Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditipu Ashqar
Rahma nyaris tak bisa menahan kebahagiannya ketika suara mesin mobil Ashqar terdengar memasuki halaman rumah. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Zaini dan melepas rindu dengan keponakannya itu.
“Biar Ashqar masuk dulu tho, Dek,” kata Dani yang berdiri di samping Rahma. Dani menggelengkan kepala melihat keantusiasan wanita tiga puluh tahun yang menjadi istrinya itu.
Rahma terus memintanya untuk segera pulang saat mereka berada di restoran, beralasan bahwa ada urusan mendesak yang harus segera wanita itu lakukan. Dani berusaha untuk meminta Rahma tinggal sebentar karena istrinya itu belum makan barang sesuap, tapi Rahma begitu keras kepala dan memaksa Dani untuk segera pulang. Baru di perjalanan Dani diberitahu bahwa Ashqar mengatakan sudah menemukan Zaini.
Tanpa ambil pusing ucapan Dani, Rahma menyerbu Ashqar di pintu depan. Seakan-akan Ashqar adalah orang yang memegang bendera merah di tengah gelanggang adu banteng, target utama.
“Assalamu’alaikum,” sapa Ashqar, setengah kaget mendapati Rahma yang sudah menunggunya di depan pintu.
“Wa’alaikumussalam. Ayo masuk.” Rahma membimbing Ashqar ke ruang tamu. Hal yang tidak pernah Rahma lakukan kepada Ashqar sejak perempuan itu berkeluarga.
Ashqar terlihat heran, tapi fokusnya masih berat pada Zaini. Jadi ia tidak ingin ambil pusing dengan kelakuan aneh Rahma. Bahkan ketika kakak perempuannya itu sudah menyiapkan suguhan, Ashqar hanya melirik Dani yang melayangkan tatapan menyerah. Seakan berkata, “Aku juga nggak tahu.”
“Di mana Zain?” tanya Rahma begitu Ashqar duduk, celingak-celinguk mencari keberadaan keponakannya.
Kerutan di dahi Ashqar semakin dalam. Namun, saat ini ia sedang malas berdebat dengan Rahma walaupun sebenarnya ia sudah menyadari jika sepertinya Rahma telah salah paham.
“Nggak ada, Mbak.”
Rahma tertegun. Pikirannya memproses ucapan Ashqar dengan lambat, batinnya bertanya-tanya, apakah ia salah dengar atau adiknya ini sedang main-main dengannya?
“Maksud kamu apa?” tanya Rahma pada akhirnya. “Tadi kamu bilang sudah menemukan Zain.”
Ashqar memandangnya lelah. “Iya, Mbak. Aku menemukan Zain, tapi aku masih belum yakin apakah anak itu Zain yang aku cari.”
Ashqar yakin sebentar lagi kakak perempuannya itu akan menyumpah padanya karena mengatakan sesuatu yang ambigu dan menimbulkan kesalahpahaman. Namun, beberapa detik berlalu Rahma tidak kunjung mengatakan apapun. Hingga akhirnya Ashqar memberanikan diri untuk melirik Rahma yang duduk di sampingnya.
Baru saja Ashqar membuka mulut untuk memanggil Rahma, Rahma sudah melayangkan sebuah tamparan di belakang kepala Ashqar.
“Mbak!”
“Dek!” seru Ashqar dan Dani bersamaan.
Rahma acuh tak acuh. “Kamu kalau bego kira-kira dong!” sembur Rahma, memegangi telapak tangannya yang terasa kebas. Kepala Ashqar ternyata lebih keras dari dugaannya, tahu gitu tadi ia pukul saja kepala Ashqar pake tempat tisu di atas meja.
“Kamu tadi bilang sudah menemukan Zain, terus sekarang kamu bilang Zain nggak sama kamu. Maksud kamu apa sih?”
“Tenang dulu, Dek,” ucap Dani, beranjak dari kursi single, membuat Ashqar bertukar tempat duduk dengannya. “Ashqar ‘kan juga belum cerita,” lanjutnya sambil merengkuh bahu Rahma dan mengusapnya lembut.
“Coba kamu cerita yang jelas,” suruh Rahma dengan nada ketus yang membuat Ashqar meringis, selain karena pukulan maut Rahma barusan.
Dengan penuh keraguan, Ashar mulai menceritakan kejadian yang sempat dialaminya. Mulai dari pertamuan dengan kedua anak kecil di ATM hingga kejadian ia dimaki-maki oleh perempuan yang sudah Ashqar lupakan namanya. “Gitu, Mbak. Aku berhasil minta kontak perempuan itu.” Ashqar mengakhiri cerita, menyodorkan ponselnya yang menampilkan kontak dengan nama “Perempuan Gila”.
“Jadi kamu berasumsi hanya dari sebuah nama?” tanya Rahma skeptis.
“Iya, Mbak.”
“Gimana kamu tahu kalau anak itu Zain, putramu? Nggak mungkin nama Zain hanya ada satu di dunia ini, Ashqar,” timpal Dani.
“Bagaimana dengan wajah anak itu?” tanya Rahma lagi.
♪♫•¨•.¸¸❤¸¸.•¨•♫♪
Nara Corner :
Hi, semuanya~
Makasih udah mampir dan baca, terimakasih juga buat dukungannya. Cerita ini masih awal jadi masih banyak hal abu-abu yang bisa kalian cari tahu, jadi ikutin terus ya kisah kerucil-kerucilnya Safira.