NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda

Status: tamat
Genre:Tamat / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:592k
Nilai: 4.7
Nama Author: Sasa Al Khansa

Ayunda Ayuningtyas adalah seorang single parent untuk anak laki-lakinya yang bernama Alif Permana. Dia bukan seorang janda tapi bukan pula seorang gadis.

Kebencian membuat seseorang tega menculik dan membiusnya juga membiarkan Ayu kehilangan kehormatan oleh orang yang tidak dikenalnya.

Arkana Adhitama adalah seorang pria yang telah mengambil kehormatan Ayu. Anak pertama seorang pengusaha sukses. Namun, ia pun korban dari orang yang sama.

Setelah lima tahun berlalu, mereka kembali dipertemukan. Arka yang ingin bertanggung jawab harus berjuang lebih keras karena Ayu yang mengalami trauma, tak pernah mau dekat dengan laki-laki yang tidak dikenalnya.

Happy reading!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CUA 3 Pergi dan Kembali

Cinta Untuk Ayunda (3)

" Bu, sudah Dzuhur, sholat dulu", Ayu mengusap-usap lengan Bu Maryam berharap gerakan kecil itu bisa membuatnya bangun.

Namun nihil, Bu Maryam tak bergeming. Adel merasa ada yang aneh.

Deg

💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

Ayu menggenggam tangan Bu Maryam, ternyata dingin.

Deg ...Deg... Deg...

Perasaan takut tiba-tiba menghampiri Ayu. Pikiran buruk pun mulai terbayang.

" Semoga ini tidak seperti apa yang aku pikirkan", gumam Ayu dengan perlahan mendekatkan telunjuknya ke hidung Bu Maryam untuk mengetahui apakah masih bernafas atau tidak.

Air mata ayu mulai menetes menyadari Bu Maryam sudah tidak bernafas. Tergesa-gesa Ayu segera berlari ke rumah Bu Nani, adiknya Bu Maryam yang rumahnya tepat di sebelah rumah.

" Assalamu'alaikum. Bi Nani! ", panggil Ayu sambil mengetuk pintu.

Air matanya mengalir deras. Badannya pun terasa lemah, namun Ayu mencoba kuat.

" Bi Nani, ini Ayu, Bi!.", teriak Ayu sambil mengetuk pintu di sela-sela tangisnya.

Bu Nani yang saat itu sedang menunaikannya shalat di kamarnya, segera berlari membukakan pintu.

" Astaghfirullah, Ayu. Kamu kenapa, nak?", tanya Bu Nani panik melihat Ayu yang menangis.

" Sini duduk dulu!", Bu Nani menarik lengan kanan Ayu dan mengajaknya duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah.

Ayu menahan tangannya. Ia menggenggam tangan Bu Nani dengan tangan kirinya.

" Bu Maryam, Bi. Bu Maryam", ucap Ayu dengan nada bergetar dan menggelengkan kepalanya.

Melihat Ayu yang demikian, Bu Nani langsung berlari ke arah rumah Bu Maryam dengan masih memakai mukenanya.

Pak Yanto yang baru pulang dari kebun pun ikut menyusul istrinya saat melihat istrinya berlari tergesa-gesa ke rumah Bu Maryam.

Sekalipun ia belum tahu apa yang terjadi, namun melihat bagaimana istrinya berlari ke rumah Bu Maryam dan melihat Ayu yang menangis dan terduduk di lantai selepas istrinya pergi, ia yakin sesuatu yang buruk sedang terjadi.

***

Hari menjelang sore. Rumah Bu Maryam mulai penuh dengan keberadaan para tetangga yang datang untuk berbela sungkawa.

Jasad Bu Maryam sendiri sudah selesai dimandikan dan terbungkus kain kafan.

Bu Nani dan Pak Yanto yang mengecek kondisi Bu Maryam tadi memastikan bahwa Bu Maryam memang telah tiada. Karena itu, Pak Yanto segera membuat laporan ke RT setempat agar segera di umumkan melalui masjid mengenai meninggalnya Bu Maryam.

