Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Ngapain Lo di sini?'' tanya Candra.
"Situ yang ngapain ke sini? Sorry...tempat ini gak menerima orang-orang reseh kaya kamu. Mending cari tempat yang lain aja sono!'' usir Auri.
Siti cs ternganga mendengar bos nya dengan lantang mengusir konsumen itu.
"Heh! Sapa Lo ngusir-ngusir gue? Gui ini konsumen, pembeli adalah raja. Ngga sopan banget!''
"Saya pemilik usaha ini. Mau apa kamu? Udah sono cari tempat lain!'' Auri mendorong Candra dengan pelan.
"What???'' pekik Candra tak percaya di usir seperti itu.
"Iya, anda saya usir karena terus terang kami malas meladeni customer bawel, rese dan nyebelin kaya kamu."
Kedua tangan Candra terkepal.
"Lo ngga tau gue siapa?''
"Ngga, dan ngga mau tahu!'' sahut Auri.
Gigi Candra bergemeletuk. Bisa-bisanya ada gadis yang berani padanya. Bahkan sama sekali tak tertarik dengan tampangnya.
Di saat ketegangan berlangsung, ada dua orang yang masuk ke ruangan itu. Sontak semua kepala menoleh ke arah pintu masuk tak terkecuali Auri dan Candra.
Jika Candra cuek dan tampak acuh, tidak dengan Auri. Wajah gadis itu mendadak datar. Padahal tadi saja wajahnya sudah memerah karena menahan emosi pada makhluk yang bernama Candra.
"Assalamualaikum...''
"Walaikumsalam'' sahut Auri datar. Candra mengangkat salah satu alisnya. Gadis yang tadi mengusirnya menggebu-gebu kini seperti sosok perempuan lemah lembut tanpa tenaga.
"Auri...eum...undangan pernikahan kami sudah jadi kan?'' tanya seorang perempuan yang menggandeng lengan seorang laki-laki.
Candra masih berdiri di sana. Entah kenapa ia menikmati perubahan wajah musuhnya itu ketika ada dua orang tamu yang menyapanya.
"Sepertinya sudah. Sebentar!''
Auri membalikkan badan, itu artinya ia bersisihan dengan Candra. Belum sempat melangkah, suara tamu perempuan itu kembali terdengar.
"Walaupun kamu yang bikin undangannya, nama kamu tetep masuk ke dalam daftar tamu undangan kan? Soalnya....'' ucapan itu terjeda beberapa saat. Bersamaan pula dengan jiwa kepo Candra yang kian meluap.
"Soalnya calon ibu mertua ku pesan seperti itu, Auri harus datang.''
Ikhsan menarik pelan lengan calon istrinya agar berhenti menuruti perkataan ibunya. Apalagi soal undangan untuk Auri.
Auri tampak menghela nafas panjang. Sebenarnya, ia bukan tak bisa move on dari Ikhsan. Bahkan perpisahan mereka pun baik-baik. Hanya saja...kenapa sekarang terkesan sekali kalau calon istri Ikhhsan ingin meledek dirinya. Dia salah apa?
"Sebentar saya ambilkan dulu!'' kata Auri.
"Apa jangan-jangan kamu ngga mau datang karena ngga ada gandengan ya?Jangan bilang belum move on dari calon suami ku'' ,tanya perempuan itu lagi.
Candra mulai membaca situasi. Jiwa isengnya kembali muncul. Kali ini mungkin ia akan sedikit berbaik hati pada Auri meski gadis itu musuhnya. Hanya saja, ia tak suka saja ada bau-bau pengkhianatan. Terlebih, selama ini ia berada di lingkup keluarga harmonis yang saling menyayangi satu sama lain. Ya...walau pun mungkin dirinya menjadi anomali di keluarganya sendiri.
"Eh...Auri sayang, kamu ngga bilang kalo mau menghadiri undangan? Kenapa ngga ngajak aku sih?'' tiba-tiba saja Candra merangkul bahu Auri. Auri mendongakkan kepalanya dan melotot dengan lebar. Sedang anak buah Auri hanya bisa menganga tak percaya.
Tadi keduanya seperti kucing dan tikus, tapi sekarang?
"Ap--?'' ucapan Auri terhenti saat Candra memutar bahu itu menghadap kembali ke arah Ikhsan dan calon istrinya.
"Jadi mas nya ini mantannya Auri ku? Sayang....kenapa kamu ngga cerita sih?'' Candra menjawil dagu Auri. Gadis itu mencubit ginjal Candra tapi pemuda itu masih saja merenges.
"A-auri...dia...?'' Ikhsan terbata-bata. Calon istrinya tampak kesal mendengarnya.
"Kenalin, Candra Mahesa. Pewaris tunggal Mahesa grup. By the way, kalau habis nikah nanti kalian mau ambil cluster di perumahan XXX bisa langusung hubungi saya...eum...lewat Auri juga tidak apa-apa. Saya kasih diskon tiga persen untuk cicilan tiap bulannya. Lumayan lho itu. Benerkan Auri sayang?'' tanya Candra.
Auri hanya berdehem. Dalam hati Auri, ia merutuki Candra yang bebas menyentuhnya seperti itu. Padahal mereka tak ada hubungan apa pun. Mungkin hubungan....permusuhan?
Ikhsan menyambut uluran tangan Candra yang sangat mulus untuk ukuran laki-laki.
"Ikhsan!'' jawab Ikhsan.
"Mba Siti, tolong urus calon pengantin ini ya. Bu bos mau lanjutin obrolan sama saya di dalam.''
