Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Bom Waktu yang Mulai Berdetak
Sore harinya, Sam pulang ke rumah dan terkejut saat melihat mobil ayahnya masih terparkir rapi di halaman. Langkah kakinya mendadak terasa berat saat melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja melewati pintu depan, ia langsung disambut oleh raut wajah tegang dari kedua orang tuanya yang duduk di ruang tamu.
Diana langsung berdiri dan menghampiri putranya dengan wajah bersungut-sungut. "Sam! Lihat itu istrimu di atas, dia sangat kelelahan sampai drop begitu! Kenapa di rumah sebesar ini enggak ada pembantu sama sekali? Besok-besok pokoknya harus ada pembantu, mau tidak mau! Walaupun Mita melarang, tetap harus ada pembantu di sini!"
Baskoro ikut berdiri, raut wajahnya tampak mengeras menahan amarah. "Papa benar-benar kecewa sama kamu, Sam. Bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu mengurus rumah sebesar ini sendirian? Walaupun dia menolak pembantu karena ingin mandiri, kamu sebagai suami harusnya tetap tegas. Pokoknya Ayah tidak mau tahu, besok harus sudah ada lima pembantu di rumah ini untuk mengurus semuanya!"
"Baik, Ayah, Ibu. Besok akan Sam siapkan," jawab Sam patuh, tidak berani membantah amarah ayahnya.
Setelah kedua orang tuanya agak tenang, Sam pamit untuk menengok istrinya. Ia melangkah naik ke lantai dua dan perlahan membuka pintu kamar utamanya. Begitu melangkah masuk, netranya mengedar. Sam tertegun saat menyadari ada beberapa setel pakaian wanita yang tergantung di lemarinya, serta beberapa buku kuliah yang tertata di atas meja. Ia baru menyadari rupanya Mita sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat cekatan demi menutupi sandiwara pernikahan mereka di depan orang tuanya.
Sam berjalan mendekati ranjang, menghampiri Mita yang masih terpejam. Namun, saat tangannya bergerak hendak menyentuh, ia mendengar Mita mulai melenguh halus. Bibir pucat gadis itu merancau, mengeja sesuatu yang tidak jelas dalam tidurnya yang tampak tidak tenang. Begitu telapak tangan Sam menyentuh kening Mita, ia langsung tersentak.
Kulit Mita terasa sangat panas. Gadis itu demam tinggi.
Panik seketika menyerang Sam. Ia bergegas berlari ke undakan tangga dan berteriak ke arah lantai bawah. "Ayah! Ibu! Gawat... Mita demam tinggi! Badannya panas sekali! Aku sudah telepon dokter pribadi untuk langsung ke sini!"
Diana dan Baskoro yang mendengarnya langsung panik dan ikut berlari naik ke kamar atas. "Ya ampun, demam?! Itulah kenapa! Kamu ngapain saja sih sampai nyuruh-nyuruh dia kerja sendirian seperti ini?!" omel Diana dengan mata berkaca-kaca menatap menantunya yang terkulai lemas.
Tidak berselang lama, dokter pribadi keluarga mereka pun datang. Saat dokter mulai memeriksa kondisinya, Mita perlahan-lahan membuka matanya. Kesadarannya kembali meski kepalanya terasa sangat pening.
Baskoro langsung mendekat ke tepi ranjang setelah dokter selesai memeriksa. "Mita, kamu tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Besok Sam akan mengadakan pembantu di sini. Kamu harus mau, pokoknya harus ada pembantu dan kamu jangan sampai kelelahan lagi, dengar?" ujar Baskoro tegas namun tersorot rasa sayang seorang ayah.
Mita menatap Baskoro dan Diana bergantian dengan tatapan sayu. Ia tersenyum sangat tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini bukan karena kelelahan fisik, Ayah, Ibu..." ucap Mita lirih, suaranya terdengar begitu parau. "Sebenarnya... aku sudah menderita sejak lama. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, namun selama ini aku tidak ingin mengatakannya karena tidak ingin merusak kebahagiaan kalian."
Mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Mita, seisi kamar seketika mematung. Keheningan mencekam mendadak merayap. Baskoro dan Diana saling pandang dengan raut wajah penuh tanda tanya yang besar.
Sebelum kedua mertuanya bertanya lebih jauh, Mita memejamkan mata sejenak lalu menatap mereka lagi dengan pandangan memohon. "Tapi... bolehkah saya istirahat terlebih dahulu sekarang? Mungkin... suatu saat nanti, jika waktunya sudah tepat, aku baru akan berani mengatakannya secara jujur kepada kalian."
Diana yang tidak tega melihat kondisi Mita akhirnya mengangguk. "Iya, Sayang. Istirahatlah dulu. Jangan dipikirkan sekarang."
Setelah pamit dan memberikan beberapa pesan pada Sam, kedua orang tua itu akhirnya pergi meninggalkan rumah dengan helaan napas berat dan perasaan yang dipenuhi teka-teki gantung.
Sementara itu, Sam yang masih berdiri di sudut kamar terpaku diam dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tahu betul apa arti dari ucapan Mita barusan. Ini adalah salah satu rencana terselubung Mita untuk mulai mencicil kenyataan di depan orang tua mereka. Mita tidak langsung meledakkan rahasia pernikahan mereka sekarang, melainkan sedang menanam sebuah bom waktu yang siap meledak hancur pada acara makan malam akhir pekan nanti.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)