"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Murka Sang Penguasa
Detak jarum jam dinding di penthouse lantai tiga puluh enam malam ini terdengar seperti hitung mundur menuju eksekusi. Viona berdiri terpaku di tengah ruang tengah, masih mengenakan kemeja kerja putihnya yang kini tampak kusut. Dia sengaja tidak mengganti pakaiannya dengan gaun malam sutra pilihan Arkan. Ada sisasisa harga diri yang mencoba dia pertahankan, sebuah pemberontakan kecil yang siasia setelah harga dirinya diinjakinjak di koridor kantor siang tadi.
Tepat pukul delapan malam, pintu utama terbuka dengan bantingan keras yang menggema di seluruh ruangan.
Arkan Mahendra melangkah masuk dengan aura yang jauh lebih pekat dan berbahaya daripada siang tadi. Dasinya sudah tanggal, dua kancing teratas kemeja hitamnya terbuka, dan matanya merah menyalang. Aroma wiski bercampur wangi maskulinnya langsung memenuhi udara, menyesakkan dada Viona seketika.
Pria itu tidak membuang waktu. Dia berjalan lebar mendekati Viona, mencengkeram kedua lengan atas gadis itu dengan kuat hingga Viona meringis kesakitan.
"Siapa pria itu, Viona?!" suara bariton Arkan menggelegar, bergetar oleh amarah yang tertahan sejak siang.
Viona mendongak, mencoba menantang tatapan tajam yang biasanya membuat lututnya lemas. "Dia hanya supervisor di kantorku, Tuan. Dia sahabatku sejak kuliah. Tidak lebih."
"Sahabat?!" Arkan mendengus sinis, senyumnya meremehkan sekaligus mengerikan. Cengkeramannya di lengan Viona semakin mengencang, memaksa tubuh mungil gadis itu merapat ke dada bidangnya. "Sahabat tidak menatap wanita dengan tatapan memuja seperti yang dia lakukan siang tadi! Sahabat tidak menyentuh wajahmu seolaholah dia berhak atas dirimu!"
"Dia hanya merapikan rambutku, Tuan Arkan! Kami tidak melakukan apa pun!" bela Viona, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata karena rasa sakit di lengannya dan rasa sesak di dadanya. "Kenapa Anda harus mempermalukanku di kantor? Anda membuat semua orang berpikir hal yang buruk tentangku!"
"Karena kau memang milikku, Viona!" bentak Arkan tepat di depan wajahnya. Napas pria itu memburu, panas dan berbau alkohol. "Setiap inci dari tubuhmu, setiap detik dari waktumu, sudah kubeli dengan lunas! Aku tidak sudi melihat barang milikku disentuh, bahkan dipandang oleh pria semenjana seperti dia!"
Kata 'barang' dan 'dibeli' kembali menghantam hulu hati Viona bagai gada besi. Air matanya luruh melewati pipinya yang pucat. Rasa perih itu bertransformasi menjadi keberanian yang nekat.
"Aku bukan barang, Tuan Arkan!" jerit Viona, mencoba menyentak kedua lengannya agar lepas dari kekangan Arkan. "Aku manusia! Hubungan kita ini hanya kontrak utang piutang! Anda tidak berhak mengatur dengan siapa aku berteman di luar sana!"
Mendengar bantahan itu, kilat kegilaan melintas di mata Arkan. Posesifitasnya yang ekstrem mendadak mengambil alih seluruh akal sehatnya. Dia melepaskan cengkeraman lengannya, hanya untuk sedetik kemudian merengkuh pinggang Viona dengan kasar dan mengangkat tubuh gadis itu ke atas sofa beludru di ruang tengah.
Viona terpekik saat tubuhnya terhempas ke bantalan sofa yang empuk. Sebelum dia sempat bangkit, tubuh besar Arkan sudah mengungkungnya dari atas, mengunci kedua tangannya di atas kepala dengan satu tangan kekar pria itu.
