Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20_Pertanyaan Itu Lagi
Mereka berpelukan hangat setelah memadu kasih dengan romantis. Tak lama Neva beranjak lebih dulu. Ia duduk disisi ranjang dengan berbalut selimut untuk menutupi tubuhnya. Sedetik kemudian ia mengingat sesuatu. Ia menoleh ke arah Vano. Laki-laki itu tengah memejamkan matanya sejenak.
“Sayang,” panggil Neva.
“Hmmm.” Vano menjawab tanpa membuka mulutnya. Perlahan ia membuka mata untuk menatap istrinya. “Apa?” tanyanya.
“Bukankah kau berangkat memakai jaket?” tanya Neva. Ia menatap Vano dengan menyelidik.
Vano memiringkah tubuhnya dan membalas tatapan Neva. Ia telah menyiapkan kalimat penjelasan yang sekiranya tidak akan menyingung dan membuat Neva cemburu.
“Tadi aku mengajak si tampan mampir ke toko mainan lalu kita bertemu Yuna disana.”
Dalam otak Neva langsung memproses jika jaket Vano pasti ada pada Yuna.
“Yuna kehujanan. Si kecil dengan perhatian membuka jaket yang ia pakai lalu memberikannya pada Yuna tapi ternyata dia mengigil setelah melepas jaket hangatnya.” Vano melanjutkan. Suaranya halus penuh pertimbangan saat
mengucapkannya. Ia tidak ingin Neva bersedih karena merasa cemburu tentang jaket itu. “Kemudian si pintar Arai menggosok telapak tangannya dan meletakannya di pipi Yuna.”
Neva langsung meleleh mendengar cerita Vano.
“Ummm so sweet sekali pangeran tampanku,” ujarnya dengan kekaguman. Ia kemudian sadar
apa yang terjadi selanjutnya tanpa harus mendengar cerita lagi dari Vano. Ia mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Vano. Melampiaskan kegemasannya. “Gemes, gemes, gemes,” ucapnya. Vano terkekeh. Ia membiarkan Neva mencubit pipinya hingga puas.
“Makan malam diluar, Yuk.” Ajak Vano. Ia mengambil tangan Neva dari pipinya lalu menciumnya. Neva mengangguk menyetujui.
Setelah membersihkan diri. Mereka makan malam di luar. Mobil Vano melenggang pelan di jalanan kota B. Mereka berdua masih bingung ingin makan apa dan dimana. Hingga akhirnya mereka memilih restoran mewah milik salah satu pengacara kondang negara I.
Mereka masuk kedalam dan langsung disambut dengan sangat ramah. Kemudian sebuah suara
menyapa mereka dari belakang.
“Hai ….” Seorang teman laki-laki bersama pansangannya menyapa.
“Hai, Nico,” jawab Vano. Sementara Neva menjawabnya dengan senyum ramah. Pun juga
dengan Vano ia tersenyum ramah. Dia dan temannya saling menanyakan kabar.
Vano menjabat tangan Nico setelah temannya itu memberitahukan jika sekarang istrinya tengah mengandung. Baru jalan dua bulan.
“Selamat,” ucap Vano yang diikuti Neva. Neva menjabat tangan istri Nico dan tersenyum
bahagia. Ia turut bahagia mendengar kabar itu.
“Terima kasih, kawan,” jawab Nico. “Kapan kamu nyusulnya? Nikahnya duluan kamu, punya anaknya duluan aku, hahaaa.” Gurau Nico. Tapi itu seperti anak panah yang ditancapkan pada hati Neva. Senyum di bibirnya seketika memudar. Ia merasa
menjadi wanita yang gagal.
“Kita diberi waktu untuk pacaran lebih dulu. Do’akan saja, semoga segera menyusul,” jawab Vano masih dengan senyum. Tangannya terangkat dan memeluk pinggang Neva.
“Aamiin. Semoga segera menyusul. Kalian harus rajin kontrol kedokter, cek kesuburan, minum
vitamin, jika perlu kalian juga harus meminum ramuan herbal dan yang pasti … rajin-rajin goyangnya,” jawab Nico sekaligus memberi Vano dan Neva wajangan. Wejangan atau sok tahu dan memamerkan kesuburannya? Entahlah, mari berfikir positif saja. Tentang itu semua, Vano dan Neva lebih tahu dari dia. Dokter yang menangani
mereka bahkan dokter senior dan nomor wahid di negara ini.
