Seorang wanita jenius dari masa depan secara tak terduga mengalami reinkarnasi ke dalam tubuh seorang putri kerajaan. Dengan rasa penasaran yang membara, ia terobsesi mengungkap kebenaran di balik rumor gelap tentang "Istana Kematian"—sebuah istana yang disebut terkutuk dalam legenda dan buku-buku tua.
Alih-alih merasa menyesal, ia justru melihat ini sebagai awal baru. Dengan kecerdasannya, ia bertekad menaklukkan dunia, menggenggam kekuasaan di kedua tangannya, dan mengubah takdir kelam Istana Kematian. Ia bersumpah, tragedi yang pernah menghantui istana ini akan ia ubah menjadi kisah kejayaan. Suatu hari, istana ini tak lagi disebut "Istana Kematian" melainkan "Istana Emas."
Namun, apa ia mampu melakukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwika Suci Tifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (10)
Setelah pertemuannya dengan kaisar, ia kembali ke istana merah yang berada di bagian paling barat, Kasim Hu mengantarnya.
Naya sangat cemas dan bertanya pada Jean apakah semuanya baik - baik saja. Naya lega saat mendapatkan jawaban dari Jean kalau di baik - baik saja.
Aku menatap langit - langit kamarnya, yang di sadari ia tidak bisa tidur bahkan hanya menutup matanya.
Aku bangkit dari tidurnya menuju rak buku, ia akan membaca buku untuk mengusir kebosanannya, lalu duduk di kursi.
Selang beberapa waktu akhirnya Aku tertidur dalam posisi duduk dengan kepala di atas meja.
____________________
Sopoi - sopoi angin dan kehangatan matahari mencacah pagi, aku sedikit terusik dengan cahaya yang masuk dari sela - sela jendela kamar.
" Mmm" Aku mengerang, dengan wajah kesal, karena tidurnya terganggu . Ia mengejapkan matanya, untuk menetralkan cahaya yang masuk ke matanya.
Lalu aku mengangkat kepalanya dari meja kerjanya. Lehernya terasa sakit karena lama tidur di meja dengan posisi sama.
Aku pun melakukan aktivitas pagi yang sering ku lakukan, setelah itu aku mandi.
Terlihatlah Naya yang sudah menungguku di luar kamar. Akupun menyapanya dengan senyum manis ku.
" Good Morning Naya "
" Morning Putri " jawab Naya dengan senyum manisnya.
Hari ini seperti biasa aku akan melakukan piknik pagi bersama Naya, Setiap 3 bulan sekali. Terlihatlah Naya yang telah membawa ranjang berisi makanan dan juga alat - alat lukis, setiap piknik, aku akan melukis atau sekedar berfoto bersama dengan Naya dan juga menemukan harta karun yang ada di daerah sekitar yang kita tempati, kegiatan ini hanya aku dan Naya yang tahu, orang lain tidak ada yang tahu, bahkan para pelayan yang ada di istana ini, meraka hanya tahu kami hanya piknik.
" Baiklah tuan putri, mari kita pergi ke hutan " ucap Naya dengan antusias dengan mata berbinar, menanti hal - hal yang menarik yang akan di lakukan dan di temukan nanti.
Kamipun pergi keluar istana menuju hutan yang berada di belakang kami.
" Putri jangan berlari, nanti anda jatuh " peringatan Naya dengan membawa peralatan lukis dan ranjang yang berisi makanan yang berada di legan kiri Naya.
" Wah " Aku berseru takjub saat melihat pemandangan yang sangat indah tepat berada di depannya, terdapat danau dengan air mengalir ke sisi lain danau dengan 2 pohon rindang tempat berada di depan danau itu, seolah meraka adalah penjaga danau itu.
Dengan nyanyian dari burung - burung yang berkicau, benar - benar pemandangan indah, makanya Jean suka melakukan piknik pagi, karena inilah yang ia inginkan, melihat pemandangan alam yang alami.
" Aku ingin melukisnya " gumam ku, lalu menoleh kebelakang terlihatlah Naya yang sedang merapikan dan menata semua barang yang di bawanya.
Aku menuju tempat yang telah di siapkan Naya untuk aku melukis, akupun duduk di kursi dan langsung melukis pemandangan yang sangat indah yang berada di depanku.
Setelah 1 jam melukis, akhirnya aku selesai melukis dengan lukisan yang sangat indah, seolah lukisan yang ku buat hidup.
" Wah, putri lukisan anda sangat indah, seperti biasa putri sangatlah jenius " Naya memberikan jempol pada Jean dengan senyum manisnya yang tertera di wajah cantiknya.
" Aku terima pujian mu " ujar ku, lalu bangkit dari duduk, pergi menuju tempat yang telah berisi makanan, perut ku sudah meronta minta di isi.
" Naya ayo kita makan, setelah ini kita pergi cari harta karun " ajak ku pada Naya, yang di angguk Naya, setelah itu kami makan dengan riang sesekali bercerita dengan tawa di sela - sela perbincangan karena cerita yang di kisahkan Naya sangatlah lucu.