Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Murka
“Apa?! Rashid kembali datang? Berani-beraninya dia!” seru Kalandra murka saat Kinara memberitahunya bahwa Rashid kembali menemuinya. “Kenapa kau tidak langsung menghubungiku?”
Kinara mencoba menenangkan sang kakak dengan memberinya segelas minuman dingin. “Tenanglah dulu, Kak. Jangan marah-marah.”
“Bagaimana aku tidak marah? Laki-laki brengsek itu masih saja mengganggumu, Ra!” sentak Kalandra sambil berkacak pinggang. “Sudah kubilang, jika laki-laki itu muncul lagi, beritahu aku, aku pasti akan langsung menghajarnya.”
“Sudahlah, Kala.” Suara Sagara yang menegurnya membuat Kalandra sontak menoleh.
“Kak Saga, kau juga pasti marah, kan? Berani sekali dia! Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkannya begitu saja.” Kalandra masih berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang ketika Sagara menegurnya.
Kinara hanya bisa menghela napas melihat kakaknya yang selalu mudah terbakar emosi jika menyangkut dirinya.
“Sudahlah, Kala,” ujar Sagara sekali lagi. “Ocehanmu itu hanya membuat Kinara semakin pusing.”
Kalandra mendengus, tetapi akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan yang belum sepenuhnya reda. “Aku cuma tidak habis pikir. Setelah semua yang dia lakukan, masih berani datang dan mengganggu Kinara.”
“Dia tidak melakukan apa-apa yang membahayakanku, Kak. Jadi, tenanglah,” jawab Kinara tenang. “Dia hanya datang untuk berbicara.”
“Berbicara untuk mengajakmu kembali, kan?” Kalandra langsung menyahut.
Kinara terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab lirih. “Benar.”
Mendengar jawaban itu, Kalandra kembali hendak membuka mulut. Namun sebelum sempat mengeluarkan komentar lain, Galendra yang sejak tadi hanya memperhatikan pembicaraan mereka akhirnya angkat bicara.
“Kalau begitu, masalah Rashid bukan hanya soal Kinara.”
Semua mata segera beralih kepadanya.
Galendra duduk dengan tenang di salah satu kursi, sementara Shena berada di samping Kinara. Pria itu kemudian mengambil sebuah map yang sejak tadi tergeletak di atas meja dan meletakkannya di tengah mereka.
“Kita perlu membicarakan perkembangan terakhir bisnis Rashid. Sepertinya dia harus segera diberi pelajaran agar tidak banyak tingkah seperti sekarang,” ucap Galendra datar, ekspresinya jelas sekali bahwa ia juga marah mendengar Rashid yang kembali meminta adiknya.
Shena langsung mengangguk. “Aku juga sudah menunggu waktu yang tepat untuk membahasnya.”
Kalandra yang tadinya masih sibuk dengan kekesalannya segera mengalihkan perhatian kepada map tersebut. “Bagaimana dengan hasilnya, Shen? Apa semuanya berjalan sesuai dengan rencana?”
Shena tersenyum tipis lalu mengangguk dengan bangga. “Sudah dihentikan sepenuhnya. Andai kalian ada di sana dan melihat ekspresi pucatnya, dia benar-benar seperti orang yang tak berdaya.”
Kinara menoleh kepada sahabatnya. “Maksudmu? Kau sudah menghentikan investasinya?” tanyanya penasaran.
“Iya, Ra. Kami sudah menyelesaikan proses penghentian komitmen investasi untuk tahap berikutnya. Kami tidak akan menambah pendanaan ataupun memperpanjang fasilitas yang sebelumnya direncanakan.”
Kinara membisu selama beberapa saat, meskipun sejak awal sudah mengetahui rencana tersebut, mendengar bahwa keputusan itu benar-benar telah dilaksanakan tetap membuatnya sedikit terkejut tetapi juga senang.
“Apakah itu akan langsung membuat perusahaan Rashid jatuh?” tanyanya Kinara lagi.
Shena menggeleng. “Tidak sesederhana itu. Bisnisnya tidak akan langsung bangkrut hanya karena satu investor mundur. Namun, kehilangan pendanaan tersebut tentu akan memberikan tekanan, terutama jika mereka memang sedang membutuhkan modal tambahan untuk ekspansi.”
Galendra mengangguk setuju. “Itu yang harus kita pahami. Kita tidak boleh berasumsi bahwa Rashid akan langsung kehilangan semuanya hanya karena satu sumber pendanaan berhenti.”
Kalandra menyandarkan punggungnya ke sofa. “Tapi setidaknya sekarang dia mulai kesulitan.”
