NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Detik-Detik Penyelamatan

Tuk. Tuk. Tuk.

Langkah sepatu kulit Alvan menggelegar menaiki anak tangga, semakin mendekati koridor lantai dua. Bayangan tubuh tegapnya sudah membayang di dinding marmer sudut belokan.

Andira tidak membiarkan rasa panik melumpuhkan otaknya. Dalam fraksi detik sebelum tubuh Alvan muncul sepenuhnya, jemari Andira menyambar flashdisk perak berinisial 'R' itu dari atas lantai.

Tanpa sempat berpikir panjang, ia menyelipkan benda logam dingin itu ke balik balutan perban kassa yang melingkari luka bakar di pergelangan tangan kanannya.

Rasa nyeri menyengat seketika saat ujung flashdisk menekan kulitnya yang sensitif, namun Andira menahan napas, menyembunyikan tangannya di balik lipatan lengan kemeja panjangnya.

Ia berdiri tegak, bersandar pada pilar tepat saat Alvan melangkah masuk ke koridor.

Alvan menghentikan langkahnya. Pria itu tampak berantakan, jasnya sudah dilepas, lengan kemejanya tergulung acak, dan dasinya agak melonggar. Matanya yang tajam menyapu koridor, memicing curiga saat melihat Andira berdiri di dekat pintu kamar Roy yang sedikit renggang.

"Andira?" suara Alvan mengalun berat dan sarat investigasi. "Apa yang kamu lakukan di koridor ini?"

Andira mengatur napasnya yang memburu, menatap Alvan dengan sorot mata yang dibuat sesenang mungkin. "Saya baru saja dari kamar tamu lantai dua, Pak. Saya mendengar suara pintu depan terbuka dan berniat melihat siapa yang datang."

Alvan melangkah mendekat, matanya bergulir menatap pintu kamar mendiang adiknya yang tidak terkunci rapat. Wajahnya seketika mengeras. "Kenapa pintu kamar Roy terbuka?"

"Tadi... Elena sempat datang," jawab Andira jujur, memanfaatkan situasi untuk mengarahkan perhatian Alvan. "Dia terlihat sangat terburu-buru masuk ke kamar Roy dan keluar lagi dengan panik. Saya tidak berani mendekat sampai dia pergi."

Alvan merapatkan bibirnya. Kerutan di dahinya makin dalam. Elena? Kenapa Elena menyelinap ke kamar Roy di saat semua orang fokus pada Rumah Sakit?

Alvan melangkah maju, mendorong pintu kamar Roy hingga terbuka lebar. Ia melihat beberapa lembar kertas majalah berhamburan di lantai, bekas bongkaran Elena yang tergesa-gesa.

Rahang Alvan mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres dengan tindakan Elena, dan benih keraguan yang ditanamkan oleh peristiwa demi peristiwa mulai membesar di benak Alvan.

Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Andira. Melihat wajah Andira yang pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya karena kurang tidur, amarah Alvan mendadak menguap, digantikan oleh kelelahan emosional yang mendalam.

"Ikut aku ke ruang tengah," ujar Alvan pelan, suaranya kehilangan nada ancaman.

~

Ruang tengah mansion terasa sangat hening sore itu. Cahaya jingga matahari terbenam menerobos jendela kaca besar, membiaskan bayangan panjang di atas lantai marmer.

Alvan menghempaskan tubuhnya di atas sofa kulit hitam yang luas. Ia memijat pangkal hidungnya, memejamkan mata rapat-rapat. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan kejanggalan dokumen transaksi bank, sikap Elena yang mencurigakan, dan fakta bahwa ibunya baru saja lolos dari maut.

Satu menit kemudian, sebuah aroma wangi teh herbal dan aroma uap hangat menyapa indra penciumannya.

Alvan membuka mata. Andira berdiri di samping meja kopi, meletakkan sebuah nampan kayu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Di atas nampan itu terdapat segelas air hangat dengan perasan lemon, selembar handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat untuk mengusap wajah, dan cangkir teh chamomile.

