Ayunda Ayuningtyas adalah seorang single parent untuk anak laki-lakinya yang bernama Alif Permana. Dia bukan seorang janda tapi bukan pula seorang gadis.
Kebencian membuat seseorang tega menculik dan membiusnya juga membiarkan Ayu kehilangan kehormatan oleh orang yang tidak dikenalnya.
Arkana Adhitama adalah seorang pria yang telah mengambil kehormatan Ayu. Anak pertama seorang pengusaha sukses. Namun, ia pun korban dari orang yang sama.
Setelah lima tahun berlalu, mereka kembali dipertemukan. Arka yang ingin bertanggung jawab harus berjuang lebih keras karena Ayu yang mengalami trauma, tak pernah mau dekat dengan laki-laki yang tidak dikenalnya.
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CUA 3 Pergi dan Kembali
Cinta Untuk Ayunda (3)
" Bu, sudah Dzuhur, sholat dulu", Ayu mengusap-usap lengan Bu Maryam berharap gerakan kecil itu bisa membuatnya bangun.
Namun nihil, Bu Maryam tak bergeming. Adel merasa ada yang aneh.
Deg
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Ayu menggenggam tangan Bu Maryam, ternyata dingin.
Deg ...Deg... Deg...
Perasaan takut tiba-tiba menghampiri Ayu. Pikiran buruk pun mulai terbayang.
" Semoga ini tidak seperti apa yang aku pikirkan", gumam Ayu dengan perlahan mendekatkan telunjuknya ke hidung Bu Maryam untuk mengetahui apakah masih bernafas atau tidak.
Air mata ayu mulai menetes menyadari Bu Maryam sudah tidak bernafas. Tergesa-gesa Ayu segera berlari ke rumah Bu Nani, adiknya Bu Maryam yang rumahnya tepat di sebelah rumah.
" Assalamu'alaikum. Bi Nani! ", panggil Ayu sambil mengetuk pintu.
Air matanya mengalir deras. Badannya pun terasa lemah, namun Ayu mencoba kuat.
" Bi Nani, ini Ayu, Bi!.", teriak Ayu sambil mengetuk pintu di sela-sela tangisnya.
Bu Nani yang saat itu sedang menunaikannya shalat di kamarnya, segera berlari membukakan pintu.
" Astaghfirullah, Ayu. Kamu kenapa, nak?", tanya Bu Nani panik melihat Ayu yang menangis.
" Sini duduk dulu!", Bu Nani menarik lengan kanan Ayu dan mengajaknya duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah.
Ayu menahan tangannya. Ia menggenggam tangan Bu Nani dengan tangan kirinya.
" Bu Maryam, Bi. Bu Maryam", ucap Ayu dengan nada bergetar dan menggelengkan kepalanya.
Melihat Ayu yang demikian, Bu Nani langsung berlari ke arah rumah Bu Maryam dengan masih memakai mukenanya.
Pak Yanto yang baru pulang dari kebun pun ikut menyusul istrinya saat melihat istrinya berlari tergesa-gesa ke rumah Bu Maryam.
Sekalipun ia belum tahu apa yang terjadi, namun melihat bagaimana istrinya berlari ke rumah Bu Maryam dan melihat Ayu yang menangis dan terduduk di lantai selepas istrinya pergi, ia yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi.
***
Hari menjelang sore. Rumah Bu Maryam mulai penuh dengan keberadaan para tetangga yang datang untuk berbela sungkawa.
Jasad Bu Maryam sendiri sudah selesai dimandikan dan terbungkus kain kafan.
Bu Nani dan Pak Yanto yang mengecek kondisi Bu Maryam tadi memastikan bahwa Bu Maryam memang telah tiada. Karena itu, Pak Yanto segera membuat laporan ke RT setempat agar segera di umumkan melalui masjid mengenai meninggalnya Bu Maryam.
Sementara Bu Nani mulai membereskan ruang tamu di bantu para tetangga yang mulai berdatangan saat mengetahui info itu dari Pak Yanto yang berpapasan dengan mereka di jalan.
Ayu sendiri menghubungi Roni, suaminya Tika. Ia mengurungkan niatnya menghubungi Tika sekalipun saat itu Tika menelponnya sesuai janjinya yang akan menelpon setelah adzan Dzuhur. Ayu takut dengan kondisi Mbak Tika jika ia memberitahukan kebenarannya.
Ayu pun menjelaskan apa yang terjadi pada Bu Maryam kepada Roni. Roni mendengarkan dan berkata akan segera pulang kampung bersama Tika dan anaknya Zaki yang berumur 7 tahun.
Ayunda duduk di samping jenazah Bu Maryam sambil memangku Alif. Dengan suara lirih ia membaca surat Yasin.
