Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh ~
Pagi hari di kompleks barak militer disambut dengan suasana yang jauh lebih tenang, sejuk, dan damai dari biasanya. Bahkan entitas kecerdasan buatan di dalam kepala Bagas, yang biasa dipanggil Daisy, mendadak tampak jauh lebih anteng dan tidak rewel tanpa rentetan notifikasi atau ancaman konyol yang biasanya sukses membuat jantung Bagas mau copot sejak subuh menjelang.
Seluruh proses memasak hidangan sarapan pagi untuk ratusan prajurit barak berjalan dengan sangat lancar tanpa ada hambatan berarti. Berkat efek magis dari Obat Kuat Level 3 yang semalam sempat membuat dompet poinnya menangis darah, lidah Bagas kini benar-benar bertransformasi menjadi lidah dewa. Ia mampu meracik bumbu, menyeimbangkan rasa, dan mengoreksi keasinan atau kemanisan masakan hanya dengan mengecapnya sekilas saja dalam hitungan detik. Kualitas sarapan pagi itu bahkan diakui jauh lebih sempurna dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Namun, begitu kesibukan memasak pagi itu mulai mereda dan seluruh peralatan dapur dibersihkan hingga berkilau, sebuah panggilan tak terduga mendadak menghentikan langkah Bagas.
"Bagas, bisa ikut ke ruanganku sebentar?" panggil sang Kepala Koki dengan nada suara yang terdengar serius namun tetap ramah, sambil melambaikan tangan ke arah meja kerjanya yang berada di sudut ruangan.
Bagas, yang merasa dirinya tidak melakukan kesalahan fatal apa pun pagi ini, langsung melangkah menghampiri dengan tenang dan penuh rasa hormat. "Ada apa Kepala Koki? Apakah ada yang kurang dari sarapan pagi tadi?" tanyanya sopan.
Kepala koki paruh baya itu menghela napas pelan, menatap Bagas lekat-lekat dengan pandangan penuh penilaian sebelum akhirnya menarik senyuman tipis di bibirnya.
"Begini Bagas. Usiaku sudah tidak muda lagi, tenaga dan fisikku pun sudah mulai menurun." ucap sang Kepala Koki membuka percakapan serius. "Sebentar lagi, masa baktiku di barak militer ini akan segera habis dan aku akan resmi memasuki masa pensiun. Selama beberapa waktu terakhir aku mengamati kinerjamu terutama dari caramu menguasai dapur dengan gesit, ketepatan potongan pisau, dan keahlian masakanmu yang luar biasa di luar nalar aku yakin seratus persen bahwa besar kemungkinan jabatan Kepala Koki ini nantinya akan jatuh kepadamu."
Mendengar pengumuman besar dan tawaran promosi jabatan yang sangat diidamkan banyak orang tersebut, alih-alih merasa senang, bangga, atau melompat kegirangan, Bagas justru tertegun kaku di tempatnya berdiri. Hatinya mendadak diliputi oleh gelombang bimbang yang amat pelik dan membingungkan.
Di satu sisi, posisi sebagai seorang Kepala Koki tetap di barak militer tentu memberikan jaminan kestabilan hidup jangka panjang, status sosial yang jelas di mata para prajurit, serta kepastian gaji bulanan yang rutin. Tapi di sisi lain, entah mengapa ada sebuah dorongan batin yang kuat dan bergejolak di dalam hatinya untuk suatu hari nanti melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Bagas sebenarnya menyimpan sebuah mimpi besar. Ia ingin merintis restorannya sendiri, menciptakan merek kulinernya sendiri, dan meraup kesuksesan finansial secara mandiri sebagai bos bagi dirinya sendiri.
Namun, secepat impian indah itu melintas di kepalanya, akal sehatnya langsung menamparnya kembali ke realita pahit yang kejam.
Membangun restoran sendiri? Mimpi besar dan mulia sih boleh-boleh saja... Tapi mau pakai modal dari mana coba kalau tabungan sistemku sekarang saja tinggal sisa 500 poin hasil perasan si rentenir Daisy?! batin Bagas merana sambil tersenyum kecut menahan tangis.
Melihat ekspresi wajah Bagas yang tampak diam membisu, kebingungan setengah mati, dan tenggelam dalam lautan pikirannya sendiri, sang Kepala Koki tidak berniat mendesak atau memaksa. Ia mengira pemuda di hadapannya itu hanya merasa terbebani secara mental oleh tanggung jawab besar yang tiba-tiba dijatuhkan ke pundaknya.
"Tidak usah dipikirkan terlalu berat atau dijadikan beban pikiran sekarang, Nak," ucap Bagas menjawab dengan senyuman tipis dan nada bicara yang sengaja dibuat pasrah. "Biarkan saja semuanya mengalir dan berjalan secara alami sesuai takdirnya."
Kepala koki mengangguk pelan, merasa sangat paham dengan reaksi bawahannya yang terlihat hati-hati. Ia lantas bangkit dari kursi dan menepuk bahu Bagas dengan penuh kehangatan serta apresiasi yang tinggi.
"Aku sangat paham dengan kapasitas, potensi, dan bakat besar yang kau miliki Bagas." puji Kepala Koki dengan mata berbinar kagum. "Akan sangat disayangkan dan menjadi sebuah pemborosan yang teramat besar jika bakat memasak sehebat ini hanya dihabiskan selamanya di dapur barak militer yang terpencil dan monoton ini. Dengan kemampuan masak dan kepekaan indra perasa yang luar biasa tajam itu, kau seharusnya bisa melangkah lebih jauh mungkin menjadi seorang chef selebriti terkenal di layar kaca, atau bahkan membangun kerajaan bisnis kuliner dan restoran milikmu sendiri di luar sana."
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