Kisah percintaan yang sangat menyakitkan!
Dimana dia selalu dipermainkan oleh takdir, dihianati oleh kepercayaan dan dijatuhkan oleh pengharapan.
Dialah Dika Feryaldi, laki-laki yang hidup dengan mengandalkan parasnya. Dia bagai parasit, yang hidup tanpa tujuan.
Hidup baginya bagaikan neraka. Dan kebahagiaan baginya adalah hal yang mustahil. Dia selalu bersikap sinis, kasar, dan tidak ingin tersenyum atau tertawa.
Surga baru dia rasakan setelah bertemu dengan wanita cantik bernama Hana Angela. Perempuan dengan kelas sosial yang tinggi, yang mana dia merupakan putri dari keluarga terpandang.
Dika baru mengerti, kalau dia masih bisa bahagia.
Tapi ternyata, lika-liku perjalanan menyakitkan untuk mendapatkan wanita itu harus dia terjang. Saat itulah, seorang Dika berani berkorban untuk seseorang yang dia cintai.
Setelah lama berjuang untuk mengimbangi kelas wanita itu, Dika kembali diruntuhkan oleh penghianatan. Setelah dia mengabulkan semua keinginan orangtua Hana, dia dihianati sebegitu kejam. Ternyata Hana telah dinikahkan dengan laki-laki yang jauh lebih terhormat darinya. Tidak sampai disana saja, dia makin merasa sakit ketika mengetahui kalau semua orang yang dia percayai ikut menghiantinya.
Sampai akhirnya, Dika ingin menyudahi hidupnya. Dia tidak pernah mengerti akan rencana yang Kuasa untuknya.
"Adakah Bahagia Untukku?? Sekali saja, kumohon biarkan aku merasakan yang namanya bahagia."_Dika Feryaldi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Terungkap
Dari cerita Andi semalam, Dika menjadi merasa cowok beruntung. Selama ini, ada banyak sekali wanita menawarkan diri untuk di sentuh olehnya. Terlebih lagi banyak cewek yang menggodanya.
Pagi ini, semua teman-teman Dika belum bangun. Seperti biasa, Dika selalu yang pertama bangun dari semuanya.
Dika menguap, kemudian meregangkan otot-otot nya. Sesaat kemudian, dia berjalan menuju kamar mandi.
Dika kemudian menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya. Laki-laki itu kemudian sudah selesai mandi. Dia sudah rapi dengan kaos hitam longgar dan jeans yang senada dengan bajunya. Dicepaknya rambut berwarna merah itu. Kemudian, tangannya menyemprot parfum yang tercium sangat wangi ke tubuhnya.
Kemarin, pas pulang dari pesta pernikahan itu, Rio meminta mereka bermalam dirumahnya. Kebetulan, orangtuanya lagi ada di luar kota.
"Teman-teman, gua cabut duluan ya," Dika menatap teman-temannya yang masih setengah sadar. Ada yang sudah duduk tapi terlihat masih ngantuk. Ada juga yang masih tertidur.
"Elo mau kemana Dika? pagi-pagi udah rapi aja," Doni mengucek ucek matanya.
"Biasa, mau nganterin Hana kekantor," ucap Dika santai.
Andi yang masih tertidur dengan nyenyak langsung terduduk kaget.
"Hana? Hana itu siapa?" Andi memang belum mengenal Hana. Semalam dia menghabiskan waktu bersama keluarganya, bukan bersama temannya.
"Temannya Dika," jawab Doni.
"Teman? Yang benar Dika?" Tanya Andi.
"Iya," jawab Dika.
Andi langsung bangkit dan menepuk pundak Dika berulang.
"Dika, jangan mau di perdaya perempuan. Jangan bodoh! percuma elo baik sama wanita, kalo ujung-ujungnya di tolak malam pertama," Andi menyamakan dirinya dengan keadaan Dika.
Dika mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.
Dia bingung, apa hubungannya jika dia baik dengan malam pertama. Tapi segera aja dia mengangguk kan kepala lagi, biar cepat urusannya.
"Btw, kok elo baik banget sama Hana. Sampai sampai elo rela jadi supir atau jadi ojeknya kekantor. Elo suka sama Hana?" tanya Rio masih tetap diposisinya.
Dika tersenyum meremehkan.
"Gua suka sama Hana? Jan gila deh!" Ketus Dika.
"Lantas, mengapa elo baik banget sama dia?"
"Gua berutang sama dia, Yo. Udah dua kali dia nolongin gua. Makanya, gua mau membayarnya. Elo tahu sendiri, gua gak suka berutang," jelas Dika.
"Sok banget sih elo! Sok-sokan gak mau berutang! Padahal utang elo sama gue masih numpuk." Ejek Rio.
"Itukan beda. Sama elo mah gak utang namanya. Tapi bonus pertemanan." Balas Dika.
"Dasar!"
Dika menaikkan sudut bibirnya.
"Ya udah, gua cabut ya! Nanti dia terlambat." Dika berpamitan.
Teman teman Dika yang sudah bangun menganggukkan kepalanya masing-masing.
"Eits gua lupa lagi." Dika kembali masuk kedalam kamar.
"Yo, gua minjam mobil elo ya. Soalnya, motor gua lagi dibengkel." Ucap Dika.
"Ok. Kuncinya diatas meja bawah ya. Sekalian cuciin nanti ya."Jawab Rio.
Dika pun berlalu dari hadapan mereka.