"Lepaskan! Jangan seperti ini, Tuan!" rintih Viona, memalingkan wajahnya saat Arkan mulai menciumi lehernya dengan paksa dan kasar sebuah hukuman, bukan lagi gairah yang biasa mereka bagi.
"Kau ingin aku melepaskanmu agar kau bisa kembali pada pria itu? Hah?!" bisik Arkan kejam di selasela kecupannya yang menuntut di ceruk leher Viona. "Aku akan membuatmu ingat siapa pemilikmu yang sebenarnya, Viona. Aku akan menghapus setiap jejak pria lain dari pikiranmu."
Kemeja putih kerja Viona robek saat Arkan menarik kancingnya dengan kasar, menciptakan suara robekan kain yang terdengar menyedihkan di keheningan malam penthouse itu. Viona memejamkan matanya rapatrapat, membiarkan air matanya mengalir deras ke pelipisnya. Dia berhenti meronta. Tubuhnya mendadak kaku dan dingin seperti es. Dia menyadari, sekeras apa pun dia melawan, dia tetaplah pihak yang kalah dalam permainan kekuasaan ini.
Merasakan perubahan drastis pada tubuh wanita di bawahnya yang mendadak pasrah tanpa gairah, gerakan Arkan perlahan melambat. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap wajah Viona yang basah oleh air mata dengan ekspresi yang sangat menderita.
Viona tidak membuka matanya, bibirnya bergetar hebat menahan isak tangis yang tersumbat di tenggorokannya. Kehancuran batinnya terpampang nyata di depan mata Arkan.
Melihat kehancuran itu, sesuatu di dalam dada Arkan mendadak berdenyut nyeri—sebuah rasa sakit asing yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Amarahnya yang meluapluap tadi siang tibatiba surut, digantikan oleh rasa bersalah yang menghimpit. Dia menatap tangannya yang mengunci pergelangan tangan Viona hingga memerah.
Arkan melepaskan kekangannya perlahan. Dia terduduk di tepi sofa, menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Napasnya masih terengahengah, namun badai di matanya kini telah digantikan oleh kabut penyesalan yang pekat.
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara isak tangis Viona yang halus dan tersendatsendat. Gadis itu menarik belahan kemejanya yang robek untuk menutupi dadanya, lalu meringkuk membelakangi Arkan, memeluk dirinya sendiri.
Arkan melirik wanita yang meringkuk di sampingnya. Ego besarnya runtuh melihat kerapuhan Viona yang dia sebakan sendiri. Dia mengulurkan tangan, ingin menyentuh bahu Viona yang gemetar, namun mengurungkannya di udara. Dia takut sentuhannya justru akan membuat gadis itu semakin ketakutan.
"Viona..." panggil Arkan, suaranya kini kembali bariton namun kehilangan seluruh nada dingin dan tiraninya. Suara itu terdengar berat, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
Viona tidak menjawab. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhnya sendiri, menolak untuk mendengarkan suara pria yang baru saja menghancurkan sisasisa harga dirinya malam ini.
Arkan mengembukan napas berat. Dia berdiri, mengambil jasnya yang tergeletak di lantai, lalu menyelimutkannya ke atas tubuh Viona yang menggigil.
"Maafkan aku," bisik Arkan lirih, sebuah kata yang sangat tabu dan tidak pernah keluar dari mulut seorang Arkan Mahendra seumur hidupnya.
Tanpa berkata apaapa lagi, Arkan berbalik dan melangkah pergi keluar dari penthouse, meninggalkan Viona sendirian dalam kegelapan malam yang dingin. Pintu utama tertutup dengan bunyi klik yang pelan, menandakan sang tirani telah mundur dari medan perang yang dia menangkan secara fisik, namun dia kalahkan secara batin. Di tempat tidurnya yang sepi, Viona menangis hingga tertidur, menyadari bahwa kontrak ini telah mengikatnya ke dalam neraka yang tak berujung.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.