Setelah selesai makan malam, Vano tidak langsung membawa Neva kembali pulang. Gadis itu
menjadi sangat diam. Dia memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil. Memperhatikan lampu-lampu malam yang terlihat begitu indah. Sesekali ia melihat papan iklan yang berada di sisi jalan. Dan sebenarnya ia tidak tahu apa yang dia perhatikan, ia bahkan tidak sadar mengigiti kukunya.
Vano diam memperhatikannya. Ia tahu Neva kembali terluka dengan pertanyaan yang baru
saja ia dapatkan. Seolah tidak ada pertanyaan lain ketika bertemu dengan pasangan yang lama tidak memiliki momongan, pertanyaan yang sama yang terulang lagi dan lagi. Ia tidak paham, apakah pertanyaan itu adalah bentuk dari perhatian, atau basa-basi atau apa namanya. Yang pasti pertanyaan itu selalu membuat Neva menjadi murung. Memang awalnya biasa saja tapi semakin lama, semakin ia tersiksa dengan pertanyaan itu.
Vano mengulurkan tangannya dan meraih tangan Neva. Sentuhan hangatnya membuat Neva tersadar. Wanita itu segera membawa pandangannya pada Vano.
“Kunci apa yang paling berharga?” Vano memberi tebakan. Tangannya mengusap halus tangan istrinya. Bibir Neva sedikit melengkung. Sebuah senyum kembali menyapa.
“Kucintaimu … seumur hidupku. Selamanya ….” Jawab Neva dengan seuntai senyum di bibirnya.
Ia sudah sangat hafal gaya Vano jadi sekarang, ia bisa menebaknya dengan mudah.
Vano terkekeh. Ia menatap wajah Neva sambil memperhatikan jalanan.
“Mencintaimu selamanya juga ….” Jawab Vano. Itu membuat Neva tersenyum lebar. Ia mendekatkan
dirinya dan menyandarkan kepalanya di pundak Vano.
Tak lama kemudian, Vano memarkirkan mobilnya di sebuah wisata berbukit.
Kedua tangan saling mengenggam saat mereka mulai menaiki bukit. Ada beberapa pegunjung yang juga baru sampai. Pengunjung yang kebanyakan adalah muda mudi. Kedua tangan yang saling mengenggam itu saling berayun dengan penuh canda. Vano mulai bercerita tentang kisah konyol.
Kemudian mereka melihat seorang pemuda yang berjalan di depan mereka membuang botol bekas air mineral begitu saja. Neva dan Vano saling pandang melihat itu. Ia ingat si kecil.
“Maaf, Bung,” Vano menegurnya. Dia sedikit mengeraskan suaranya kemudian jongkok untuk
mengambil botol sampah itu. Seseorang itu menoleh. Ia terkejut saat mengetahui siapa yang memanggilnya, terlebih adalah pasangan wanitanya. Mereka sangat mengenal siapa sosok Vano dan Neva. Pasangan yang mereka kagumi. Pasangan yang selalu romantis dan harmonis menurutnya. Mereka berdua adalah salah satu dari
jutaan followers NeVaNo.
Vano mengulurkan tangannya dan memberikan apa yang ia pegang.
“Bisakah anda membuangnya di tempat sampah?” ujar Vano. “atau jika anda tidak menemukan tempat sampah, bawa saja hingga anda menemukan tempat sampah.” Lanjutnya.
Dua pasangan muda mudi itu mengangguk dengan patuh. Sang lelaki segera menerima sampah yang tadi ia buang.
“Baik, Tuan muda Vano. Saya akan membuangnya ke tempat sampah,” ucap seseorang itu. Kemudian pasangan wanitanya menyapa Neva.
“Aku menonton live streming acara kakak tadi pagi,” ujarnya.
Neva tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia juga berpesan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya.
Pasangan itu mengiyakan dan berjanji. Kemudian mereka meminta berswafoto. Setelah itu mereka berpisah. Tak lupa, mereka langsung membagikannya pada saat itu juga di akun social medianya. Ia pamer keberuntungannya malam ini, bisa bertemu pasangan idola.
Setelah sampai diatas. Vano dan Neva memilih untuk duduk diatas rumput dengan beralaskan tikar bambu. Ada tempat khusus sebenarnya tapi mereka memilih untuk duduk dan berbaur dengan alam. Jika hanya menyaksikan keindahan malam dari ketinggian, puncak gedung hotel milik Vano lebih menakjubkan lagi dari pada ini.
