Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir..... Salah sebut
" Mas kamu kenapa sih, aneh banget, baru juga di pegang sedikit masak sudah ga kuat, mana main sembur ke muka ku lagi, kesel", Seruni memarshi Yoga ketika keluar dari kamar mandi mendapati Yoga yang masih terduduk lemas bersankankan sandaran tempat tidur.
" Maaf Run, mungkin karena rasa kangen mas sudah diubun ubun dari pagi sehingga ga bisa nahan", alasan Yoga menutupi rasa malunya.
" Alasan, mana ada kamgen kok mudah gitu, belum juga apa apa", Jawab Seruni sebal.
" Ya sudah mas pulang dulu, sudah malam ya, nanti kalau kangen sama mas telpon saja", Yoga membereskan pakaian dan memakainya kembali, kemudian langsung pulang.
" Ya, jangan lupa transferannya, ga ada yang gratis mas walau gagal masuk", Seru Seruni.
Yoga cuma mengangguk lemar, kessl dengan keadaannya yang sangat aneh, baru terjadi sekali seumur hidupnya, lagian tumben tumbenan saat bersama Seruni teringat Menur biasanya juga sebaliknya, saat bersama Menur teringat Seruni.
Di sepanjang jalan Yoga tak habis pikir dengan kejadian yang dia slami barusan.
Sesampai rumah dia melihat ibunya tengah menonton televisi tanpa Menur.
" Menur sudah tidur bu?", sapa Yoga ketika melewati ruang televisi hanya melihat ibunya.
" Sholat sepertinya dikamar", Jawab ibunya, karena bu Salim tadi mendengar Menur mengaji.
" Oh, Yoga ke kamar dulu bu", Pamit Yoga pada ibunya.
" Ya". Jawab bu Salim singkat fokus dengan televisi.
" Mas ", Menur segera beranjsk dari sajadahnya menghampiri Yoga ketika melihat Yoga masuk kamar dan mencium punggung tangan Yoga.
" Sudah makan?", Tanya Menur penuh perhatian.
" Belum", Jawab Yoga singkat.
" Menur siapkan ya?", Menur segera melepas mukenanya dan merapikan.
" Ya, bikin kan mas kopi pahit juga sama makanan berkuah", Jawab Yoga.
" Ya mas", Jawab Menur memandangi Yoga yang nampak lusuh dan bau sesuatu yang beda menurut Menur.
" Mas sakit?", Tanya Menur hati hati.
" Hemm".
" Mau di pijat dulu?", tanya Menur hati hati lagi.
" Tidak, mas mau mandi saja, cepat buatkan kopi dan sup", Yoga segera masuk kamar mandi sadar Menur tengah memandangi dirinya dengan tatapan mata penuh berjuta tanya karena melihat Yoga yang nampak aneh.
Menur segera menuju dapur, meski ada rasa aneh terhadap diri Yoga.
" Kopinya itu mas," Menur menunjuk secangkir kopi yang tersaji diatas meja, sementara Menur masih menyiapkan sup buatan mbak Nah tadi sore sebelum pulang.
" Sup apa ini?", Tanya Yoga menunjuk pada semangkuk sayur sup yang sudah tersaji dengan kepulan asap menggugah selera.
" Sup buntut masakan mbak Nah tadi sore sebelum pulang", Jawab Menur seraya menaruh secawan kecil sambal kecap di dekat Yoga.
" Mau pakai jeruk?", Tanya Menur.
" Iya mau, krupuk udang sama tempe gorengnya ada?", Yoga yang suka dengan tempe goreng selalu menanyakan menu kesukaannya itu jika hendak makan.
" Apapun makanannya .... lauknya tempe goreng guys", Menur terkekeh menunjukkan tempe goreng yang telah siap fisantap bersama sup buntut.
" Makanan favorit, seperti dirimu Nur", Kekeh Yoga sambil menyeruput kuah sup.
" Hem.... Nasibku sama dengan tempe goreng dibutuhkan hanya untuk dimakan hiks", Menur terkekeh dengan wajah pura pura sedih, Yoga malah langsung tertawa lebar.
" Habis kamu itu enak dan gurih kayak tempe goreng ini Nur, mas selalu membutuhkan keberadaanmu ... selalu", Kekeh Yoga.
" Iya, selalu setiap mau makan... itu jika di ujang lapar", Sinis Menur dengan merengut.
" Hahahaaa.... ", Yoga tertawa lebar.
" Mas kapan kapan kita kedokter kandungan ya", Ucap Menur kemudian.