Sementara Bu Nani mulai membereskan ruang tamu di bantu para tetangga yang mulai berdatangan saat mengetahui info itu dari Pak Yanto yang berpapasan dengan mereka di jalan.

Ayu sendiri menghubungi Roni, suaminya Tika. Ia mengurungkan niatnya menghubungi Tika sekalipun saat itu Tika menelponnya sesuai janjinya yang akan menelpon setelah adzan Dzuhur. Ayu takut dengan kondisi Mbak Tika jika ia memberitahukan kebenarannya.

Ayu pun menjelaskan apa yang terjadi pada Bu Maryam kepada Roni. Roni mendengarkan dan berkata akan segera pulang kampung bersama Tika dan anaknya Zaki yang berumur 7 tahun.

Ayunda duduk di samping jenazah Bu Maryam sambil memangku Alif. Dengan suara lirih ia membaca surat Yasin.

Para pelayat pun ada yang ikut serta membaca surat Yasin juga ada yang melakukan shalat jenazah.

Jenazah Bu Maryam sendiri memang sudah selesai di mandikan dan dikafani. Tentu setelah Mbak Tika selaku anak Bu Maryam memberikan izin.

Mbak Tika sendiri saat melakukan video call terlihat baru menangis. Matanya sembab dan suaranya yang agak serak. Ia hanya meminta agar jenazah sang ibu di kebumikan setelah ia datang.

Jam empat sore barulah keluarga Tika datang. Para tetangga yang melihat langsung menghampiri dan silih berganti memberikan kekuatan dengan kata-kata maupun pelukan seperti yang di lakukan Bu Nani.

Ayu pun bangkit saat saat melihat Tika.

" Mbak, ibu..", Ayu tak mampu meneruskan kata-katanya. Tapi, air matanya sudah mampu mewakili isi hatinya.

" Iya, kita ikhlaskan ya", Tika terlihat tabah. Ia memeluk Ayu dengan erat.

Ayu tak bisa menggambarkan sebesar apa ia merasa kehilangan. Bu Maryam sudah seperti ibunya sendiri. Sangat menyayanginya bahkan orang pertama yang menguatkan hatinya saat Ayu dinyatakan hamil.

Bu Maryam lah garda terdepan yang menjaga Ayu. Ia menghubungi RT dan RW setempat juga para tetangga, lalu menjelaskan bagaimana kondisi Ayu dan meminta izin agar Ayu bisa tetap tinggal disana.

Masyarakat di sana pun dengan tangan terbuka menerima Ayu. Mereka sadar semua bukan keinginan Ayu. Walaupun masih ada yang mencap negatif Ayu, tapi itu tidak jadi masalah. Apalagi selama tinggal bersama Bu Maryam, Ayu bersikap baik. Bahkan cenderung mengurung diri karena meminimalisir bertemu dengan laki-laki.

Trauma membuatnya takut jika berdekatan dengan laki-laki. Awal-awal bahkan sampai pingsan jika ada yang berani untuk memaksa berdekatan dengan Ayu. Apalagi paras ayu yang cantik menarik hati para pemuda di sana. Sekalipun tahu apa yang menimpa Ayu, masih ada yang berusaha mendekatinya.

Kini, setelah lima tahun, akhirnya ia bisa sedikit mengendalikan diri. Walaupun rasa takut itu masih ada terutama jika bertemu orang baru.

***

Seminggu sudah semenjak kepergian Bu Maryam. Rumah sudah tampak kembali seperti semula. Kursi dan meja yang awalnya di rapikan untuk menambah ruang bagi para tetangga yang akan melakukan pengajian, sudah kembali ke posisi semula.

Alif dan Zaki, anaknya Tika sedang bermain bola di halaman. Mereka sudah kembali ceria. Rasa kehilangan juga mereka rasakan apalagi Alif yang terbiasa ada Bu Maryam sesekali masih bertanya tentang Bu Maryam. Namun, kemudian ia ingat bahwa Bu Maryam sudah tiada.

Tika menghampiri Ayu yang sedang duduk di di teras memperhatikan anak-anak bermain.

