska ini terbentur keras waktu kecelakaan tadi hingga menganggap dirinya sebagai Maminya,pikir Vana.
" Tapi, Aska nggak punya ibu kandung. Kata papi ibu kandung Aska udah mati. Kamu Mami Aska sekarang. "Ucap Aska tidak mau menyerah.
Vana tidak tahu lagi harus bicara apa. Bagaimana bisa? Seorang pemuda dengan seenaknya mengklaim dirinya sebagai maminya. Mana mungkin Vana punya anak sebesar Aska yang sudah SMP, sementara umurnya masih 27 tahun.
"Jadi mami Aska,ya. Aska nggak tahu rasanya punya seorang ibu. " Cicitnya dengan wajah sendu sambil menatap Vana.
Vana tak tega melihatnya, hatinya tersentil mendengar ucapan Aska. Ia sangat tahu bagaimana rasanya tidak punya ibu. Beruntung Vana masih dapat merasakan kasih sayang seorang ibu walaupun tidak lama. Tapi Azam adiknya juga bernasib sama seperti Aska.Ia juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu karena waktu Azam berusia satu minggu ibunya meninggal.
Vana terdiam sejenak. Ia mengumpulkan tekad dan segala konsekuensi yang bertarung di dalam otaknya. Tapi Vana tidak bisa menyembunyikan senyuman nya. Ia mengelus rambut Aska yang kini tertunduk sedih,enggan menatap matanya.
" Yasudah kamu bisa panggil kakak dengan sebutan Mami. Anggap saja Kakak sebagai Mami kamu." Ucapkan Vana membuat Aska mengangkat kepalanya dan menatap Vana.
Vana mengangguk sambil tersenyum,tanpa pikir dua kali Aska langsung memeluk Vana,Mami barunya.
Hug
Matanya terpejam menikmati elusan lembut di rambutnya dan juga wangi tubuh Maminya yang sangat menenangkan bagi Aska.
"Mami." Cicit Aska sembari menunsel manja di cerutuk leher Vana.
"Ya, sayang. " Jawab Vana sambil tersenyum. Anehnya Vana sangat merasa nyaman dipanggil Mami oleh bocah SMP ini.
Sedangkan Azka yang mendengar panggilan Mami barunya itu tersenyum haru dan bahagia. Akhirnya Setelah sekian lama Ia mempunyai seorang Mami juga.
" kamu mau makan atau lanjut istirahat dulu Sayang?. "Tanya Vana.
Aska terdiam jawabny, perutnya memang sedikit lapar tapi ia juga tidak ingin melepaskan pelukan maminya ini. " Aska mau lanjut istirahat mi, tapi Aska Mau ditemani Mami. " Jawabnya.
Vana terkekeh pelan, "Yasudah,balik rebahan gih. Mami temani. " Aska tidak dapat lagi menyembunyikan senyumannya, dengan hati-hati ia merebahkan tubuhnya. Disusul oleh Vana yang juga ikut berbaring. Tanpa menunggu aba-aba Aska langsung memeluk Vana dan mulai tertidur sembari menikmati lulusan lembut di atas kepalanya.
Tak butuh waktu lama,terdengar suara dengkuran halus Aska. Pertanda bocah itu sudah terlelap, membuat Vaba tersenyum tipis sambil menikmati wajah polos putra barunya ini.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Aska sebelum Vana meninggalkannya. Ia membiarkan Aska beristirahat. Sembari menunggu Aska bangun Vana memilih untuk membereskan apartemen itu terlebih dahulu,mumpung ia ada waktu luang. Jadi ia tidak perlu menunggu Azzam untuk membantunya.
🍁🍁🍁
Sementara itu di Mansion keluarga Pradipta, suasana rumah mewah itu kini sedang tegang dan mencekam. Bagaimana tidak, tadi saat Leo di kantor ia mendapatkan laporan dari Asisten pribadinya yang bernama Agam, kalau Aska hilang dari pemantauan para bodyguard dan kata-kata yang dikirimkan oleh Leo.
Sontak saja kabar itu membuat Leo marah. Bagaimana bisa? bodyguard dan mata-mata sebanyak itu bisa kehilangan satu anak yang mereka jaga.
Setelah mendapat kabar itu Leo langsung pulang, ia membatalkan semua jadwal meeting nya. Sesampainya dirumah, semuanya orang yang ditugaskan untuk menjaga Aska kini dikumpulkan di halaman rumah itu. Mereka semua sudah tertunduk takut melihat marahnya seorang Leonardo Pradipta.
"Apa maksud kalian? Kemana Aska pergi?. " Tanya Leo dengan tatapan yang menusuk. Tak ada satupun yang berani bicara atau menatap Leo. Mereka semua tertunduk takut.
"Kenapa kalian diam!!!. Bentak Leo dengan keras. Semua pekerja yang menyaksikan semua itu gemetar ketakutan. Leo bukanlah orang yang baik dan lembut jika itu berkaitan dengan keselamatan kedua anaknya. Walaupun ia terkesan kejam, Ia tidak pernah lalai dalam mengurus Aksa dan Aska. Tapi kali ini, Orang-orang yang ia suruh untuk menjaga Aska telah lalai dalam menjaga anaknya.
"Maaf kan kami tuan. Kami lalai dalam menjaga tuan muda Aska. " Ucap salah satu bodyguard dengan gemetar.
"Saya tidak butuh permintaan maaf kalian! Saya butuh anak saya. " Sentak Leo.
Aksa dan Agam yang ada disana berusaha menenangkan Leo. Mereka sangat tau, jika Leo sampai kehilangan kesabaran nya. Ia tidak segan-segan melakukan hal gila pada orang itu.
"Tenang dulu pi. Mungkin Aska masih dalam perjalanan pulang. " Ucap Aksa menenangkan Leo.
"Benar kata Aksa Leo. Mungkin tadi Aska pergi main sama temen-temen nya. " Timbal Agam. "Jangan terlalu emosi seperti ini. "
Bukannya mendengarkan nya, Leo malah menarik salah satu bodyguard dan menghempaskan pada bodyguard yang lain.
"Jika kalian tidak bisa menemukan anak saya hingga malam nanti, jangan berharap kalian akan selamat dari saya!. " Ancaman Leo menunjuk mereka semua. "Kalian paham!!!. "
"Paham Tuan. " Jawab mereka semua.
"Sekarang, Kalian cari anak saya sampai ketemu. Jika terjadi hal yang buruk pada anak saya, maka kalian sendiri yang akan menanggung resikonya. Mengerti??!!"
"Baik tuan. " Mereka semua segera berhamburan pergi sebelum Leo menjadikan mereka semua menjadi ayam gulung.
"Bagi yang tidak ada keperluan, kembali bekerja. " Ujar Leo datar. Pekerja yang menyaksikan semua kejadian itu segera kembali ke pekerja mereka masing-masing.
"Baik tuan. "
Bersambung,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