Yoga masih mengunyah makanannya hanya diam, namun setelah selesai makan Yoga pun langdung menjawab.
" Menur dulu ya, mas yakin mas sehat kok, selama inibmas dudah tidak minum, merokok pun jarang", Elak Yoga.
" Oke jika begitu dalam minggu ini Menur akan visit ke dokter kandungan, sendiri? Tanpa mas?", Menur menyakinksn Yoga.
" Iya sendiri saja, ga masalah kan?", Tanya Yoga.
" Tidak, Iya Menur bisa sendiri, lagian selama ini Menur selalu konsultasi dengan sahabat Menur yang kebetulan menjadi dokter kandungan ya meski hanya lewat pesan mas", Jelas Menur.
" Baguslah! Tapi dokternya cowok atau cewek Nur?", Tanya Yoga dengan wajah tidsk suka.
" Ya dokter kandungan mas, hmm...", Tidak menjawab cowok atau cewek nsmun segera beranjak mrmbereskan meja makan dan bekas makan Yoga.
" Heh! dokternya lelaki atau perempuan?", Tanya Yoga lagi dengan sedikit nada tinggi.
" Dua duanya", Menur tersenyum menjawab pertanyaan Yoga, membuat Yoga melotot makin tidak suka.
" Kenapa? Jangan marah gitu dong, Menur sih nurut saja mas maunya Menur fi periksa sapa dokter yang mana, yang cewek atau yang cowok, jika boleh memilih Menur sih maunya yang Cowok mas", Perkataan Menur seperti menantang, membuat Yoga makin terlihat marah.
" Nur, jangan kesenangan karena di periksa dokter ganteng, lebih baik pilih dokter perempuan saja, kamu bisa lebih terbuka saat menceritakan keluhanmu". Jawab Yoga.
" Bukan karena mas cemburu jika Menur di periksa dokter ganteng?", Menur mengeryitkan kening memandang manik hitam Yoga.
" Semua orang tahu kamu istriku, tidak akan ada yang berani mrnggodamu Nur, jangan sok kecentilan", Jawab Yoga menyerigai percaya diri.
" Iya betul, tapi di kampung ini, namun jika di kota siapa yang tahu Prayoga Salim, artis atau pejabat pemerintah? bukan! Mas Xoga hanya pedagang Ayam, jadi! dokter kandungan di kota tidak mungkin kenal mas... kecuali....", Menur menjeda ucapannya.
" Kecuali apa?", Tanya Yoga.
" Kecuali.... yang menjadi dokter kandungan adalah mantan mas", Jawab Menur lirih, dan segera masuk kamar tidak ingin melanjutkan debatnya dengan Yoga, rasanya hari ini melelahkan, Menur ingin segera istirahat.
" Nur, sebelum ke dokter mas cas dulu ya, biar nanti pas di periksa sudah ada hasilnya", Yoga tersenyum licik, sambil menelusuri tengkuk Menur yang sudah merebahkan dirinya dikasur.
" Mas, sudah malam ini", Menur yang sudah mencoba memejamkan mata akhirnya menjawab.
Tapi Yoga terlalu pintar kalau hanya di beri alasan seperti itu tidak skan mempan.
Tangannya terus bergerilya hingga Menur tidak kuat dan akhirnya mendesah pelan.
" Mas", sebutrnur pada Yoga dengan suara desahan.
' Hem.... iya, nikmati saja, kalau mau sambil tidur juga boleh biar mas yang kerja sendiri", Ucap Yoga dengan tangan yang semakin nakal.
" Mas.... ".
" Hmmm....",
" Mas....",
" Mas, jangan begini, mana bisa Menur tidur jika begin.... Ach, mas", Menur mencekerang erat lengan Yoga.
" Nur, puasin mas malam ini, Nur... mas mau NUR...", Yoga benar benar tak habis pikir hari ini benar benar aneh, rindu berat dengan Seruni tapi begitu ketemu Seruni langsung terjadi hal di luar dugaan.
" Mas... Achhh", Menur yang tadinya sudah mengantuk malah sekarang menjadi yang agresif.
" Run.... Acchhh.... Nur... ayo Nur, yang lebih kencang lagi... Run", karena kepikiran hal yang tadi bersama Seruni sehingga membuat Yoga tanpa sadar menyebut nama Seruni saat berdua dengan Menur.
Setiap karyaku adalah ori hasil mengubek isi otak author sendiri, harap di maklum jika masih banyak hal kurangnya🙏🙏🙏
Silahkan like, kritik dsn sarannya😘😘😘
Baca juga karyaku yang lainnya🙏🙏🙏**
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat