NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Nama Besar Grand Hotel

Nama pria yang ditemukan meninggal di kamar itu akhirnya diketahui: Herutomo Gunawan.

Bagi pihak Grand Hotel Pratama, nama tersebut bukanlah nama asing. Herutomo tercatat sebagai salah satu investor hotel sejak tiga tahun terakhir. Namanya tersimpan dalam sejumlah dokumen kerja sama dan laporan investasi perusahaan.

Namun, ada satu hal yang membuat sang istri semakin terkejut.

Selama tiga tahun itu, ia sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa suaminya memiliki hubungan investasi dengan Grand Hotel Pratama.

"Investor?" ulang istrinya dengan wajah tak percaya.

Seorang staf mengangguk hati-hati.

"Nama Pak Herutomo memang tercatat dalam data perusahaan, Bu. Kami juga menemukan beberapa dokumen terkait kerja sama investasinya."

Perempuan itu terdiam. Tangannya menggenggam erat tas yang dibawanya.

"Selama ini dia tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku."

Putrinya menatap sang ibu dengan bingung.

"Mungkin Ayah punya urusan bisnis yang tidak pernah diceritakan."

Sang ibu menggeleng pelan.

"Ayahmu tidak pernah menyembunyikan urusan sebesar ini dariku."

Matanya kembali berkaca-kaca.

Semakin banyak informasi yang ia dengar, semakin kuat perasaan tidak nyaman di dalam dadanya. Bukan hanya karena suaminya meninggal mendadak, tetapi karena ternyata ada bagian dari kehidupan Herutomo yang selama ini tidak ia ketahui.

Ia kemudian teringat penjelasan medis mengenai serangan jantung.

"Tidak."

Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh keyakinan.

"Aku tidak percaya."

Staf hotel yang berdiri di hadapannya terdiam.

"Suamiku memang sudah tidak muda lagi, tapi dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Dia juga tidak pernah mengeluh sakit beberapa hari terakhir."

Perempuan itu menatap ke arah pintu kamar tempat suaminya ditemukan.

"Kenapa dia datang ke hotel ini tanpa memberitahuku?"

Tidak ada yang mampu memberikan jawaban.

Mahesa yang mendengar percakapan tersebut semakin serius. Ia mulai menyadari bahwa kematian Herutomo mungkin memiliki sisi lain yang belum diketahui.

Namun ia juga tidak ingin membuat kesimpulan tanpa bukti.

"Kami akan menyerahkan seluruh data kepada pihak berwenang," ujar Mahesa. "Termasuk catatan investasi Pak Herutomo dan riwayat kedatangannya ke hotel."

Sang istri menatap Mahesa cukup lama.

"Saya hanya ingin satu hal, Pak."

"Apa itu?"

"Temukan kebenaran tentang kematian suami saya."

Suaranya bergetar.

"Kalau memang dia meninggal karena penyakit, saya akan menerima kenyataan itu. Tapi kalau ada seseorang yang membuatnya meninggal..."

Ia berhenti sejenak, menahan tangis.

"...saya ingin orang itu ditemukan."

Mahesa tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada dokumen investasi Herutomo yang masih berada di tangan staf.

Untuk pertama kalinya, nama seorang investor yang selama ini hanya tercatat di atas kertas mulai terasa seperti bagian penting dari sebuah misteri yang jauh lebih besar.

Direktur utama mencoba menghampiri Mahesa yang sejak tadi berdiri dengan wajah tegang di depan kamar tempat Herutomo ditemukan.

"Pak, sebaiknya Bapak pulang dulu. Biar pihak hotel yang menangani semuanya. Polisi juga sudah memasang garis pembatas dan pemeriksaan akan dilakukan sesuai prosedur."

Mahesa langsung menoleh.

"Pulang?"

Nada suaranya terdengar berat.

"Bagaimana saya bisa pulang kalau ada seorang investor perusahaan saya meninggal secara mendadak di hotel ini?"

Direktur itu mencoba menenangkan.

"Kami akan memberikan semua data yang diperlukan kepada pihak berwenang."

Namun Mahesa menggeleng.

"Saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Ia menatap pintu kamar yang kini tertutup garis polisi. Tatapannya penuh kegelisahan.

