Clarissa Joanna Lyon Watson, seorang putri Duke satu-satunya yang awalnya punya sifat manja serta lemah berubah menjadi karakter wanita bar-bar setelah siuman dari tidur panjangnya. Dengan jiwa yang berbeda. Konflik antara ayahnya yang seorang Duke dengan Putra Mahkota yang merupakan tunangannya menjadi pemicu ketidak stabilan duchy (wilayah) Lyon yang membuat Clarissa harus turun tangan dengan memberi pelajaran pada Putra Mahkota atau membuatnya mencintai setengah mati.
jangan lupa like, komen, rate dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofantic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Villa Marquess Luke
Aku takjub melihat perubahan wajah Putra Mahkota karena efek dari sihir. Rambut blue black dengan beberapa bagian berwarna biru khas dari keluarga kekaisaran berubah coklat. Bola mata biru terang pun disulap menjadi warna senada dengan rambut. Perubahan itu tidak mengurangi wajah tampannya yang memang sudah dari bibitnya bagus. Sihir benar-benar mengerikan. Dan aku hanya merubah riasan saja dengan riasan tampak tajam.
Aku berdua dengan Putra Mahkota menaiki kereta kuda dengan tiga orang pengawal. Claude dan Ronald mengikuti dari belakang secara sembunyi, kesatria sisanya berjaga sesuai rencana. Jujur saja duduk berdua seperti ini membuatku canggung, bukan hanya teringat kembali kejadian yang dia lakukan padaku, tapi sorot matanya yang sekarang sedang menatapku begitu tajam. Seolah terus meminta jawaban atas kedekatanku dengan Claude.
'Haaaaaa... Kenapa karena sebuah nama panggilan saja begitu rumit' keluhku.
"Anda mau sampai kapan menatap saya seperti itu?" tanyaku memecah keheningan.
"Aku tidak tahu kalau kamu sedekat itu dengan Arched sampai saling memanggil nama panggilan." Jawabnya sedikit bernada gerutu. Aku menghela nafas.
"Kenapa Anda meributkan sebuah nama panggilan, sih?"
"Aku tidak suka." ujarnya tegas. Sorot matanya serasa menusuk.
"Anda cemburu?"
Putra Mahkota terdiam. Wajah kesalnya masih terlihat jelas.
"Pertunangan kita hanya sebatas ikatan politik saja yang kapan pun bisa saja berakhir karena suatu keadaan. Bukankah Anda membenci saya? Jadi berhentilah bersikap seolah Anda menjadi seorang tunangan yang cemburu."
Mendengar ucapanku sorot matanya serasa semakin menusuk. Wajah marah terlihat jelas.
"Jadi itu menurutmu?"
Tiba-tiba tanganku ditariknya yang seketika membuatku berada dipangkuannya. Lengan kekarnya merangkul pinggangku yang membuat aku susah untuk bergerak. Dalam keterkejutan aku menatap wajahnya yang tengah menatapku tajam.
"Pikirkan saja sendiri, apa sikapku ini bentuk rasa benci atau bukan." ujarnya dengan tangan menekan kepalaku mendekat ke wajahnya. Bibirku beradu dengan bibirnya. Berusaha berontakpun percuma ketika auranya menekan gerakanku. Bibir kami masih beradu, nafasnya yang berhembus terasa hangat ke wajahku. Aku kaget ditengah ciuman tiba-tiba lidahnya masuk kemulutku dan bergerak-gerak.
"Mmmhh... " Aku berusaha berontak meskipun sulit.
"Tuan, kita sudah sampai." ujar seorang kesatria tiba-tiba dibalik pintu kereta.
Putra Mahkota melepaskan ciumannya dan perlahan menggeser tubuhku kesampingnya. Dia langsung memakai topeng ketika pintu kereta kuda terbuka, bergegas aku pun memakai topeng dengan ekspresi wajah yang entah seperti apa yang jelas wajahku terasa panas. Tanpa berkata-kata Putra Mahkota turun terlebih dahulu lalu mengulurkan tangan ke arahku. Aku menyambut uluran tangannya dan turun dari kereta. Aku berjalan seraya merangkul lengannya dan mencuri kesempatan untuk mencubit lengannya yang kekar sebagai bentuk protes atas sikapnya tadi.
"Sumpah aku ingin sekali meninju wajah Anda." ujarku lirih dengan nada super kesal.
"Ppfft..."
"... Aish!!" Aku tambah kesal lalu menarik nafas panjang. Sudahlah, bukan saatnya aku merasa kesal disaat seperti ini.
Aku melihat sekeliling, tampak tamu-tamu yang lain berdatangan. Suasana sekitar tidak jauh berbeda dengan penyambutan pesta-pesta yang diadakan oleh para bangsawan kelas atas. Sehingga sekilas pesta ini terlihat seperti pesta pada umumnya. Orang lain tidak akan menaruh curiga ada sesuatu hal yang disembunyikan. Tepat di pintu masuk seorang pelayan memeriksa kartu undangan yang di bawa oleh para tamu, lalu mengecek kesesuaian nama tamu undangan. Tiba giliran aku dan Putra Mahkota. Tampak seorang pelayan mengamati kami berdua, mengecek kartu undangan lalu mengamati kami lagi.
"Lama tidak bertemu, Tuan Rowin. Badan Anda sekarang tampak berisi." ujar pelayan basa-basi. Putra Mahkota hanya mengangguk menanggapi.
"Silahkan menikmati pestanya." lanjutnya lagi seraya mempersilahkan.
Aku dan Putra Mahkota kembali berjalan memasuki ballroom lalu seorang pelayan menghampiri.
