Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.
Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.
Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Aku yang duduk menatap langit-langit yang begitu cerah, mengingat semua kenangan bersama Ikhsan yang baru saja semingguan lalu kita dekat. Air mata terus mambasahi pipi.
"Lu berhak menangisi dia, tapi lu juga harus ingat. Jangan terlalu lama terpuruk karena suatu keadaan." ucap seseorang yang tiba-tiba ada di sampingku.
"Adit?" kataku.
Dia tersenyum menatapku dan pandangannya beralih ke danau yang hijau itu.
"Sejak kapan lu disini?" tanyaku.
"Sejak seseorang duduk sendirian dan menangis." katanya.
Aku menghapus air mataku dan menatap danau itu.
"Gue tahu lu suka sama Ikhsn dan sebaliknya, Ikhsan juga menyukai lu." katanya.
Aku hanya diam.
"Tetapi ini semua sudah bagian dari rencana Tuhan. Kita tidak bisa menolaknya kapan kita akan pulang." katanya.
Aku masih diam.
"Mungkin menurut lu, sekarang lu yang merasa tersakiti karena ditinggal pergi oleh sesorang yang lu cintai. Tapi apakah lu juga berfikir jika Ikhsan juga tersakiti karena seseorang yang dicintainya menangis dan terpuruk seperti ini? kalau saja Ikhsan bisa meminta waktu lima menit saja pada Tuhan. Pasti dia akan disini memeluk lu supaya lu tidak sedih seperti ini. Tapi nyatanya dia tidak bisa, dia hanya melihat lu menangis dari atas sana. Apakah lu tidak kasihan?" katanya.
Air mataku terus terjatuh ketika Adit ngomong seperti itu, tetapi langsung aku hapus tangisan itu dan berusaha tersenyum menatap langit di atas sana.
"Apakah kamu lagi melihat aku sekarang? Maafkan aku. Mungkin aku egois karena merasa paling tersakiti. Tetapi lihatlah aku sekarang, sudah bisa tersenyum untukmu." batinku mencoba tersenyum.
Adit yang melihatku tersenyum, dia juga ikut tersenyum. Meski tahu itu sebuah paksaan, tetapi setidaknya bisa membuat aku lebih ikhlas menerima semua ini.
"Gue hantar lu pulang." katanya menggenggam tanganku.
"Tidak terimakasih. Gue bisa pulang sendiri." kataku melepaskan genggaman tangannya.
Aku berdiri dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempat ini.
"Semoga Nina bisa mengikhlaskan lu pergi dan lu juga sudah tenang diatas sana kawan." batin Adit yang melihat punggungku pergi meninggalkannya.
Di rumah.
"Loh nak, mata kamu kenapa? kamu habis nangis?" tanya nenek ketika aku sampai rumah dengan keadaan mata yang sembab.
Aku langsung memeluk nenek dan mencoba menahan tangisanku supaya tidak keluar lagi.
"Hei, cerita ke nenek." katanya membelai kepalaku.
Aku melepas pelukannya dan menundukan pandanganku.
"Ikhsan meninggal nek." kataku masih mencoba tidak menangis lagi.
"Innalillahi wa innalillahi rojiun." katanya kaget.
"Iya, kecelakaan yang kemarin nenek sama ibu-ibu itu bicarakan itu Ikhsan." kataku sesak mengungkapkannya.
"Ya allah." katanya menutup mulutnya karena kaget. Dan langsung memeluk ku erat.
"Kamu sabar ya nak, ikhlasin dia. Ini cobaan buat kamu." katanya masih memelukku.
"Iya nek, aku ke kamar dulu." kataku melepaskan pelukannya dan pergi ke kamar.
Di kamar aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menjatuhkan diri di kasur dan memeluk boneka.
"Maafkan aku, aku tidak bisa untuk tidak menangis lagi. Maafkan aku hiks hiks." tangisku pecah.
Aku berdiam diri di kamar.
"Nin, kamu makan dulu nak." ucap nenek dibalik pintu.
"Aku tidak lapar nek." kataku yang masih enggan beranjak dari tempat tidur.
"Hmmm... " nafas berat nenek meninggalkan kamarku dan berjualan dibantu sama tante Tia.
Hari sudah malam.
"Nak, makan dulu. Kamu dari siang belum makan." katanya mencoba membujuk ku supaya makan.
Aku tidak menjawabnya. Selera makanku hilang bahkan aku tidak merasa kelarapan meski belum makan dari siang.
Aku berdiam diri di kamar, terus memeluk boneka. Mencoba memejamkan mata dan akhirnya aku tertidur.
Di suatu taman.
Aku lagi duduk sendirian dengan menggunakan dress yang sangat anggun. Tiba-tiba seseorang datang dengan pakaian serba putih. Aku berlari ke arahnya, tetapi telunjuknya mengisyaratkan supaya aku tidak mendekat. Aku berhenti di depannya dan menangis berharap aku memeluk seseorang itu.
"Jangan membuat aku bersedih melihat kamu seperti ini. Sudahi tangisanmu itu. Aku tidak rela kamu menangis gara-gara aku. Maafkan aku Nina." katanya lalu menghilang.
"Ikhsan, Ikhsan, Ikhsan." ucapku bangun dari tidurku.
Aku melihat jam sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari.
"Ternyata aku cuma mimpi. Maafkan aku juga Ikhsan." batinku
Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku menatap muka ku di cermin.
"Akan ku coba belajar mengikhlaskanmu Ikhsan, semoga kamu tenang disana." batinku tersenyum.
Aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat sunnah malam.
...****************...
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
minding baca komik bobo
salam dari Barryneald :))
#Izin Thor
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Terima-kasih banyak.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️
tinggalkan like and comment ya 🥭