Kana Bintang Artana.
Laki-laki dingin yang mampu membuat hati siapapun menjerit melihatnya.
Bukan karena seram. Tetapi karena ketampanannya yang dapat membuat para gadis jatuh cinta padanya.
Begitupun Kaila. Gadis pemalu yang ikut andil menyukainya. Namun rasa sukanya memudar saat mengetahui betapa menyebalkannya seorang Kana.
Dan tanpa Kaila sadari, perlahan namun pasti, Kana mulai menunjukkan rasa sukanya pada Kaila.
Akankah keduanya berakhir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Part 19
Kaila meraih tas sekolahnya dan berjalan menghampiri Naira yang sudah siap untuk berangkat kerja.
"Kaila? Udah siap?" tanya Naira pada keponakannya tersebut.
Kaila tersenyum. "Udah, Tan. Kaila berangkat ya?" ucapnya seraya meraih tangan Naira untuk bersalaman.
"Kamu bareng Tante aja berangkat sekolahnya."
"Tapi 'kan kita beda jalur, Tan."
Naira tersenyum. "Gak papa, sayang. Tante masih khawatir soal penculikan kemarin. Tante takut Papa tiri kamu masih ngincer kamu."
Kaila diam beberapa saat dan akhirnya mengangguk. "Tante bener, pasti dia masih ngincer Kaila."
"Makanya itu, ayo kamu bareng Tante aja." Naira meraih kunci mobil dan tasnya lalu berjalan keluar di ikuti oleh Kaila di belakangnya.
"Nanti pulangnya kamu bareng Tante aja ya? Nanti Tante berusaha pulang lebih cepet supaya bisa jemput kamu."
"Tapi Tante—"
"Gak ada tapi-tapian, sayang. Keselamatan kamu yang paling utama sekarang."
Kaila menatap Naira dengan tatapan haru. Ia tak menyangka jika Tantenya begitu menyayanginya layaknya anak sendiri.
"Tante, makasih banyak ya. Kaila gak tahu harus bales kebaikan Tante seperti apa. Kaila sayang banget sama Tante."
Naira tersenyum haru mendengar ucapan Kaila. "Tante sayang juga sama Kaila. Sayang banget." Ia menarik keponakannya tersebut ke dalam pelukan.
"Ah, Tante, Kaila baper."
Naira tekekeh dan melepas pelukannya. "Yaudah, ayo?"
Kaila mengangguk dan mengikuti langkah Naira menuju mobil.
Naira tersenyum dan mulai melajukan mobilnya. Namun saat keduanya sudah hendak keluar, sebuah motor berhenti tepat di depan mereka.
"Kana?" ucap Kaila saat menyadari laki-laki itu adalah Kana.
Naira membuka kaca mobil saat Kana berjalan menghampiri keduanya.
"Halo, Tante! Kaila!" sapa Kana pada keduanya.
Naira tersenyum. Begitupun dengan Kaila.
"Kamu kenapa pagi-pagi kesini? Memang gak berangkat ke sekolah?" tanyanya.
"Sekolah kok, Tan. Karena itu Kana kesini. Kana mau ajak Kaila berangkat bareng. Boleh 'kan, Tan?" tanya Kana dengan tatapan memohon.
Naira menoleh pada Kaila. Ia bukannya tak percaya pada Kana, namun— Naira menggeleng, ia berusaha membuang prasangka buruknya. "Oke, Tante izinin."
Kana tersenyum lebar mendengar jawaban Naira, begitu Kaila. Gadis itu tersenyum senang dengan wajah yang merona.
"Kaila," panggil Naira membuat Kaila menoleh. "Tante izinin kamu berangkat dan pulang bareng Kana, tapi Tante minta satu hal ya sama kamu."
"Apa itu, Tan?"
"Kamu berhenti kerja part time ya?"
Kaila melebarkan mata. "Tapi, Tante—"
Naira tersenyum. "Kamu bisa cari cara lain buat nemuin Mama kamu. Gak harus kerja part time. Dan Tante rasa, dengan kamu kerja part time seperti kemarin-kemarin, malah bikin kamu dalam bahaya. Tante rasa papa—"
"Tan," lirih Kaila membuat Naira menghentikan ucapannya.
Ah, ia lupa. Ia lupa jika Kaila meminta merahasiakan ini dari Kana.
"Pokoknya Tante minta kamu berhenti ya kerja part time? Kamu harus fokus sama ujian kamu nanti. Mengerti?"
Kaila mengangguk membuat Naira lega dan tersenyum puas. "Kalau gitu Kaila berangkat ya, Tan."
Naira mengangguk dan membiarkan keponakannya turun dari mobil dan berangkat bersama Kana.
"Kana! Kamu harus jagain Kaila ya!" teriak Naira pada laki-laki itu.
Kana mengacungkan jempolnya. "Tanpa Tante minta, Kana pasti jagain Kaila kok."
Naira mengangguk lega dan melajukan mobilnya meninggalkan Kaila dan Kana yang tengah bersiap.
"Tante lo kayanya lebih protektif ya setelah kejadian kemarin," ucap Kana.
Kaila mengangguk. "Sekarang cuma gue yang Tante punya, jadi dia takut kalau gue kenapa-napa."
"Memangnya Tante lo gak punya suami?"
Kaila menggeleng. "Suaminya meninggal waktu terbang."
"Hah?" Kana mengerutkan dahinya tak mengerti. "Suaminya bisa terbang?" tanya Kana dengan polosnya.
