Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Cincin Berlian dan Hati yang Bergetar
Kevin dan Jason sama-sama merasa punggung mereka dingin.
Jason adalah orang pertama yang menyerah.
"Oke," katanya sambil berdiri dari meja makan The Residence. "Gue ingat tiba-tiba ada urusan sangat penting yang tidak melibatkan tatapan Bu Felicia yang manis tapi mengancam."
Felicia tersenyum. "Saya tidak mengancam."
"Justru itu yang menyeramkan."
Kevin menunjuk pintu. "Pulang."
Jason mengangkat kotak croissant yang tersisa. "Gue bawa ini. Jangan sampai Kevin makan semua, nanti dia lupa jadi manusia."
"Jason."
"Iya, iya. Gue pergi." Jason berjalan ke arah pintu, lalu berbalik pada Felicia. "Bu Felicia, kalau Kev terlalu dingin, telepon gue. Gue punya banyak cerita memalukan masa kecil dia."
Felicia langsung cerah. "Benarkah?"
"Tidak," kata Kevin.
"Banyak," kata Jason bersamaan.
Kevin berdiri.
Jason lari.
Felicia tertawa sampai bahunya bergetar. Suara itu tertinggal di ruang makan bahkan setelah pintu utama tertutup.
Kevin menatapnya dari samping.
*Jason memang seperti golden retriever. Kalau benar dia pacar rahasia Kevin, seleranya... unik. Tapi lucu juga sih.*
Kevin memejamkan mata.
Ia seharusnya mengirim Jason ke luar negeri seminggu.
"Felicia."
"Ya?"
"Berhenti memikirkan Jason."
Felicia menoleh tajam. "Saya tidak..."
Kevin diam.
Ia baru menyadari kesalahannya.
Felicia menyipit. "Mas Kevin kenapa tahu saya memikirkan Jason?"
"Wajahmu."
"Wajah saya difitnah terus."
"Memang begitu."
Felicia menatapnya beberapa detik, lalu memutuskan belum punya cukup bukti untuk curiga lebih jauh. "Baiklah. Saya tidak memikirkan Jason."
*Aku memikirkan Kevin yang memikirkan Jason. Beda tipis.*
Kevin berbalik menuju ruang kerja sebelum kepalanya sakit.
Sore itu, Felicia menghabiskan waktu di ruang kecil dekat taman, menyusun catatan tentang keluarga Surya. Ia membuat kolom: Madam Liem, Brandon, Richard, Stella, Wijaya, dan tanda tanya besar bernama rencana Kevin.
Bola tidur di area belakang setelah makan. Sesekali ia mengeluarkan suara kecil. Kevin tidak turun dari lantai tiga, tapi Felicia memastikan staf tidak membawa Bola melewati jalur utama.
Menjelang malam, Pak Budi datang membawa kotak beludru hitam.
"Bu Felicia, Pak Kevin meminta Ibu ke perpustakaan kecil."
"Sekarang?"
"Iya, Bu."
Perpustakaan kecil The Residence berada di sisi timur lantai dua. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi hangat. Rak buku kayu gelap menutupi dinding, lampu meja menyala lembut, dan jendela menghadap taman yang basah setelah disiram petugas.
Kevin berdiri di dekat meja. Di depannya ada beberapa dokumen dan satu kotak beludru yang sama dengan yang dibawa Pak Budi.
"Duduk," katanya.
Felicia duduk. "Ada rapat kontrak?"
"Semacam itu."
Kevin mendorong dokumen ke arahnya. "Mulai minggu depan, kamu akan lebih sering hadir di acara keluarga dan kegiatan Surya Foundation. Beberapa orang akan mencoba mengabaikanmu karena statusmu dianggap hanya istri kontrak."
Felicia mengangkat alis. "Mereka tahu?"
"Sebagian menebak."
"Dan?"
Kevin membuka kotak beludru.
Di dalamnya ada cincin berlian.
Bukan cincin pernikahan yang sudah ada di jarinya. Yang ini lebih ramping, elegan, dengan batu utama bening berbentuk oval dan deretan berlian kecil di sisi kiri kanan. Desainnya tidak norak, tapi kilauannya membuat Felicia lupa cara bernapas selama dua detik.
"Pakai ini untuk acara keluarga," kata Kevin.
Felicia menatap cincin itu. "Mas Kevin, ini..."
"Simbol akses."
"Akses?"
"Orang yang melihat cincin ini tahu kamu memiliki izinku untuk bertindak atas namaku dalam urusan tertentu."
Felicia berkedip. "Jadi ini bukan hadiah?"
"Bukan."
"Bukan cincin romantis?"
"Bukan."