"Jangan ada yang menyentuh kamar ini. Pastikan seluruh rekaman kamera dan data tamu diamankan. Saya ingin semuanya tersedia ketika pemeriksaan dilakukan."

Direktur mengangguk.

"Baik, Pak."

Belum sempat percakapan berlanjut, suara keributan terdengar dari arah lobi.

Beberapa orang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Mereka bukan tamu biasa.

Seorang pria membawa map tebal dan langsung menghampiri manajemen hotel.

"Kami ingin bertemu orang yang bertanggung jawab!"

Para karyawan mulai panik. Beberapa petugas keamanan segera mendekat untuk menjaga keadaan tetap terkendali.

"Ada apa, Pak?" tanya salah seorang staf.

"Jangan pura-pura tidak tahu!"

Pria itu mengangkat beberapa dokumen.

"Kami investor di hotel ini!"

Mahesa yang mendengar keributan tersebut segera menoleh.

Seorang perempuan di belakang pria itu ikut bersuara.

"Uang kami sudah berbulan-bulan tidak jelas! Setiap kali kami meminta penjelasan, selalu diberi alasan!"

Suasana lobi semakin tegang.

Mahesa berjalan mendekat.

"Tenang dulu. Saya ingin mendengar semuanya."

Namun pria tersebut justru semakin marah.

"Tenang bagaimana? Kami sudah mempercayakan uang kami kepada perusahaan ini!"

Ia menunjukkan dokumen yang dibawanya.

"Ini bukti investasi kami."

Mahesa mengambil napas panjang.

"Semua akan diperiksa."

"Kami sudah terlalu sering mendengar kata itu!"

Teriakan tersebut membuat beberapa karyawan saling berpandangan.

Di tengah kematian Herutomo yang belum menemukan titik terang, kini muncul sekelompok investor yang mengaku mengalami kerugian. Mahesa mulai merasakan tekanan yang semakin berat.

Ia menoleh kepada direktur.

"Siapkan seluruh laporan investasi."

Direktur tampak ragu.

"Pak..."

"Semua."

Mahesa menatapnya tajam.

"Saya ingin tahu apakah ada hubungan antara masalah investasi ini dengan kematian Pak Herutomo."

Direktur terdiam.

Sementara di luar hotel, suasana semakin ramai. Beberapa orang mulai mengambil gambar dan bertanya-tanya tentang keributan yang terjadi.

Mahesa berdiri di tengah lobi dengan pikiran yang semakin kacau.

Satu kematian.

Sekelompok investor yang mengaku dirugikan.

Dan sebuah perusahaan yang tiba-tiba berada di bawah sorotan.

Untuk pertama kalinya, Mahesa merasa masalah yang terjadi di hotelnya bukan lagi sekadar persoalan internal. Ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di balik semua ini.

Mahesa semakin gelisah. Pandangannya beralih dari para investor yang masih bersitegang ke arah kamar yang telah dipasangi garis polisi. Terlalu banyak kejadian muncul dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kematian Herutomo.

Masalah investasi.

Dan orang-orang yang tiba-tiba datang menuntut penjelasan.

Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Mahesa menoleh kepada Julian yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya.

"Julian."

Julian segera mendekat.

"Ada apa, Yah?"

"Kamu pulang sekarang."

Julian tampak terkejut.

"Tapi aku baru..."

"Pulang dulu. Jangan lewat lobi."

Nada suara Mahesa membuat Julian langsung memahami bahwa ayahnya sedang serius.

Mahesa memanggil salah seorang petugas keamanan yang dipercaya.

"Antar Julian keluar melalui pintu darurat. Pastikan dia sampai mobil dengan aman."

Petugas itu mengangguk.

Julian sempat menatap ayahnya.

"Ayah sendiri?"

"Ayah masih ada urusan."

"Tapi..."

"Jangan khawatir. Pulanglah."

Julian akhirnya mengangguk meski wajahnya masih dipenuhi rasa penasaran.

Ia mengikuti petugas keamanan melewati koridor belakang. Suasana di sana jauh lebih sepi dibandingkan lobi yang masih dipenuhi keributan.

Sesaat sebelum menghilang di balik pintu, Julian menoleh.

