Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Melakukan yang terbaik
"Berikutnya," lanjut Nathan sambil menyerahkan dokumen tambahan, "ini adalah bukti transaksi keuangan di mana para terdakwa memaksa korban mentransfer sejumlah uang secara berkala ke rekening mereka. Dan ini adalah hasil pemeriksaan visum serta analisis psikologis forensik yang menyatakan bahwa korban, Sintia, mengalami trauma berat serta cacat fisik permanen pada area jemari tangannya akibat penganiayaan."
Para pengacara pelaku langsung berdiri melakukan protes.
"Keberatan, Yang Mulia! Bukti video ini diambil tanpa izin dan melanggar privasi klien kami yang masih remaja!"
"Keberatan ditolak," tegas Ketua Majelis Hakim sambil mengetukkan palunya.
"Bukti rekaman ini sah karena diambil di area publik sekolah dalam rangka pembuktian tindak pidana berat."
Wajah para perundung yang tadinya duduk dengan sikap meremehkan di kursi pesakitan seketika berubah pucat pasi.
Keangkuhan mereka runtuh total ketika melihat orang tua mereka sendiri terkulai lemas di kursi penonton, tidak berdaya menghadapi gunungan bukti otentik yang disajikan Nathan.
Setelah melalui serangkaian persidangan yang melelahkan selama dua pekan, Majelis Hakim akhirnya membacakan putusan akhir.
Keempat pelaku dinyatakan bersalah secara sah dan meyakinkan atas tindakan penganiayaan berat berencana, pemerasan, dan pelanggaran UU ITE.
Hakim memutuskan untuk mengesampingkan hukuman percobaan dan menjatuhkan hukuman kurungan penjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak selama lima tahun penjara, hukuman maksimal untuk kategori tindak pidana anak—disertai kewajiban membayar ganti rugi pemulihan medis dan psikologis kepada korban.
Isak tangis histeris dari para pelaku dan orang tua mereka pecah di ruang sidang saat petugas kepolisian memasangkan borgol di tangan keempat remaja tersebut dan menyeret mereka keluar menuju mobil tahanan.
Nathan berdiri di sudut ruangan, memperhatikan proses pemindahan para pelaku dengan wajah datar.
Hukum telah ditegakkan tanpa ada celah manipulasi dari lawan. Walaupun hasilnya mungkin terasa tidak adil, tapi hanya ini yang bisa Nathan berikan sebaik mungkin.
Satu bulan setelah persidangan berakhir, suasana di SMA kembali tenang.
Pihak sekolah yang sempat diproses secara administratif akibat pembiaran kasus akhirnya melakukan pembenahan total di bawah pengawasan dinas pendidikan.
Sintia melangkah melewati gerbang sekolah dengan seragam bersih yang rapi.
Luka memar di wajahnya telah sembuh total, dan lengannya tidak lagi terbalut perban.
Meski bekas luka trauma tidak bisa hilang sepenuhnya dalam semalam, sorot matanya yang dulu redup dan putus asa kini telah kembali memiliki binar kehidupan.
Di ruang bimbingan konseling yang baru, Sintia mendapat pendampingan rutin dari psikolog yang seluruh biayanya ditanggung oleh Nathan melalui dana bantuan sosial dinas dan tabungan pribadinya.
Tidak ada lagi siswa yang berani menyentuh atau memindasnya.
Di sudut trotoar dekat gerbang sekolah, sebuah mobil patroli Polsek Distrik 1 terparkir rapi.
Nathan berdiri menyandarkan badannya di kap mobil sembari memegang cangkir kopi panas.
Ia memperhatikan Sintia yang berjalan masuk ke area kelas bersama beberapa teman barunya yang menyapa ramah.
Niko yang duduk di kursi kemudi menoleh keluar jendela. "Lihat anak itu, Nat. Beda sekali ya dibanding pertama kali kamu bawa dia ke rumah sakit dalam keadaan pingsan."
Nathan tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan. "Ya. Dia berhak mendapatkan masa depan yang normal."
"Ngomong-ngomong, si gadis kacamata aneh itu... siapa namanya? Lisa? Ke mana dia sekarang?" tanya Niko penasaran. "Setelah kasus selesai, dia mendadak hilang begitu saja."
Nathan terkekeh pelan mengingat wanita gila tersebut. "Dia sudah dapat bagian bayarannya. Katanya mau beli peralatan komputer baru dan pindah ke luar distrik. Orang seperti dia tidak akan pernah bisa ditebak jalurnya."
"Yah, yang penting semuanya berakhir baik," ujar Niko sambil menyalakan mesin mobil patroli.
Niko diam sejenak. "... Apa kamu tidak akan marah kalau pelaku tetap hidup enak di penjara?"
Nathan tersenyum getir. "Itulah hukum dunia. aku hanya bisa melakukan hal yang bisa ku lakukan sebagai seorang polisi, dan aku yakin... pelaku pasti mendapatkan balasannya."
Niko tertegun, kagum dengan Nathan.
"Ayo kembali ke kantor, Pak Polisi. Laporan harian sudah menunggu."
"Siap," jawab Niko.
Nathan membuang cangkir kertasnya ke tempat sampah, membetulkan letak sabuk dinasnya, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.
Saat mobil patroli perlahan bergerak meninggalkan area sekolah, Nathan menatap ke arah jendela kelas Sintia dari kejauhan.
Masa depan gadis itu telah terselamatkan dari tragedi berdarah, dan Nathan tahu bahwa tugasnya sebagai seorang polisi akan terus berlanjut.