“Tekanan finansialnya akan meningkat,” sahut Sagara, ada raut puas dalam senyumnya. “Terlebih jika benar mereka sudah menyiapkan beberapa proyek baru.”
Shena membuka map yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa dokumen. “Dari informasi yang kami miliki, Rashid memang sedang menyiapkan ekspansi. Dia membutuhkan tambahan modal untuk menjalankan rencana tersebut. Tanpa investasi dari pihak kami, dia harus mencari sumber pendanaan lain.”
Kalandra tersenyum miring. “Jadi sekarang dia harus keliling mencari investor?”
“Kurang lebih seperti itu,” sahut Shena, meletakkan kembali dokumen yang dipegangnya ke atas meja.
“Bagus, setelah ini dia pasti akan hancur!” sorak Kalandra senang.
“Kalandra,” tegur Sagara, melirik adiknya dengan sinis.
“Apa? Aku cuma bilang bagus.”
Shena tertawa kecil melihat perdebatan kecil itu, sementara Kinara hanya menggeleng melihat tingkah kakaknya.
“Lalu, apa yang harus kita lanjutkan berikutnya?” tanya Shena kemudian, tatapannya tertuju kepada Galendra.
Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan pelan ke arah jendela. Tatapan semua orang tertuju padanya, seolah menunggu setiap kata yang akan keluar dari lisannya.
“Apa lagi? Tentu saja mempermalukannya di depan publik, sama seperti dia yang mempermalukan Kinara,” ujar Galendra pada akhirnya.
Semua mata langsung tertuju kepada Kinara.
“A-apa? Kenapa kalian semua melihat ke arahku?” tanyanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan kebingungan.
“Inilah waktunya bagimu untuk bersinar dan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, Ra!” Shena mengguncang bahu Kinara cukup kuat.
***
Sementara itu, Rashid berjalan gontai saat memasuki rumah. Penampilannya begitu kusut dan tampak penuh tekanan. Bagaimana tidak? Seharian ini ia sudah dibuat repot dengan mundurnya salah satu investor penting.
Melempar jas kerjanya asal, Rashid menghentakkan tubuhnya begitu saja ke sofa. Helaan napas berat terdengar beberapa kali, rasanya ia ingin berteriak demi melampiaskan semua masalahnya.
Dari arah tangga, Marissa baru saja turun usai bersantai seharian. Tanpa mempedulikan Rashid, ia berjalan ke arah dapur dan mengambil sebotol jus dingin dan meminumnya sendiri.
Melihat sikap Marissa yang seolah tak melihatnya membuat Rashid semakin kesal. “Setidaknya kau bisa menghargaiku sedikit saja, Marissa,” sindirnya keras.
Marissa hampir tersedak mendengarnya, ia lantas menoleh ke arah Rashid. “Oh? Kau sudah pulang ternyata. Kukira tadi tidak ada orang,” ketusnya menatap Rashid dengan jengah.
Rashid balas menatapnya dengan tajam. Lalu berdiri dan menghampiri Marissa dengan langkahnya yang besar. Dalam satu gerakan cepat, Rashid meraih pergelangan tangan dan langsung menarik Marissa kembali ke atas.
“Ayo, kau harus tahu apa saja tugasmu!” tegas Rashid tak memedulikan langkah Marissa yang terseok-seok mengikuti langkahnya.
“Sakit, Mas! Lepaskan tanganku! Jika ada masalah, kau bisa membicarakannya denganku secara baik-baik, tidak perlu menarikku dengan kasar begini!” jerit Marissa cukup keras.
Namun, Rashid sama sekali tidak mempedulikannya. Ia tetap menarik paksa Marissa hingga ke kamar yang mereka tempati bersama sejak Kinara pergi.
“Sakit, Mas! Kenapa kau jadi kasar begini?!” protes Marissa tak terima diperlakukan dengan begitu kasar. Ia baru melihat sisi Rashid yang kasar seperti ini.
Dalam satu kali dorongan kuat, Rashid membuat Marissa jatuh terlentang ke atas tempat tidur. Ia sama sekali tak peduli dengan keadaan Marissa yang tengah hamil besar.
Marissa mencoba untuk bangkit tetapi tatapan tajam Rashid seolah menguncinya untuk tetap diam. Keberaniannya seakan menguap kala melihat mata Rashid yang memerah.
“Jangan seperti ini, Mas. A-aku minta maaf jika sudah membuatmu kesal. Jangan begini, ya? Ingat, Mas. Aku sedang hamil anakmu!”