Mahesa masih berdiri di tengah hotel dengan wajah serius. Untuk pertama kalinya, Julian melihat ayahnya bukan sebagai seorang pengusaha yang selalu tenang, tetapi sebagai seseorang yang sedang menghadapi sesuatu yang benar-benar membuatnya khawatir.

Pintu darurat tertutup perlahan.

Mahesa menarik napas panjang.

Ia kemudian kembali menatap suasana hotel yang kacau.

Perasaannya semakin tidak nyaman.

Ia tidak tahu siapa yang harus dicurigai atau apa sebenarnya yang sedang terjadi. Namun satu hal yang ia yakini, kematian Herutomo dan masalah para investor mungkin bukan dua kejadian yang berdiri sendiri.

Dan kali ini, Mahesa merasa ia harus menemukan jawabannya sendiri sebelum semuanya terlambat.

Malam itu, Maya sibuk menyiapkan makan malam di meja makan. Aroma masakan rumahan memenuhi dapur sederhana mereka. Ia menata piring untuk dirinya dan Raffi, lalu memanggil putranya.

"Raffi, makan dulu. Jangan terlalu lama main HP."

Tidak ada jawaban.

Maya menoleh ke ruang tengah. Raffi masih duduk sambil memegang ponselnya, wajahnya serius membaca sebuah berita.

"Raffi?"

"Sebentar, Bu."

Maya akhirnya menghampiri. "Kamu baca apa sampai serius begitu?"

Raffi menggeser layar ponselnya.

"Berita hotel besar di Jakarta."

Maya hanya melirik sekilas. Namun beberapa kata yang terbaca membuat langkahnya mendadak terhenti.

Grand Hotel Pratama.

Nama itu terasa seperti pukulan yang tiba-tiba menghantam ingatannya.

Maya menatap layar ponsel Raffi dengan wajah berubah.

"Hotel itu..."

Raffi mengangguk.

"Iya. Katanya ada orang meninggal mendadak di salah satu kamar. Belum jelas bunuh diri atau karena apa."

Maya tidak langsung menjawab.

Tangannya yang tadi memegang piring perlahan menegang.

Sepuluh tahun.

Selama sepuluh tahun ia berusaha tidak mencari tahu apa pun tentang keluarga Pratama. Ia bahkan tidak pernah sengaja membuka berita mengenai Mahesa.

Namun malam ini, nama itu kembali muncul begitu saja di hadapannya.

Raffi kembali membaca berita.

"Terus ada kasus investor yang katanya merasa ditipu. Banyak orang datang ke hotel dan minta penjelasan."

Maya semakin terdiam.

"Mahesa..." gumamnya tanpa sadar.

Raffi menoleh.

"Ibu kenal pemilik hotel itu?"

Maya tersentak. Ia segera mengalihkan pandangan.

"Kenal... dulu."

"Dulu kerja di sana?"

Maya mengangguk pelan.

"Iya."

Raffi kembali melihat layar ponselnya.

"Berarti Pak Mahesa itu orang yang pernah Ibu ceritakan?"

Jantung Maya seolah berhenti sesaat.

Selama ini ia tidak pernah menyebut Mahesa secara jelas kepada Raffi. Namun putranya mulai cukup besar untuk menghubungkan berbagai cerita yang pernah didengarnya.

Maya berusaha tersenyum.

"Sudah, makan dulu."

Namun pikirannya sudah tidak lagi berada di meja makan.

Ia kembali teringat sepuluh tahun lalu. Vila, Bu Ratih, kata-kata yang menyakitkan, dan keputusan untuk meninggalkan semuanya.

Ia mengira masa lalu itu sudah selesai.

Ternyata hanya dengan sebuah berita, luka lama yang selama ini ia kubur kembali terasa.

Maya menatap Raffi yang masih membaca berita.

Entah mengapa, kali ini ia merasa takut.

Bukan hanya karena nama Mahesa kembali muncul dalam hidupnya.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, dunia Raffi mulai perlahan mendekati rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

Rapat Darurat Pemegang Saham

Rapat darurat berlangsung hingga larut malam. Seluruh pemegang saham utama, jajaran direktur, komisaris, bagian keuangan, auditor internal, serta penasihat hukum perusahaan berkumpul di ruang rapat utama. Suasana jauh dari tenang. Tidak ada seorang pun yang berani bercanda setelah kematian Herutomo dan munculnya tuduhan penipuan terhadap investor.

