Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zean
Mereka makan dengan santai di teras dengan menu sederhana itu. Setelah selesai makan siang, meeka beristirahat di dalam kamar. Kamar kecil dengan ukuran tempat tidur yang kecil membuat mereka berbaring berdesakan.
"Maaf kalau tidak nyaman ya, mas. kamar ini bahkan mungkin lebih nyaman kamar bibi' di rumah kamu mas."
"Nggak pa-pa, kalau di rumah kita nggak bakal senempel ini tidurnya, kan?"
"Hehe iya. Tapi di sini gerah, nggak ada AC."
"Bisa buka baju, kan?"
Zain mengedipkan sebelah matanya. Tiyas mengerti maksud suaminya itu. Dan bukannya istirahat, tapi mereka memadu kasih di di siang bolong ini.
Sore harinya, setelah selesai shalat Ashar Zain dan Tiyas pergi ke makam Bapak menggunakan motor milik Bapak yang masih tersimpan di rumah itu. Motor itu sering kali dinyalakan oleh Indri atau ayahnya agar tetap berfungsi.
"Sudah siap, sayang?"
"Iya, mas."
"Ya sih ayo berangkat."
"Sebentar. Aku mau memetik bunga di samping rumah. "
Di samping rumah Tiyas memang ada pohon bunga mawar pink dan bunga melati. Iya memetik beberapa bunga yang sudah mekar. Setelah selesai memetik bunga, mereka pun berangkat ke makam.
Sesampainya di makam, Tiyas tidak dapat membendung air matanya. Ia sangat merindukan sosok orang tuanya. Ia mungkin sudah menemukan kebahagiaan baru saat ini. Namun bayangan kedua orang tuanya tidak bisa dihilangkan. Zain sangat mengerti akan perasaan istrinya. Ia hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan lembut untuk memberi kekuatan kepadanya.
Setelah selesai membaca surah yasin dan beeso'a untuk mendiang, mereka pulang. Namun di perjalanan Tiyas merasa perutnya bawahnya agak sakit.
"Apa mungkin mau haid?" Batinnya.
Sesampainya di rumah, Tiyas memeriksa celana dalamnya di kamar mandi. Dan benar saja, ada flek coklat. Saat hari pertama haid biasanya memang kadang seperti itu. Itu kebiasaan yang terjadi pada Tiyas.
"Mas, spertinya aku datang bulan." Ujar Tiyas dengan sangat berhati-hati. Ia takut suaminya kecewa.
"Hem... untung saja tadi sudah dua ronde."
Jawaban Zain sangat di luar ekspektasi Tiyas.
"Sayang, kamu pasti takut aku kecewa, kan? Aku nggak pa-pa kok. Mungkin ini bisa saja haid terakhir kamu. Kita tidak pernah tahu rencana Allah. Kita tetap husnuzon saja. Kalau pun masih harus coba lagi ya harus lebih semangat."
Tiyas pun mengulum senyum.
Malam pun tiba.
Setelah pulang dari Masjid untuk shalat Maghrib, Zain ngobrol bersama Ayahnya Indri di teras rumah. Sementara itu, Indri, Ibu, dan Tiyas berada di dalam rumah. Mereka sedang merencanakan acara 40 hari Bapak Tiyas. Mereka menghitung undangan dan makanan apa saja yang akan dimasak nanti.
Di Surabaya.
Zean sudah rapi dengan pakaian sarung dan baju kokohnya. Tidak lupa ia membawa hadiah yang belinya untuk Rafli. Zean pun pamit kepada abi dan ummi.
"Abi, ummi, Zean pergi dulu ya."
"Lho, mau ke mana ini?"
"Ada undangan hajatan di rumah calon jama'ah haji sekalian ulang tahun anaknya. Makanya ini Zean bawa kado."
"Oh gitu. Kok bisa kamu diundang segala, emang kenal ya?"
"Iya kenal."
"Siapa, teman kamu?" Sahut abi.
"Abi nggak mungkin kenal kayaknya."
"Ah masa'?"
"Siapa namanya?"
"Sudah ah, Zean telat nanti. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikum salam."
Setelah itu, Zean pun keluar dari rah. Ia menaruh kadonya di kursi tengah. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.