“Sayang,” panggil Neva. Vano menoleh menatapnya tapi Neva tidak menoleh kearahnya. Gadis itu memperhatikan kerlip lampu di bawah sana.
“Kenapa?”
Neva mengambil dafasnya panjang lalu menoleh kearah Vano. Menatap mata suaminya dengan dalam.
“Bagaimana jika kita mengadopsi seorang bayi,” ucapnya. Manik matanya begerak penuh kecemasan.
Vano diam.
“Itu tidak masalah bukan? Barang kali setelah mengadopsi bayi, aku bisa segera hamil. mungkin setelah memberi perhatian pada bayi yang belum beruntung di panti asuhan, kita bisa segera memiliki momongan. Mungkin setelah kita mengurus bayi, akan ada bayi setelahnya dan itu anak kita.”
Vano mengambil nafasnya panjang.
“Aku sudah menjawab ini tadi siang.”
“Barang kali, kau berubah pikiran.”
Vano menggeleng.
“Bukankah mengadopsi seorang bayi dari panti asuhan itu sangat mulia. Kita memberinya kasih sayang sebagai orang tua yang tidak ia dapatkan. Paling tidak, kita telah menyelamatkan satu bayi yang malang.”
“Hatiku belum semulia itu, Neva,” jawab Vano. Ia masih menatap mata Neva. Sejujurnya ia kecewa Neva kembali membahas ini. Dia mengajak Neva kesini untuk saling bercerita dan berbicara tentang sesuatu yang indah. Tentang hal yang tidak membuat mereka sedih.
Kini Neva yang diam. Ia menunggu Vano melanjutkan ucapannya.
“Aku ingin anak pertama kita adalah buah dari cinta kita. Darah daging kita. Bukan anak orang lain. Hatiku tidak semulia yang kau ceritakan, aku takut tidak bisa menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Aku khawatir jika nanti perlakuanku tidak adil pada mereka, bukankah itu akan menyakitinya.”
Neva mengalihkan pandangannya, pun juga dengan Vano. Mereka sama-sama diam setelah itu.
***@***
Di rumah Tuan muda Leo.
Saat ini Leo menemani Arai tidur. Itu setelah membujuk si kecil untuk menyudahi permainan robot barunya.
Leo mengusap menepuk-nepuk pantat anaknya pelan dan sebuah kehalusan dari tangannya. Kebiasaan dari pertama si kecil di lahirnya.
“Daddy, adopti itu mengangkat teorang anak dari orang lain bukan?” tanya si kecil memastikan. Dia mendongak menatap Daddynya.
“Iya. Kenapa kau menanyakan itu?”
“Tante tantik ingin mengadopti ceorang bayi lutu katanya,” jawab Arai dengan polos. Ia memeluk Daddynya.
Leo tertegun beberapa saat mendengar itu. Neva ingin mengadopsi seorang bayi?
“Benarkah Tante bicara begitu?” tanyanya.
Si kecil mengangguk pasti. “Huum. Tapi Paman meminta untuk bertabar tebentar lagi,” jawabnya sesuai dengan apa yang ia dengar.
“Sayang, seharusnya anak-anak tidak boleh mencuri dengar pembicaraan orang dewasa.”
“Aku tidak mencuri dengar, Daddy. Mereka berbicara saat aku tidur.”
Leo terkekeh, “Kau tidur tapi kau bisa dengar,” ujarnya dengan senyum lebar. Ia mencibit gemas pipi anaknya.
“Huum. Aku belum benar-benar tidur,” jawab Arai nyengir.
“Bisakah kau berjanji pada Daddy, jagoan?”
“Apa?”
“Daddy mohon, pangeran kecil jangan cerita tentang itu pada Oma dan yang lainnya. Okey. Kau bersedia?”
Si kecil mengangguk dengan pasti. “Ya, Daddy. Aku janji,” ia menawarkan jari kelingkingnya pada Leo. Leo membalasnya, mereka menyatukan jari kelingking.
“Pintar,” puji Leo sambil mengusap kepala putranya dengan lembut. .
_______
Catatan Penulis.
Up hari ini banyaaaakkk. Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 😘 Padamu 😘 Luv luv.
masih tetap di sana atau gimana ya?
Leo dan Yuna ditakdirkan selalu bersama,menua bersama oleh kakak author.
kalo Kiara migrasi ke Mars 🤣🤣