NovelToon NovelToon
DOKTER CINTA

DOKTER CINTA

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Dokter / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ind_Chris

Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.

Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.

Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.

Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua

"Suster Rina.." panggil Dimas, salah satu perawat di rumah sakit jiwa itu.

"Yaa.." sahut suster Rina sambil membalikkan badannya ke arah orang yang memanggilnya itu.

"Ada pesan dari dokter Arief, suster Rina diminta untuk segera ke ruangannya." terang Dimas.

"Oh ya.. baik! Terima kasih ya, Mas.." ucap suster Rina.

"Oke.. siip!" sahut Dimas.

Suster Rina segera beranjak menuju ruangan direktur rumah sakit. Kembali dengan langkah cepat ia berjalan agar cepat sampai ke tempat tujuannya. Ia mengatur nafasnya begitu tiba di depan pintu ruangan direktur.

"Tok.. tok.. tok.." Suster Rina mengetuk pintu ruangan direktur dengan pelan.

"Masuuk.." ucap seseorang dari dalam. Perlahan suster Rina membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan.

"Selamat sore dok.." Belum sempat ia menyelesaikan sapaannya kepada dokter Arief, ia sudah terkejut lebih dulu melihat seseorang yang berada di hadapan dokter Arief.

"Sore suster Rina.." ucap dokter Arief.

"Rina.." ucap seseorang yang ada di hadapan suster Rina itu.

"A.. Adi.." ucap suster Rina.

"Loh.. kalian sudah saling kenal?!" tukas dokter Arief bingung.

...

"Ini ruangan direktur kami, pak dokter." ucap pak Rama, driver rumah sakit jiwa ini.

"Terima kasih banyak sudah mengantarkan saya sampai sini, pak." ucap dokter Adi berterima kasih kepada pak Rama yang sudah menjemputnya dari bandara dan mengantarkannya sampai di depan pintu ruangan direktur rumah sakit.

"Sudah tugas saya pak dokter.." sahut pak Rama sopan.

"Tok.. tok.. tok.." Pak Rama mengetuk pintu ruangan direktur pelan.

"Silahkan masuk.." sahut seseorang dari dalam ruangan.

"Mari masuk, pak dokter.." ucap pak Rama mempersilahkan dokter Adi untuk masuk. Dokter Adi perlahan masuk ke dalam ruangan itu. Dokter Arief menyambut kedatanganya dengan sangat baik layaknya seorang pahlawan.

"Silahkan duduk dokter Adi!" ucap dokter Arief ramah untuk mempersilahkan dokter Adi untuk duduk. Dokter Adi duduk di kursi yang ada di hadapan dokter Arief.

"Saya mengucapkan terima kasih banyak karena dokter mau datang jauh-jauh ke sini untuk membantu kami di sini." Dokter Arief memulai pembicaraan.

"Sebenarnya sudah lama kami diminta oleh pihak keluarga pasien 208 ini untuk mencarikan dokter khusus yang menangani pasien 208 ini, terakhir dua tahun yang lalu ada dokter yang bersedia tapi hanya bertahan satu minggu karena pasien selalu menolak kehadiran dokter ini.." terang dokter Arief.

"Maaf dokter Arief, apakah pasien 208 ini tidak mempunyai nama?" tanya dokter Adi.

"Maksud dokter Adi?" ucap dokter Arief bingung.

"Dari tadi saya dengar dokter memanggilnya dengan sebutan 'Pasien 208' saya berpikir apakah pasien itu tidak punya nama." tukas dokter Adi. Dokter Arief terdiam sejenak.

"Maaf kalau saya salah, dok, tapi buat saya semua pasien punya hak untuk memiliki nama yang pantas daripada sekedar panggilan 'Pasien 208' karena mereka juga tidak menginginkan takdir yang buruk ini menimpa mereka." ungkap dokter Adi.

"Tidak.. dokter Adi tidak salah sama sekali, saya mohon maaf karena tidak memperlakukan pasien dengan baik." tukas dokter Arief.

"Kebiasaan ini berawal dari dua tahun yang lalu karena dokter yang terakhir menangani pasien memberi nama panggilan seperti itu. Saya terbawa sampai saat ini, saya minta maaf, saya akan lebih memperhatikan para pasien lebih baik lagi dari sekarang." ucap dokter Arief. Suasana di antara mereka menjadi sedikit agak canggung. Dokter Adi memang orang yang tegas dan selalu memegang teguh prinsipnya untuk menghargai setiap pasiennya walaupun pasiennya adalah orang-orang yang menderita sakit atau kerusakan pada mentalnya.

"Tok.. tok.. tok.." Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang menyelamatkan mereka dari semua kecanggungan ini.

"Masuuuk.." seru dokter Arief.

Perlahan seorang perawat wanita masuk ke ruangan itu. Dokter Adi mengerutkan keningnya, ia merasa seperti mengenal perawat itu.

"Selamat sore, dok.." sapa perawat itu, ia tampak terkejut dengan sosok dokter Adi yang ada di hadapannya.

"Sore suster Rina.." ucap dokter Arief. Ucapan dokter Arief semakin meyakinkan dokter Adi kalau ia benar mengenal perawat itu.

"Rina.." ucapnya pelan.

"A.. Adi.." ucap perawat itu.

"Loh.. kalian sudah saling kenal?!" tukas dokter Arief bingung.

"Kami..."

"Kami satu sekolah saat SMA, dok" potong suster Rina.

"Waah.. pas sekali ya! Kalian bisa menjadi tim yang hebat." seru dokter Arief.

"Tim?" tanya dokter Adi pelan. Dokter Adi dan suster Rina saling berpandangan.

"Ya dokter Adi, suster Rina adalah perawat yang bertanggung jawab dengan pasien 2.. eeh maksud saya pasien yang akan dokter Adi tangani." terang dokter Arief.

