NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 PANGGILAN BARU, HARUMA DAN HARUMI...

Pada akhirnya, kehebohan seluruh murid di dalam kelas 2C itu, bisa kembali mereda saat guru pelajaran berikutnya sudah datang.

Namanya adalah Pak Koko, sang guru pelajaran Bahasa Inggris.

Dan, ketika hendak dimulai pelajaran Bahasa Inggris itu, Pak Koko juga berkenalan dengan murid baru yang bernama Harum itu.

Dan, ada satu momen, dimana Pak Koko bersama semua murid di kelas 2C itu, menyampaikan idenya untuk memudahkan sekaligus membedakan nama panggilan untuk dua Harum.

"Aduh, ini gimana caranya supaya bisa bedain kalian berdua, ya?" tanya Pak Koko setelah selesai mengabsen seluruh murid.

Seluruh murid pun menyampaikan idenya.

Ada yang bilang, nama mereka harus diganti lah...

Ada yang bilang, supaya pakai benda yang bisa membedakan lah...

Ada yang bilang, supaya dipanggil pakai nama baru lah...

Dan ide lain yang nyeleneh.

Sungguh, kehadiran Harum, sang murid baru hari ini, membuat pelajaran Bahasa Inggris kali ini jadi sedikit tak fokus. Seolah, dua Harum ini menjadi pusat perhatian di kelas 2C, pagi itu.

Akhirnya, Pak Koko memberikan sebuah ide yang cukup bagus.

"Oh, iya! Kamu yang duduk di paling pojok namanya Harum Sekar Putri Purnamasari, kita panggil Haruma..." kata Pak Koko.

"Nah, yang satu lagi kan namanya Harum Intan Purnamasari, kita panggil Harumi... Gimana menurut kalian ide Bapak, bagus gak?" tambah Pak Koko.

Sontak, hampir semua murid pun setuju dengan ide Pak Koko. Mereka setuju dengan nama Haruma dan Harumi itu.

Tapi, sebagian lainnya ada juga yang kurang setuju dengan ide sang guru Bahasa Inggris. Mereka berpendapat bahwa nama Haruma dan Harumi itu, seharusnya dipakai buat saudara kembar identik.

Sedangkan dua Harum ini bukanlah saudara kembar identik.

"Ya kan itu cuma buat panggilan kita aja kalo di sekolah, biar gampang gitu loh, buat bedain mereka..." jelas Pak Koko.

"Lagian, coba deh kalian perhatiin sekali lagi. Wajah mereka hampir mirip, loh!" kata Pak Koko.

Pada akhirnya, semua murid pun setuju saja dengan ide penyebutan nama Haruma-Harumi itu.

Dan, ketika Pak Koko bertanya pada dua Harum tentang idenya itu, mereka berdua pun seperti senang-senang saja.

Dua Harum tak mempermasalahkan.

"Alright... We call them with Haruma, and Harumi. Hehehe..." ucap Pak Koko kemudian.

"Cieee... Punya nama baru nih, yaaa... Hahahaha..." ledek Dian.

Dua Harum pun hanya tersenyum cengengesan mendengar ucapan Dian itu.

Akhirnya, pelajaran Bahasa Inggris pun dimulai oleh Pak Koko. Semua murid mengikuti pembelajarannya dengan penuh semangat.

.....

.....

🕑🕑🕑🕑🕑🕑🕑

Tak terasa, jam dinding kelas pun menunjukkan pukul 13.00, beriringan dengan suara bel pulang sekolah yang berbunyi nyaring.

Seluruh kelas di sekolah SMP itu pun selesai pelajarannya. Dan semua siswanya pulang dengan beragam ekspresi.

Ada yang masih tampak semangat, ada yang tampak pusing karena pelajaran, ada yang tampak kelelahan, ada juga yang malah tampak biasa saja.

Suasana di luar gerbang pun ramai. Banyak siswa yang pulang dengan dijemput oleh orang tua mereka. Dan banyak pula yang pulang berjalan kaki bersama-sama.