Setelah kepergiannya, ummi dan abi membicarakannya.
"Abi, si Zean kayaknya senyum-senyum terus mulai dari kemarin waktu kita datang."
"Lha, dia kan memang begitu gayanya."
"Tapi kayak ada yang lain, abi."
"Ummi mau bilang kalau anak kita itu sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Hem... ya siapa tahu." Ummi mengedikkan pundaknya
Perjalan Zean ke rumah Pak Hilman cukup lancar karena jalan menuju rumahnya adalah jalan alternatif.
Sesampainya di sana, sudah banyak tamu yang berdatangan. Zean segera memarkirkan mobilnya di lapangan sebelum rumah Pak Hilman. Ia mengambil hadih di kursi tengah lalu menutup pintu mobilnya. Dengan semangat 45 Zean melangkah menuju rumah Pak Hilman. Ternyata rumah Pak Hilman dan rumah orang tuanya berdampingan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Pak Zean, akhirnya datang juga. Saya kira bapak nggak bisa hadir. "
Mereka berjabatan tangan.
"Saya pasti hadir karena saya tidak ingin mengecewakan Rafli dan bapak."
"Oh ya, bukan karena yang lain kan pak?" Goda Hilman.
Keduanya tertawa.
"Oh iya ini kado untuk Rafli."
Oak Hilman pun memanggil Rafli agar menerima kado tersebut. Rafli pun sangat senang karena mendapat kado yang banyak dari Zean. Ia mengucapkan terimakasih kasih lalu membawa kado tersebut ke dalam dibantu saudara sepupunya
"Lho, nak Zean." Sapa Ayahnya Hilman.
"Eh iya, om. Apa kabar? " Zean mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah sehat, nak. MasyaAllah suatu kehormatan bagi kami kedatangan owner travelnya langsung."
"Saya bukan ownernya, om. Abi saya yang punya. Saya cuma karyawannya."
"Ya ya, terserah lah. Yang penting nak Zean bisa hadir."
Zean pun mengulum senyum.
Ia dipersilahkan duduk dan bergabung dengan tamu yang lain. Tidak banyak yang mereka undang. Hanya tetangga dan saudara dekat serta anak anak yatim yang berada di dekat lingkungan mereka.
Mata Zean melanglang buana ke mana-mana. Ia mencari sosok yang selalu menganggu pikirannya. Sampai acara dimulai, Zean tidak melihat sosok itu karena memang tempat duduk Laki-laki dan perempuan dipisah. Setelah acara tasyakuran umroh selesai lanjut acara ulang tahun Rafli. Tidak ada kue ulang tahun yang ditancap lilin angka, namun ada tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya sebagai pengganti. Bersama anak-anak yatim itu, Rafli menyanyikan lagu alfa mabruk. Setelah itu, ia memotong tumpengnya dan memberikannya kepada kedua orang tuanya.
Setelah itu acara ramah tamah. Tamu undangan menikmati hidangan yang telah disajikan. Setelah selesai makan, mereka dibagikan berkat. Lalu satu per satu dari mereka pamit pulang. Tidak sengaja Zean bertemu dengan salah satu tamu yang dia kenal. Ternyata tamu tersebut adalah sepupu Pak Hilman. Mereka pun duduk merapat.
"Bro, kamu diundang juga, kenal sama bang Hilman?"
"Iya bro, kami kenal baru-baru ini. Kalau kamu?"
"Saya sepupunya."
"Owalah... "
Zean manggut manggut.
Matanya seketika tertuju pada seseorang yang dari tadi dicarinya. Siapa lagi kalau bukan Hilda. Perempuan berparas cantik dengan setelan gamis dan jilbab warna Ivory.
"MasyaAllah cantik sekali." Batinnya.
"Ehem ehem... bro."
"Ah iya kenapa?"
"Sepertinya kamu sedang melihat bidadari? "
Zean mengulum senyum.
"Sepupuku itu memang cantik. "
"Oh iya, kamu kan sepupunya. Boleh dong bagi-bagi info."
"Info apa?"
"Dia nggak punya pacar kan?"
"Sepertinya tidak. Tapi aku juga nggak tahu ya."
Nampak dari jauh Pak Hilman menghampiri mereka.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...