"Suster Rina, ini dokter yang saya bicarakan tadi pagi. Dokter Adi yang sekarang akan menangani pasien itu. Tolong dibantu ya!" pinta dokter Arief kepada suster Rina.

"Baik, dok!" ucap suster Rina.

"Baik, dokter Adi, sekarang saya serahkan semua ke suster Rina ya. Suster Rina yang akan membantu dokter." ucap dokter Arief pada dokter Adi.

"Baik, dok!" sahut dokter Adi. Dari raut wajahnya, dokter Adi tampak sangat bersemangat, entah karena akan menangani pasien baru atau karena suster Rina?!

...

Suster Rina dan dokter Adi berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju kamar nomor 208. Sepanjang perjalanan menuju kamar 208, beberapa kali tampak dokter Adi memandangi suster Rina.

"Aku tidak menyangka kamu jadi perawat di rumah sakit jiwa.." ucap dokter Adi pelan.

"Aku juga tidak menyangka kalau kamu jadi dokter di rumah sakit jiwa.." tukas suster Rina membalikkan ucapan dokter Adi. Dokter Adi tertawa kecil.

"Sejak kapan kamu jadi perawat di sini?" tanya dokter Adi.

"Sudah sekitar 7 tahun." jawab suster Rina singkat.

"Aku senang melihat kamu baik-baik saja dan sekarang aku bisa bekerja sama denganmu di sini.." ucap dokter Adi. Dari wajahnya memang tampak betul kalau dokter Adi sangat bahagia, ekspresinya seperti anak kecil yang mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Aku juga akan senang sekali kalau kerja sama kita kali ini tidak sia-sia dan memberikan kesembuhan untuk pasien ini.." seru suster Rina datar. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar 208.

"Kamu bisa melihat pasien itu dari sini dulu, kalau kamu sudah siap dengan segala macam respon yang akan diberikan oleh pasien, kamu boleh masuk." terang suster Rina.

Dokter Adi mengintip ke dalam kamar 208 melalui kaca yang ada di pintu kamar. Ia terdiam sejenak dan memperhatikan pasien yang akan ditanganinya itu, seketika wajahnya berubah menjadi serius sepertinya ia sedang menganalisis keadaan pasien tersebut. Melihat ekspresi wajah serius dokter Adi membuat jantung suster Rina berdetak lebih cepat. Dokter Adi bersikap layaknya pria tampan dalam drama korea.

"Cantik!" seru dokter Adi tiba-tiba, ekspresi wajahnya berubah menjadi konyol. Seketika imej tampan yang terbangun baik di benak suster Rina hancur berkeping-keping.

"Hemm..!!" geram suster Rina. Dokter Adi tertawa-tawa kecil.

...

1
IndChris
Luar biasa
arfan
up
Par Tini
autornya jahat kalau karakter Rina jahat kenapa di awal dia seolah wanita baik menyatukan pasangan kekasih bisa kok dgn cara baik2 tanpa ada unsur kejahatan Adi dan Lia bisa bersatu dan Rina bisa menerima dgn ikhlas,,, walaupun Rina jahat dia tetap seorang ibu yg baik utk anaknya dan q selalu menangis 😭 bila ada scene ibu dan anak itu
Par Tini
setiap membaca kisah suster Rina q tdk bisa membendung air mataku walaupun byk pembaca yg kasian dgn kisah Lia tp q salut dgn perjuangan suster Rina yg bisa berlapang dada menerima dan membesarkan anaknya sampai detik inipun Dina blm tau gimana awal dia sampai lahir ke dunia dan teman2 pasti tdk tau Rina korban pelecehan sampai menghasilkan anak,, untuk dr Adi apa yg di katakan ibumu benar adanya jgn menikahi Rina KL sdh tdk cinta jgn Krn mau menepati janji yg PD akhirnya menyakiti kalian berdua terutama Rina ..
Par Tini
sampai sini saya lebih tertarik dgn kisah suster Rina bagaimana dia melalui hidupnya membesarkan anak dari perkosaan itu tapi sayang dialog Rina sama anaknya seuprit
Lila
Sampai part ini…. Banyak hikmah yg bisa diambil.

Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
Salwa Aqila
udah mending meninggal ajh PK dokter ...
benci dokter Adi 😡
IndChris: waduh.. pemeran utamanya yg di benci.. 😅
total 1 replies
Salwa Aqila
benci sama dokter Adi ... 😡😡😡
Alfan Salim
sama" diperkosa sampek bingung mna yg pacarnya adi
lovetoon
wedding organizer kayaknya kerjanya lia
Queensha
akuu sukaa... bagus thor karya nya.. berdeda dg yg lain... ayo thor semangat utk nulis cerita selanjutnya...
lady El
itu alasan kenapa Lia jadi pasien spesial untuk suster rina karena dia juga pernah mengalami nya
Risna Wati
suka banget ceritanya.💖💖💖💖💖💖
IndChris: Terima kasih sudah suka karya ini..
total 1 replies
Risna Wati
💕💕💕💕💕
Aisyah Siregar
👍👍👍👍
Kim Yoona
sukaaaaaa...
Kim Yoona
aq suka karya mu thor beda dari novel kebanyakan.. semangat... trus berkaryaa💪💪
Kim Yoona: siap kak tapi nanti tak tabung dulu... nunggu agak banyak biar tdk terlalu lelah menunggu ... suka galau
total 2 replies
Kim Yoona
akhirnya bisa ketawa lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Kim Yoona
apakah seperti ini korban pelecehan seksual... bknkah dia pernah merasakan diposisi disiksa orang lain.. knpa dia bisa setega itu
Kim Yoona
lia lbh bijak dlm menghadapi segala hal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!