Direktur keuangan membuka laporan lama perusahaan.

"Tiga tahun lalu, kinerja saham Grand Hotel Pratama memang sempat mengalami tekanan serius. Nilai perusahaan turun karena pendapatan tidak mencapai proyeksi, sementara biaya operasional dan ekspansi meningkat."

Mahesa menatap layar besar di depan mereka.

"Lalu kenapa kita membuka kesempatan investasi?"

"Karena perusahaan membutuhkan tambahan modal kerja dan pendanaan ekspansi. Setelah dilakukan pemeriksaan internal, kami menemukan adanya transaksi keuangan yang tidak sesuai dengan pembukuan perusahaan."

Ruangan langsung hening.

Salah seorang komisaris menyela, "Maksudnya ada dana investor yang masuk tetapi tidak tercatat sebagai aset perusahaan?"

Direktur keuangan mengangguk.

"Benar. Awalnya kami menduga terjadi masalah dalam pengelolaan investasi. Tetapi setelah dilakukan penelusuran rekening dan rekonsiliasi, aliran dana tersebut ternyata tidak berakhir di rekening operasional Grand Hotel Pratama."

Mahesa mengernyit.

"Lalu ke mana?"

Penasihat hukum membuka dokumen yang ada di hadapannya.

"Indikasi sementara menunjukkan adanya penggelapan dana oleh oknum internal. Beberapa transaksi dilakukan menggunakan akses dan dokumen perusahaan, sehingga dari sisi investor terlihat seolah-olah dana tersebut merupakan bagian dari kegiatan investasi resmi."

Wajah Mahesa seketika berubah.

"Jadi selama ini..."

Ia berhenti, seolah sulit menerima kesimpulan tersebut.

"Dana investor bukan diambil perusahaan?"

"Indikasi awalnya demikian, Pak. Dana diduga dialihkan oleh oknum staf melalui beberapa rekening perantara. Kami masih melakukan audit forensik untuk memastikan jumlah kerugian, pihak yang terlibat, dan pola transaksinya."

Mahesa menghantam meja dengan telapak tangannya.

"Kenapa baru sekarang saya diberi tahu?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Penasihat hukum kemudian menjelaskan bahwa kasus tersebut berpotensi masuk ranah pidana apabila terbukti terdapat unsur penggelapan, penipuan, pemalsuan dokumen, atau penyalahgunaan akses keuangan. Sementara dari sisi perdata, perusahaan tetap harus menghitung kewajiban terhadap investor dan menentukan apakah terdapat tanggung jawab hukum korporasi berdasarkan kontrak investasi serta mekanisme penghimpunan dana yang digunakan.

"Jangan sampai perusahaan mengambil keputusan gegabah," ujar penasihat hukum. "Kita harus memisahkan tanggung jawab badan usaha dengan perbuatan pribadi pelaku. Semua bukti transaksi harus diamankan dan jangan ada dokumen yang diubah."

Mahesa menarik napas dalam-dalam.

"Audit forensik. Sekarang juga."

Tatapannya berpindah kepada direktur keuangan.

"Telusuri seluruh transaksi sejak tiga tahun lalu. Rekening perusahaan, rekening penampungan, dokumen investasi, kontrak, tanda tangan, akses sistem, semuanya."

"Baik, Pak."

"Dan laporkan kepada pihak berwenang kalau bukti awal sudah cukup."

Suasana rapat semakin berat.

Mahesa menyandarkan tubuhnya ke kursi. Amarah masih memenuhi dadanya, tetapi kini bercampur dengan kekhawatiran.

Selama tiga tahun, ada orang di dalam perusahaannya yang diduga menggunakan nama Grand Hotel Pratama untuk mengambil uang investor.

Lebih buruk lagi, Herutomo—salah satu investor yang namanya tercatat sejak awal—justru ditemukan meninggal secara mendadak di hotel.

Mahesa menatap berkas di depannya.