" Yu, kamu sama Alif ikut Mbak ke kota ya? Tinggal di rumah Mbak", ajak Tika penuh harap.

Ayu diam sejenak, ia menimbang baik buruknya. Jika ia pergi ke kota, cepat atau lambat ia pasti bertemu keluarganya. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia akan bertemu ayah dari anaknya.

Kota mengingat luka lama yang sampai saat ini menyisakan trauma.

" Ikut ya!", Tika setengah memaksa. " Sebelum Ibu meninggal , ibu menitipkan kamu ke mbak. Mbak juga gak tega ninggalin kamu sendiri disini", Tika masih mencoba membujuk Ayu.

Mendengar Tika menyebut Ibu, Ayu seketika ingat permintaan Bu Maryam sebelum meninggal.

Nak Ayu, kalau ibu pergi kamu ikut Mbak Tika ya ke kota. Tinggal sama mereka. Bu Maryam

Tika menghela nafas. Dadanya terasa sesak. "Sebenarnya, sebelum Ibu meninggal, kami sempat mengobrol sebentar. Almarhumah minta Ayu untuk ikut Mbak ke kota kalau beliau pergi. Waktu Ayu tanya pergi kemana, beliau hanya tersenyum lalu pergi ke kamar untuk istirahat. Setelah itu Ibu meninggal", diam sejenak. " Ternyata itu permintaan ibu yang terakhir", ucap Ayu sendu.

Tika kembali meneteskan air mata jika mengingat ibunya. "Jadi, bagaimana keputusanmu?".

TBC

...----------------...

Mohon dukungannya. Tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe.

Terimakasih 🥰 🥰🥰🥰🥰

1
Putu Sudari
Luar biasa
Aku Mira
kayanya hamidun tuh ayu😄
D_Mayanti
Luar biasa
Sintia Dewi
mapus kau....bego bgt ngapain msih peduli sm masa lalu udh tau mantan lu matre..
Sintia Dewi
bodoh kau arkana, ini yg kau sebut keluarga no 1? baru liat orang dr msalalu sj kau udh lupa sm anak istri apa lg kau msuk ke cerita karangan mereka alat kau ditinggalkan
Sintia Dewi
kita tunggu mantanmu itu balik ya arkana..km akan nangis darah ditinggal anak istri
Sintia Dewi
duhh klok ayu ngasik nomornya ke rian..wah kalian pasangan yg bakalan sm2 bodoh, knapa msak udh msa lalu tp msih diksik peluang msuk kehubungan kalian...
Sintia Dewi
itu bodoh namanya arkana udh jelas dia mau krna uang ketika lu lamar dia nolak lu ngapain msih cinta sm perempuan modelan gitu..bodoh sih klok untk ukuran lu arkana
Sintia Dewi
awas km ya arkana klok lu smpek kasik mantan2mu peluang msuk ke dlm pernikahan kalian...km bakalan gk ba lg ketemu sm istri dan anakmu..udh lah ngapain lu ingat2 lg si mantal
Sella Darwin
Luar biasa
Hari Saktiawan
👍👍👍👍👍👍👍
Anita Danun
Buruk
Rahma Lia
Luar biasa
Bundanya Pandu Pharamadina
selamat pagi mbak Author dan selamat untuk beraktifitas untuk kita semua, tidak lupa di temenin kopi sambil baca novel kisah Ayu Arkana ❤❤
Bundanya Pandu Pharamadina
Arkana bukanya jadi pengalaman waktu dgn Jasmin, eh ini di ulangi lagi, Akana kamu terlalu serius dgn kerjaan tapi kurang jenius dgn wanita
Bundanya Pandu Pharamadina
hebat Authornya 👍❤❤❤❤ ceritanya jelas singkat padat dan mengena langsung ke intinya,
Bundanya Pandu Pharamadina
Ayah yg telah membuang anak kandungnya, sadar tidak sih pak Hendra
Bundanya Pandu Pharamadina
Bu Maryam seakan tahu bahwa dia akan tiada.
Bundanya Pandu Pharamadina
Ayu semoga nasibnya juga ayu/bagus
erna trikoriani
datang lagi ulat bulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!