Tak beda dengan dua Harum, mereka berjalan bersama di lapangan depan sekolah.

"Harum!" teriak Tina dari belakang.

Sontak, dua Harum pun menoleh bersamaan.

"Aduh! Iya, aku lupa! Nama kalian kan sama! Hahahaha..." kata Tina sambil tertawa.

"Haruma, kamu pulang dijemput sama Ibumu, gak?" tanya Tina kemudian.

Sambil menggenggam tongkatnya, Harum (Haruma) menjawab, "Ya enggak lah, Tin. Kan Ibuku masih kerja jam segini."

"Kalo kamu gimana, Harumi?" tanya Tina lagi.

"Emmm... Aku juga pulang sendiri aja, deh..." jawabnya.

"Oooh... Ya udah, aku duluan, ya! Dadaaah, Haruma-Harumi!"

"Iya, Tin. Hati-hati..." respon Harum (Haruma).

"Iya, dadaaah..." respon Harum (Harumi) juga.

Dan dua Harum pun kembali melangkah menuju gerbang sekolah.

Akan tetapi...

Ada yang tampak berbeda dari Harum (Harumi) itu.

Dirinya terlihat mengikuti langkah Harum (Haruma) yang buta. Seolah-olah, dirinya ikut merasakan bagaimana jika kedua matanya tak bisa melihat.

Bahkan, ketika ada siswa lain yang hampir menabrak tubuh Harum (Haruma) itu, ia seperti menjaganya.

Entah bagaimana menjelaskannya...

Seolah-olah, Harum (Haruma) yang buta itu benar-benar seperti saudara kembarnya Harum (Harumi) yang bisa melihat.

Dan, ketika sudah sampai di pinggir jalan, tepat di seberang gerbang sekolah. Harum (Harumi) sang murid baru itu, menawarkan sesuatu.

"Emmm... Haruma..." panggilnya.

"Iya? Kenapa?" tanya Haruma sambil memegangi tongkatnya.

"Rumah kamu, dimana?"

"Rumahku gak jauh kok dari sini. Kenapa emangnya?"

"Oh, gak jauh, ya? Kalo aku anterin kamu sampe rumah, boleh?"

"Hah? Anterin aku?" tanya Haruma.

"Iya... Boleh?" tanya Harumi.

"E-emmm... Aduh... Gimana, ya? Aku gak enak ah sama kamu." kata Haruma.

"Loh, kenapa gak enak?" tanya Harumi lagi.

"Kan rumahmu di desa sebelah, kamu udah jelasin sama aku tadi di kelas." kata Haruma.

"Iya, sih... Tapi, enggak apa-apa kok. Aku anterin kamu, ya!"

Haruma pun sedikit ragu dengan tawaran teman barunya itu. Ia malah berdiri, menatap wajah Harumi dengan dua matanya yang putih itu.

"Udaaah... Ayok, aku anterin!" desak Harumi.

"Emmm... Enggak apa-apa emangnya?"

"Iya, enggak apa-apa." jawab Harumi sambil tersenyum.

Akhirnya, Haruma pun menerima tawaran Harumi.

Mereka berdua berjalan bersama, menuju ke rumah Haruma.

Terlihat dengan jelas, langkah mereka berdua seperti seirama.

Langkah kaki yang terlihat seperti memiliki "koneksi" yang belum bisa dipahami oleh logika.

Dan, dalam hati Haruma, terasa juga sebuah ikatan batin yang aneh baginya.

.....

.....

Ketika mereka berdua sudah mulai berjalan di jalan desa dekat rumah Haruma, sontak seluruh mata warga desa yang melihat mereka, seperti terbius perhatiannya.

Semua warga desa yang berpapasan dengan mereka, langsung memperhatikan.

Seolah-olah mereka semua berpikir dan bertanya-tanya yang sama.

"Siapa anak satu lagi itu? Kok mirip banget sama Harum?"

Mungkin seperti itu lah isi pikiran mereka.

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!