"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegilaan di Ujung Tanduk
Hembusan angin malam di pelabuhan tikus pinggiran Jakarta terasa begitu anyir dan menusuk tulang. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip-kedip, sebuah kapal kayu nelayan bersandar dengan senyap. Dari dalam palka kapal yang pengap, sesosok pria melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Pria itu mengenakan jaket jins kumal, topi pet yang ditarik rendah, dan masker medis yang menutupi separuh wajahnya.
Grayson Nandotomo.
Penampilannya kini tidak lagi menyerupai seorang tuan muda manajer proyek yang necis dan angkuh. Rambutnya berantakan, kulitnya menggelap karena sengatan matahari Kalimantan, dan sepasang matanya tampak merah berdarah akibat kurang tidur dan kepanikan yang teramat sangat. Di pedalaman sawit kemarin, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan para pengawal bahwa Jiro sedang melacak mantan kepala mekaniknya. Grayson tahu, jika mekanik itu tertangkap, tamatlah riwayatnya. Dengan sisa uang tunai yang dia sembunyikan dari kakeknya, Grayson nekat menyuap kapten kapal nelayan untuk menyelundupkannya kembali ke Jakarta.
Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menyingkirkan kartu as milik Jiro sebelum semuanya terlambat. Dan kartu as terbesar Jiri saat ini adalah Senjani.
"Sialan kau, Jiro... Kamu pikir kamu bisa menghancurkanku begitu saja setelah kaki cacatmu itu sembuh?!" desis Grayson dengan suara parau yang penuh dengan kebencian mendalam, sembari melangkah cepat menuju sebuah mobil sewaan tua yang sudah menunggunya di balik semak-semak pelabuhan.
...----------------...
Keesokan paginya, kediaman utama keluarga Nandotomo tampak begitu tenang. Jiro sudah berangkat ke kantor sejak pukul tujuh pagi untuk memimpin rapat umum pemegang saham tahunan sebuah momen krusial yang menandai kembalinya dia secara mutlak ke puncak takhta bisnis.
Senjani memilih untuk tinggal di rumah. Dia baru saja menyelesaikan sesi penyusunan laporan evaluasi mandiri untuk latihan otot kuadrisep Jiro yang akan dilakukan sore nanti. Saat dia melangkah menuju dapur utama untuk meminta pelayan membuatkan jus alpukat kesukaan suaminya, seorang pelayan muda mendekatinya dengan wajah bingung.
"Nona Senjani, maaf mengganggu waktu Anda," ucap pelayan itu sembari menyodorkan sebuah amplop cokelat berukuran sedang yang tampak agak kusam. "Tadi ada seorang petugas kurir ekspedisi yang mengantarkan ini ke gerbang depan. Katanya, ini adalah dokumen medis tambahan dari Rumah Sakit Pusat yang harus segera ditandatangani oleh Anda secara pribadi."
Senjani mengernyitkan dahi jernihnya, menerima amplop tersebut. "Dokumen medis tambahan? Bukankah semua berkas Mas Jiro udah dipindahin ke sini minggu lalu?"
"Saya kurang tahu, Nona. Kurirnya bilang ini sangat mendesak dan rahasia," jawab pelayan itu membungkuk hormat lalu kembali ke pekerjaannya.
Perasaan tidak enak mendadak merayap di dalam benak Senjani. Dia berjalan menuju gazebo taman belakang yang sepi, lalu merobek segel amplop cokelat tersebut dengan hati-hati. Namun, alih-alih menemukan lembaran kertas rekam medis rumah sakit, tangan Senjani mendadak gemetar hebat saat mengeluarkan isinya.
Di dalam amplop itu terdapat selembar foto berukuran besar yang diambil secara diam-diam dari jarak dekat. Foto itu menampilkan ibunya yang sedang duduk di atas kursi roda di taman Rumah Sakit Singapura, ditemani oleh seorang perawat. Di sudut bawah foto tersebut, terdapat tulisan tangan menggunakan tinta merah darah yang sangat mencolok:
"Kalau kamu masih ingin ibumu tetap bernapas besok pagi, datanglah sendirian ke gedung tua bekas pabrik tekstil Nandotomo di Jakarta Utara dalam waktu satu jam. Jangan hubungi Jiro, atau aku akan menyuruh orangku di Singapura untuk mencabut selang oksigen ibumu detik ini juga.”