Sepeninggalan Dika, teman-temannya membicarakan dirinya.
"Kurasa Dika suka sama tuh cewek," ucap Andi.
"Iyakan! Hanya saja, dia tidak menyadari perasaannya." sambung Rio.
"Sampai kapan dia akan bersikap bodoh?" Andi menimpali.
"Hadeh!! ngapain elo urus urusan Dika, Elo urus saja pernikahan elo yang gagal di malam pertama itu," Rio kembali menjatuhkan dirinya keatas kasur lagi.
"Kurang ajar elo, Yo!" Andi memukul kepala Rio dengan bantal.
"Btw, Hana itu cantik gak?" Tanya Andi lagi.
"Mana gua tahu. Itukan tergantung pandangan orang. Siapa tahu gua bilang cantik, padahal sama elo gak cantik. Siapa tau juga sebaliknya." Balas Rio lagi.
"Menurut pandangan elo gimana?"
"Cantik sih. Cuman dia kayaknya cewek yang sopan dan baik sih."
"Cantikan siapa? Susi atau Hana?" Mungkin Andi sangat penasaran dengan perempuan bernama Hana itu.
Rio berfikir sambil membandingkan keduanya. Sebuah jawaban muncul di kepalanya. "Cantikan Susi sih. Ya karena dia seksi dan punya body bagus. Tapi Hana juga lumayan, tapi dia gak seksi."
"Dasar elo! Emang liat cewek cantik itu dari keseksian apa?" celoteh Doni tiba-tiba.
Sementara itu, Dika sudah sampai didepan rumah Hana. Ditatapnya Hana yang sedang berjalan kearahnya dari kaca mobil.
"Ehk, ada mas tampan!" Pembantu Hana yang seperti orang kaya dan seperti ibu-ibu arisan kelas atas itu menyapa Dika dari gerbang.
"Halo bi," sapa Dika juga.
"Mas Dika mau nganterin non Hana ya?"
"Iya bi. Bibi mau ikut?"
"Aduh, seandainya bisa mas, bibi mau nempel terus sama mas Dika," celoteh si pembantu.
Hana masuk kedalam mobil. Dia duduk di samping Dika.
"Mending bibi kerja deh. Jangan godain Dika Mulu." Hana mengatakannya sambil tersenyum. Mungkin Hana hanya bermaksud bercanda.
"Ahk..si non, non Hana takut ya, mas Dika nya suka sama bibi,"
"Apaan sih bi! Ayo Dika, kita pergi." Ucap Hana dari kaca mobil yang terbuka.
"Kami pergi bi. Daaaa" Dika melambaikan tangannya.
"Ih..mas Dika kok baik banget sampai pamitan sama bibi. Nanti datang lagi ya mas Dika." Si bibi tersenyum kesenangan banget.
"Udah Dika, tinggalin aja. Bibi kesenangan tuh," desak Hana.
Dika melajukan mobilnya meninggalkan rumah Hana.
"Elo memang harus langsung kerja ya?" Tanya Dika sambil menyalakan musik.
"Iya. Soalnya, kemarin aku gak masuk kerja karena ngurusin pernikahan Aleta." jawab Hana.
"Ohk." jawab Dika singkat.
Mereka berdua terdiam. Dika fokus mengemudi, sedangkan Hana fokus deg-degan. Setiap kali dia bersama Dika, pasti jantung itu terasa mau melompat dari tempatnya.
Setelah sampai di depan kantor, Hana melambaikan tangannya. Dia juga mengeluarkan jurus yang membuat Dika merasa senang. "Makasih Dika," berteriak sambil tersenyum. Itu adalah hal yang disukai Dika dari Hana.
Dika hanya mengangguk. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sekarang, Dika akan pergi ketempat Susi.
Diperjalanan kerumah Susi, Dika melihat seorang wanita sedang berdiri. Segera saja dia mendekat dan menyapa, "Hai,Ren."
Perempuan itu menundukkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya dari dalam mobil. Daebak! Itu Dika, pikirnya.
"Dika...Hi my Beby honey sweetie." Irene langsung berbinar-binar.
"Mau kemana?" Tanya Dika.
"Nih mau kerumahnya Papa. Tapi mau nungguin taksi dulu." Jawab Irene.
"Ohk. Mau gue antar?" Tidak seperti biasanya, tiba-tiba saja Dika berbaik hati menawarkan bantuan.
"Serius nih?" Tanya Irene berbinar-binar.
"Serius dong. Elo mau gak?"
"Tentu saja." Balasnya langsung masuk kedalam mobil. Dia duduk disampingnya Dika. Tersenyum lebar dan merasa beruntung.
Dika dan Irene memang sudah pernah pacaran. Dan itu waktu mereka SMA dulu. Dimana wanita itu mengejar-ngejar sampai Dika kasihan padanya. Tapi hubungan mereka sempat putus, ketika Irene memilih untuk kuliah.
Namun, siapa sangka, mereka berjumpa lagi kemarin. Tapi tidak ada lagi hubungan pacaran, hanya sebatas mantan pacar. Dika juga mau nemenin Irene keluar, namun dengan syarat harus dibayar.
mampir juga yuk dinovelku
padahal masih ada surat dari hana yg dibawah bi sumi. belum sampai ketangan dika dari situ bisa dijadikan bahan thor .
maaf bukan maksud apa apa, hanya saja kok endingnya jadi gantung gitu gk enak aja jadinya 🙏