Dua pasang mata itu saling berpandangan. Namun bukan pandangan penuh cinta apalagi damba. Tapi pandangan yang menyiratkan banyaknya rahasia dan kemarahan di sana.
"Kami tinggal ya ...mas Ikhsan!'' kata Candra sambil mendorong pelan Auri yang masih ada dalam rangkulannya. Siti di bantu dua temannya pun buru-buru mengambil orderan Ikhsan tersebut. Meski dalam hati mereka masih terheran-heran dengan dua manusia yang baru saja masuk ke bilik Auri.
Nafas Auri memburu dan dengan secepat kilat Auri meraih lengan Candra lalu menggigitnya dengan keras.
"Aaaaaaawww!'' teriak Candra. Yang ada di depan mendengar teriakan itu.
Beruntung, bilik itu tertutup dari depan jadi tidak terlihat oleh mereka.
"Sakit b**o!''
"Kamu yang b**o! Maksud kamu teh apa sih? Pegang-pegang begitu?'' tanya Auri lirih namun sarat kemarahan.
"Lo tuh harusnya makasih sama gue. Gue udah selamatin harga diri Lo di depan mantan pacar Lo yang pengkhianat itu.''
"Ngga usah sok tahu, sok peduli juga!''
"Dasar cewek aneh!'' dengus Candra. Ia melirik ke arah depan. Tampak Ikhsan sedang menatap ke arahnya.
"Dia belom pergi. Lo mau ketauan sandiwara kita tadi hah? Kalo gue sih sebenarnya bisa aja bodo amat. Tapi Lo...gue yakin bakal di bully tuh sama calon istri mantan Lo itu.''
Auri diam beberapa saat hingga akhirnya ia menjatuhkan kedua tangannya di atas meja lalu menenggelamkan kepalanya.
"Oke, makasih! Kamu bisa pergi setelah mereka pergi."
Candra mengedikkan bahunya bersamaan dengan ponselnya yang berdenting. Pesan papanya pun masuk menanyakan soal banner.
Pemuda itu menepuk keningnya. Ia malas mencari tempat lain, jadi mau ngga mau Auri harus bersedia menerima orderan darinya.
"Enak aja! Lo udah gue bantuin. Harusnya gue dapat imbalan dong!'' celetuk Candra sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Auri yang mendengar ucapan Candra pun mengangkat kepalanya.
"Hah? Apa kamu bilang ? Imbalan?'' Auri membeo.
Candra menumpu kedua tangannya di depan Auri. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Iya, gue udah berjasa menjaga harga diri Lo tadi. Sebagai balasannya, lo harus buatin gue disain banner sekarang. Bokap gue udah brisik ini!''
Auri membuang nafas perlahan. Ya, mungkin tak ada salahnya membalas 'kebaikan' Candra untuk hal satu ini.
Gadis itu membuka aplikasi di layar komputernya. Candra yang merasa menang pun menarik kursi dari belakang dan duduk di samping Auri.
Ada hikmahnya juga tuh mantan pacar Auri ke sini heheheh (batin Candra)
Auri dan Candra pun akhirnya sharing dan mengungkapkan ide mereka masing-masing lalu menuangkannya ke dalam disain.
Calon istri Ikhsan terlihat sangat tak suka mendengar ucapan Candra tadi. Bisa-bisanya Auri malah mendapatkan laki-laki yang levelnya jauh di atas Ikhsan. Ia yakin kalau Candra benar-benar pewaris Mahesa grup. Di lihat dari tampangnya saja mendukung. Apalagi Siti juga sedikit menceritakan bahwa Candra akan membuat banner untuk promo perumahan XXX.
"Haturnuhun ya Siti'' kata Ikhsan.
"Sami-sami A.''
Dua teman Siti membantu Ikhsan membawa tumpukan undangan itu ke mobil Ikhsan.
.
.
.
"Oh...jadi tuan Mahesa sedang di luar kota?'' tanya Damar yang sengaja menyambangi kediaman Mahesa. Hanya Sinta yang ia temui di sana.
"Iya pak Damar. Suami dan anak saya sedang meninjau proyek baru mereka.''
"Keren ya nak Candra, masih sangat muda tapi sudah terjun langsung ke lapangan membantu papanya. Benar-benar menantu idaman.''
Sinta yang awalnya tersenyum, perlahan memudarkan senyumnya.
"Bisa saja pak. Masih jauh lah dari kata idaman pak. Lagi pula, Candra masih ingin membangun karirnya dulu. Ya...gimana ya pak, dia belum kepikiran ke arah sana. Masih senang-senang aja. Namanya anak muda ya pak Damar. Puas-puasin dulu ngabisin waktu muda, nanti kalau sudah berumah tangga kan pemikirannya jadi sudah dewasa.''
Damar menanggapinya dengan senyum simpul. Tadinya ia mendatangi kediaman Mahesa karena ingin mengungkapkan niatnya menjodohkan Candra dengan putri tunggalnya. Tapi ternyata ia datang di waktu yang tidak tepat.
Obrolan itu pun berakhir karena Sinta mengatakan akan pergi arisan dengan teman sosialitanya. Mau tak mau, Damar pun terpaksa menyudahi acara bertamunya tersebut.
Sepeninggal Damar, Sinta mulai menebak-nebak.
Apa iya ya...dia yang mau jodohin Candra sama anaknya? Kayaknya muka gadis itu mirip...pak Damar?Batin Sinta.
*******
Terimakasih