"Pesta akan dimulai sekitar dua jam kedepan. Silahkan ikuti saya menuju tempat istirahat Anda berdua." Pelayan itu membungkuk hormat lalu berjalan di depan. Kami pun mengikuti. Tamu-tamu yang lain pun sama.
Kami menaiki tangga lalu memasuki koridor dimana samping kiri dan kanan terdapat pintu-pintu ruangan. Sepanjang dinding koridor terpajang lukisan-lukisan dengan harga yang lumayan mahal. Ternyata Marquess Luke termasuk pecinta seni yang tinggi. Atau itu hanya pajangan saja untuk sekedar pamer? Entahlah.
Tepat di depan, ada koridor arah kiri dan lurus. Mataku menangkap sosok yang familiar di koridor lurus. Count Lumird, bangsawan yang berada dibawah kuasa Duchy Lyon, wilayah ayahku. Bodohnya ditempat seperti ini dia tidak memakai topeng sebagai syarat pesta. Akan jelas ketahuan identitasnya langsung. Aku melangkah perlahan seraya mengamati, dia tengah berbicara dengan seseorang. Tangan Count Lumird tampak meraih suatu benda pipih, dilihat dari bentuknya seperti sebuah buku. Sepertinya itu buku yang aku cari. Aku pikir, buku itu akan dipegang oleh Marquess Luke sendiri, ternyata aku salah. Tidak aku sangka ternyata Count Lumird yang memegangnya. Kalau tahu dia yang pegang sudah aku bobol kediamannya.
Pelayan didepanku berjalan ke koridor arah kiri, sebelum berbelok aku melihat Count Lumird memasuki kamar beserta orang disampingnya. Kamar keempat dari kiri. Sekitar tiga kamar terlewati pelayan itu berhenti.
"Ini ruangan istirahat Anda. Untuk perjamuan akan diantarkan oleh pelayan." Ucapnya seraya membukakan pintu, mempersilahkan kami masuk, pelayan itu kembali membungkuk sedikit lalu beranjak pergi dengan menutup pintu.
Aku berdiri membatu di dekat pintu. Kupikir ruang istirahat akan seperti kebanyakan di pesta ballroom lainnya. Yaitu ruangan dengan beberapa kursi sofa dan meja. Tapi ruang istirahat ditempat ini sebuah kamar lengkap, dengan tempat tidur beserta meja dan kursi sofa. Astaga, aku tidak bisa berkata-kata. Terlebih diruangan ini hanya ada aku dan Putra Mahkota yang seenaknya ini.
Aku melirik Putra Mahkota, topengnya sudah terlepas dari wajah. Dia berjalan ke arah tempat tidur lalu duduk. Seraya tersenyum lebar, dia menatapku nakal. Telunjuknya bergerak kedepan belakang mengisyaratkan aku untuk menghampirinya.
'Dia sudah gila apa?' rutukku.
Aku berjalan ke arah sofa, lalu duduk dan memeriksa barang yang aku bawa. Diabaikannya sikap genit Putra Mahkota yang tidak seperti biasanya. Iya, tidak seperti biasanya. Karena diingatan Clarissa yang dulu, Putra Mahkota dengan dingin mengabaikan keberadaannya. Sikapnya acuh hingga Clarissa sering menangis dibuatnya. Tapi apa-apaan sikapnya sekarang. Dia dengan blak-blakan menunjukan semua perasaan dan emosinya. Terhadap aku, Clarissa.
"Kalau Anda ingin istirahat silahkan, ada yang harus saya lakukan."
Aku beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti baju yang lebih simpel untuk bergerak dan tidak ketat. Aku tidak ingin pria yang berada di kamar ini berpikiran seperti Claude sewaktu di kediamannya.
"Ronald tolong awasi kamar keempat dari kiri dilantai dua. Itu ruangannya Count Lumird. Infokan kalau dia keluar dari ruangannya." bisikku lirih seraya tangan menyentuh earpiece.
"Kamu bekerja keras sekali ya untuk kasus ini?" ujarnya tiba-tiba.
Aku terdiam seraya menatapnya. Dia serius bertanya seperti itu?
"Orang yang abai karena kasus penjual belian budak harus dipertanyakan keberadaan hati nuraninya. Manusia bukan barang yang bisa dengan seenaknya di jual atau dibeli dan diperlakukan sesuai harga dan derajatnya. Mereka manusia, sama seperti kita. Mereka butuh kebebasan, butuh kebahagiaan yang bagi mereka nilai kebahagiaan tidak selalu dilihat dari materi. Dan Anda mempertanyakan kenapa saya berkerja keras?"
Aku berdiri dihadapan Putra Mahkota yang terdiam mendengar ucapanku dengan tatapan tajam. Entah apa yang ada dipikirannya setelah mendengar ocehanku itu. Dan aku tidak perduli. Yang aku pikirkan sekarang bagaimana agar kasus ini segera beres, dan para bangsawan bejat itu diberi hukuman.
(Ini pendapat pendapat aku pibadiya)
( ・∀・)
⊂_へ つ
(_)| 🙋♀️ 💕 янǟ࿔ янǟ࿔ ☘
◦•●◉✿ Terima kasih ✿◉●•◦
ʕっ•ᴥ•ʔっ 💜 ⭕ ( ͡°ᴥ ͡° ʋ) (๑•́ ₃ •̀๑)
💐🌻🌹🥀🌻⚘🦋🎀💎💘⚘🌻
✾༊᭄◉absent 🆁🄷🅰✿🆁🄷🅰 ∘̥⃟⸽⃟ ೄྀ
mirip loh tp aq suka
sehingga meleleh kan hatiku😂😂😂🥰🥰🥰🥰
Pokoknya gk rela bngt clasisa sm si pengecut putra mahkota