Deg!
Napas Senjani seketika tercekat di tenggorokan. Seluruh pasokan oksigen di sekitarnya seolah lenyap dalam sekejap. Wajah cantiknya berubah menjadi pucat pasi sekuning kertas, dan tubuh kecilnya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa dahsyatnya. Ibunya... satu-satunya harta berharga yang tersisa di dunia ini, kini berada di bawah moncong senjata musuh.
Senjani meraba saku celananya, mengambil ponsel baru pemberian dari Jiro. Jemarinya yang gemetar membuka kontak nama 'Mas Jiro'. Dia ingin menelepon, dia ingin berteriak meminta tolong pada suaminya. Namun, kalimat ancaman di surat itu kembali terngiang-ngiang di kepalanya seperti kutukan yang mematikan. Grayson, atau siapa pun dalang di balik surat ini pasti memiliki mata-mata yang mengawasi ibunya di Singapura. Jika dia gegabah, nyawa ibunya akan melayang dalam hitungan detik.
Maafin aku, Mas... Aku gabisa kalau harus mempertaruhkan nyawa Ibu, batin Senjani menangis histeris di dalam hatinya yang hancur.
Lagi-lagi Etika moralnya sebagai seorang anak mengalahkan segalanya. Dia menghapus air matanya dengan kasar, memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop, lalu melangkah terburu-buru menuju garasi belakang melalui pintu samping tanpa memedulikan para pelayan. Senjani nekat memesan taksi daring menggunakan aplikasi di ponselnya, memesan rute langsung menuju lokasi yang tertera di surat ancaman. Dia siap masuk ke dalam sarang serigala, asalkan ibunya tetap aman.
...----------------...
Sementara itu, di dalam mobil sedan mewah yang sedang melaju membelah kemacetan jalan protokol Jakarta pasca rapat, Jiro sedang menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut dalam. Tiba-tiba, ponsel pribadinya berdering nyaring. Panggilan itu dari Adriano.
"Tuan Besar Jiro! Ini gawat!" suara Adriano terdengar sangat panik di seberang saluran. "Tim IT forensik kami baru saja mendeteksi sinyal ponsel milik Nona Senjani bergerak meninggalkan area kediaman utama dengan kecepatan tinggi menggunakan taksi daring. Dan yang lebih mengejutkan, sistem keamanan satelit kami baru saja menangkap sinyal aktif dari salah satu ponsel lama Grayson yang terlacak berada di wilayah Jakarta Utara!"
Brak!
Jiro spontan menegakkan tubuhnya, melupakan rasa nyeri di persendian kakinya yang baru sembuh. Netra elangnya berkilat tajam, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat sopir di depannya merinding ketakutan.
"Apa kamu bilang?! Grayson ada di Jakarta?!" bentak Jiro, suaranya menggelegar memenuhi kabin mobil. "Drian! Cepat lacak rute taksi daring yang ditumpangi Senjani sekarang juga! Kerahkan seluruh tim pengawal bersenjata untuk mengepung rute tersebut! Jika sehelai rambut istriku rusak hari ini, aku sendiri yang akan menguliti Grayson hidup-hidup!"
Jiro menutup telepon dengan kasar, lalu menatap jalanan di depannya dengan napas yang memburu hebat. Jantungnya berdegup kencang, dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa besar yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. "Pak! Putar balik! Nyalakan sirine darurat dan melaju ke Jakarta Utara sekarang juga! Lebih cepat!!!" teriak Jiro dengan urat-urat di lehernya yang menegang kaku. Badai pembalasan dendam yang sesungguhnya kini telah resmi meledak di atas langit ibu kota.