"Cuma alat kerja?"
"Ya."
Felicia menatapnya lama, lalu menatap cincin lagi.
*Alat kerja katanya. Berlian segede ini kalau masuk museum bisa jadi objek wisata. Orang kaya kalau bikin ID card kok bentuknya cincin miliaran?*
Kevin menurunkan pandangan ke dokumen agar wajahnya tidak terlihat terlalu puas.
Ia tahu Felicia menyukainya.
Sangat menyukainya.
"Kalau keberatan, tidak perlu."
Felicia langsung menutup kotak dengan kedua tangan. "Saya tidak bilang keberatan."
Kevin mengangkat alis.
Felicia berdeham. "Maksud saya, kalau ini bagian dari strategi, saya akan memakainya dengan tanggung jawab."
*Tanggung jawab untuk tidak menjerit karena cantik banget.*
Kevin mengambil cincin itu.
"Tangan."
Felicia mengulurkan tangan kanan, lalu ragu. "Jari mana?"
"Kanan."
Sentuhan Kevin mengenai ujung jarinya.
Ringan.
Tapi cukup membuat punggung Felicia menegang.
Kevin memakaikan cincin itu di jari manis kanan. Ukurannya pas. Terlalu pas untuk sesuatu yang katanya hanya alat kerja.
Felicia menatap cincin itu. Berlian kecil menangkap cahaya lampu, memantulkan titik-titik putih di kulitnya.
*Dia ukur kapan? Jangan-jangan pakai data staf. Atau dia lihat jariku? Ya ampun. Kenapa jantungku ikut rapat keluarga?*
Kevin masih memegang tangannya.
Ia sadar terlambat.
Felicia juga sadar.
Keduanya menatap tangan mereka yang bersentuhan.
Tidak ada bantal pembatas. Tidak ada alasan kaki lecet. Tidak ada Bola. Tidak ada Jason.
Hanya tangan Kevin yang besar dan dingin sedikit, menahan jari Felicia dengan sangat hati-hati.
Kevin melepaskan lebih dulu.
"Jangan hilangkan."
Felicia menarik tangan ke pangkuan. "Tidak akan."
"Kalau ada yang mempertanyakan posisimu, tunjukkan itu."
"Kalau masih tidak percaya?"
"Sebut namaku."
Felicia menatapnya.
Kalimat itu sederhana. Tapi di dunia mereka, menyebut nama Kevin berarti menggunakan perlindungannya.
*Dia benar-benar memberi aku hak masuk ke wilayahnya. Cowok es batu ini... sebenarnya hangat dari sisi mana sih?*
Kevin berdiri cepat. "Baca dokumennya."
"Mas Kevin."
Ia berhenti.
"Terima kasih."
Kevin tidak menoleh. "Itu alat kerja."
"Saya tahu."
"Jangan senang berlebihan."
Felicia menahan senyum. "Baik."
*Sudah terlambat. Aku senang.*
Kevin keluar dari perpustakaan kecil dengan langkah kaku.
Di koridor, ia berhenti sebentar, menekan buku jarinya ke bibir.
Di dalam perpustakaan, Felicia masih memutar cincin itu pelan di jarinya. Beratnya tidak mengganggu, tapi kehadirannya jelas. Seperti tanda kecil bahwa mulai malam ini, ia bukan hanya tamu di permainan keluarga Surya.
"Si Kepo," bisiknya, "ini benar-benar cuma akses?"
***"Secara fungsi, iya. Secara emosi, silakan Host nilai sendiri."***
"Jangan sok bijak."
***"Update: Love Meter naik. Angka sekarang sebelas."***
Felicia terdiam, lalu menunduk menatap berlian di jarinya.
*Sebelas. Dari delapan. Karena cincin alat kerja? Bohong banget kalau bilang ini cuma administrasi.*
Ia menutup dokumen dengan lebih hati-hati dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, nama Kevin di atas kertas kontrak tidak terasa seperti rantai, melainkan seperti pintu yang baru terbuka sedikit.
Malam itu hampir terasa damai.
Hampir.
Sampai Adi datang dengan wajah tanpa ekspresi membawa kabar dari Surya Mansion.
"Pak Kevin, Bu Felicia," katanya di ruang keluarga. "Madam Liem mengirim tiga sekretaris baru untuk membantu pekerjaan Pak Kevin mulai besok."
Felicia mengangkat wajah dari dokumen.
Kevin menatap Adi.
Adi melanjutkan, "Semua perempuan. Semua direkomendasikan langsung oleh Madam Liem."
Felicia melihat cincin di jarinya, lalu tersenyum pelan.
"Oh," katanya. "Jadi Mama mengirim hadiah juga."