Tanpa diminta, Andira berlutut di samping sofa. Tangan kirinya terulur secara alami, meraih jas kerja Alvan yang tergeletak sembarangan di sandaran sofa, mematutnya dengan rapi, lalu melipatnya lembut sebelum diletakkan di samping.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada keluhan atas tangannya yang terluka. Tidak ada raut muka memohon belas kasihan. Gerakan Andira begitu sigap, tulus, dan penuh perhatian seorang istri yang mengayomi suaminya yang lelah.

Alvan memandangi jemari Andira yang bergerak telaten. Di bawah kain kassa perban di tangan kanan wanita itu, flashdisk rahasia tersimpan aman, namun yang terlihat oleh Alvan hanyalah sebuah pengorbanan yang tak menuntut balasan.

"Kenapa dia melakukan semua ini ?" batin Alvan bertarung hebat. "Aku telah mencampakkannya ke kamar sempit, mengizinkan ibuku memakinya, menuduhnya pembunuh... tapi dia tetap melayaniku seolah aku adalah pelindungnya."

"Cukup, Andira," bisik Alvan.

Andira menghentikan gerakannya, menatap Alvan dari posisinya yang berlutut di dekat meja. "Ada yang kurang, Pak? Mau saya buatkan makanan hangat?"

"Duduklah," perintah Alvan, menunjuk ruang kosong di sofa sebelah.

Andira ragu sejenak, namun akhirnya ia berdiri dan duduk di ujung sofa, menjaga jarak yang sopan dari Alvan.

Alvan mengambil gelas air hangat perasan lemon, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Kehangatan cairan itu meredakan dahaganya, namun kehangatan dari sikap Andira justru menyiksa nuraninya.

Dinding pertahanan yang dibangun Alvan dari batu-batu dendam, kemarahan, dan rasa kehilangan atas Roy kini benar-benar retak bertaburan. Prasangkanya hancur berantakan di hadapan kenyataan yang ditunjukkan wanita di depannya.

Alvan memutar tubuhnya menghadap Andira sepenuhnya. Matanya yang kelam menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Andira yang jernih, mencari kebohongan, mencari kepura-puraan, namun ia tidak menemukan apa pun selain keteguhan.

"Kenapa?" tanya Alvan tiba-tiba. Suaranya terdengar impulsif, bergetar oleh konflik batin yang membakar dadanya.

Andira sedikit terkejut. "Apa maksud Anda, Pak Alvan?"

"Kenapa kamu tetap bersikap seperti ini?" Alvan memajukan tubuhnya, menatap Andira dengan intensitas yang membuat udara di antara mereka terasa berat. "Aku telah mengurungmu di rumah ini seperti tawanan. Ibuku memakimu dan menyirammu dengan sup panas hingga tanganmu terbakar. Elena menuduhmu penjahat. Dan aku... aku memperlakukanmu seperti seorang pembunuh."

Napas Alvan memburu, matanya memerah menahan guncangan emosi.

"Kenapa kamu tidak membenciku, Andira? Kenapa kamu tidak mengutuk keluarga ini? Kenapa kamu justru menyelamatkan nyawa ibuku dan tetap merawatku dengan kelembutan ini?! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?!"

Pertanyaan bertubi-tubi itu menggema di ruang tengah yang sunyi. Itu bukan bentakan murka, melainkan teriakan frustrasi dari seorang pria yang menyadari bahwa ia mungkin telah menyiksa orang yang salah.

Andira mendengarkan setiap patah kata Alvan tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tidak ada rasa takut lagi di matanya. Rasa terisolasi dan penderitaan yang dialaminya selama berada di mansion ini memuncak menjadi sebuah ketenangan yang amat bersahaja.

Andira menarik napas dalam-dalam. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus tepat ke dalam kedua mata Alvan Samudra.

"Karena saya tahu rasa sakitmu, Pak Alvan," ujar Andira, suaranya mengalun lembut namun begitu tegas, mengetuk tepat di ulu hati Alvan. "Saya tahu kamu mencintai Roy melebihi dirimu sendiri, dan rasa sakit kehilangan saudara adalah neraka yang membakar pikiranmu setiap hari."

Alvan terpaku, tenggorokannya terkunci.