"Jangan ada yang menutup-nutupi lagi," katanya dingin. "Saya ingin kebenaran, meskipun kebenaran itu ternyata menghancurkan orang-orang di dalam perusahaan ini."

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak seorang pun berani membantah.

Rapat yang semula membahas aliran dana kini berubah menjadi pembicaraan yang jauh lebih sensitif. Para pemegang saham utama, direktur, dan penasihat hukum menyadari bahwa satu kesalahan informasi dapat membuat keadaan perusahaan semakin kacau.

"Kita tidak bisa membuka seluruh hasil temuan ini kepada media sekarang," ujar salah seorang komisaris dengan suara berat.

Mahesa langsung menatapnya tajam.

"Jadi kalian ingin menyembunyikannya?"

"Bukan menyembunyikan, Pak. Kita harus menjaga proses penyelidikan."

Penasihat hukum kemudian menjelaskan dengan hati-hati. Jika dugaan penggelapan dana dan masalah investasi diumumkan sebelum bukti serta pihak yang bertanggung jawab benar-benar jelas, kepercayaan pasar bisa runtuh. Investor dapat melakukan penjualan besar-besaran, nilai saham perusahaan berpotensi tertekan, dan kepanikan dapat menyebar jauh lebih cepat daripada proses hukum.

"Kalau wartawan mengaitkan kematian Herutomo dengan masalah investasi," lanjutnya, "berita itu bisa berkembang menjadi spekulasi bahwa perusahaan terlibat langsung. Dampaknya terhadap reputasi hotel bisa sangat besar."

Mahesa mengepalkan tangannya.

"Jadi kalian memilih mengatakan dia meninggal karena serangan jantung?"

Ruangan mendadak sunyi.

Direktur utama menjawab pelan.

"Itu merupakan kesimpulan medis sementara berdasarkan pemeriksaan awal. Kami tidak menyatakan lebih dari yang sudah diketahui."

Mahesa berdiri dari kursinya.

"Tapi kalian tahu ada sesuatu yang belum jelas."

"Kita semua tahu," jawab komisaris. "Karena itu kamar sudah dipasang garis polisi dan pemeriksaan lebih lanjut tetap berjalan."

Mahesa berjalan menuju jendela. Dari sana ia bisa melihat lampu-lampu hotel yang masih menyala meskipun hari telah larut.

Ia membenci keputusan tersebut.

Baginya, Herutomo bukan sekadar nama dalam laporan investasi. Ia adalah seorang manusia yang datang ke hotelnya dan kemudian ditemukan meninggal.

Namun Mahesa juga memahami risiko yang sedang dihadapi perusahaan.

Jika media mengetahui adanya dugaan penggelapan dana investor tepat setelah seorang investor ditemukan meninggal, berita tersebut bisa menjadi badai. Nama Grand Hotel Pratama akan terseret, investor panik, dan perusahaan yang selama bertahun-tahun dibangun keluarganya dapat kehilangan kepercayaan dalam hitungan hari.

"Untuk sementara," ujar penasihat hukum, "kita hanya menyampaikan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Herutomo ditemukan meninggal di kamar hotel dan pemeriksaan awal mengarah pada dugaan serangan jantung. Tidak ada spekulasi mengenai penyebab lain sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar."

Mahesa masih diam.

Ia tahu keputusan itu bukan berarti kebenaran boleh dihapus.

"Semua bukti tetap disimpan," katanya akhirnya. "Tidak boleh ada satu dokumen pun yang dimusnahkan atau diubah."

"Tentu."

"Dan kalau hasil pemeriksaan nanti menunjukkan penyebab lain, kita buka semuanya."

Tidak ada yang membantah.

Mahesa kembali duduk dengan wajah penuh tekanan. Ia merasa terjebak di antara dua pilihan buruk: menjaga perusahaan tetap berdiri atau membuka seluruh persoalan dan menghadapi risiko kehancuran reputasi sebelum penyelidikan selesai.

Di dalam hati, ia hanya berharap keputusan mereka tidak berubah menjadi kesalahan yang lebih besar.

Karena semakin banyak rahasia yang ditutup rapat, semakin besar pula kemungkinan seseorang di balik semua ini memiliki kesempatan untuk menghilangkan jejak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!