Para pelayat pun ada yang ikut serta membaca surat Yasin juga ada yang melakukan shalat jenazah.
Jenazah Bu Maryam sendiri memang sudah selesai di mandikan dan dikafani. Tentu setelah Mbak Tika selaku anak Bu Maryam memberikan izin.
Mbak Tika sendiri saat melakukan video call terlihat baru menangis. Matanya sembab dan suaranya yang agak serak. Ia hanya meminta agar jenazah sang ibu di kebumikan setelah ia datang.
Jam empat sore barulah keluarga Tika datang. Para tetangga yang melihat langsung menghampiri dan silih berganti memberikan kekuatan dengan kata-kata maupun pelukan seperti yang di lakukan Bu Nani.
Ayu pun bangkit saat saat melihat Tika.
" Mbak, ibu..", Ayu tak mampu meneruskan kata-katanya. Tapi, air matanya sudah mampu mewakili isi hatinya.
" Iya, kita ikhlaskan ya", Tika terlihat tabah. Ia memeluk Ayu dengan erat.
Ayu tak bisa menggambarkan sebesar apa ia merasa kehilangan. Bu Maryam sudah seperti ibunya sendiri. Sangat menyayanginya bahkan orang pertama yang menguatkan hatinya saat Ayu dinyatakan hamil.
Bu Maryam lah garda terdepan yang menjaga Ayu. Ia menghubungi RT dan RW setempat juga para tetangga, lalu menjelaskan bagaimana kondisi Ayu dan meminta izin agar Ayu bisa tetap tinggal disana.
Masyarakat di sana pun dengan tangan terbuka menerima Ayu. Mereka sadar semua bukan keinginan Ayu. Walaupun masih ada yang mencap negatif Ayu, tapi itu tidak jadi masalah. Apalagi selama tinggal bersama Bu Maryam, Ayu bersikap baik. Bahkan cenderung mengurung diri karena meminimalisir bertemu dengan laki-laki.
Trauma membuatnya takut jika berdekatan dengan laki-laki. Awal-awal bahkan sampai pingsan jika ada yang berani untuk memaksa berdekatan dengan Ayu. Apalagi paras ayu yang cantik menarik hati para pemuda di sana. Sekalipun tahu apa yang menimpa Ayu, masih ada yang berusaha mendekatinya.
Kini, setelah lima tahun, akhirnya ia bisa sedikit mengendalikan diri. Walaupun rasa takut itu masih ada terutama jika bertemu orang baru.
***
Seminggu sudah semenjak kepergian Bu Maryam. Rumah sudah tampak kembali seperti semula. Kursi dan meja yang awalnya di rapikan untuk menambah ruang bagi para tetangga yang akan melakukan pengajian, sudah kembali ke posisi semula.
Alif dan Zaki, anaknya Tika sedang bermain bola di halaman. Mereka sudah kembali ceria. Rasa kehilangan juga mereka rasakan apalagi Alif yang terbiasa ada Bu Maryam sesekali masih bertanya tentang Bu Maryam. Namun, kemudian ia ingat bahwa Bu Maryam sudah tiada.
Tika menghampiri Ayu yang sedang duduk di di teras memperhatikan anak-anak bermain.
" Yu, kamu sama Alif ikut Mbak ke kota ya? Tinggal di rumah Mbak", ajak Tika penuh harap.
Ayu diam sejenak, ia menimbang baik buruknya. Jika ia pergi ke kota, cepat atau lambat ia pasti bertemu keluarganya. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia akan bertemu ayah dari anaknya.
Kota mengingat luka lama yang sampai saat ini menyisakan trauma.
" Ikut ya!", Tika setengah memaksa. " Sebelum Ibu meninggal , ibu menitipkan kamu ke mbak. Mbak juga gak tega ninggalin kamu sendiri disini", Tika masih mencoba membujuk Ayu.
Mendengar Tika menyebut Ibu, Ayu seketika ingat permintaan Bu Maryam sebelum meninggal.
Nak Ayu, kalau ibu pergi kamu ikut Mbak Tika ya ke kota. Tinggal sama mereka. Bu Maryam
Tika menghela nafas. Dadanya terasa sesak. "Sebenarnya, sebelum Ibu meninggal, kami sempat mengobrol sebentar. Almarhumah minta Ayu untuk ikut Mbak ke kota kalau beliau pergi. Waktu Ayu tanya pergi kemana, beliau hanya tersenyum lalu pergi ke kamar untuk istirahat. Setelah itu Ibu meninggal", diam sejenak. " Ternyata itu permintaan ibu yang terakhir", ucap Ayu sendu.
Tika kembali meneteskan air mata jika mengingat ibunya. "Jadi, bagaimana keputusanmu?".
TBC
...----------------...
Mohon dukungannya. Tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe.
Terimakasih 🥰 🥰🥰🥰🥰