"Tapi Kau harus tahu," lanjut Andira dengan getaran emosi yang jujur, air mata bening tergenang di sudut matanya namun menolak untuk jatuh. "Saya tidak pernah menyentuh racun itu. Saya tidak pernah mengincar harta keluarga Samudra. Dan saya tidak akan pernah lari atau membalas dendam dengan kejahatan..."

Andira jeda sejenak, menatap Alvan tanpa keraguan sedikit pun.

"Karena aku mencintai kebenaran lebih dari diriku sendiri, dan aku ingin suami yang kunikahi tahu bahwa ia tidak sedang mengurung seorang pembunuh."

Kalimat itu terucap bagaikan petir yang menyambar keheningan.

Alvan membeku di tempatnya. Kata "suami yang kunikahi" dan "mencintai kebenaran" menghantam kesadaran Alvan dengan kekuatan yang meremukkan seluruh sangkaan jahatnya selama ini. Bibir Alvan terbuka sedikit, namun tak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari tenggorokannya.

Di dalam mata Andira, Alvan tidak melihat bayangan seorang kriminal manipulatif. Ia melihat seorang wanita terpuji dengan martabat yang tak tersentuh, seorang istri yang menanggung tuduhan terkejam demi membongkar fakta yang sebenarnya.

Ruang tengah itu hening total. Hanya ada tatapan mata mereka yang terkunci satu sama lain, sebuah momen di mana balik arah emosi terjadi sepenuhnya. Alvan tahu, mulai detik ini, ia tidak akan pernah bisa memandang Andira sebagai musuhnya lagi.

~

Sementara atmosfer di ruang tengah dipenuhi oleh momen emosional yang intens dan melelehkan es di antara Alvan dan Andira, di sebuah sudut lain di luar rumah... kegelapan yang sesungguhnya sedang mengintai.

Sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir bersembunyi di balik deretan pohon tinggi di seberang gerbang mansion Samudra.

Di dalam mobil yang redup itu, layar sebuah tablet canggih menyala terang. Layar itu menampilkan feed langsung (live streaming) dari salah satu kamera pengawas rahasia berukuran mikro yang terpasang tersembunyi di balik bingkai lukisan di ruang tengah mansion.

Elena duduk di kursi belakang mobil tersebut.

Wajah Elena yang tadi pagi panik kini berubah menjadi monster penuh kedengkian. Matanya yang dilapisi riasan tebal menyipit tajam, menatap layar tablet yang memperlihatkan adegan Alvan sedang menatap Andira dengan sorot mata yang penuh penyesalan dan kelembutan.

Elena bisa mendengar setiap kata yang diucapkan Andira melalui perangkat penyadap suara berkejernihan tinggi yang terhubung ke tabletnya.

"Keparat..." desis Elena, suaranya sarat akan racun amarah yang membakar.

Tangannya mengepal sangat keras hingga kuku-kuku jarinya yang dicat merah menancap ke dalam telapak tangannya sendiri.

Ia melihat dengan jelas bagaimana Alvan, pria yang selama ini berhasil ia kendalikan lewat manipulasi duka atas Roy, kini mulai bertekuk lutut pada kebenaran yang dibawakan Andira.

"Aku sudah susah payah menyingkirkan Roy dan menjebak wanita sialan ini..." gumam Elena dengan nada histeris yang tertahan, matanya membelalak penuh dendam. "Aku tidak akan biarkan kamu merusak semua rencanaku, Andira! Kalau Alvan mulai mempercayaimu... maka kamu harus lenyap dari rumah itu sebelum kamu menemukan hal yang lain!"

Elena menyambar ponsel panggilannya, menekan sebuah nomor tidak dikenal dengan jemari yang gemetar oleh amarah jahat.

"Hallo?" suara berat seorang pria misterius terdengar dari seberang telepon.

"Rencana berubah," desis Elena dingin, matanya tak lepas dari layar yang menampilkan wajah Andira. "Kita tidak bisa menunggu Alvan menceraikannya. Habisi wanita itu malam ini juga. Buat seolah-olah dia bunuh diri karena rasa bersalah!"

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!