Kaila terkekeh. "Bukan gitu. Suami Tante gue itu Pilot."
Kana membulatkan bibirnya membuat Kaila tersenyum.
"Oh ya, helm yang gue beliin mana?" tanya Kana pada gadis itu.
Kaila tampak mengingat. "Oh iya, sebelum gue di culik, helm-nya waktu itu di motor Aji."
"Jadi sama Aji helm-nya?" tanya Kana dengan raut wajah malas.
Kaila mengangguk membenarkan.
"Yaudah, beli lagi aja."
Kaila melebarkan mata. "Gak mau ah, gue gak mau hutang helm terlalu banyak sama lo."
"Ya terus gimana kalau lo gak pakai helm Kaila? Lo mau kita di tilang, ha?"
Kaila mengerucutkan bibirnya. "Gue ada kok helm."
Kana berusaha tersenyum. "Ngapa gak bilang Kaila. Eh, nama lo Kaila siapa sih? Gue belum tahu."
Kaila menghela napas dan menatap Kana kesal.
-o0o-
"Bima!"
Bima menghentikan langkahnya dan menoleh. Wajahnya berubah kesal saat Aji berjalan menghampirinya.
"Kaila mana?" tanya Aji padanya.
"Lo pikir gue nyokapnya Kaila? Yang selalu tahu dimana Kaila berada."
Aji mendengus kesal. "Gue cuma nanya, Kaila mana. Bukan nanya hubungan lo sama Kaila."
"Terus lo pikir, kalau gue tahu Kaila dimana, gue bakal kasih tahu lo gitu?" Bima merapihkan rambutnya. "Ogah banget deh."
Aji menatap Bima kesal.
"Apa? Kesel sama gue?" tanyanya dengan tampang yang begitu menyebalkan.
"EH, ITU KANA!" teriak beberapa gadis membuat Aji dan Bima ikut menoleh ke arah yang sama.
"Kaila?" ucap keduanya saat menyaksikan Kaila berboncengan dengan Kana.
Kana tersenyum puas saat melihat Bima dan Aji memandang ke arahnya.
Kaila turun saat motor Kana telah berhenti.
"Kaila, tungguin!" teriak Kana yang melihat Kaila hendak berjalan meninggalkannya.
Kaila menghela napas dan menunggu laki-laki itu.
"Tunguin, Kaila." Kana menarik kunci motornya dan berjalan mengimbangi Kaila. "Bareng geh," ucapnya membuat Kaila tersenyum.
"KANA!" teriak beberapa gadis membuat Kaila dan Kana menoleh.
"Kana, kamu ganteng banget hari ini."
Kaila menghela napas mendengar mereka meneriaki Kana.
"Kan, gue boleh foto bareng lo gak?" ucap salah satu gadis yang berhenti di hadapan Kana.
Kana tersenyum. Ia melirik Kaila yang berada di sebelahnya. Namun Kaila tak merespon apapun. Ia tetap menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan beberapa gadis yang tengah mengejar Kana dan meminta foto bersama.
"Kan, boleh ya? Bentar aja."
Kana menghela napas. Ia malas sekali sebenarnya, tapi ia ingat. Ia sudah berjanji pada Kaila untuk tidak menjadi pribadi yang sombong.
"Kan, boleh 'kan?"
Kana kembali melirik Kaila yang tetap diam dan tak menoleh padanya sama sekali. Akhirnya Kana pun mengangguk dan menuruti permintaan gadis-gadis tersebut.
"Kana, gue mau juga dong!"
"Kana, gue juga!"
"Kana, gue juga geh!"
"Kan, Kana, mau juga!"
Kaila menghela napas melihat para gadis menghampiri Kana dan mengajaknya berfoto bersama.
"Kana, tunggu Kana, gue mau juga."
Kaila menatap para gadis tersebut dengan tatapan kesal dan berlalu pergi.
Kana tersenyum pada para gadis di sekelilingnya. Namun saat ia menoleh ke samping. Ia tak melihat Kaila. Rupanya gadis itu telah berjalan meninggalkannya.
"Kaila!" teriak Kana namun tak di dengar oleh Kaila.
"Kan, mau juga foto sama lo."
"Kan, gue dong."
Kana mengangkat kedua tangannya dan menghindar dari kerumunan.
"KANA! TUNGGUIN GUE!" teriak para gadis tadi.
Kana mengedikkan bahu dan mengejar Kaila yang sudah jauh di ujung sana. "KAILA! TUNGGUIN GUE!"
Bima tertawa melihat pemandangan di depannya. "Makanya Kana, gak usah terlalu ganteng jadi orang. Di tinggalin 'kan, lo."
Aji ikut tertawa mendengar ucapan Bima.
"Apa lo ketawa-tawa?" ucap Bima kesal.
"Dih, emang gue ketawa nanggepin lo? Pede banget lo!" ucap Aji dan berjalan meninggalkan Bima yang tengah menggerutu kesal.
-o0o-
"Nyebelin! Gue 'kan nyuruh lo jangan jadi orang sombong, bukan nyuruh lo nurutin kemauan cewek-cewek itu." Kaila melipat kedua lengannya dan masuk ke dalam kelas membiarkan Kana berteriak memanggilnya.
-o0o-
tapi Lo biarin dia, ngizinin dia.
tolol.
seharusnya Kaila tegas dgn perasaannya kalau ga suka bilang jgn PHP anak org kan pada ujungnya sakitkan kayak Adinda dong tegas dia langsung blg ke Aji dia ga bisa